
Alisa menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur yang super empuk itu sembari memeluk tasnya.
"Ya Allah ... hampir saja aku dibuat spot jantung, gimana kalau laptop ini hilang? mana cadangan nya juga di ponsel yang di tempat yang sama. Om Hadi maafkan aku ya, bila aku lalai!" Alisa bermonolog sendiri.
Kemudian Alisa berniat membersihkan dirinya. "Berendam enak nih kayanya. Berendam dulu ahc!"
Alisa berendam di bathub sembari menikmati aroma terapi.
"Huuh ... segeerrrr ..." gumamnya Alisa sambil bermain air.
Setelah sekitar 20 menit berendam Alisa membersihkan diri. Di bawah air shower.
Pas membuka pintu kamar mandi, terdengar suara panggilan ponselnya. "Kali aja om Hadi." Dia berlari sambil menarik handuk yang membungkus kepalanya, siapa tau itu Hadi. Entah kenapa jadi teringat dia.
Rupanya sudah beberapa kali panggilan vc dari Hadi. Alisa langsung menerimanya.
"Gimana, kamu gak ke napa-napa?" tanya Hadi sambil menatap ke arah Alisa yang mengenakan handuk kimono, dan rambut yang terlihat basah.
"Aku, baik-baik saja kok. Hampir saja tas ku yang berisi semuanya raib, aku gak tau harus gimana kalau itu hilang." Jawabnya Alisa sembari terlihat malu di tatap lekat oleh Hadi yang berdiri sepertinya sedang di balkon hotel entah rumah sakit.
"Kalau hilang, ya lapor ke polisi!" timpal Hadi sambil terus menatapi Alisa yang walaupun jauh namun mampu menaikan gairahnya.
"Lapor gampang, semua data perusahaan hilang gimana coba? kau mau penjarakan ku?" kata Alisa sambil melempar pandangannya ke lain arah.
"Emang mau bila kamu ku penjarakan hem?" tanya Hadi yang tidak mengedipkan matanya sedikitpun ataupun berpaling dari wajah Alisa.
"Iih, amit-amit! ogah." Balas Alisa.
"Ku penjarakan dalam hati ku!" ucap Hadi.
Kata-kata itu membuat hati perempuan klepek-klepek. Termasuk Alisa dibikin senyum simpul dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Kenapa? jangan di tutupi wajah mu dong ... aku gak bisa lihat wajah kamu!" sambung Hadi.
Wajah Alisa keluar dari persembunyian nya. "Eem, Tante gimana sekarang?" Alisa mengalihkan pembicaraannya.
"Masih seperti itu, baru mau besok di rawat intens nya. Doa kan ya?" Hadi meminta Alisa mendoakan Diana.
"Iya, pasti aku doa kan kok!" Alisa mengangguk.
"Gimana urusan tadi hari lancar?" selidik Hadi sambil mendudukan dirinya.
"Alhamdulillah ... lancar kok!" sahutnya Alisa.
Kemudian sambungan vc terputus seiring dengan terdengarnya suara yang memanggil papa.
__ADS_1
Alisa bengong dan menjadi cemas. Detik kemudian chat dari Hadi masih yang mengatakan.
"Sorry ya?sudah dulu ngobrolnya. Diana muntah-muntah lagi, ku harap kau mengerti."
"Hem, emangnya harus mengerti gimana lagi? aku ngerti kok, dan Tante memang harus di prioritaskan. Dia kan istrinya." Alisa bicara sendiri sambil melanjutkan mengeringkan rambutnya yang basah itu.
Beberapa saat kemudian terdengar lagi suara notif chat dari Hadi lagi yang berisi.
"Kalau kamu merindukan ku, sebut saja namaku tiga kali, dan aku akan datang padamu."
"Oo ..." mulut Alisa membuat bagaikan mau muntah saja dan merasa geli membacanya.
"Iih ... geli bacanya juga, dasar laki-laki. Istri sedang sakit juga masih juga bisa menggombal. Dasar! gak ingat umur apa? tapi aku kan istri nya juga, hi hi hi ..." akhirnya Alisa senyum-senyum sendiri sambil menggulingkan tubuhnya dengan memeluk guling.
Hatinya dibuat berbunga-bunga dengan gombalan dari Hadi walau melalui chat saja.
Hingga tidak terasa Alisa pun tertidur begitu nyenyak sampai menjelang pagi.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Alisa pun langsung terbangun setelah melihat jarum jam.
Alisa menggeliat nikmat. Sembari memicingkan matanya ke arah sekitar.
"Ya ampun ... aku ketiduran sampai pagi gini." Alisa melihat dirinya yang masih mengenakan handuk kimono.
