
Tentu menjadi pertanyaan, kenapa Hadi meminta kunci serep, kan di dalamnya ada orang, namun Hadi mengakui kalau sebenarnya yang di dalam adalah istrinya dan sekarang lagi merajuk. Sehingga pintu dikunci dari dalam dan Hadi pun memberi bukti pernikahannya dengan Alisa.
Setelah di jelaskan, akhirnya pihak hotel yang memang mengenal Hadi. Namun yang dia tau istri Hadi bukan wanita muda yang sekarang. Pun percaya.
Hadi membuka kunci lantas masuk dengan santainya ke dalam kamar Alisa. Dalam kamar di bawah sinar temaram tampak sosok Alisa sedang lelap tertidur.
Tidak lupa sebelum membawa langkahnya masuk lebih dalam lagi. Hadi memastikan pintu terkunci kembali, mendekati tempat tidur tersebut.
Di tatapi dengan sangat lekat wajah yang begitu cantik dan menampakan auranya. Pria itu duduk di tepi, dengan pandangan terus tertuju pada sang istri.
Tapi Hadi merasa semakin penasaran dengan diri Alisa yang menampakan bahunya.
Ketika Hadi tarik selimutnya sedikit, dia merasa sangat shock. "Waw ... ck-ck."
Rupanya Alisa mengenakan pakaian malam yang kemarin ia pakai. Bibir Hadi tertarik ke samping dan dengan nakalnya semakin menurunkan selimut Alisa sampai ke pinggang.
"Lisa?" panggil Hadi dengan suara pelan dan bergetar. "Kenapa pakai baju seperti ini? kalau ada orang lain gimana?"
Hadi celingukan. Menjadi was-was bilakah ada yang masuk atau bisa saja pelayan hotel mungkin. Sementara Alisa sedang berpakaian seperti ini.
Singanya Hadi yang memang sedang gelisah pun semakin meronta minta keluar dari kandang. Tidak tahan dengan pemandangan yang nyata di depan mata. Tubuh Hadi mendadak meriang dan panas dingin dibuatnya. Perasaan jiwa lelakinya meronta dan sangat menyiksa.
"Sayang." Bisik Hadi kembali, Namun tidak ada respon dari Alisa sedikit pun.
Netra Hadi bergerak dari atas ke pinggang dan naik lagi ke atas. "Lakukan kewajiban mu Hadi, dia halal bagi mu! jangan sia-sia kan kesempatan emas ini."
"Dia lagi tidur, aku gak mau di anggap memaksa dia. Aku ingin kita melakukannya atas dasar sama-sama suka."
"Kamu bodoh, kemarin dia sudah menawarkan diri. Tapi kau tolak mentah-mentah, sehingga dia sedih, kecewa kau abaikan begitu saja."
__ADS_1
"Tapi, kita sudah sepakat. Kalau kita tidak akan melakukannya, kecuali benar-benar khilaf." Hadi terus menatap ke arah Alisa terutama ke titik yang pernah dia jamah dan sebenarnya bikin candu.
"Persetan dengan surat itu Hadi. dia istri mu, jangan sia-siakan kesempatan ini, emang kau mau? kalau dia itu dinikmati pria lain sementara kau tidak pernah menyentuhnya sama sekali, rugi ... kau akan rugi sendiri."
Pria yang masih terlihat gagah dan tampan itu menghela nafas panjang lalu membuka piyama nya mengekspos dada bidang dan perut sixpack nya.
Turun dan merubah posisi, naik di sebelah sisi tempat tidur, membaringkan diri di belakang Alisa yang tidurnya miring itu.
Pria itu dengan hati-hati masuk ke dalam selimut nya Alisa. Dia pun miring dan menumpukan siku tangan yang dan menyangga kepala. Sehingga dengan leluasa memandangi Alisa yang sedikit miring memunggungi dirinya.
Tangan Hadi yang kanan bergerak memeluk pinggangnya Alisa yang tak bergeming. Hadi mendaratkan kecupan di kening pun Alisa tetap tak memberi respon.
Bibir Hadi semakin mengembang dan dia semakin leluasa untuk bertindak lebih. Menyingkirkan rambutnya gadis itu ke atas bagian belakan agar tidak menghalangi tengkuknya.
