Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Tidak diperhatikan


__ADS_3

Melihat Alisa terus diam. Hadi kembali bersuara sambil mengelus bahunya sang istri. "Jangan marah dong sayang ... sekali lagi aku minta maaf!" cuph Hadi memberikan kecupan di kepalanya Alisa.


Hadi menyesal sudah buat Alisa bersedih. "Bicara lah sayang, Jangan marah lagi!"


Kemudian Hadi mengecup kuping yang automatis bikin Alisa meremang dan kuat-kuat memejamkan matanya.


"Aku tidak marah, aku capek!" pada akhirnya Alisa bersuara dan berusaha kondisikan suaranya agar tidak ketahuan kalau dia sedang menangis.


Hadi menarik pinggang Alisa agar menempel ke tubuh nya sebagai permintaan maaf. Sementara Alisa berusaha menyembunyikan wajah di bantal.


Tak ada kejadian yang signifikan di antara keduanya selain tidur saja, tangan Hadi memeluk Alisa dari belakang karena istri kecilnya itu tengah merajuk dan tidak mau berhadapan dengannya.


Malam terus beranjak membawa pada suatu pagi yang begitu cerah. Seperti biasa Alisa membuatkan sarapan buat Hadi namun kali ini Hadi sarapan bareng dengan yang lain.


"Mommy, aku mau sarapan nasi goreng. Tapi gak mau pakai sayur ... maunya telor aja!" pintanya Dirga sambil celingukan ke isi meja.


"Sarapan yang aja kenapa sih? biasanya minta roti bakar, roti bakar sudah ada! minta nasi goreng gimana sih?" Liana menatap tajam pada sang adik.


"Mbak, bikinkan nasi goreng ya?" pinta ibunya Hadi dengan lembut pada mbak.


Alisa pun melirik ke arah mbak yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Baik, Bu ..." asisten rumah mengangguk.


Hadi tidak bicara sedikitpun. Dia terus saja menikmati sarapannya.


Bu Lia dan suami saling pandang. Mereka akan masih tinggal di sini sampai 7 harinya Diana selesai nanti.


"Nggak mau, aku mau mommy yang bikinkan!" Dirga menggeleng.


Alisa yang sedang mengunyah pun langsung berhenti dan meneguk minumnya. "Oke, tunggu sebentar ya?" Alisa beranjak sambil mengusap kepala anak itu.


Dania tersenyum kecut yang di tujukan pada Alisa, dia merasa puas melihat Alisa sarapan pun tidak tenang karena Dirga yang kini lebih manja, belum sekolah pun minta di antar sama Alisa juga.


Hadi tetap terdiam. Sesekali melihat punggung istri kecilnya itu yang sedang makan harus ditinggalkan demi permintaan, mengerjakan tugasnya.


Di dalam hati yang paling dalam. terkadang Hadi khawatir kalau istri nya itu akan mengikuti yang tertera di surat kontrak tersebut. Kalau seandainya Diana sehat atau pun tiada! dia bebas meminta pisah dari nya.


"Sekarang kamu manja ihc." gumamnya Liana pada sang adik.


"Biarin. Waktu mama ada, aku gak bisa manja! karena mamanya juga sakit dan Dirga gak bisa bermanja pada mama," suara anak itu cukup mengiris hati.


Semua terdiam dari aktifitasnya dan saling bertukar pandangan.

__ADS_1


Begitupun Alisa yang sejenak terbengong-bengong dan merasakan mencelos. Lalu Alisa menunjukan senyumnya menoleh pada Dirga lantas menyuguhkan nasi gorengnya yang sudah siap itu.


"Tereng ... nasi goreng nya sudah siap!" ucap Alisa. "Dimakan habis ya?"


"Makasih, mom!" Dirga menyambut senang menatap nasi goreng yang masih mengepul.


Selesai sarapan Alisa mengambil tas nya, bersiap mau nganterin Dirga ke sekolah.


"Aku berangkat dulu ya?" Alisa mencium tangan Hadi yang sedang duduk di sofa ruang tengah dengan memangku laptopnya bersama sang ibu.


"Hadi ... kenapa gak kamu antar istri dan anak mu ini. Kamu jangan terus begini Nak ... bangkit, jangan terpuruk dalam kesedihan yang berlarut-larut. Nggak baik," lirih sang bunda kepada Hadi.


"Aku masih malas. Bu ... lagian aa pak Mur dan yang lainnya." Jawabnya Hadi begitu ringannya.


Alisa yang masih di sana dan menyuruh Dirga untuk berpamitan kepada orang rumah.


"Lisa pergi dulu ya, Bu ..." Alisa mencium tangan sang ibu mertua dan juga ibu Lia dan suami yang baru muncul di tempat tersebut.


Alisa berlalu setelah mengucap salam. Di melangkah dengan hati yang sulit dia gambarkan dengan kata-kata mengingat suaminya.


Alisa mendongak dan mencegah jatuh air mata yang ingin keluar dari persembunyiannya.


"Ayo Mom ... nanti kesiangan!" Dirga menarik tangan Alisa ke dalam mobil.


