Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Daftaran


__ADS_3

Alisa menghela nafas dalam-dalam. "Baiklah, terserah om saja! yang penting kedua adik ku tinggal di asrama dan belajar yang bener."


"Tapi, ngomong-ngomong ... kenapa dengan tiba-tiba Alisa pindah dan juga secara tiba-tiba ingin Lilis dan Sinta di asrama? ibu kan ada dan mereka anak-anak ibu!" Bu Juli menatap curiga pada putri sulungnya.


Alisa sedikit kebingungan dengan pertanyaan dari ibunya. "Em ... aku!" menggaruk tengkuknya.


Melihat Alisa kebingungan. Hadi mencoba mengalihkan pembicaraan. "Gimana kalau kita makan dulu? saya sudah lapar dan kalian juga kan?"


"Iya, aku juga lapar. Seharian ini belum sempet makan!" Alisa beranjak.


"Apa? belum sempat makan? seharian?" Hadi mengerutkan keningnya serta menatap ke arah Alisa.


Dan Alisa mengangguk beberapa kali.


"Memalukan, emangnya di sini tidak ada yang nawarin makan, apa?" Hadi menggeleng sambil berdiri dari tempat duduk nya.


"Em ... di tawarin, tapi aku ... gak lapar!" akunya Alisa sambil menunjukan giginya ke arah Hadi.


"Kalau begini caranya. Di rumah hanya ada ibu dan bapak saja dong Alisa ... sepi dan ibu gak ada yang bantuin," ungkap Bu Juli sambil berjalan beriringan dengan Alisa.


"Nggak pa-pa, biar gak ada yang mengganggu." Timpal Hadi dengan senyuman.


"Iya, lagian aku mau kerja dan adik-adik mau sekolah, biar lebih fokus." Tambah Alisa sambil memegang tangan sang bunda.


"Oke, saya mau jemput istri saya dulu, duluan saja ke ruang makan." Hadi buru-baru membawa langkahnya untuk ke kamar sang istri, Diana.


Alisa dan ibunya langsung ke ruang makan dan di sana ada Liana yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Hi, makan. Bukan main ponsel saja, itu makanan buat di makan! bukan buat kebalikannya lihatin lu." Alisa menepuk bahu Liana.


"Eh, buset. Bikin gue kaget saja," ucap Liana sambil menoleh. "Eeh, ada Bu Juli?"


"Iya, Liana ... Ibu melihat ke melihat Alisa yang gak bilang dulu mau pindah ke sini. Ponsel pun tidak di bawa." Balas Bu Juli sambil mendudukan dirinya di kursi sebelah Alisa


Liana menatap lekat ke arah Alisa dengan tatapan datar. Lalu Liana melanjutkan makannya.


Lisa mengambilkan makan buat sang bunda dan setelah itu barulah mengambil untuk dirinya sendiri.


"Ayo, Bu makan?" Alisa menoleh sang bunda yang malah bengong melihat beberapa menu di piringnya.


Gimana makannya? ini kebanyakan. Ibu bingung makannya!" suara Bu Juli pelan, dia kebingungan.


"Hi hi hi ... Ibu, gak usah bingung. Tinggal makan saja lho," timpal Liana dengan makanan yang penuh di mulutnya.


Kepala Alisa mengangguk. "Iya, makan saja, Bu ...."

__ADS_1


"Eeh, ternyata ada tamu. Sudah lama?" sapa diana dengan lirih.


Bu Juli menoleh dan menunjukan senyum nya yang ramah pada Diana. "Aduh, jadi malu. Makan duluan nih."


"Ooh, tidak apa-apa. Lanjutkan saja, jangan sungkan atau apalah. Anggap saja ini rumah sendiri." Sambung Diana sambil tersenyum manis dari bibirnya.


"Iya," Bu Juli melanjutkan makannya.


Sementara Alisa hentikan makannya. Lalu meneguk minumnya.


Kedua manik mata Diana melirik ke arah Alisa yang sedang menyesap minumnya.


"Lisa ... mulai sekarang layani semua keperluan Abang ya? seperti sekarang ... ambilkan makannya!" pinta Diana sambil melirik ke arah suaminya juga.


"Oh, iya, Tante." Alisa pun berdiri dan mengambil piring yang Hadi sodorkan.


Alisa mengambil menu-menu yang Hadi tunjukan karena dia belum hafal kesukaannya apa dan apa aja yang tidak dia suka.


"Hedeuh ... belum nikah saja harus melayani makan segala! apa lagi tugas besok yang belum ku tahu!" gumamnya Alisa dalam hati sambil mengembalikan piring pada Hadi.


