Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Kinerja bagus


__ADS_3

Alisa dan Hadi masih berada di kantor, padahal sudah sore dan karyawan serta staf lain sudah pulang sebagian. Namun kendati demikian menjadikan ceo dan asistennya itu tetap mengharuskan mereka tetap berada di tempat tersebut untuk mengadakan pertemuan satu kali lagi.


"Oke, saya rasa pertemuan dan dialog kita kali ini cukupkan saja dulu, lagian sudah selesai bukan dialognya?" jelas Hadi sambil meneguk minumnya.


"Oke. Saya rasa jug begitu dan sampai jumpa lagi di kesempatan lain, dan senang bisa berkomunikasi dengan anda berdua?" kata kedu orang laki-laki dan perempuan tersebut.


Kemudian mereka semua berdiri dan saling berjabat tangan, kemudian pertemuan pun berakhir. Kedua tamu tersebut pun pulang dan meninggalkan tempat tersebut.


Hadi masuk ke dalam kamar dan sementara Alisa membereskan mejanya dan meja milik Hadi dan apa yang harus di simpan baik-baik dia simpan ke dalam laci lanjut di kunci. Semua laptop pun di tutup semua jaringan listrik di putus, biar tidak terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.


Hadi memperhatikan Alisa dari balik pintu dan mengakui di hari pertama dia bekerja, sudah menunjukkan kinerjanya yang lumayan baik padahal baru hari pertama dan dia belum punya pengalaman sedikitpun di bidang ini.


"Di hari pertama kau sudah menunjukan skill yang lumayan bagus Lisa ... kau memang pada dasarnya pintar." Gumamnya Hadi di dalam hati.


"Huuh ... lelahnya badan ini ... ini benar-benar hari pertama ku bekerja dan sungguh memeras otak dan tenaga. Mencari uang itu memang tidak mudah, yang kaya sekarang saja pasti mereka diam dari nol dulu bukan langsung besar dan kaya, em ... mungkin ada sih yang langsung besar dan sukses! tapi itu namnya warisan atau rejeki nomplok, tapi tidak akan berat perjuangannya gimana." Alisa bermonolog sendiri.


Tangan Alisa meraih tas kecilnya, yang dia gantungkan ke bahu kirinya sambil melihat kedua meja yang dia rasa sudah rapi.


"Yu kita pulang? Sudah malam nih." Ajak pria yang berumur namun masih tampak muda itu.


Hadi berjalan dan Alisa mengikutinya dari belakang.


"Tugas mu hari ini belum selesai Lisa ... di rumah masih banyak tugas mu menunggu! tugas mu baru akan selesai bila bos mu ini tertidur kali," gumamnya Alisa tanpa ia ucapkan dengan kata-kata.


"Oya, tadi kau kelihatan dekat sekali dengan eksekutif muda yang bernama Zidan. Ganteng dan tampan, mantan mu saja lewat tuh," kata Hadi sambil berjalan melewati lorong kantor.


Alisa tersipu malu. "Iya, ganteng dan pinter lagi. Semua perempuan pasti deh suka dan naksir sama dia." Gumamnya Alisa memuji Zidan di hadapan Hadi yang langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alisa.


Alisa menjadi bengong tidak menyadari omongan apa yang sudah dia ucapkannya barusan.


"Apa kau juga naksir dia?" selidik Hadi dengan tatapan tatapan tanpa ekspresi ke arah gadis yang benar-benar tunangan itu.


Alisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Em ... nggak juga, aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, Om ... yang ini juga belum kelar."


"Soal apa? dan yang mana?" selidiki kembali Hadi pada Alisa yang menunduk dan ada raut wajah yang sendu.


"Apa lagi kalau soal yang kemarin itu, belum ada kata putus atau apa. Menggantung begitu saja bagai jemuran, dan aku belum ada waktu untuk bertemu dan mengobrolkan semuanya." Lirihnya Alisa sambil mengayunkan kakinya dengan pelan.


"Ooh ... kirain urusan dengan--"


"Siapa?" Alisa menatap penasaran.


"Dengan ku!" jawabnya Hadi.

__ADS_1


"Siapa yang nanya? maksudnya, he he he ..." Alisa berjalan mendahului Hadi yang masih berdiri di tempat.


"Dasar usil." Kepala Hadi menggeleng sambil menyusul


Alisa yang sudah jauh darinya, namun dengan langkahnya yang lebar. Hadi bisa lebih cepat menyusul langkah Alisa.


...---...


"Liana... sepertinya Mama menangkap sesuatu deh..." ucap Diana sambil tersenyum manis ke arah putrinya.


"Menangkap apa? gak jelas banget deh, tangkap setan gitu?" elak Liana sambil tersipu malu.


"Sepertinya ... putri Mama sedang jatuh cinta ya?" Goda Diana dengan pelan dan mengusap tangan Liana.


"Oya, Mah... kok Alisa dan papa belum pulang ya? apa mereka lembur," Liana mengalihkan pembicaraan sambil celingukan, mengingat sahabat dan papanya belum pulang juga.


