
Setelah tiba di depan sekolah nya Dirga, Dirga pun di turunkan bahkan Alisa antar sampai pintu kelas.
Sesaat kemudian. Alisa kembali ke mobil namun mendapati Dania sudah berada di tempat duduknya semula.
"Kenapa Tante pindah?" Alisa menatap heran ke arah Dania yang duduk di tempat duduk Alisa.
"Saya ... merasa gerah di depan!" jawabnya sambil merapikan ujung kerudung.
"Gerah, kan ada AC nya. Sejuk ahc!" gumamnya Alisa sambil masuk dan duduk di sebelahnya.
"Entah, saya malah merasa gerah kok," akunya Dania.
Mobil kembali melaju dengan sangat sepat, belok sedikit lalu berhenti. Pak Mur. Sudah tahu harus berhenti di mana ketika di area tempat kerja Dania.
"Sudah sampai Tante, silakan turun?" kata Alisa.
Dania menatap ke arah Alisa. "Ehem. Kau enak ya? hidup mu itu berubah secara instan. Secara cepat gitu, hidup mewah. Tinggal di rumah bagus. Kamar indah, pergi kemana-mana memakai mobil mewah ... enak banget ya?"
"Apa maksud Tante?" Alisa merasa heran.
"Hem, kok gak nyadar sih? kau itu dari orang biasa menjadi orang yang luar biasa. Yang tadinya tidak punya kerjaan! eeh punya kerjaan dengan jabatan mengpereng juga. Sebuah jabatan yang bukan di nol, tapi asisten pribadi, bos! apa pun yang kau mau akan di dapat dengan mudah." Nada bicara Dania begitu sinis.
"Sebenarnya maksud Tante ini apa sih? jujur aku gak ngerti." Alisa tetap tidak faham kenapa Dania malah bicara seperti.
"Ha ha ha ... dasar kampungan. Otak udang! aneh ya? kok Hadi bisa gitu mempercayai kamu sebagai asisten pribadi merangkap, di saat dia menemani istrinya. Apa hak takut hancur tuh perusahaan?" Dania menggeleng kan kepalanya dengan tawa yang terdengar begitu mengejek.
"Tante, please! silakan turun? aku kesiangan nih!" usir Alisa sembari melihat jam yang melingkar di tangannya.
Dania masih betah duduk di tempatnya. "Saya heran ya? kenapa kau itu tidak nyadar juga, kalau kakak ku drop itu karena keberadaan mu di antara kami! Sebelum adanya kamu, tidak pernah kakak drop seperti sekarang. Paling biasa saja.masih mampu dirawat di rumah. Tapi sekarang? kau lihat dia! hingga mau di bawa keluar Negeri segala."
Duaaaarrrrr ....
Perkataan itu bagaikan suara petir yang menyambar. Tiada hujan dan tiada angin suara Guntur menggelegarrrrrr.
__ADS_1
Alisa pikir, Diana drop di saat Dian dan Hadi berada di luar kota. Walau urusan kerjaan! namun setidaknya mereka berdua menikmati kebersamaan sehingga Hadi pun mendapatkan sesuatu yang berharga dari dirinya.
"Kau masih tidak nyadar juga ha? dia bukan cuma sakit di badan. Tetapi batin dia! istri yang mana yang tidak hancur? bila suamianya menikah lagi? coba kau pikir itu?" Dania semakin meracuni pikiran Alisa yang tampak shock dengan omongannya itu.
"Tapi, aku gak pernah bermimpi untuk dinikahi om Hadi. zini semata-mata permintaan Tante Diana sendiri." BmGumsmnya Alisa denga kedua manik mata yang berkaca-kaca.
"Kan bisa kau tolak, jangan mentang-mentang begitu! sekarang gimana dengan kondisi Diana? seharusnya kau pikirkan ini sebelum kau terima!" tambahnya Dania sambil bersiap turun dari mobil.
Alisa terdiam dengan menahan rasa sesak di dada, kenapa tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Oya? bila pernikahan ini kemauan Diana semata-mata. Hadi itu ... tidak akan pernah menyentuh mu sedikit pun! jadi bisa dong ... kau bayangkan? gimana hancur leburnya perasaan nya Diana? yang lemah itu tubuhnya, hatinya normal dan bukan boneka yang tidak punya perasaan!" Dania turun dan bugh suara pintu mobil yang di tutup.
Sejak Dania pergi. Alisa tak bergeming sedikitpun, hanya air mata yang berjatuhan bak air hujan yang begitu deras membasahi wajahnya, rasanya sakit dan sesak berasa sangat berdosa telah mengambil kebahagiaan orang lain.
