
Kini pesawat mulai tak-up dan mulai melayang di udara membawa seratus lebih penumpangnya. meninggalkan landasan semula.
Tangan Alisa menggenggam kuat tangan Hadi, dia merasa ngeri ketika melihat ke arah jendela yang perlihatkan pemandangan dari ribuan kaki tersebut.
Setelah sekian lama perjalanan si burung besi itu melayang menembus awan. Akhirnya landing juga di tempat yang menjadi tujuan.
Hadi dan Alisa juga Zidan. Setibanya di bandara tujuan, melewati proses pengecekan data. Selesai itu barulah mereka menaiki taksi menuju sebuah hotel yang sudah di sediakan sebelumnya.
“Maaf, kamar yang anda boking atas nama perusahaan xx Cuma tinggal dua kamar lagi, satu dengan tempat tidur tunggal dan satunya dobel tempat tidur. Mohon maaf atas ketidak sesuaian nya permintaan.” Kata pihak resepsionis.
“Tapi kan kamu sudah pesan tiga kamar, kenapa sekarang Cuma ada du?” Alisa menunjukan kekecewaannya.
“Iya, kami memohon maaf sekali lagi atas ketidak nyamanan nya ini. Tapi kami menyediakan dobel tempat tidur di salah satu kamar yang tersedia.” Ungkap pihak resepsionis kembali.
“Gimana Bos? kamarnya Cuma ada dua, padahal sudah pesan tiga.” Alisa menoleh pada Hadi yang sedang menatap layar ponselnya.
“Em ... tidak apa lah, kita laki-laki bisa satu kamar berdua dan dan kamu di kamar satunya. Gitu saja kok repot sih,” timpal Zidan sambil mengambil kunci kamarnya.
“Iya, sudah ambil saja yang ada, dari pada cari lagi. Lagian kan rapatnya juga di hotel ini kan?" pada akhirnya Hadi mengeluarkan suaranya juga.
Karena waktu pun mepet dan bentar lagi akan ada pertemuan pertama. Sehingga mereka buru-buru ke kamarnya masing-masing.
Disaat ini mereka sudah mulai pertemuan, yang di adakan di lobi hotel tersebut.
“Saya sangat berharap kalau kita dapat bekerja sama dengan baik dan saling mendukung sama lainnya. Serta mampu meningkatkan kwalitas dan kuantitas produk yang kita jalani ini.” Hadi mengedarkan pandangannya kepada semua yang hadir dalam pertemuan ini.
Alisa yang yang tampak sibuk dengan tugasnya mencatat dan memperhatikan atas semua yang mereka obrolkan.
Selang sepersekian waktu, rapat pun di akhiri dengan menyantap sajian yang sengaja di sediakan pihak hotel.
“Terima kasih sudah menjadi bagaian dari perusahaan kami?” ucap Hadi sambil berjabat tangan dengan semua rekannya.
__ADS_1
“You’re happy with your cooperation.” Balas rekan yang kebetulan orang asing.
“Tank kyu,” Hadi mengangguk.
Alisa pun tidak luput berjabatan tangan dengan semuanya dan tak jarang mendapat pujian atas kecantikan dan kepintaran nya.
Zidan menoleh ke arah Alisa, dengan senyuman kagumnya. Mendengar di pujian dari rekan-rekan tersebut.
Di pandangi nya gadis itu, yang ternyata bukan Cuma dirinya yang bilang Alisa ini memang smart. Cantik, rajin dan pinter. Tetapi yang lain juga. Wajar bila banyak yang memuji dan Zidan sendiri pun semakin lama semakin mengagumi sosoknya Alisa.
Kemudian setelah menyantap makanan yang sudah disediakan, Kebetulan hotel yang menjadi tempat mereka menginap dan membuat acara rapat itu berada dekat dengan pantai dan menghadap ke arah laut. Anginnya pun terasa sejuk menyapa tubuh.
Ketika mau memasuki kamar, Hadi berkata dengan pelan kepada Alisa. “Nanti pintu kamar jangan dikunci ya?”
“Ha, buat apa? ku kunci lah. Gimana kalau ada orang jahat masuk?” Alisa mengerutkan keningnya.
“Ya sudah, kunci saja. Nanti saja kalau mau masuk saya telepon kamu,” tambahnya Hadi sambil melangkahkan kakinya.
