
Hadi berbisik genit pada sang istri. "Punya kamu sayang, yang legit dan aku masih ingin menikmatinya."
Alisa tersipu malu.
"Iih, apaan sih? kirain beneran! aku lapar nih," sembari memanyunkan bibirnya dengan nada suara yang manja.
"Ya ... nanti kita cari makan setelah ini, masalahnya nanggung!" sambungnya Hadi.
"Nanggung apaan sih?" tanya Alisa dengan polosnya.
Bibir Hadi menyungging. "Emangnya sayang tidak merasakan kalau ada sesuatu yang mengganjal di sana!"
Alisa menatap sendu seraya menggigit Bibir bawahnya, karena dia pun memang merasakan sedari tadi. Kalau ada yang mengganjal dan bergerak di dalam gua kenikmatan mahluk astral.
Kemudian, Hadi menggerakkan tubuhnya beralih posisi kembali menjadi dia di atas untuk berdayung sampan, atau berenang di danau madu.
Setelah menekukkan kedua kaki Alisa, agak terbuka lebar. Hadi kembali bergerak liar, mengasuh makhluk astral yang masih betah beraksi di dalam gua. Membuat tubuh Alisa beberapa kali menegang hebat.
ehitupu dengan tubuh pria yang menjadi nahkodanya, berapa kali merasakan nikmatnya yang memuncak.
Dan setelah benar-benar merasakan puas, Hadi pun menyudahinya. Peluh di antara keduanya sudah sangat bercucuran, berubah menjadi lengket dan tidak enak dirasakan sehingga Hadi mamaku tubuh sang istri. Di bawahnya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri bersama-sama tanpa menghiraukan dirinya yang sama-sama begitu polos.
Mereka berdua berendam di dalam bathub yang sama, saling menyabun dan memberikan shampo kepala keduanya bergantian.
Setelah mandi air sabun. Hadi pun lebih dulu beranjak dari bathub berdiri bawah air shower yang hangat.
Sementara Alisa masih menikmati air busa di dalam bathub sendirian. Sesekali melirik ke arah Hadi yang tampak lucu dengan singa nya yang bergelayut di depan.
Kini keduanya sudah tampak rapi dengan outfitnya masing-masing. Alisa masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Sebentara Hadi mengenakan jam nya di tangan. Melihat sang istri yang masih mengerinhkan rambutnya. "Sini sayang, ku bantu."
Kemudian Hadi mengeringkan rambut Alisa yang duduk di tepi tempat tidur, dengan handuk tersebut.
"Jadi gak kita cari makan?" tanya Lisa kepada suaminya yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Sayang maunya gimana, mau pesan atau kita jalan? katanya mau cari durian bukan?" jawabnya Hadi sambil memberikan handuknya.
"Hem ... Aku pengen makan durian, beneran ya ajak aku?" Alisa berdiri dan menyimpan handuknya di tempat.
"Iya, sayang iya ... jadi, kita mencari durian." Hadi mengangguk.
"Makasih sebelumnya!" kemudian Alisa memeluk singkat tubuh Sang suami.
__ADS_1
Selanjutnya mereka pun pergi dari kamar hotelnya tersebut dengan menggunakan mobil rental, berjalan-jalan sambil mencari buah dan durian.
"Yank, aku pengen makan duriannya di tempatnya!" Alisa melirik ke arah Hadi yang sedang fokus menyetir sembari mencari-cari toko buah.
"Iya ini lagi nyari-nyari nih!" Hadi mengangguk tanpa menoleh tetap fokus melihat ke depan juga kanan kiri.
Alisa duduk bersandar ke bagian belakang jok, sembari menatap ke samping luar jendela sembari menghirup udara atau angin yang berhembus dari luar.
"Yank-yank, berhenti! yank aku pengen makan bakso, udah lama sekali aku nggak makan bakso boleh kan?" pinta Alyssa sembari menegakkan posisi duduknya.
Hadi pun mengeremkan mobilnya. "Mana warung bakso?"
"Itu bakso gerobak, ya. Boleh ya?" menunjuk ke arah gerobak bakso yang dia inginkan.
"Boleh, kenapa tidak! apapun yang kamu mau boleh, asal jangan minta cerai aja." Hadi mengulum senyumnya sembari membukakan kunci mobilnya.
"Hem ... itu terus yang di bahas. nggak ada masalah lain apa yang bisa dibahas, gitu!" Alisa turun mendekati tukang bakso.
Dan Hadi pun mengitari mobilnya Untuk menjangkau tangan Alisa, yang kemudian dia pegang dan menggandengnya.
Mereka berdua pun memesan dua porsi bakso, lalu menikmatinya dengan sangat lahap. Maklum habis kecapean sehabis pertandingan yang cukup membuang waktu dan tenaga.
