
"Em ... silau?" gumamnya Hadi ketika terbangun dan membuka mata, lalu memicingkan sebelah matanya ke arah seseorang yang sedang beberes.
Dengan bibir tersenyum, Hadi bangun dan duduk bersandar ke bantal yang dia tarik ke atas untuk menyangga punggungnya.
"Selamat pagi?" sapa Hadi dengan suara parau.
Membuat Alisa yang anteng melap meja pun terkaget-kaget, lalu menoleh dan langsung memalingkan mukanya karena Hadi tampak bertelanjang dada. "Tutup? itu tutup eh pakai baju."
Hadi celingukan melihat dirinya yang memang tidak memakai pakaian. "Emang kenapa? bias saja nih. Laki-laki kan emang begini,"
"Tapi, Aku tidak enak lihatnya," ungkap Alisa sambil menutup matanya dengan lima jari dan memunggungi tempat tidur Hadi.
"Ha ha ha ... gimana nanti sudah menikah? apa kau tidak mau meliah tubuh ku sama sekali. aneh ya? bukankah anak muda jaman sekarang itu ... sudah biasa melihat yang seperti ini, bahakan lebih dari ini," ucap Hadi sambil turun dari dan mengenakan kaos nya.
"Itu mungkin orang lain, aku risih lihatnya. Oya, air hangat sudah ku siapkan di bathube." Kata Alisa sambil meneruskan tugasnya.
"Kenapa tidak membangun ku? jam berapa nih?" Hadi buru-buru memasuki kamar mandi.
Alisa menoleh ke arah Hadi yang kini sudah tidak ada. "Aku harus menyiapkan pakaian om Hadi, namun tempatnya di mana? gak ada lemarinya!"
Kepala Alisa plango-plongo melihat ke arah sekitar yang ternyata tidak ada lemari sama sekali. Lalu Alisa mendekati sebuah pintu yang dia yakini bukan pintu kamar mandi.
Dan ternyata ... setelah di dorong di dalamnya wardrof dan di sana terdapat banyak pakaian khusus pria.
"Di sini rupanya," Gumamnya Alisa sambil melihat-lihat banyaknya pakaian Hadi. Pakaian formal berjejer khusus formal dan pakaian santai lain lagi tempatnya, tempat sepatu, Sendai, dasi dan Kaos kaki. kaos dan kemeja pendek.
Kepala Alisa menggeleng. "Aduh pusing ... kebanyakan, bikin pusing."
Tangan Alisa mengambil pakaian formal seperti kemeja dan setelannya, sepatu dan kaos kakinya juga, kaos oblong dan celana pendek.
"Apa lagi ya? aku rasa sudah cukup, oh iya. Dasi belum." Alisa buru-buru mengambil dasi dengan corak yang senada dengan kemeja nya.
Lanjut Alisa bawa dan ia simpan di atas tempat tidur. Melihat gorden yang masih tertutup, lalu ia dekati dan membukanya.
__ADS_1
Setelah beberapa puluh menit kemudian, Hadi muncul dengan handuk melilit di pinggang dan jelas bertelanjang dada. Alisa yang sempat melirik langsung membuang wajahnya ke samping.
"Aduh ... lagi-lagi mata ku ternoda nih. Gak tau apa? aku masih polos." Gumamnya Alisa sambil membelakangi dan Hadi menyunggingkan bibirnya sambil mendekati tempat tidur yang sudah tersedia pakaian nya di sana.
Alis mau keluar, tapi kan harus membantu sampai rapi. Jadi terpaksa dia harus menunggu dulu di situ sampai Hadi memakai pakaiannya.
"Lho, dalaman nya mana nih? ini cuma luaran nya saja, Lisa pakaian dalamnya mana?" Hadi mencari pakaiannya yang belum komplit.
"Ha? dalaman, a-aku masa aku harus ngambil itu?" kata Alisa sambil tetap memunggungi Hadi.
"Terus saya harus nyuruh mbak gitu? kan kamu asisten saya dan juga tunangan saya, gak mungkin dong saya memanggil asisten rumah." Timpal Hadi sambil menoleh ke arah pintu. Lalu ia menutupnya rapat.
"Eeh, kenapa di tutup rapat? nanti di kira orang lain yang macam-macam," ucap Alisa ketika mendengar pintu di tutup oleh Hadi.