Beberapa kecupan pun mendarat di tengkuk dan bahu gadis itu. Saking capeknya Alisa pun tidak menyadari kalau dia tidur di dalam pelukan Hadi, pria yang menjadi suaminya itu.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 01.00 dan Hadi masih terjaga dengan tubuh yang yang terasa panas dingin. Keringat dingin pun bercucuran dari sekujur tubuhnya. Nafas pun kian terengah-engah Bagai habis lari maraton saja.
"Kau terlalu capek ya sayang, sehingga kau tidak bangun-bangun." Gumamnya Hadi lagi. Kini tangannya dengan berani bermain di perbukitan yang bersih nan mulus.
Alisa yang sangat kecapean, tidurnya begitu sangat nyenyak dan berlayar di alam mimpi.
Sekitar pukul 03.00 Alisa terbangun karena merasakan ingin buang air kecil. Belum membuka mata pun sudah merasa ada yang aneh yang menindih bagian tubuhnya.
Jelas Alisa kaget Karana ketika ia sentuh berupa tangan yang memeluknya. Dengan refleks membuka kedua manik matanya dan berbalik menoleh ke arah samping yang serasa ada yang menempel di punggungnya tersebut.
"Aa ..." hampir saja Alisa menjerit sekencang-kencangnya namun dia segera sadar dan menutup mulutnya. Ketika dia sadar kalau pria yang memeluknya itu adalah Hadi.
Alisa sangat kebingungan, kenapa Hadi ada di sana. Jelas-jelas pintu terkunci kok. Lagian ngapain juga tidur satu kasur dan satu selimut juga.
__ADS_1
Kening gadis itu mengkerut tidak habis pikir. Lalu dia melonjak bangun, jangan-jangan! Alisa mengamati tubuhnya yang mengenakan baju jaring laba-laba tersebut dan memang tampak berantakan. Kaitan bra nya pun sudah terlepas.
Alisa merasa shock. "Apa yang Om lakukan?" suara Alisa bergetar.
Lalu tangannya meraba bokong yang berasa basah. "Apa aku ngompol?" gumamnya heran, tani bagian depan nggak. Cuma merasa keringatan doang.
Namun ia sendiri masih lengkap kok. Cuma bagian atas saja yang berantakan dan terlepas, Alisa menatap sedih dan kecewa ke arah Hadi, tangannya memeluk selimut.
"Om, apa yang lakukan di sini? kenapa Om juga bisa masuk! Om?" suara Alisa membangunkan Hadi yang belum lama ini tertidur.
Tangan Hadi menggosok netra nya yang banget-banget mengantuk, melihat Alisa terduduk dan menatap nanar ke arah dirinya.
Hadi menyalakan lampu dan juga mendudukan dirinya seperti Alisa.
"Apa yang Om buat padaku?" ulang Alisa, suaranya bergetar sedih dan kini lebih terlihat kalau manik matanya nanar.
Kedua telapak tangan Hadi mengusap wajahnya dan lalu menoleh air minum yang ada di meja, lantas ia teguk sampai tandas.
"Kenapa, Om gak jawab? aku sudah kunci pintu. Kenapa kau bisa masuk juga? bahkan apa yang kau lakukan ketika aku tidur!" suara alis kembali terdengar.
"Aku tidak melakukan apa-apa!" jawabnya jadi yang belum tersadar sepenuhnya.
"Bohong. Om sudah melakukan apa padaku tanpa sepengetahuan aku, jangan bilang Om khilaf, itu tidak masuk akal sekali." Jemari Alisa mengusap pipinya yang basah.
Berangsur, Hadi pun sadar. "Saya. Tidak bis tidur, makanya saya pindah ke sini! dan ... apa yang saya lakukan itu ... saya sadar dan juga saya! menginginkannya."
Alisa bengong memandangi pria itu yang kini menatapnya lekat, serta mengakui ingin sesuatu yang ach, bikin Alisa tidak bisa membayangkan nya ....
...🌼----🌼...
__ADS_1
Em ... lanjut gak ya🤔🤔 sampai tuntas malam ini juga. Ayo yang suka mana dukungannya?
Makasih ya.