
"Pah, mau kasih nama siapa adik bayi kembarnya? kan sebentar lagi mau lahiran kok Papa belum ngasih nama sih?" gerutunya Dirga pada sang ayah.
“Iya sayang ... Dirga, Papa sedang menyiapkan namanya. Sudah mandi sana? Bau ich.” Titah sang ayah pada Dirga.
“Huuh Papa, di tanya malah gitu. Orang lain sebelum lahir bayi nya sudah menyiapkan namanya, kok Papa belum sih?” protes Dirga sambil memonyongkan bibirnya.
“Sayang ... kan ini juga sedang mencari nama yang baik untuk kedua bayi ini. Dirga cukup mendoakan saja ya? lagian kan belum keluar juga baby nya,” ucap Alisa dengan lirih dan mengusap putra sambungnya.
“Ya sudah. Abang mau mandi dulu ya? nanti main lagi,” ucap Dirga sambil mengusap perutnya sang Mommy.
Kemudian anak itu pergi dari tempat tersebut dan meninggalkan mommy dan papanya.
Hadi dan Alisa saling melempar senyuman dan Hadi semakin mendekatkan diri pada sang istri sehingga duduknya berdempetan satu sama lain. Hadi mendekati wajah nya sang istri lalu menciumnya dengan mesra, pipi, kening dan bibir. Namun baru saja mau mendarat di bibir Alisa, sudah terdengar derap langkah mendekati dan suara Dirga terdengar kembali.
“Pah. Adek baby nya mau di simpan di kamar siapa? aku saja ya? biar aku yang jagain.” Dirga menatap sang ayah yang tampak kikuk dengan kedatangannya.
“Em ... iya giman nanti saja abang ... kan masih belum lahir adek baby nya juga.” Kata Hadi sambil menggelengkan kepalanya.
“Katanya Abang mau mandi? Kok balik lagi sih.” Alisa sambil merapikan dasternya bagian bawah.
“Oh iya. Iya deh aku mau mandi dulu, sebentar lagi mau mahrib.” Anak itu kembali memutar badannya lalu bergegas membawa langkahnya keluar dari rungan tersebut.
Setelah beberapa saat dan memastikan Dirga tidak kembali lagi, Hadi kembali medekati wajah sang istri lalu cuph, kecupan mesra mendarat di bibir istri kecilnya itu. Dengan durasi yang lama.
“Mmmm ... jangan lama-lama, ini bukan tempat pribadi dan takut di lihat orang.” Alisa mejauhkan wajahnya dari Hadi yang terus mengikuti.
“Biar saja! kita kan halal, makanya kamu hamil sayang.” Suara Hadi dengan nafas yang agak memburu.
Alisa beranjak dari duduknya, senja sudah tampak merah dan sebentar lagi juga mau maghrib! kata orang tua ... kurang baik kalau wanita hamil masih berkeliaran di luar pada jam segitu.
Begitupun dengan Hadi, lalu menuntun tangan sang istri untuk masuk ke dalam. Dan langsung ke dalam kamar.
Setelah berjamaah salat maghrib, Alisa dan Hadi masih terduduk di lantai sambil menyandarkan kepala di bahunya sang suami, Alisa berkata. “Beberapa hari lagi Liana menikah dan aku bingung mau memberikan kado apa, yank ....”
“Hem ... kenapa mesti bingung sayang ... yang sekiranya yang dia butuhkan saja jadinya bermanfaat,” balasnya Hadi sambil membelai kepalanya sang istri.
__ADS_1
“Iya, tapi apa? kan dia tidak kekuarangan, mau apapun dia mampu beli sendiri kok.” Alisa tetap kebingungan karena Liana kan serba kecukupan dalam hal materi.
“Ya, sudah ... kalau kamu merasa n8ngung seperti itu ... cukup doa saja lah. Semoga dia bahagia dan rumah tangga nya pun langggeng, tidak seperti dulu intinya. Saling menyayangi dan mencintai,” harapnya Hadi sambil mengecup pucuk kepalanya Alisa.
“Emh ... gak ngasih solusi ih.” Alisa bergerak dan beranjak dari tempat tersebut.
Begitupun dengan Hadi yang langsung menggandeng tangan sang istri di dudukannya di atas sofa. Hadi sangat perhatian pada sang istri apalagi sedang hamil besar begini.
