Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Keasinan


__ADS_3

Selesai makan. Mereka kembali ke kamarnya masing-masing dan tidak lupa Alisa membereskan terlebih dahulu semuanya agar nampak rapi kembali.


Keesokan harinya, seperti biasa. Alisa sedang menyiapkan sarapan buat Hadi, pria yang tinggal beberapa hari lagi menjadi suaminya itu.


"Kamu siapa? asisten baru ya?" suara seorang wanita paruh baya dengan kerudung panjang menutupi dada.


Alisa menoleh dan tersenyum juga dibarengi dengan anggukan hormat. Dalam hati bertanya. "Siapa ibu ini? aku belum pernah melihat sebelumnya. Tapi kalau dari raut sih ... mirip Tante Dania."


"Maaf, Nyonya. Non ini tunangannya tuan!" jawabnya mbak sambil menunjuk ke arah Alisa.


"Ini, ini tunangannya?" ibu tersebut melihat ke arah mbak dan Alisa bergantian.


"Iya, Nyonya." Mba mengangguk sambil melirik ke arah Alisa yang menunduk.


"Ini mah usia nya masih bayi kencur, muda banget. Masih bau kencur ... tidak salah ya putri saya memilihkan istri buat suaminya gadis muda seperti dia?" nada bicaranya sinis dan pedas persis Dania.


Mbak semua yang ada di sana, tidak menjawab sedikitpun karena itu bukan kapasitasnya mereka untuk menjawab.


"Diana-Diana. Wanita yang lebih dewasa juga banyak, atau adik ya kan ada masih lajang dan pantas untuk menggantikan posisinya kelak, setidaknya masih saudara di juga. Kasian nya ... putri ku Diana." Itu tersebut menggeleng kasar mengingat kondisi putrinya Diana.


Alisa yang melanjutkan kembali tugasnya hanya, juga sibuk dengan pemikirannya yang ternyata pasti banyak yang menentang pernikahan dirinya dengan om Hadi.


Selesai masak dan ia simpan di meja. Alisa kembali ke kamar, meninggalkan meja makan yang masih kosong itu.


Setelah Alisa pergi. Dania datang dan duduk di meja makan, celingukan mencari orang yang belum pada datang ke ruang makan ini.


Kedua manik mata Dania mendapati piring makanan yang diperuntukan Hadi. Lalu celingukan melihat ke sekitar, dia tersenyum licik.


Lalu Dania mengambil tempat garam dan sambil larak-lirik, melihat kanan kiri sambil menaburkan garam tersebut masakan Alisa.


"Lihat saja, masakan mu akan terasa asin di lidah Hadi." Senyum Dania semakin licik.


Satu persatu orang berdatangan, termasuk Diana dan Hadi. Namun Alisa belum datang ke sana.


"Em ... Ibu, Abah. Ayo sarapan?" ucap Diana sambil melihat ke arah orang tua nya.


"Iya, Diana ... yang tadi masak itu, tunangan suami mu ya. Ibu kira asisten baru, Ibu mengira dia itu sudah dewasa. Ternyata masih muda banget, seusia anak mu." Kata sang ibunya Diana.


"Tidak apa, Bu ... aku yang pilihkan. Dan dia itu insya Allah ... akan menjadi istri yang baik untuk Abang." Timpal nya Diana.


"Apa yakin? sementara dia itu masih ingusan--"


"Oma, apa yang masih ingusan? aku saja sudah gak ingusan kok. Dia sudah dewasa dan lebih dewasa pikirannya dari aku. Bertanggung jawab juga!" belanya Liana memotong perkataan Oma nya.

__ADS_1


"Lho, kok kamu yang belain? apa kau kenal dia dengan baik?" selidik Oma nya.


"Ya, kenapa lah, Bu ... sahabat dia, Bu ..." dadanya melirik sinis pada Liana.


Lalu Dania melihat ke arah Hadi yang belum juga kunjung mencicipi makannya. "Ayo dong makan ... nunggu apa lagi sih? ooh ... pasti nunggu si Bau kencur itu." Batinnya Dania.


"Ooh, jadi dia itu sahabat mu? pantas seusia." Kata ibu Lia sambil memasukan makanan ke mulutnya.


"Iya, Oma." Liana mengangguk.


"Ibu, heran! kenapa kok sampai kepikiran memilih anak itu Diana?" tanah Bu Lia.


"Bu, sudah. Jangan ikut campur urusan mereka, kita cukup mendoakan saja yang terbaik. Semoga kesalehan hati anak kita menjadi ladang amal buat kita dai khususnya." Lirik Abah nya Dian tersebut.


Abah adalah orang yang berasal dari suku Sunda dan istrinya adalah keturunan Melayu. Mempunyai dua putri yang yaitu Diana dan Dania.


