Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Shock


__ADS_3

"Nggak seru, bila cuma bicara sama kamu doang. Aku ingin bicara sama ibu mu juga! buruan panggilkan?" Liana begitu antusias.


Namun tidak di panggil pun. Bu Juli keluar segera, karena mendengar suara Liana yang riweh.


“Ada apa sih kalian ini ribut-ribut segala?” tanya bu Juli sambil duduk di samping nya Alisa.


“Begini, Bu ...” Liana menghela nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan perkataan nya tersebut.


“Aish ... mau bicara aja susah nya minta ampun, kaya mau bicara apa saja kamu ini Lian ... bikin penasaran orang saja.” Alisa menggelengkan kepalanya pelan.


“Ehem. Begini ya dengarkan baik-baik, nanti sore ... keluarga ku mau datang ke sini untuk melamar kamu Al.” Liana dengan wajah yang tampak bahagia.


Namun lain lagi dengan Alisa yang terlihat shock mendengarnya, ternyata itu benar dan bukan sekedar rencana saja. Tante Diana akan melamarnya untuk om Hadi sebagai ayah dari temannya, yaitu Liana.


Apalagi dengan bu Juli yang berasa dia mendengar guntur di terik matahari. Tidak percaya dan untuk siapa mereka melamar Alisa?


Liana menjadi bengong, melihat kedua orang yang berada di hadapan nya itu yang tampak shock mendengar keluarganya akan datang melamar.


“Kenapa kalian menjadi bengong begini? Seperti kambing congek saja.” Liana menatap heran ke arah Alisa dan ibunya.


“Em, orang tua mu mau kesini melamar Alisa. Untuk siapa? Emangnya kalian punya anak bujang?” selidik bu Juli merasa penasaran dan menatap tajam ke arah Liana.


“Anak bujang? Tidak ada, kami mau melamar Alisa buat papa aja.” Liana menjelaskan tanpa ragu.


“Apa? buat papa mu?” bu Juli semakin merasa shock dan tidak percaya dibuatnya.


Liana mengangkat kedua tangannya di depan wajah sembari berkata. “Terserah ya, kalian mau percaya atau tidak. Yang jelas insya Allah nanti sore mama dan papa akan datang ke sini untuk melamar Alisa, titik. Jadi kalian siap-siap saja, maksud ku jangan kemana-mana. Tapi ingat? jangan merepotkan, itu pesan dari mama dan papa.” Kemudian, Liana pun berpamitan karena mau ke kampus.


“Aneh itu sekali itu anak, mau punya ibu tiri malah cengengesan?” gumamnya Alisa Sambil menggeleng dan mengantar Liana ke dekat motornya.

__ADS_1


“Jangan pelan-pelan ngomongnya, biasa aja biar aku dengar gitu. Aku sih senang aja, daripada ibu tiri ku tante Dania? ya ... mendingan kamu, seandainya kau salah bisa ku tegor dan adu jotos, adu jotos lah namanya juga teman. Ha ha ha ....”


“Dasar, kau itu cari ibu sambung apa cari musuh sih, aneh amat?” timpal Alisa sambil menepuk bahu Liana.


“Sudah ah. Gue pergi dulu? nanti kesiangan. yo calon ibu sambung ku? Bai ....”


“Ih, aneh tuh anak, aneh sekali. Dasar somplak.” Lagi-lagi menggeleng kasar.


Sementara, bu Juli masih tertegun memikirkan perkataan dari Liana yang katanya mau melamar Alisa. “Ibu tidak sadang mimpi kan Lisa ... seriusan omongan Liana itu?” selidik bu Juli sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.


“I-iya, Bu. Seperti yang dikatakan tante diana memang seperti itu,” ungkap nya Alisa sambil mengangguk.


“Lisa ... apa kau sadar, Nak ... dia itu lebih pantas menjadi ayah mu dan paling terpaut berapa tahun dengan ayah mu almarhum, dan yang lebih penting lagi ... dia mempunyai istri bukan duda ataupun bujang yang yang tidak punya tanggungan.” Ujar bu Juli yang merasa keberatan.