“Kita mau makan malam di mana? kalau mau di sini biar aku minta sama asisten untuk menyiapkan nya dan membawanya ke sini.” Tawarnya Hadi sambil merapikan mukenanya Alisa di wajahnya.
“Hem ... di bawah saja, biar berkumpul dengan yang lain.” Jawabnya Alisa kembali.
“Ya sudah, kalau maunya begitu!” Hadi melipat kedua sajadah bekasnya dan Alisa yang kini duduk di atas.sofa.
“Makan yo? Lapar nih ...” Alisa mengusap perutnya yang buncit dan merasa lapar.
“Ayok” Hadi menggerakan tangannya meraih tangan Alisa yang sedang berdiri sambil membuka mukena nya.
Lalu Hadi menuntun sang istri keluar dari kamar nya itu, membawa langkahnya ke dekat lift.
“Sayang, hati-hati?” ucap Hadi ketika Alisa melintasi pintu lift.
Alisa pun memang berpegangan tangan pada sang suami dengan sedikit manja. Serta kepalanya menyender ke bahunya Hadi sambil berjalan.
“Aduduh ... mata ku sakit nih ... melihat kemesraan kalian. Bikin iri,” suara Liana sambil melihat ke arah keduanya.
“Ngapain kau iri? Sebentar lagi juga akan menikah.” Alisa sambil mendudukan dirinya dengan perlahan di kursi yang Hadi sediakan sarta tangannya memegangi perutnya yang buncit dan kadang terasa berat untuk bernapas.
“Gimana Lisa ... sudah ada tanda-tanda ada kontraksi belum?” tanya sang ibu mertua sambil memandangi ke arah Alisa.
“Belum bu ... kan masih lama perkiraan dokter juga.” Jawabnya Alisa sambil mengambil piring untuk Hadi terlebih dahulu.
“Oh iya. Sepertinya sudah tambah bulat saja kehamilannya.” Sambung sang ibu mertua kembali.
“Mbak. Si Abang mana?” tanya Alisa menanyakan Dirga pada mbak.
__ADS_1
“Dirga sudah makan barusan, katanya ngantuk jadi mau buru-buru tidur,” jawabnya mbak.
“Dia memang bilang begitu sama Ibu. Katanya mau bobo lebih awal biar besok gak ke kesiangan.” Kata ibu mertua nya Alisa.
“Oh ... tapi kan libur sekolah dia,” ucap Alisa sambil memberikan piring yang sudah berisi beberapa menu makanan pada Hadi yang langsung di sambutnya.
“Biar tidak kesiangan pergi bermain.” Kata Liana sambil mengunyah makannya.
“He he he ... bisa saja deh,” Alisa lalu menikmati makannya.
Mereka pun menikmati makan malamnya dengan sangat lahap. Apalagi Alisa yang nafsu makannya sedang meningkat perbawa hamil mungkin.
Apalagi kalau makannya dengan lalapan sambal bikin tidak mau beranjak.
“Mau pipis,” Alisa langsung bangun dan mendatangi kamar mandi yang ada di dapur.
“Hati-hati Lisa ... takutnya licin?” pakiknya sang ibu mertua.
Kemudian Hadi pun beranjak setelah selesai makannya dan mengusap mulutnya dengan tisu lalu mendatangi toilet yang di pakai sang istri.
Hadi menjemput sang istri yang berada di toilet tersebut. “Sudah sayang?” Hadi langsung menuntun tangan Alisa, dia benar-benar ingin bertanggung jawab pada sang istri yang sedang ke adaan hamil.
“Sudah sayang?” tanya Hadi pada sang istri.
“Sudah lah. Masa belum sih ...” jawabnya Alisa sambil mesem.
Kemudian Alisa menghabiskan kembali makannya. Di temani oleh sang suami.
“Oya Lian. kamu mau kado apa dari ku?” tanya Alisa pada Liana yang sedang makan dan memainkan ponselnya.
“Em ... apa ya? gue bingung. Lagian gue gak butuh apapun selain doa dari kalian semua.” Sahutnya Liana sambil melihat ke arah oma, Hadi dan Alisa bergantian.
Setelah makan malam selesai. Alisa dan Hadi langsung kembali ke kamarnya ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
JRahman angan lupa mampir juga di kali Aku terjebak cinta mafia semoga kalian suka. Makasih sebelumnya.