"Aku duluan ya?" Liana beranjak dari duduknya sambil menatap layar ponsel dengan bibir yang terus tersenyum.


Alisa melirik ke arah kepergian Liana. Lalu melihat ke arah Dirga yang tampak lahap sekali makannya, Alisa menunjukan senyum ya seraya berkata. "Dirga mau nambah lagi?"


"Em, mau ayam kak. Satu sama satenya, sama ... sayap juga." Dirga menunjukkan yang sebutkan.


Setelah makan selesai makan. Bu Juli berpamitan dan di atar oleh supir.


Alisa membereskan bekas makannya bantu asisten, sementara asisten lainnya sedang pada makan.


"Lisa ... sini?" panggil Diana dengan lirih dari ruang keluarga yang sangat dekat dengan ruang makan tersebut.


"I-iya, Tante. Sebentar? Lisa bereskan ini dulu." Jawabnya Alisa sambil buru-buru membereskan kerjaannya.


"Non, biar bibi saja yang bereskan. Lagian ini memang kerjaan kami." Kata seorang asisten yang baru selesai makannya.


"Tidak, pa-pa, Mbak. Aku bereskan dulu." Alisa terus menyelesaikan tugasnya sambil menunjukan senyuman.


"Biar saja Mbak, dia kan di sini numpang! jadi biarkan saja." Suara Dania yang baru saja datang di tempat itu.


Alisa menoleh dengan tatapan yang datar. "Tante, sudah makan? atau mau makan? biar saya siapkan!"


"Sorry, saya tidak makan malam lagi, diet." Jawabnya Dania sambil melipat tangan di dada.


"Ooh, diet ... oke, aku mau ke depan dulu." Alisa melap kedua tangannya lalu mengayunkan langkahnya ke ruang keluarga.

__ADS_1


Dimana Diana berada di sana sedang diberi obat dan Hadi sedang sibuk dengan ponselnya dan mengobrol di ujung telepon.


"Iya, Tante? aku minta maaf telat? mencuci dulu." Alisa mendekat dan berjongkok di samping Diana.


"Tidak apa-apa, kau rajin sekali." Lirihnya Diana sambil melihat ke arah Hadi dan Alisa bergantian.


''Saya akan cek, nanti dan urus saja dulu, saya tidak ingin ada masalah. Ya-ya ... oke. Wa'alaikum salam." Hadi menyimpan ponsel di sampingnya.


"Ada apa Abang ... apakah ada masalah?" tanya Diana menatap penasaran kepada sang suami.


"Oh, tidak, tidak ada apa-apa sayang, biasa saja." Balasnya Hadi dengan nada tenang dan mengarahkan pandangan ke arah Dania yang berjalan mendekati sang istri.


Diana mendongak pada mbak. "Kau boleh salat dulu, Mbak!"


"Baik, Bu." Mbak mengangguk. Lalu memutar badannya berjalan menjauhi tempat tersebut.


"Mbak," sapa Dania seraya mendudukan dirinya di sofa.


"Kau sudah makan malam?" Diana menoleh ke arah sang adik.


"Aku diet, badan ku terlalu gemuk nih!" Dania menunjukan tubuhnya yang berisi.


"Biar saja gendut juga yang penting sahat. Tidak seperti Mbak yang penyakitan--"


"Sayang, jangan bicara begitu? gak baik. Sayang akan sembuh kok." Hadi memotong perkataan dari sang istri.


Alisa pun yang berada dekat Diana mengangguk dan membenarkan perkataan dari Hadi barusan.


"Aku cuma mengatakan yang sebenarnya Abang ..." akunya Diana.


"Iya, tahu sayang. Tapi tidak perlu di bahas lah." Timpal Hadi kembali.


"Em ... Abang! menurut Abang ... aku bagusan gemuk begini atau lebih langsing?" tanya Dania meminta pendapat dari Hadi.


Hadi melirik ke arah Diana dan tunangannya, Alisa. Bisa-bisa nya Dania bertanya seperti itu.


"Em, Lisa ... ini Tante punya daftaran tugas keseharian Alisa dalam menjadi asisten pribadi Abang, dari sebelum juga sesudah menikah dan untuk terus berlalu." Diana menyerahkan selembar kertas ke Alisa yang bengong.


Alisa menatap kosong kertas tersebut. "Daftaran! daftaran apa?" gumamnya dalam hati.


Dania turut penasaran dengan isi kertas yang Alisa pegang. Sehingga dia ingin mengintip kertas tersebut ....


.


Jangan lupa subscribe ya? di titik tiga, like komen dan lainnya.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2