Dan mobil pun melaju kembali menuju kantor, pak supir tidak sepatah katapun berucap kata, takut salah. Dan dia tidak tau menahu akar permasalahan nya seperti apa? sehingga dia memilih diam saja ketika Dania berbicara dan menyinggung hati Alisa.
Selang beberapa saat kemudian, mobil sudah sampai di depan kantor nya Hadi.
Lalu dia mengeluarkan beberapa lembar uang warna biru. Bagaimana pun perhatian pada Hadi adalah kewajiban nya, sebagai asisten pribadi. bila pun bukan sebagai istri.
"Pak, tolong belikan makan buat tuan ya? antarkan ke rumah sakit. Dan ... tidak perlu bilang apa pun soal yang barusan. Anggap saja bapak tidak mendengar apa pun." Alisa memberikan uang tersebut.
"Oh, iya. Non," pak Mur mengambil uang tersebut sambil mengangguk.
Alisa menyoren dan menenteng berkas memasuki gedung pencakar langit tersebut. Alisa melukis senyuman getirnya ketika bertemu dengan beberapa scurity dan staf lainnya.
"Pagi, Bu?" sapa beberapa staf di sana saat Alisa menghampiri dengan senyum ramahnya.
"Pagi juga, maaf Mbak. Tolong berkas ini di cek ulang dan di perbaiki ya? dan hasil ya di tunggu secepatnya!" Alisa memberikan sebuah berkas pada seorang wanita.
"Ooh, baik. Bu ... akan segera saya kerjakan." Balasnya sambil membuka berkas tersebut.
Lanjut Alisa mendatangi sebuah ruangan staf accounting. "Permisi ... pagi? maaf mengganggu waktunya sebentar?" Alisa tidak lupa mengetuk pintu.
__ADS_1
"Oh, pagi ... silakan masuk!" balas staf yang di bagian accounting tersebut.
"Makasih!" Alisa duduk di hadapan staf. "Em ... tolong laporan keuangan bulan ini serahkan ke meja saya ya? secepat nya. Semua dengan yang ... bulan lalu juga, untuk saya pelajari."
"Oya, ke meja ibu atau ke meja bapak?" tanya orang yang dimintai laporan keuangan tersebut.
"Em, ke meja saya saja. Sebab bapak masih berhalangan datang." Timpalnya Alisa.
"Ooh, baik. Nanti saya persembahkan ke sana." Kata orang tersebut.
"Sebelumnya, makasih ya. Pak! mohon maaf mengaggu waktunya!" ucap Alisa dengan sopannya. Kebetulan orang itu bahkan lebih tua dari Hadi.
"Ooh, tidak apa-apa, Bu! santai saja!" balasnya bapak tersebut.
Lalu Alisa beranjak kembali dari duduk nya dan meninggalkan tempat tersebut menuju ruangannya nya bersama Hadi.
Setibanya di ruang kerjanya, Alisa membuka gorden semuanya sehingga cahaya masuk semua ke ruang tersebut.
Netra matanya Alisa mendapati buket bunga yang tidak ada nama pengirimnya. "Eeh, dari siapa ini?"
Bunga tersebut Alisa bolak balik mencari pengirimnya dan tidak ada tanda-tanda nama pengirimnya di sana. Di ciumnya juga dihirup bau wanginya.
"Dari siapa sih? bikin penasaran saja deh." Alisa duduk di kursinya dan memulai aktivitasnya.
Lalu kepikiran omongan Dania tadi. bikin galau lagi dan manik mata pun kembali berkaca-kaca.
"Huuh ... aku tidak boleh mikirin omongan Tante Dania! sekarang ini jalani dulu semuanya. Masa bodo dengan omongannya itu! yang jelas-jelas dia itu kan terobsesi banget ke om Hadi. Jadi ... stop. Jangan pikirkan, apalagi sampai bikin kamu kacau Lisa ... sekarang ini emban saja tugas mu yang super berat ini. Lagian! bisa-bisa nya sih si om Hadi percayakan ini padaku?"
Alisa bermonolog sendiri sambil mengusap matanya yang basah itu ....
...🌼---🌼...
Mampukah Alisa bertahan dari omongan Dania yang mengganggu ketenangan nya. Sebagai gadis yang belum berpengalaman dalam kehidupan, wajar bila Alisa masih mudah terombang-ambing dengan sesuatu yang kadang nyata di depan mata.
__ADS_1