
Hadi menghela nafas kasar dan tidak jadi menjangkau tujuannya tersebut.
"Ck, ganggu kesenangan orang saja." Gerutu Hadi sambil mengarahkan pandangan ke arah pintu yang kebetulan dinding kacanya masih tertutup gorden.
Alisa plingak-plinguk. Mengusap wajah dan merapikan dirinya serta hendak mengayunkan langkah untuk membukakan pintu dan gorden.
Namun tangan Alisa di tangkapnya tangan Hadi. "Biar aku yang bukakan pintu."
Alisa mengangguk pelan dan urungkan niatnya, lalu mendudukkan diri di kursi kerjanya itu dengan wajah yang menoleh ke arah pintu, di mana Hadi pun berjalan ke arah sana.
Hadi menarik handle pintu, seraya berkata. "Masuk?" dan tampaklah seorang pemuda tampan yaitu eksekutif muda yang bernama Zidan, berdiri di depan pintu sambil memegang sebuah map.
Zidan pun masuk sambil mengarahkan pandangan ke arah Hadi dan Alisa bergantian.
Hadi mengalihkan wajahnya ke lain arah dan mengusap wajahnya seraya mengembuskan nafas dari mulutnya itu. "Huuh ...."
Alisa mengangguk dan tersenyum ramah pada Zidan dan Alisa beranjak dari duduknya menghampiri sofa yang di tunjuk oleh Hadi. Setelah membuka gorden yang lupa dia buka ketika masuk tadi.
Sesaat kemudian mereka pun duduk berhadapan dan berbincang, yang tentunya masalah pekerjaan dan besok ada pertemuan di luar kota dan mengharuskan mereka pergi ke sana dan mengharuskan menginap.
Ketika perbincangan selesai, Zidan mau keluar. Melihat di meja Alisa ada bunga, jelas dia tersenyum dan dia pikir adalah bunga pemberian nya waktu itu Namun setelah diperhatikan ternyata bukan.
"Bunga dari mana?" Zidan menoleh ke arah Alisa yang masih duduk dan mencatat yang sudah menjadi tugasnya.
"Em, bunga dari kamu." Alisa melihat ke arah Hadi yang juga melihat ke arah dirinya.
Dan Hadi ingin tahu jawaban apa yang akan Alisa berikan kepada Zidan soal bunga tersebut.
"Em, itu ... aku bawa ke rumah, iya. Aku simpan di sana!" Alisa tidak enak bila harus bilang dibuang oleh bos.
"Ooh, aku kira ... oke lah sampai jumpa lagi Lisa." Zidan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Alisa kembali melihat ke arah Hadi yang sudah beralih ke meja kerjanya. "Kenapa gak menjawab kan pertanyaan Zidan tadi? seharusnya di jawab dong ... bukan diam saja!"
"Malas, jawab saja sendiri. Itukan punya kamu, ngapain saya yang menjawab?" sahutnya Hadi sambil mulai menyibukkan diri dengan kerjaannya.
"Aish ... dia yang bikin salah, orang yang harus kebingungan untuk menjawab!" lanjut Alisa sambil berdiri.
"Ya, bilang saja saya buang! gitu kok repot?" Kata Hadi tanpa menoleh lagi.
"Terus kenapa tidak bilang sendiri saja? kan Om yang berbuat, jadi Om juga dong yang harus bilang!" Alisa berjalan sambil memperhatikan kerjaan yang di tangannya.
__ADS_1
"Shuuutttt ... jangan banyak bicara! kerja-kerja. Sudah siang nih!" Suara Hadi lagi.
Alisa duduk dan dengan mata sesekali melihat ke arah bunga pemberian dari Hadi itu, serta bibir yang mengembang, senyum-senyum sendiri.
"Senyum-senyum sendiri, kenapa tuh? nanti dibilang odgj mau?" suara Hadi mengagetkan Alisa yang langsung senyumannya itu memudar.
"Siapa bilang, senyum-senyum sendiri nggak kok." Elak Alisa sambil mengarahkan wajahnya ke layar laptop.
"Sudah jelas kok. Senyum-senyum sendiri." Tambahnya Hadi kembali.
Alisa tidak menjawab lagi. melainkan kini tangannya menatap bunga tersebut ke dalam pas bunga.
Beberapa jam kemudian. Karena merasa berat dan ingin buang air kecil. Membuat Alisa buru-baru memasuki kamar mandi.
