
Selesai meeting, lanjut makan malam. Semuanya menyantap hidangan yang ada dengan nikmat.
"Nona, Apa kau mau menemani ku mengobrol?" tanya seorang pria yang masih rekan bisnisnya.
"Silakan?" Alisa mengangguk, dia kira mau bicara apa.
"Tapi tidak di sini. Bagai mana kalau kita bicara di suatu tempat! gimana?" sambung pria itu sambil menunjuk ke arah tempat yang agak sepi.
Alisa melirik ke arah pria itu tunjukan, lalu Alisa mengerutkan keningnya. "Kenapa tidak di sini saja?"
"Em ... biar lebih leluasa saja. Kalau di sini berasa gimana gitu! terlalu ramai." Tambah pria tersebut.
"Maaf ya? aku gak bisa. Kalau mau bicara, di sini saja. Kenapa harus di tempat sepi segala?" Alisa beranjak namun.
Geph!
Tangan Alisa di tangkap oleh tangan pria itu.
Alisa langsung menepis tangan itu. "Jangan kurang ajar ya?"
"Sebentar? santai. Mau kemana? jangan terburu-buru! kita duduk saja di sini." Orang itu begitu santainya.
"Maaf ya? saya tidak ada waktu untuk duduk menemani anda di sini." Alisa berdiri kembali dan hendak berjalan meninggalkan pria tersebut.
Lagi-lagi pergelangan tangan Alisa di tangkap ya dan bukan cuma itu saja. Jarinya mencolek dagu Alisa membuat wanita itu mundur beberapa langkah.
"Kau, jangan kurang ajar dan itu sudah saya jelaskan. Saya sudah bersuami!" Alisa tampak geram dengan kelakuan pria tersebut yang semakin nakal.
"Oya, bersuami! sejak kapan kau bersuami? dan mana suaminya apakah ada di sini? saya tidak melihatnya." Pria itu malah celingukan.
"Hi ... hi ... jangan ganggu dia! dia istrinya Bos kita," suara Zidan yang datang ke tempat tersebut bersama Burhan.
"Iya, dia itu istri bos kita. Jangan di ganggu!" tambahnya Burhan, dia berdiri di antara mereka.
"Maksud kalian apa? siapa yang istri Bos?" selidik pria itu.
"Dia, dia ini istri mudanya Bos. Jadi jangan macam-macam!" Timpalnya Zidan sembari menunjuk ke arah Alisa dengan ibu jarinya.
"Ha, apa benar? istri CEO kita bukan dia!" pria itu melirik ke arah Alisa yang terdiam.
"Benar, dia istri nya, kalau gak percaya tanyakan saja sama orangnya langsung." Burhan menambahkan perkataan dari Zidan.
"Saya tidak percaya! CEO kita itu istrinya Diana yang kini sedang sakit. Bukan dia." Pria tersebut menggeleng.
"Dasar. Ngeyel, gak bisa di kasih tahu." Mita yang kini berdiri di dekatnya Alisa.
"Sorry. Aku pergi dulu! permisi?" Alisa mengundur diri lalu meninggalkan tempat tersebut.
"Beneran! dia istri nya CEO kita?" kedua netranya melihat ke arah Zidan, Burhan dan Mita bergantian.
"Benar, betul-betul. Betul, dia istrinya CEO dan dia menjadi asisten perusahaan sebagai ganti CEO yang sedang membawa istrinya berobat." Jelas Burhan lagi.
__ADS_1
"Lah, saya kira--"
"Kira apa? dia wanita simpanan gitu? dia resmi dinikahi dihadapan istri tua nya." Timpal nya Zidan.
Alisa yang berjalan meninggalkan tempat tersebut. Membawa hati yang kesal. Mungkin pria itu pikir dia wanita murahan apa?
"Enak saja. Mungkin dia kira aku wanita penghibur apa? kurang ajar banget." Gerutu Alisa dalam hati.
Dia memasuki kamar hotelnya. Lalu berganti pakaian dengan piyama. Membuka sanggul nya dan menggeraikan nya.
"Kau itu jangan mudah di deketin laki-laki. Apalagi status mu itu istri walaupun kamu juga dimanfaatkan oleh Hadi dalam urusan pekerjaan. Tapi biarlah, itung-itung belajar." Gumamnya Alisa.
Alisa membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang yang empuk.
Rettt ....
Rettt ....
Ponsel Alisa berbunyi. "Huuh ... siapa sih? mau tidur nih!"
Alisa menutup telinganya dengan bantal. "Eeh ... emangnya dia tahu aku mau tidur? oh iya he he he ... kan dia nggak tahu kalau aku lagi capek! lagi apa mana dia tahu."
Kemudian Alisa meraih ponselnya. Ternyata vc dari Hadi.