"Jangan terlalu banyak sambalnya sayang, nanti sakit perut!" Hadi melarang Alisa untuk memakai sambal yang terlalu banyak.
Hadi hanya bisa menggeleng melihat sang istri kecilnya itu.
"Terus, nikmat mana dengan punya aku yang memuaskan mu?" godanya Hadi.
Alisa menoleh kepada sang suami yang berada di sampingnya dan jemarinya berhak cubit kecil Pak pria tersebut. "Apaan sih bahas itu?"
"Aww ... istri ku galak dan jahat." gumamnya Hadi sembari tersenyum serta mengusap pahanya yang terasa panas.
Alisa pun ikut mengusap paha nya Hadi yang tadi dia cubit itu.
Selesai makan bakso, kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan dan mencari info di mana adanya penjual durian dan pada akhirnya mereka pun menemukannya.
"Nah ... sayang, sekarang kau bisa makan durian sepuas-puasnya." Hadi menunjukkan yang banyak dihadapan mereka berdua.
"Wah ... beneran ini bisa makan sepuasnya?" Alisa menoleh kepada Hadi seakan kurang percaya.
"Iya dong sayang, Bang, tolong bukain ya durian yang terbaik, yang manis." Pinta Hadi kepada penjaga durian.
"Baik Tuan, sebentar ya? saya bukakan dulu duriannya.
__ADS_1
Hadi dan Alisa melihat orang tersebut yang sedang membelah durian belum apa-apa Alisa Sudah ngiler.
"Wih ... sudah pasti manisnya tuh rasanya sudah nempel di lidah!" umumnya Lisa sering menatap durian-durian tersebut.
Tidak lama kemudian beberapa durian sudah terbelah dan siap dimakan isinya. "Dan selamat menikmati." Si Abang menunjuk pada durian-durian yang sudah dibelah disebut.
"Terima kasih ya bang?" Alisa dengan ramahnya, lalu dia menarik satu buah durian yang besar sekali dan warna dalamnya begitu kuning keemasan terbayang gimana manisnya.
Setelah puas menikmati durian, Hadi pun mengajak Alisa untuk jalan-jalan di sebuah Mall.
Hadi berjalan menggandeng pinggang sang istri di ajaknya ke toko perhiasan. Dan Alisa mendapatkan hadiah ulang tahun sebuah cincin berlian yang indah sekali.
"Ya ampun .... indah sekali! beneran ini buat aku?" Alisa sangat antusias sembari menoleh ke arah suami yang melihat-lihat barang yang lainnya.
"Iya sayang, itu buat kamu! kalau kamu suka ... pilih saja yang mana maumu, kalau aku sih suka yang itu!" Hadi menunjuk cincin yang sudah dia pakaikan di Jari manis Alisa.
"Aku suka kok, suka banget! terima kasih ya?" Alisa meluk tangan Hadi, Hadi pun mencium pucuk kepala sang istri kecilnya tersebut.
"Sekarang kau sebutkan apapun yang kamu mau! dan aku akan memberikannya untukmu. Perhiasan lain! tas, pakaian. Sepatu atau apa?" Hadi menatap ke arah sang istri yang tampak kebingungan.
"Em ... apa ya jadi bingung ditawarin kayak gini, beda kalau aku lagi membutuhkannya, dan aku bisa membelinya sendiri. Aku nggak mau apa-apa lagi, nggak kepikiran mau apa!" akhirnya Alisa menggelengkan kepalanya.
Sebab dia memang merasa tidak membutuhkan apapun! karena kalau dia butuh sesuatu, dia bisa membelinya sendiri.
"Yakin tidak mau apa-apa? aku yang nawarin loh sayang!" sambung Hadi kembali.
"Nggak. Nggak. Aku nggak mau apa-apa, lagian nanti kalau aku butuh sesuatu, aku bisa ngomong kok sama kamu atau belinya sendiri!"
Karena keputusannya seperti itu ya sudah, Hadi pun mengajak istri kecilnya itu untuk jalan-jalan. Namun tiba-tiba Alisa menghentikan langkahnya sambil celingukan mencari toilet.
"Aku mau ke toilet dulu ya sebentar!" Alisa menepuk tangannya Hadi.
"Oke! aku antar ya." Hadi pun ikut serta bersama Alisa mencari toilet.
Sesudah menemukannya, Alisa buru-buru masuk. Untuk buang air kecil, setelahnya dia mencuci dua tangan dan membasuh mukanya yang terasa panas.
Pinggangnya terasa sakit dan menjalar ke perut. Alisa memejamkan kedua matanya sembari berdiri di depan cermin, kedua tangannya menempel di tapian wastafel.
"Auw ... sakit sekali perut aku. Uuuhhh ..." raungnya Alisa ....
...🌼---🌼...
Mohon jangan lupa like komen dan lainnya dan makasih.
__ADS_1