Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Pelajaran


__ADS_3

Alisa menatap ke arah Hadi dan bunga yang yang berada di tangannya bergantian.


Hadi yang kini sudah berdiri di hadapannya itu, lalu duduk seraya berkata. "Selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur dan sehat selalu. Maaf aku sudah mengabaikan mu selama ini."


Perlahan tangan Alisa mengambil bunganya dan mencium dengan hati campur aduk. "Makasih."


"Belum bobo ya?" Hadi mengelus pipi Alisa dengan lembut.


"Em ... belum, Kenapa kau datang? bukankah kau itu tidak mau keluar dan mau di kantor pusat saja." Alisa menatap heran. Dalam hatinya antara senang dan heran.


"Atau kau sudah mengurus perceraian kita?" sambung Alisa yang sebenar tidak ingin ia membahasnya.


Posisi duduk Hadi semakin mendekat pada Alisa lalu merangkulnya. "Sayang, jangan bicara begitu! apa kau ingin melupakan semua yang sudah kita lewati bersama. Dan kita sudah sering melakukannya yang menjadikan pernikahan kita lebih sempurna."


"Ayo Lisa ... keluar dari pelukan pria tua itu, kamu bisa cari pria yang lebih muda serta bisa menghargai mu, buat apa kamu hidup dengannya? bila kau tidak pernah di jagain sedikit pun." Batin Alisa.


"Mungkin dia sudah menyadari kesalahannya sehingga dia menyempatkan terbang dan datang ke Lampung untuk menemuinya sekaligus mengurus kerjaan." Alisa bermonolog dalam hati.


"Setidaknya kau harus beri pelajaran suami tua mu itu, agar dia nyaho seberartinya dirimu bagi dirinya. Tunjukan Lisa ... kalau kau bukan wanita lemah seperti yang di pikirkan orang. Lagian kalau soal kerjaan kau itu dengan skill dan pengalam yang kau miliki itu akan dengan mudah mendapatkan kerjaan lain." Lagi-lagi dalam hati Alisa beradu argumen.


"Aku ke sini ... biar kamu bisa beristirahat. Dan aku yang akan mengurus semuanya," ungkap Hadi tanpa menjawab pertanyaan dari Alisa.


Alisa tidak menjawab, dia malah menyembunyikan wajahnya di dada Hadi dengan segala yang berkecamuk dalam hati.


"Dirga merajuk, mommy tidak pamitan dulu dan tidak mengantarnya pergi sekolah."


Alisa baru kepikiran anak itu, kemudian Alisa merubah posisinya dan melepaskan diri dari pelukan Hadi.


"Terus, apa kau mengantarnya? tanya Alisa sambil kembali mencium bunganya.


"Iya, aku yang antar. Dan dia berpesan kalau dia mau adik! katanya ... papa nanti pulang dari Lampung bawa adik ya? gitu katanya," Hadi menirukan perkataan dari Dirga.


Alisa tidak merespon. "Adik. gak lah ... bisa berabe kalau aku hamil di saat aku meminta cerai." Gumamnya di dalam hati.


Tangan Hadi menangkup di wajah Alisa serta sedikit mengangkatnya. "Sayang, aku tahu, aku sudah salah dan terlalu larut dalam kesedihan, tapi bukan niat ku untuk mengabaikan mu."


Alisa menggerakkan manik matanya melihat ke arah Hadi yang agak dekat padanya.

__ADS_1


"Selama ini ... sudah membuat berkorban banyak. Memberikan beban yang begitu banyak dan berat padamu," suara Hadi lembut. "Dan mulai besok kau aku beri libur! semua urusan aku yang handle."


"Benarkah?" Alisa sangat antusias sekali, namun tidak ia utarakan.


"Jangan marah lagi ya? kita lanjutkan pernikahan kita ini dan ... kita akan meresmikannya." Lanjut Hadi sambil mendekati bibir Alisa untuk ia kecup.


Namun kepalanya Alisa mundur, sehingga Hadi hanya mendapatkan angin saja.


"Kenapa sayang? kau boleh marah padaku. Dan aku minta maaf atas semua kesalahan ku!" sambung nya Hadi.


"Aku ... maaf kan kok." Alisa turun sambil membawa bunga nya ke sofa.


Hadi terdiam Sabil menatapi istri kecilnya itu. Hatinya jadi merasa sakit di cuekin sama istrinya tersebut. Jadi pun menyusul Alisa yang kini duduk di atas sofa.


