Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
No no.


__ADS_3

Akhirnya tangis Alisa pun pecah dan dia menangis tersedu. Bu Juli merasa menciut dan ikut bersedih melihat putri sulung nya menangis dan terluka.


“Sampai hati mereka menuduh mu seperti itu Lisa ... dan nak Rahman pun kok tega tidak mempercayai mu sama-sekali, apa kau tidak membela diri? bilang yang sebenarnya kalau kau tidak tidak salah,” ujar bu Juli sambil memeluk dan mengusap punggung nya Alisa.


“Su-sudah, dan mereka tidak percaya apa yang aku katakan itu. Di- dia tidak mau mempercayai ku, bu. Rahman tidak mau mendengarkan ku,” suara Alisa terus bergetar dan terbata-bata.


“Ya Allah ... kanapa kau sampai segitunya kamu Nak?” lirihnya bi Juli sambil terus mengusap punggung Alisa.


Lilis dan Sinta ikut menangis, keduanya saling berpelukan dan berderai air mata.


Sebenarnya Alisa ingin menceritakan juga apa yang menimpanya hari ini, dimana dia hampir menjadi korban kebejatannya Luky. Namun Alisa masih menghormati suami dari ibunya itu. Dia tidak mau bila cerita dia akan menjadi bumerang untuk rumah tangga ibunya.


Intinya alisa masih ingin menjaga keutuhan keluarga nya. Biar ini menjadi rahasia dirinya saja, asal Luky tidak melakukan lagi sama dia ataupun sama orang lain terutama kepada kedua adiknya.


Alisa terdiam dan mengusap pipinya yang basah, dengan pemikiran-pemikiran yang bolak-balik. Memilih dan memilah mana yang terbaik.


Saat ini Alisa sedang berbaring di tempat tidur dan berteman guling yang tak mampu bercerita. Menatap langit-langit dengan tatapan kosong dan pikiran yang melayang.


...----...


Di tempat yang lain dan saat yang sama. Hadi sedang mandi dan tengah asyik berguyur di bawah air shower yang hangat, menghadap ke arah dinding dengan kedua tangan bertumpu ke dinding tersebut.


Dari balik pintu kamar mandi, ada yang berdiri seorang wanita berkerudung warna peach, siapa lagi kalau bukan Dania yang menyelinap masuk ke dalam kamar nya Hadi.


Blak, pintu kamar mandi terbuka dan keduanya pada-pada kaget. Hadi kaget kenapa ada Dania di kamarnya?

__ADS_1


Dan Dania pun kaget sebab dia tengah melamun, tadinya dai menyelinap juga ke kamar mandinya. Namun Hadi keburu ke luar.


“Kenapa kau ada di sini lagi? bukan kah sudah ku peringatkan, jangan pernah masuk ke dalam kamar ku! Gak enak di lihat orang, nanti menimbulkan fitnah.” Hadi menatap tajam ke arah Dinia yang melah cengengesan.


“Tidak apa, Bang, kita kan keluarga. Apa salahnya? Lagian kita pun akan di jodohkan, aku siap menjadi istri mu. Abang, aku lebih matang dan berpendidikan dan aku adalah keluarga juga. Jadi kita tidak akan merasa canggung lagi,” ucap Dania dengan tetap percaya diri yang cukup tinggi.


Hadi membawa pakaiannya ke wardrof seraya berkata. “Sudah ku bilang, jangan begitu saya tidak ada niatan untuk menikah lagi.”


“Masa sih, sama-sekali tidak ada niatan untuk menikah lagi? Bukankah kakak ku sudah tidak mampu melayani mua lagi?” suara Dania yang entah di dengar entah tidak, yang jelas Hadi tidak menjawab apapun selama berada di wardrof tersebut.


Dan sekitar 15 menit kemudian, Hadi kembali dengan setelan baju tidurnya. Melihat ke arah Dania yang masih juga berada di situ.


“Saya minta, kau keluar sebelum menimbulkan fitnah?” pinta Hadi sembari menunjuk ke arah pintu yang terbuka lebar tersebut.