"Iya sayang iya!" Alisa menarik mobil dan duduk di sana bersama menelan Saliva yang terasa sakit di tenggorokan.


Bikin hati Alisa semakin sedih dibuatnya. Entah mungkin anak ini mamang belum mengenal beban pikiran atau memang sudah mengikhlaskan kepergian mamanya. Lain dengan Hadi yang masih berlarut-larut dalam kesedihan.


Setelah mengantar Dirga ke sekolah, Alisa meminta pak Mur mengantarnya dulu dulu ke sekolahan untuk menjenguk kedua adiknya sebentar sebelum mereka pun masuk sekolah. Mumpung masih ada waktu.


Pas tiba di depan sekolah, kebetulan kedua adiknya masih berjalan menuju sekolah tersebut. Keduanya menyambut bahagia sang Kakak yang dan langsung memeluknya.


"Kita kangen banget sama Kak Lisa." Mereka memeluk sang Kakak dengan sangat erat.


Begitupun Alisa yang mencium kepala Mereka bergantian. "Kalian baik-baik ya di sini, betah kan?"


"Betah, Kak. Kemarin pun ada orang yang katanya suruhan suami kak Lisa, mengantar makanan banyak. Dan sepertinya juga menemui pak guru untuk pembayaran bulanan deh." Kata Lilis.


Alisa mengerutkan keningnya. "Suruhan siapa?"


"Suruhan suami Kakak lah, siapa lagi. Dia juga menitipkan uang buat jajan kita ya Sinta ya?" Lilis menoleh pada sang adik.


Sinta pun mengangguk membenarkan perkataan dari Lilis.

__ADS_1


"Berarti dia perduli juga sama adik-adik ku, tapi ... wajarkah aku mati-matian gantikan dia di perusahaan. Dan aku sendiri hingga gak sempet perhatikan adik-adik ku." Batin Alisa sambil memandangi kedua adiknya itu.


"Kenapa, Kak bengong?" tanya Lilis dan Sinta.


"Ooh, nggak. Kakak pamit ya? kalian juga mau masuk sekolah, Oya. Kakak ke sini gak bawa apa-apa jadi kalian beli sendiri aja ya, dan jangan lupa sama teman lain berbagi ya!" sang kakak memberikan sejumlah uang pada Lilis dan Sinta.


"Oke, nanti kalau Kak Lisa bisa libur, hari minggunya kalian di jemput ya, sekarang kalian belajar saja yang bener." Alisa kembali memeluk kedua adiknya erat-erat.


Setelah itu mobil yang dikemudikan oleh pak Mur pun meluncur dengan cepat menuju kantor.


Dan setibanya di kantor, Alisa langsung ke ruang kerjanya, dan menyusun rencana untuk keberangkatan ke Lampung. Waktunya yang belum di tetapkan.


Saat ini Alisa sedang makan siang bersama Mita, Zidan. Dan Burhan sudah dipindahkan lagi ke Surabaya dari satu hari lalu.


"Pak Hadi masih berkabung ya dia belum bisa masuk kantor?" Zidan memulai pembicaraan sambil menikmati makan siangnya.


"Hem." Gumamnya Alisa.


"Kalau gak salah berarti benar ya, hari ini 7 harinya." Mira melirik ke arah Alisa.


"Iya, hari ini tepat tujuh harinya. Nanti kalian datang kan?"Alisa mengangkat wajahnya melihat ke arah mereka berdua.


"Insya Allah kami akan datang." Jawabnya Zidan dan Mita berbarengan.


"Makasih sebelumnya!" Alisa tersenyum pada keduanya.


Zidan menatap lekat pada Alisa yang dia rasa Alisa sedang menyimpan rasa yang sulit dia ungkapkan.


"Sepertinya ... aku mau minta cuti dulu barang seminggu deh. Mungkin Minggu depan setelah urusan di Lampung." Alisa sambil mengunyah.


"Bagus itu. Kau tampak lelah dan memang butuh istirahat. Oya, siapa yang akan berangkat ke Lampung?" timpal Zidan.


"Nggak tahu, aku mau rundingkan dulu dengan CEO kita. Bila perlu meeting dulu." Jawabnya Alisa.


"Oke, Oya perhatikan dirimu sendiri. Kamu pun perlu rehat," ucap Zidan sembari melepas pandangan ke arah Alisa.


"Iya," Alisa mengangguk pelan.


Kemudian mereka memasuki ruang kerjanya masing-masing setelah selesai makan siangnya.


Alisa menunduk ke meja dan menangis tak bersuara. Bukan cuma lelah badan yang dia rasakan, tetapi capek hati juga. Capek karena merasa tidak di perhatikan dan tidak di hargai oleh sang suami.


Saat ini Alisa sudah berada di dalam mobil untuk menuju pulang dan sengaja lebih awal, karena di rumah mau ada persiapan acara tujuh hari nya Diana. Di rumah pun sedang menyiapkan bingkisan ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Mohon dukungannya ya? dan baca juga "Pencarian Dan Dendam" makasih.


__ADS_2