"Sayang ... jangan lama dong marahnya? aku sudah di sini, kalau mau marah ya marahin aku biar tidak berkepanjangan." tangan Hadi memegangi tangan Alisa dan sedikit meremas jemarinya.


"Enak aja bilang, jangan lama-lama marahnya. Kau juga biarkan berhari-hari kan!" Alisa dalam hati.


Hadi membuka jasnya, lalu ia simpan di bahu sofa. Lalu melirik jam yang melingkar di tangannya. "Ya sudah, bobo yo? aku capek."


"Duluan saja, aku belum ngantuk!" Alisa melirik sekilas.


"Nggak mau, mau sama kamu." Dengan cepat Hadi menggendong tubuh mungil itu.


"Ahc, turunkan aku! turunkan?" pinta Alisa sambil menggerakkan kakinya namun tangan merangkul pundak Hadi.


Hadi tidak merespon permintaan dari Alisa, di bawalah istri kecilnya itu ke tempat tidur dan dibaringkannya.


Alisa melonjak dan Hadi tahan agar Alisa tetap terbaring.


"Aku belum ngantuk," ucap Alisa sambil berusaha bangun.


"Aku yang ngantuk. Temani aku tidur." Hadi membuka kemejanya di simpan di ujung tempat tidur.


"Jangan sentuh aku! aku mau cerai." ucapan itu tanpa sengaja terucap lagi.


Bikin Hadi melongo namun tidak merubah posisinya yang berada di atas tubuh Alisa. "Apa kau serius untuk berpisah?"

__ADS_1


Alisa sontak menutup mulutnya. Kenapa harus terucap lagi sih? sementara dia tidak mau itu terucap lagi dan gak mau juga Hadi menceraikannya.


"Dian mu itu sebagai jawaban. Kalau kau tidak serius meminta pisah dari ku?" Hadi penuh keyakinan sambil kembali ingin menjangkau bibir tipis milik Alisa.


Alisa kembali ingin bangun, namun di kunci oleh Hadi. "Aku ingin ke toilet." Beralasan.


"Nggak, bohong!" Hadi tidak percaya dengan alasan yang Alisa berikan.


"Aduh ... kalau dia minta haknya, gimana nih. Aku gak mau, eeh bukan gak mau sih. Tapi dia harus di beri pelajaran sedikit." Batinnya Alisa.


"Aduh, duh-duh ... aku sakit perut nih, mau ke toilet sebentar." Alisa pura-pura memegangi perutnya.


"Sayang ..." pada akhirnya Hadi melepaskan Alisa dari kungkungan nya.


Alisa buru-baru turun menapakkan kakinya ke lantai dan bergegas ke kamar mandi.


"Jangan lama-lama sayang?" pekiknya Hadi sambil menatap punggung Alisa yang memasuki kamar mandi.


Hadi menarik bibirnya ke samping membentuk senyuman bahagia. Dia akan meluluhkan kembali hati Alisa yang sempat merajuk itu.


"Huuh ... gimana ini? aku jadi serba salah gini," Alisa mengembuskan nafas nya melalui mulut dan ... dadanya naik turun karena terus berdebar.


"Biarin aja dia menunggu ku. bodo amat! suruh siapa bikin aku marah. Emang enak? di cuekin!" Setelah buat air kecil. Alisa mengambil handuk kecil dan melap bathub, dia pun membawa handuk yang dia gulung-gulung untuk dijadikan bantal.


Alisa mesem-mesem sambil berbaring di dalam bathub itu, memeluk dadanya. "Ha ... aku tidur di sini saja. Biar si om Hadi tidur sendiri, anggap saja tidak ada aku ya om ku sayang."


Karena merasa lama, Hadi pun turun dari tempat tidur mendekati pintu kamar mandi. "Sayang ... sudah belum? lama sekali di sana sayang!"


Kepala Alisa naik menoleh pintu. Aku mau tidur di sini saja!"


"Lho, kok gitu sih? came one sayang ... buat apa tidur di sana. Tempat tidur luas. Ayo keluar? aku pengen kencing nih."


"Nggak mau, mau tidur saja di sini sampai pagi doang kok." Balas Alisa sambil tersenyum.


Hadi terus menggedor daun pintu nya dan meminta Alisa keluar dari kamar mandi tersebut ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Mana nih, like komen dan lainnya'? biar aku tambah semangat nih. Yang sudah, makasih ya reader ku ♥️♥️


__ADS_2