Lanjut buru-baru ke kamar mandi, yang dilanjut dengan menunaikan salat subuh dan sebentar mengaji juga berdoa untuk kesembuhan Diana khususnya.
"Bu, apa sudah bangun?" suara Mita dari balik pintu.
Alisa menoleh dan dengan buru-baru menghampiri pintu, juga tidak lupa membawa tas dan barang-barang yang akan dia bawa ke kantor.
"Iya, sudah. Sudah bangun nih!" Alisa menarik handle pintu.
"Saya kira belum bangun, Bu. Oya semalam Zidan menanyakan kabar ibu pasca kejadian semalam itu." Kata Mita sambil berdiri di pinggir pintu.
"Oya, dibilangin apa emang? aku baik-baik saja kok," balas Alisa sembari menutup pintu kamar hotel.
"Ya gitu deh, tampaknya dia sangat khawatir pada ibu." Lanjut Mita sambil berjalan.
"Oh, iya. Dia hubungi aku, namun aku baru lihat handphone." Alisa membuka handphone nya. Ada beberapa chat dari Zidan.
"Beruntung ya jadi Ibu, banyak yang perduli, saya jadi iri deh." Mita berucap demikian karena dia menangkap kalau orang begitu perduli pada Alisa.
"Ah biasa aja, namanya juga kita tim kerja bukan?" elak Alisa sembari celingukan.
"Kita mencari sarapan dulu, Bu ... masih pagi juga." Suara Mita yang berjalan di sampingnya Alisa.
__ADS_1
Di restoran hotel. Zidan dan Burhan sudah berada di sana, menyambut dengan senyuman.
"Gimana, gak papa kan?" tanya Zidan sambil mempersilakan Alisa untuk duduk.
"Aku baik-baik saja kok, cuman shock aja gitu kalau beneran hilang! aku tidak bisa mempertanggung jawabannya pada pak Hadi." Alisa menggeleng.
"Pak Burhan sehat?" Mita meneliti ke arah Burhan yang terdiam sambil perhatikan Alisa.
"Oh, iya. Gimana pak Burhan, masih sakit? ke dokter dong!" tambah Alisa menoleh pada Burhan.
"Iya nih, masih sakit. Memburu malah." Jawabnya Burhan sambil mengusap dadanya.
"Em ... padahal semalam langsung kompres sis es. Nggak Bakan memburu tuh!" Alisa menambahkan perkataannya sebelum mulai sarapan.
"Coba ada kamu yang kompres kannya. Mungkin sekaligus tidak terasa sakitnya juga. He he he ..." Burhan terkekeh sambil memegangi dadanya yang terasa sakit di saat dia tertawa.
"Huus, ingat!" Zidan mendelik.
"Emang nya kenapa? orang suaminya gak ada!" balasnya Burhan sambil mesem.
Mita hanya melihat ke arah Burhan dan Zidan bergantian yang saling berbisik.
Sementara Alisa menikmati sarapannya. Sambil melihat ke arah sekitar dan dia menemukan bayangan orang yang semalam yang katanya orang suruhan Hadi untuk menjaganya.
Alisa kembali melihat ke arah meja dan memakan kembali sarapannya. Pikirannya melayang benarkah itu suruhan Hadi untuk menjadi bodyguard dirinya, berada orang penting saja deh.
"Kenapa, Bu? senyum-senyum begitu?" tanya Mita seraya menatap ke arah Alisa yang tidak disadari nya senyum-senyum simpul.
Alisa menoleh. "Ha? nggak ahc biasa saja!" Alisa menggeleng lalu meneguk minumnya.
"Hem, jangan-jangan ingat ayang ya? biasanya kalau seseorang senyum-senyum sendiri itu kalau nggak ingat kenangan, pasti ingat ayang." Tambah Mita.
Lagi-lagi Alisa menggeleng sambil mengulum senyumnya.
Selesai sarapan, mereka semuanya langsung pergi ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda, agar segera bisa kembali ke Jakarta.
Alisa tampak sibuk dengan tugasnya. Tiba-tiba Burhan datang dengan wajah yang tampak serius bikin Alisa merasa risih dan was-was.
"Em, aku mau kelantai xx." Alisa membawa langkahnya keluar dari ruangan dan sebelumnya pamit dulu pada staf yang ada di ruangan tersebut.
"Kebetulan. Aku temani ibu," timpal Burhan sambil mengikuti.
Keduanya masuk ke dalam lift dan meng klik tombol nomor lantai yang di tuju ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Adakah niat yang kurang baik dari Burhan, atau memang benar hanya ingin membantu Alisa sekedar menemaninya.
Like komen dan lainnya. Makasih.