
Hadi melakukannya penuh kelembutan. Apalagi kalau Alisa benar hamil. Dia tidak mau sang istri mengalami sesuatu yang tidak di inginkan lagi.
Ritual ini dilakukan dengan halus dan lembut. Semakin membuat Alisa hanyut dan terbuai suasana nan indah ini.
"Lapar yank!" ucap Alisa sambil menggerakan jarinya di dada Hadi.
Tangan Hadi merangkul bahunya sang istri sembari membelai rambutnya dengan mesra. "Ya sudah kita turun untuk makan."
"Malu, untuk turun nya juga." Kata Alisa sembari menempelkan pipinya di atas dada bidang Hadi.
"Kenapa malu?" Hadi dengan nada datar.
Plak.
Tangan Alisa menepuk perut Hadi. "Malu aja. Suami ku mesum terus!" Alisa mencubit hidung Hadi yang bangir.
"Mesum sama istri sendiri ya wajar--"
"Yang kurang ajar itu mesum sama wanita lain." Timpal Alisa.
"Itu sayang tahu. Pinter sekali." Hadi mengucap kening istri kecilnya.
"Aku gak suka ach ... kamu itu kalau ada teman wanita kamu suka jelalatan matanya. Nggak suka aku!" Alisa mendongakkan kepalanya menatap pada wajah suaminya dengan tatapan yang manja.
"Ha ha ha ... cemburu ya? aku suka bila kamu cemburu. pertanda kamu cinta sama suami mu ini." Hadi tergelak sendiri.
"Em ... GR. Perasan ganteng ya?" Alisa menarik bibirnya membentuk senyuman serta mengeratkan pelukannya.
"Iya dong ... daripada menunggu di puji istri, nggak juga. Mendingan muji diri sendiri saja," Ungkap Hadi.
Kemudian mereka pun membersihkan diri dengan segera. Dan setelah 15 menit, kini keduanya sedang rapi.
Sesekali Hadi menyentuh perut Alisa dan merasa gemas ingin segera berisi.
Hadi memeluk Alisa dari belakang dan mengusap-usap perutnya Alisa. "Semoga ini sudah ada isinya ya?" membungkukkan badan menempelkan dagu ke pucuk kepalanya Alisa.
"Iih ... ayo makan laper nih, gimana sih?" Alisa memegangi tangan Hadi yang kekar tersebut.
"Iya sayang iya, ayo kita makan!" Hadi memudarkan rangkulannya dan berubah menjadi menuntun tangan sang istri yang katanya mau makan.
"Tuan, ini pesanannya." Mbak memberikan sebuah paket pada Hadi.
"Makasih, Mbak." Hadi mengambil dan mengamati yang barang yang dia pegang.
"Apa itu yank?" tanya Alisa sambil menatap barang tersebut yang berbentuk kotak itu.
__ADS_1
"Ini testpack sayang, nanti kamu coba ya? semoga saja iya. Kamu hamil." Hadi menatap lekat pada Alisa dengan penuh kasih sayang.
"Oke," Alisa mengangguk.
"Apa? kamu hamil, Lisa? beneran kamu hamil ha?" Liana menatap Alisa dengan antusias.
Alisa dan Hadi saling melempar pandangan kemudian Hadi berkata. "Tanda-tandanya seperti itu, tapi nggak tahu juga. Makanya Papa nyuruh Alisa untuk memakai testpack dan nanti setelah itu. Papa akan ajak dia periksa ke dokter untuk meyakinkan lagi!"
"Apa, Pah? apa coba Dirga pengen dengar sekali lagi. Beneran Mommy hamil?" Dirga yang baru saja datang, dengar aja omongan orang tuanya.
Dan dia bertanya, sambil menggoyangkan tangan papanya dan mommy nya bergantian.
"Belum tahu Dirga ... ini kan Mommy baru mau testpack, nanti saja ya jawabannya!" ucap Alisa sembari melirik ke arah Hadi.
"Iya ini baru dugaan, nanti saja kalau udah pasti Papa dan Mommy akan bilang sama Dirga, sekarang papa sama Mommy lapar.Mau makan dulu, kalian sudah makan belum?" Hadi kemudian menarik tangan istrinya menuju meja makan.
"Kami sudah makan Pah, Aku ikut senang saja lah akan kebahagian ku, ngahhhh ... aku Segede gini mau punya adik lagi? alamak ... Nanti dikira anak gue lagi." Liana menepuk jidatnya sendiri mengingat kalau dia punya adik lagi.
"Horei ... Dirga mau punya adik bayi. Yang kembar ya? aku mau punya adek, pengen nya sekaligus dua ya Mom, Pah." Belum apa-apa sudah girang.
"Ada apa girang amat nih cucu Oma. Ada apa sih?" selidik sang Oma yang melihat cucunya begitu girang.
"Mommy, mau hamil, Oma ... bentar lagi aku mau punya adik." Jawabnya Dirga.