“Jangan bilang, Om mau masuk kamar ku? nanti ketauan orang gimana, nggak-nggak. Tidak boleh.” Alisa menggeleng.
“Iih ... om harus ngerti dong, jangan mentang—“
“Ehem, serius amat sih? Alisa sampai jumpa besok ya, maunya sih mengajak mu main ke pantai. Tapi capek banget kan? jadi besok saja lah, kita jalan-jalan ke pantai nya.” suara Zidan sambil berdiri dekat pintu kamar dia dan Hadi.
“Em ... iya nih, capek benget sih." Balas Alisa sembari mengangguk. "Kayanya habis mandi, langsung tiduran dan ... nikmat nih,” Alisa mengusap wajahnya yang tampak sangat lelah itu.
‘Makanya itu, hari ini sehabis perjalanan langsung kerja dan belum sempat istirahat.” Lanjutnya zidan sambil memasuki kamarnya itu.
Sementara Hadi belum masuk sebelum Alisa juga masuk ke dalam kamarnya lebih dulu. Setelah memastikan Alisa sudah berada di dalam kamar. Barulah ia juga masuk ke dalam kamar yang barengan dengan Zidan tersebut.
"Halaaah ... baju tidur ku mana? perasaan aku bawa piyama, kok ga ada sih, ini lagi ngapain juga baju jaring laba-laba kaya begini gini dibawa? gak penting amat!" monolog Alisa sambil membongkar tasnya.
__ADS_1
Dan menjewer baju tipis kurang bahan dan sebagainya itu, yang tidak disengaja di masukan ke dalam koper kecil, sementara piyama yang tadinya mau ia bawa malah lupa masukan ke dalam kopernya.
"Hem ..." Alisa menggembungkan kedua pipinya. Sambil memandangi baju jaring laba-laba yang dia jewer itu.
"Em ... tapi baiklah, di sini kan aku cuma sendirian. Boleh lah! gak ada orang ini!" Alisa membawa baju nya aja karena ********** yang lain saja.
Dia berendam di dalam bathub dalan jangka waktu yang cukup lama. Setelah puas dan merasa dingin barulah beranjak meraih bathrobe yang sudah di sediakan pihak hotel.
Sebelum tidur, Alisa memandangi ke arah pantai. Terlihat deburan ombaknya, di sana pun terlihat banyak orang yang menikmati suasana malam di pesisir pantai.
Alisa menghela nafas panjang, dia jadi teringat pada Rahman yang pernah mengajaknya ke pantai dan berlarian di sana.
Tanpa dia sadari, matanya pun berkaca-kaca. Mengusap wajahnya kasar. "Buat apa aku ingat dia? sepertinya Zidan lebih baik deh dari rahman. Lagian kan Rahman sudah menjadi kekasih nya Liana, biarkan mereka bahagia!"
Lalu berjalan mendekati tepi tempat tidur. Merangkak naik. "He he he ... berasa ngantuk, capek. Eeh ... pakai baju ini. Berasa tidak pakai apa-apa, untuk cuma sendirian!"
Alisa tertawa sendiri melihat dirinya yang memakai baju kurang bahan itu. "Lagian, kok bisa sih gue lupa membawa yang seharusnya!"
"Huam ... ngantuk." Alisa menarik selimutnya, menutupi sampai bahu, biar sendiri tapi malu juga dengan berpakaian seperti itu.
Di kamar sebelah, Hadi justru tampak gelisah dan tidak bisa tidur. Dia memilih membuka laptop nya, setelah bikin drama guling-guling tak jelas.
Melirik ke arah Zidan yang tampak capek banget itu. Sorot mata Hadi tertuju ke pintu, rasanya dia tidak bisa tidur tanpa melihat keberadaan Alisa di sekitarnya.
Hadi memutuskan untuk mendatangi kamar Alisa. Walau dia pikir pasti sudah di kunci namun dia nekat untuk ke sana.
Dengan perlahan, Hadi menutup pintu kamar tersebut, sambil melirik ke arah Zidan yang tampak pulas.
Hadi berdiri di depan pintu kamar Alisa, beberapa kali handphone nya di telepon tidak ada jawaban dan tidak ada juga membuka pintu.
"Ck," Hadi berdecak kesal. Lalu menghubungi resepsionis, meminta kunci serep kamar nya Alisa ....
__ADS_1
...🌼----🌼...
Ternyata Hadi gak bisa bila tanpa