"Oya, papa ada pertemuan mendadak jadi pulang telat."Kata Diana dengan pelan dan menoleh ke arah putra bungsunya yang masuk ke dalam kurungan itu.


"Mah, besok aku ada les. Tapi malas buat ikutannya. gak ikutan saja ya, Mah."Kata anak itu sambil mendekat ke Diana.


"Kok begitu? yang rajin dong ... jangan malas, kalau malas nanti kamu menjadi orang yang bodoh, masa anak mama dan papa bodoh? aku jug agak maa akui ah." Liana bergidik.


“Harus semangat dong sayang… yang rajin biar pintar, biar seperti papa lho,” suara Dian dengan pelan yang di tujukan kepada putra bungsunya tersebut.


"Janji, sekali saja? gak akan berulang kan ... Mama takut nanti jadi kebiasaan," ucap Diana kembali.


"Aku jani Mah ... cuma sekali ini aku gak ikut les. Besok-besok aku ikutan lagi kok." Janji anak itu.


"Oke, janji?" Diana mengerutkan keningnya pada Dirga.


"Janji Mah ... janji." Timpal Dirga kembali.


"Tuh, Papa pasti pulang." Kata Diana lagi.


Hadi turun dan membawa tasnya, sementara Alisa membawa paper bag dan tas miliknya. Mereka berdua berjalan beriringan.


"Oya. Saya sudah daftarkan adik-adik mu ake asrama terdekat dari sekolahnya yang sekarang. Tinggal mereka di masukan saja ke sana," ucap Hadi sambil berjalan menjinjing tas nya.


"Oya, makasih ya, Om? Masalahnya aku khawatir dengan mereka berdua! Takut gimana-gimana. Lagian keduanya pun--" Alisa menggantungkan perbuatannya sambil menggigit bibir bawahnya. Hampir saja keceplosan sesuatu yang tidak ingin dia ceritakan.


"Lagian apa? cerita saja! biar saya lebih tahu siapa yang jahat dan saya jelas bila harus melindungi kamu." Hadi sambil berjalan pelan.


Sejenak Alisa terdiam sambil berjalan dengan gontai dan pelan." Pak Anwar itu memiliki putra yang usianya lebih dewasa dari aku dan dia juga pernah ingin melakukan sesuatu yang begitu lah."

__ADS_1


Mendengar itu, membuat Hadi terdiam begitupun dengan langkahnya yang mematung."Percobaan juga?"


Alisa menganggukkan kepalanya dengan sangat i sih nggak mau cerita soal Luky, tapi terlanjur sih.


"Siapa namanya? sempat di apain kamu?" selidik Hadi sambil melihat ke arah lain.


"Belum sempat di apa-apain, aku keburu kabur juga."Jawabnya Alisa dengan helaan nafas yang panjang.


“Ooh … kadi kamu menyesal karena belum sempat di apa-apain laki-laki itu?” goda Hadi sambil mesem-mesem.


Kedua manik mata Alisa melotot dengan sempurna ke arah Hadi. "Om ... bisa-bisanya aya bicara seperti itu, dasar mesum."


"Kali saja kau menyesal karena tidak jadi. Ya syukurlah kalau masih bisa menjaga diri dan untuk bagian depannya biar lebih hati-hati lagi kan?"ucap Hadi sambil mengajak Alisa untuk kembali berjalan.


Setelah menyimpan tas dan paper bag ke kamarnya, Alisa buru-buru ke kamar Hadi untuk menyiapkan semua keperluan pria tersebut. Dan setelah itu barulah dia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Kini Alisa sudah mandi, dan sudah rapi dengan piyamanya.Mau membaringkan tubuhnya di kasur, ingat belum menyiapkan makan malam buat Hadi.Membuat Alisa kembali melonjak dan menjual kamar keluar untuk membuatkan makan malam.


Alisa setengah berlari ke arah dapur, dan mendapat pertanyaan dari mbak yang lain kenapa Alisa lari-lari?


"Sayang, apa kau kau sudah makan? dan minum obat juga?" tanya Hadi sembari mencium kening sang istri dengan mesra.


"Sudah, kau sudah mandi?" selidik Diana sambil melihat suaminya yang tampak segar dan wangi.


"Yang Belum itu makan malam. Sepertinya Alisa kecapean dan dia mungkin lupa untuk menyiapkan makan malam ku." Kata Hadi sambil mencium punggung tangan Diana.


"Jadi dia tidak menyiapkan keperluan mu sepulang kerja?" Diana menatap lekat ke arah wajah Hadi.


"Menyiapkan semua, cuma dia kan belum mandi tadi jadi ... dia mau bersih-bersih dulu kali." Lanjut Hadi.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamu'alaikum ... tante?" suara Alisa dari baik pintu yang tidak rapa tersebut.


"Wa'alaikum salam ... Lisa ... masuk sini?" sambut Diana sambil melirik ke arah Hadi.


Hadi hanya berekspresi datar saja ketika Alisa datang dan menghampiri sang istri sekaligus dirinya ....


...Bersambung!...

__ADS_1


__ADS_2