Hadi menggerakan kepalanya menoleh ke arah Alisa yang setengah berlari ke kamar peristirahatan.
Namun. Tiba-tiba Hadi pun berasa ingin buang air kecil sehingga beranjak dari duduknya.
Hadi menggedor pintu kamar mandi, setelah berada di dalam kamar yang ada di ruang kerja CEO tersebut.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Alisa menoleh pada daun pintu tersebut yang Hadi ketuk-ketuk. "Apa sih?"
"Iya sebentar?" suara Alisa memekik dari dalam.
"Cepetan dikit!" pinta Hadi kembali.
Ketika pintu Alisa buka dan Hadi buru-baru masuk menuju toilet.
Langkah Alisa berhenti di depan cermin dan menatap dirinya di sana. Terutama melihat kalung yang keni menghiasi lehernya, ia mengikat rambutnya di atas. sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Hadi yang keluar dari kamar mandi mendapati Alisa masih berdiri di dekat cermin sambil merapikan rambutnya yang diikat buntut kuda.
"Aku mau mandi. Gerah nih, cuaca di luar panas. Siapkan baju ganti ya? di lemari ada!" Hadi menunjuk sebuah lemari.
"Handuknya mana?" tanya Alisa sambil melihat Hadi dari pantulan cermin.
__ADS_1
"Ada juga di sana sayang." Hadi membuka kemeja yang melekat di tubuhnya. Kemudian Alisa berjalan mendekati lemari, mengambil kemeja dan handuk buat Hadi.
Ketika mundur, punggungnya menubruk sesuatu. Lantas Alisa bergegas berbalik dan ternyata Hadi yang berdiri di belakangnya itu.
Bibir Hadi tersenyum dan Alisa menatap lekat ke arah Hadi yang sudah bertelanjang dada dan memegangi kemejanya.
Manik mata Alisa memandangi pemandangan yang ach. Dimana tampak perut bak roti sobek dan dadanya yang bidang. Berdiri tegak di hadapannya itu.
Hadi sengaja berdiri di sana ingin melihat reaksi Alisa bila melihat dirinya bertelanjang dada, apakah akan langsung kabur atau gimana.
Sesaat kemudian Alisa tersadar kalau ini kantor tempat bekerja dan dia harus bekerja juga. Lalu dia bergeser ke kanan, namun kakinya Hadi pun ke kiri dan begitu sebaliknya.
"Iih, awas?" tangan Alisa mendorong dada Hadi yang tak bergeming dan malah menangkap tangannya itu.
"Bilang saja kalau mau menyentuh ku!" goda Hadi sambil memegangi tangan Alisa.
"Iih ... siapa bilang, ge'er amat. Awas? aku mau kerja kembali dan sebentar lagi kan makan siang. Ada banyak email yang belum ku balas, kan!" suara Alisa pelan.
Hadi tidak menggubrisnya. Lalu dia sedikit menarik tangannya Alisa! yang ia tempelkan ke bibirnya lantas mencium punggung tangan tersebut dengan sangat lembut nan mesra.
Nyess ....
Alisa melihat ke arah wajah Hadi sesaat lalu tertunduk malu sambil menggigit bibir bawahnya.
"Aduh, gimana nih? mulai deh. Kapan kelarnya nih, kerjaan ku hari ini? mana besok harus keluar kota." Batinnya Alisa sambil melihat ke lantai.
Geph!
Tangan Hadi merengkuh punggung Alisa hingga tubuh gadis itu menempel ke tubuh Hadi. Suasa sejuk nya AC bertambah sejuk dengan bertemunya kulit Hadi dan pipi Alisa yang Hadi tarik ke dalam pelukannya.
"Om?" gumamnya Alisa sangat pelan.
"Sayang," balas Hadi sembari mengeratkan pelukannya, dia lupa kalau mau mandi.
"Em, bu-bukannya Om mau mandi? dan aku masih banyak yang harus aku kerjakan. Mana besok mau ke luar kota." Suasa Alisa sedikit bergetar.
"Tidak apa, soal pekerjaan. Nanti aku bantu untuk menyelesaikan nya," sahut Hadi sambil mengeratkan pelukannya kepada Alisa dan perlahan posisinya bergeser mendekati tempat tidur ....
...🌼----🌼...
Lagi-lagi Alisa tidak mampu berontak atas apa yang jadi lakukan padanya. Akankah dia mengakhiri masa virgin nya di kantor ini?
__ADS_1