"Ayo dong ambilkan? apa perlu saya menyuruh yang lain?" pinta Hadi kembali.
"Lho, emangnya kemarin-kemarin siapa yang siapkan ini semua, Om?" selidik Alisa sebelum pergi.
"Sendiri, kan sekarang ada kamu. Terus apa guna nya kamu bila mengerjakan ini saja tidak bisa? apa gunanya saya punya asisten pribadi dan calon istri dong, kalau sendiri-sendiri juga!" sambung Hadi.
"Jangan terburu-buru, nanti acak-acakan, saya tidak suka berantakan sedikitpun." Ucap Hadi sedikit memekik.
"Rrrgghhh. Bawel juga tuh laki orang. Kalau laki sendiri ku cekik deh, eh mana berani gue. He he he .."
Tidak sampai satu menit, Alisa kembali membawa yang Hadi pinta. Dengan menunduk tangan Alisa menyodorkan apada Hadi yang menunggu.
Hadi tersenyum sembari mengambilnya. dan lantas memakainya.
"Belum Salat ya?" selidik Alisa tanpa menoleh ke arah Hadi.
"Subuh apa dzuhur?" tanya Hadi sambil melirik ke arah gadis itu yang menunjukan punggung nya saja.
"Ya, subuh lah. dzuhur kan belum, Om gimana sih?" timpalnya Alisa.
__ADS_1
"Sudah lah. cuma saya tidur lagi tadi. Lisa, pakaikan saya dasi dan setelannya?" Hadi berucap sambil mengancingkan lengan baju nya.
Setelah mendengar perkataan Hadi seperti itu. Membuat Alisa berbalik dan mendekati ke arah Hadi. Lalu membantu mengenakan dasi. "Ih, gimana sih? contohkan kek! biar rapi,"
"Hem ... emang begitu, tingga narik saja. mau gimana lagi emang?" hadi membenarkan yang Alisa kerjakan.
Kemudian Alisa memakaikan jas nya, serta sepatu nya. Setelah itu Alisa buru-buru meninggalkan kamar Hadi untuk ke kamarnya dan berganti pakaian.
Setelah beberapa saat di kamar dan berganti pakaian dengan pakaian formal. Alisa meraih tasnya yang hanya berisi dompet tipis dan bedak saja itu, bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat Hadi.
"Huuh ... kesiangan kali ya? mana gak tau dia sarapan apa kala Pagi." Alisa bergumam sendiri. "Aku harus tanya siapa nih?"
"Mbak-Mbak, tuan biasa nya sarapan apa ya? yang berat apa yang ringan-ringan saja ya?" tanya Alisa pada mba yang ada di dapur.
"Oh, Tuan ... kalau padi itu sarapan roti sama srikaya, susu panas dan ... kalau tidak itu nasi goreng memakai sayuran dan telor nya yang banyak, bisa empat sekali satu piring nasi goreng," jawabnya mbak.
"Em ... kira-kira pagi ini apa ya sarapannya?" tanya Alisa sambil memakai celemek biar gak kotor ke baju.
"Kurang tahu Non. biasanya tergantung permintaan sih." Tambah mbak lagi.
"Aku gak mungkin nanya dulu, man dah siang dan orang sekarang entah dimana lagi." alisa terus bermonolog sendiri dan memutuskan untuk mem buatkan nasi goreng saj dengan percaya dirinya, Alisa membuatkan nasi goreng buat Hadi dengan bantuan mbak, maklum Alisa belum tahu bumbunya apa saja.
"Rajinnya Lisa ... masak apa wangi sekali hem ... baunya sampai atas nih." Suara Diana yang yang di dorong oleh Hadi ke tempat itu.
Alisa menoleh dan lantas menunjukan senyumnya. Gadis itu mengenakan kemeja dan rok span dan rambut di kuncir rapi di atas. Tampak cantik dan elegan meskipun sederhana.
"Oh, Tante. Aku cuma bikin nasi goreng buat Om dan hanya untuk sendiri saja, Tante mau? biar Alisa bikinkan," tawar Alisa pada Diana yang langsung menggeleng.
"Tidak. Buat om saja lah ..." Lirihnya Diana.
Kemudian Alisa tuang ke dalam piring serta menyediakan segelas air putih buat Hadi, yang tampak terdiam dan entah melihat ke mana ....
.
__ADS_1
...Bersambung!...