"Hem ... ada apa?" Alisa menatap ke arah Hadi yang memunggungi pagar balkon.
"Nggak mau ya di telepon ma suami?" balas Hadi sambil mesem.
"Senang ya? banyak yang mengagumi. Terpesona dengan dirimu," ucap Hadi dengan nada cemburu.
Alisa terdiam sambil memeluk bantalnya.
"Tante baik saja." Jawab Hadi sambil meneguk minumnya.
"Hi ... kau sudah lupa sama aku? gak ada kabar gak ada apa! mentang-mentang dah senang lu ya, sehingga gak pernah nanyain kabar gue. Kacang lupa sama kulit lu!" celetuk Liana yang menggeser posisi sang ayah.
"Aduh ... Non. Bukan lupa gue, tapi iya he he he ..." Alisa tersipu melihat ke arah Liana.
"Kacang lupa kulitnya, lu! ha ha ha ..." pandangan Liana tertuju pada Alisa sambil tertawa.
"Hi hi hi ... kalau gue kacang, ngapain ingat sama kulitnya? buang saja lah kan sudah tidak berguna lagi kan ..." jawabnya Alisa terkekeh.
"Dasar lu ... lupa teman--"
"Kan lu itu memang bukan teman gue Lian ... lu anak gue, hi hi hi ...."
"Ogah gue jadi anak lu! gak di sayang gue." Balas Liana sambil menunjukan senyum nya.
Hening ....
"Apa kabar kamu dan yang lainnya? gue sibuk Lian selama kamu gak ada sehari dua saja aku di rumah, sekarang aja aku sedang di Surabaya." Suara Alisa menghiasi kembali.
__ADS_1
"Baik, iya. Gue tau lu sibuk, kamu kan kaki tangan bokap gue. Oya, gue aja belum tentu sanggup menggantikan peran bokap. Pah, tolong ambilkan itu tuh!" Liana melirik ke arah sang ayah.
"Syukurlah kalau baik begitu, semoga Tante segera sehat ya? dan cepat pulang!" harap Alisa tentang Diana.
"Aamiin ... doakan saja lah!" seru Liana. Oya, sudah dulu ya? bicara lagi nih sama ayang." Liana menggeser posisi duduknya dan menyuruh papanya untuk menghadapi Alisa.
"Oke!"
"Gimana, tadi ketemu banyak pria tampan dan gagah! dan dia sangat mengagumi, terpesona padamu, apa ada satu yang membuat hati mu tertarik?" ucap Hadi sambil memandangi dengan sangat lekat.
Alisa terdiam sejenak seraya memainkan jemarinya. "Oh, tentu. bukan cuma satu, tapi ada beberapa yang bikin aku tertarik dan hatiku bergetar."
"Benarkah? bagus itu!" sambungan vc pun terputus.
"Lho ... kok mati? gak pamit dulu lagi! kenapa sih?" gerutu Alisa sambil menyimpan ponsel ke tempat semula di samping bantal.
Lalu dia melanjutkan niatnya untuk tidur.
...---...
Hadi sengaja mematikan sambungan vc nya karena hatinya merasa kesal dan gondok banget mendengar jawaban dari Alisa yang seolah menyalakan api cemburunya.
Tangan Hadi mengepal, hatinya benar-benar kesal, ingin marah tapi pada siapa? akhirnya dia menghela nafas dalam-dalam agar emosinya terkontrol.
"Huuh ..." helaan nafas Hadi yang panjang lalu dia lepaskan melalui mulutnya.
"Bisa-bisa nya dia bilang begitu! gak memikirkan perasaan ku apa?" gumamnya Hadi.
Lalu dia menghampiri sang istri yang sedang duduk. Bersandar bersama ibunya.
"Sayang, minum obat dulu?" Hadi memegang obat buat Diana.
"Abang, Diana bosan meminum obat. Sudah capek!" ucap Diana sembari menatap sendu.
"Sayang ... harus minum obat dong! kan mau sembuh bukan?" Hadi membujuk.
"Iya Diana ... gimana mau sembuh kalau tidak minum obat! lihat tubuh mu agak segar sekarang?" tambah sang ibu.
"Tapi Diana capek Bu ... minum obat terus dan rasanya sudah tidak ada rasanya nih lidah!" Rajuk Diana.
"Minum obat dulu ya?" Hadi menyuapi Diana dengan obat. Tapi Diana menggeleng.
Hadi dan sang ibu mertua saling pandang, dan bingung gimana caranya membujuk Diana untuk minum obat.
"Gimana dong sayang ... kalau gak mau minum obat? kan kita wajib berusaha!
Diana terus menggeleng, menolak untuk meminum obat ....
...🌼---🌼...
Aku tunggu nih dukungannya, agar aku tambah semangat lagi nih. Makasih.
__ADS_1