“Bu ... ini bukan kemauan om hadi, tapi permintaan tante Diana yang sakit-sakitan itu. Om Hadi pun tidak mau menikah lagi kalau bukan kemauan istrinya,” imbuhnya Alisa.


“Apa? jadi ini kemauan atau permintaan bu Diana? begitu maksud kamu?” selidik lagi bu Juli.


Bu Jui dan Alisa menoleh ke arah pak Anwar yang baru muncul dan sudah mengenakan jaket ojol nya.


“Tuaan mana sama saya?” tanya pak Anwar sambil memperlihatkan mata genitnya.


“Tuaan bapak lah, tentunya.” Jawab Alisa, karena memang kalau dibandingkan dengan pak Anwar sih terlalu tua.


“Tapi biar bapak lebih tua, tentunya bapak masih oke kan. Bu? masih kuat biarpun untuk semalaman,” ucap pak Anwar kembali.


Alisa bergidik mendengarnya, sementara bu Juli masih banyak melamun memikirkan itu. Masa putri sulungnya mau disunting oleh pria yang usianya terpaut jauh.


Mengingat percobaan per-ko-saan Luky kemarin, membuat Alisa semakin mantap untuk menerima lamaran tersebut, agar dia kalau sudah menikah tidak tinggal di sini apalagi punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan Luki. Alisa menjadi trauma untuk bertemu Luki lagi.

__ADS_1


Apalagi kata Hadi juga, akan ada surat perjanjian antara mereka berdua. Surat perjanjian yang akan mengantar mereka sampai batas waktu yang di ditentukan.


“Huh ...” Alisa mengembuskan nafas melalui mulutnya itu.


Bu Juli menatap kepergian suaminya yang mengendarai motor. “Ibu, akan pasrahkan keputusan pada Alisa. karena Alisa lah yang akan menjalaninya, hanya jangan sampai suatu saat nanti Alisa menyesal, sebab bagaimanapun Alisa itu di madu dan pandai-pandai lah membawa diri, itu saja pesan Ibu.” Kemudian bu Juli bersiap untuk bekerja.


“Hari ini kau gak akan ke mana-mana?” selidik bu Juli sambil bersiap pergi.


“Kalau aku berdiam diri di rumah, aku takut Luki datang lagi seperti kemarin.” Batinnya Alisa, dia menjadi was-was, takut yang kemarin terjadi lagi. Masih mending kalau dia bisa selamat, kalau gak selamat gimana? Alisa bergidik ngeri.


“Ibu tanya malah melamun?” bu Juli menggeleng.


“Ooh, aku mau mencari pekerjaan dulu, Bu. siapa tahu dapat, kerja apa saja yang penting halal sih.” Jawabnya Alisa sambil beranjak dari duduknya.


“Lho, sebentar lagi kau kan menikah. Buat apa kau mencari kerja, orang sebentar lagi punya suami, dan buat apa bekerja? tentunya kau menikahi tuan Hadi itu untuk mengurusnya karena sang istri sakit-sakitan,” ungkap bu Juli kembali.


Alisa melamun, lalu bergumam. “Iya juga sih. Buat apa mencari kerjaan sekarang? Bukankah aku akan ditugaskan untuk mengurus om Hadi.”


“Sudah, ibu pergi dulu ya? hati-hati di rumah.” Bu Juli pergi dari tempat tersebut untuk mencari uang lembaran.


“Iya, Bu ...” Alisa mengangguk lalu masuk dan tidak lupa mengunci dari dalam, dia sekarang harus lebih berhati-hati. Apalagi sedang sendiri.


Alisa berdiri di hadapan lemari bututnya itu. “Ya ampun ... aku tidak punya baju untuk menghadapi tamu nanti, gimana nih?


Detik kemudian ponsel jadul milik Alisa berbunyi dan Alisa pun segera mengambil dan menerimanya, sebelum diterima. Dia lihat siapa yang telepon? Rahman kah?


Tapi ternyata yang telepon itu, adalah Hadi. “Hem ... ngapain telepon sih?”


Alisa menerima telepon tersebut ....

__ADS_1


.


...Bersambung!...


__ADS_2