Bukan begitu, Bah ... Diana kan putri kita--"


"Iya, putri kita, dan ini pilihan sendiri yang bukan bukan suaminya yang memaksakan kehendak." Lagi-lagi sang suami memotong perkataan ini Lia.


Diana melirik ke arah Hadi yang semenjak tadi terdiam.


Kemudian datang, bersama Dirga yang menggendong tas punggungnya.


"Kak, Lisa ... bikinkan aku sarapan ya? roti sama susu hangat nya ya?" pinta Dirga sambil duduk di antara mereka semua.


"Tidak apa Tante ... sekalian kok!" Alisa dengan menunjukan senyum nya.


"Makasih ya Lisa ... Dirga bola ngerepotin Lisa," timpal Diana sembari tersenyum tipis.


"Iya, Tante ... santai saja." Alisa membuatkan susu untuk Dirga sekalian buat dirinya.


"Abang, ayo dimakan? kalau gak dimakan ... nanti Lisa gak mau masak lagi lho." Diana mengalihkan pandangan kepada yang tampak melamun.


"Oh, iya, sayang iya sebentar." Balasnya Hadi.


Dania mengarahkan pandangannya ke Hadi. Yang belum juga memakan sarapannya. "Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu. Dimana kau keasinan." Semakin menunjukan senyumnya yang dia sembunyikan karena mengandung niat buruk.


Tangan Hadi menarik piring dan mulai mencicipi sarapannya. Namun Hadi langsung merasa aneh.


"Kok rasanya aneh ya? ini buatan Alisa atau --" jadi menggantung ucapannya sembari memaksakan diri untuk menelan nasi goreng yang rasanya asin tersebut.


Lantas Hadi meneguk minumnya berkali-kali lalu melirik pada Alisa yang sedang asik sarapan. "Apa ada uang salah? sehingga masakannya jadi aneh begini!" batinnya.

__ADS_1


"Abang ... kenapa sarapannya, gak dihabiskan? sayang lho ... mubazir." Tanya Diana sambil menatap ke arah suaminya.


Hadi menoleh pada sang istri. "Em. Anang sudah kenyang sayang!" sembari menunjukkan senyumnya.


Alisa tidak menyadari itu, kalau masakannya tidak ada yang beres sehingga Hadi hanya mencicipinya saja. Dia meneguk minumnya lalu bersiap membawa tas dia dan milik Hadi.


Sementara Dania mengulum senyumnya. Kemudian dia mengingat kejadian aneh semalam, yang beberapa kali pintu kamarnya di ketuk dan setiap kali di lihat tidak ada siapa-siapa.


"Oya, semalam aku mengalami kejadian aneh. Beberapa kali pintu kamarku di ketuk, tapi tidak ada siapapun ... aku jadi ngeri." Dania menceritakan hal semalam.


"Masa? Tante? lah jin kali ya?" Liana bergidik.


"Iiy ... hantu ..." Dirga pun ikut berkomentar.


"Ahc ... paling pendengaran mu saja yang bermasalah." Kata Hadi menimpali.


Alisa yang sudah berdiri pun bengong dengan hati tersenyum. "Kan itu ulah ku." Batinnya.


Hadi berdiri sambil pamitan pada sang istri dan mertuanya.


Begitupun Alisa, dia pun berpamitan lalu membawa langkahnya keluar dari tempat tersebut.


Dania menarik piring bekas Hadi makan. Lalu dia mencicipi sedikit. "Apa yang salah dengan masakan Alisa? kok asin! ada yang gak beres nih." Diana menatap ke arah piring tersebut.


"Kenapa, Mbak?" Dania menatap ke arah sang kakak pura-pura gak tahu apa-apa.


"Iya ... kenapa?" selidik Bu Lia.


"Ach, nggak." Diana menggeleng.


Hadi melirik ke arah Alisa yang sedang memasang bell safety nya. "Tadi. Tumben masakan mu ke asinan?"


"Ha? masa?" Alisa menoleh dan kaget.


"Iya, makanya gak habis makannya juga! apa kau tidak melihatnya?" ucap Hadi sambil menyetir.


"Aku gak tahu." Alisa menjadi bengong dan tidak habis pikir kenapa keasinan seperti yang Hadi bilang.


"Ya, sudah." Hadi menyudahi lalu fokus menyetir.


Setibanya di kantor! mereka berdua memulai aktifitasnya.


Beberapa hari kemudian. Menjelang hari H, di rumah Hadi sudah mulai di dekor, dengan dekorasi serba putih. Walau tidak pesta besar dan yang akan hadir pernikahan mereka nanti ....

__ADS_1


.


...Bersambung!...


__ADS_2