Dania mendekati Hadi. “Tadi aku bicara yang mungkin kau tidak mendengar nya. Masa iya sih? masa iya sih kau tidak ingin menikah lagi? secara kau itu sudah bertahun-tahun tidak mendapatkan perhatian dan layanan dari mbak Diana, secara dia sudah tidak mampu.”


“Tapi aku adalah adiknya mbak Diana dan aku adalah tantenya anak-anak—“


“Memangnya kenapa kalau kau itu tantenya anak-anak? Apa kira karena ada ikatan batin atau hubungan darah? sehingga kau ingin masuk juga ke dalam kehidupan pribadi saya? Hah! Tidak, pergilah? Sebelum saya menyeret mu ke luar atau ... saya panggilkan scurity untuk mengusir mu dari rumah ini sekaligus?” ucap Hadi dengan tatapan yang tajam seakan ingin menghujam jantung.


“Kau pikir aku takut dengan ancaman mu itu ha? Justru aku akan bilang pada semua orang termasuk Diana. Kalau kau itu mencoba memaksa ku!” Dania tersenyum penuh arti.


Hadi menggelengkan kepalanya dengan sedikit menyunggingkan bibirnya. “Dan kau pikir semua orang akan percaya padamu? Hem, tidak. Mana ada orang memaksa di tempatnya sendiri, ha ha ha ... apa kau sudah gila? Apa mungkin saya memaksa kau di kamar ku sendiri, kira-kira siapa yang menyuguhkan diri. Ha ha ha mana ada ikan mencari umpan?”


Dania merasa terbanting dengan omongan nya Hadi yang bikin turun mental, dan Dania pun pergi dengan cepat meninggalkan kamarnya Hadi dangan hati yang gendok atau kesal.

__ADS_1


Tadinya mau bikin Hadi bertekuk lutut, eh ... malah dia sendiri yang kalah. Cerdik dari Hadi. “Awas, sekarang kau menang! Suatu saat nanti kau akan jatuh ke dalam pelukan ku, Hadi Dirgantara.” Ucap Dania penuh penekanan dengan menyebut Hadi dengan nama belakangnya.


Ketika Dania keluar dari kamarnya Hadi, ada beberapa asisten yang melihat dan bahkan melihat masuk nya yang mengendap-endap. Ke dalam kamar tuan nya.


Liana pun yang sengaja mengintip dari jauh, tersenyum kecut melihat Dania yang berjalan cepat keluar dari kamar sang ayah.


“Jangan terlalu percaya diri, tante. Karena kau itu hanya akan bermimpi untuk memiliki papa ku, kau tidak pantas untuk menjadi istri nya. Apalagi menjadi ibu sambung kami. No no ...” Liana menatap ka arah yang tadi di lintasi Dania.


Tidak lama kemudian. Hadi pun keluar dari kamar pribadinya berjalan menuju kamar sang istri. Di sana ada asisten yang langsung keluar setelah Hadi masuk dan menutup pintunya.


“Assalamu’alaikum, sayang kau belum tidur?” sapa Hadi sambil menghampiri sang istri lalu mengecup keningnya dengan mesra.


“Belum, Abang ... saya belum ngantuk apa kau sudah makan?” tanya balik Diana dengan tutur kata yang begitu lirih.


“Sudah, saya dah makan dan saya baru selesai mandi.” Hadi duduk di samping Diana dan merangkul pinggang nya.


Diana meletakkan kepalanya di dada sang suami. Mencari kenyamanan di sana, Hadi pun membelai rambutnya Diana dengan mesra. Dan sesekali memberi ciuman di kening istri tercintanya.


“Abang?” panggil Diana dengan lirih dan nan mesra.


“Ada apa sayang?” jawabnya Hadi sembari memejamkan matanya.


“Bagaimana kalau besok kita ke rumah nya Alisa, sore. Kita melamar dia buat Abang, agar segera Abang ada yang melayani lahir maupun batin. Ada yang membuat mu bahagia.” Lanjut Diana dengan lembut ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


__ADS_2