"Oya, Masya Allah ... terima kasih y Allah ... Hadi mau punya baby lagi." Sang bunda mengusap wajahnya dengan perkataan yang penuh syukur.
Alisa menelan makannya terlebih dahulu. Dan setelah itu barulah bicara sembari melirik ke arah sang ibu mertua. "Baru mau coba tes Bu ... soalnya aku sudah telat."
"Alhamdulillah ... semoga aja menjadi gumpalan yang nantinya akan menjadi sosok janin dan nantinya Allah memberikan ruh." Kata wanita sepuh tersebut sambil mendudukan dirinya bersebelahan dengan Alisa.
"Aamiin ..." timpal Hadi dan Alisa berbarengan.
"Ibu jadi tidak sabar ingin tau hasilnya." ibunya Hadi dengan wajah yang sumringah dan mata yang berbinar.
"Oma, kalau aku punya adik lagi nanti di kira aku yang punya anak deh ... kan mamanya seusia ku!" Liana mendudukan dirinya di kursi meja makan.
Alisa hanya mesem mendengar perkataan dari Liana sambil bergelayut mesra pada omanya.
"Ya tidak apa dong, Lian ... emang apa Masalahnya?" tanya sang Oma pada sang cucu.
Liana menjawab sembari nyengir. "Nggak ada masalah sih. He he he ...."
Alisa menyuguhkan minuman pada hasil yang sudah selesai makannya. Lalu dia mengambil barang yang berbentuk kotak berisi testpack.
"Sayang, pakainya di toilet yang berada di bawah saja." Pintanya Hadi sambil menunjuk toilet yang berada di lantai bawah.
__ADS_1
Kemudian Alisa pun menuruti dan membawanya ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.
"Semoga mommy Hamil ya Allah dan bayinya kembar dua. Aku ingin adik bayi laki-dan perempuan dalam waktu yang sama ya Allah. Biar teman-teman aku iri, karena dia kan cuma punya satu adik bayi saja." Dirga mendongak dan menadahkan kedua telapak tangan ke atas.
"Aamiin ... ya Allah semoga engkau mengabulkan permintaan dari Dirga." Omanya penuh harap.
"Aamiin! ya robballalamin ..." Hadi mengaminkan.
Begitupun dengan Liana yang mengaminkan, kemudian menghampiri Alisa yang berada di kamar mandi.
"Gimana?" Liana menatap penasaran pada Lian yang baru keluar dari balik pintu kamar mandi.
"Penasaran banget ya?" Alisa nyengir sambil membawa wadah kecil yang berisi air urin. "Begini kan caranya?"
Alisa menyimpan wadahnya di atas meja.
"Iya begitu, sayang!" Hadi membenarkan sembari mengarahkan pandangan ke arah wadah tersebut.
Sang oma dan Liana pun sama memandangi wadah yang berisi air seni tersebut.
Beberapa pasang mata mengamati wadah yang berisi air urin dan testpack. Dan pada akhirnya ... Hadi mengambil testpack tersebut dan sedikit menggoyang-goyangkannya.
Dengan perasaan yang dag-dig-dug ser, Oma, Liana. Hadi dan juga Alisa menatap dengan tajam ke arah benda kecil yang kini berada di dalam genggaman Hadi.
Beberapa Asisten rumah tangga pun, tak luput ikut penasaran dengan hasil testpack nya Alisa.
Hadi yang setidaknya sudah berpengalaman melihat hasil testpack yang akurat bibirnya tersenyum dan melebar.
Dan melihat hal yang tersenyum lebar membuat Alisa semakin penasaran, keduanya bergantian. "Gimana yank, hasilnya? Aku kan nggak tahu. Nggak pengalaman!"
"Iya, Pah hasilnya gimana, Pah?" Meliana yang sama saja belum pengalaman dan belum pernah menggunakannya.
"Hadi gimana jangan bikin orang penasaran jantung Ibu sudah ada di grup seperti ini" lirihnya sang Bunda.
Sementara orang yang ditanyai, malah senyum-senyum sendiri dan melihat ke arah sang istri juga.
"Iih papah ... bikin orang gemes deh, sudah tahu orang belum tahu apa-apa! ditanyain malah diem mulu, ketawa aja!" gerutunya Liana.
"Kalian pengen tahu atau pengen tahu banget? ha ha ha." Hadi ketawa lepas lihat ekspresi wajah-wajah orang yang berada di sana.
"Hadi ... Ibu pengen tahu, malah dibikin bercanda. Mau Ibunya jantungan?" ucapkan sang Bunda sembari memegangi dadanya yang deg-degan tidak menentu.
"Yank ... pamali lho, ibu kok di becandain!" protesnya Alisa kepada sang suami yang masih senyum-senyum aja sendiri, sembari ke belakangi benda tersebut, kemudian kepalanya menggeleng hingga berapa kali ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Harap like, comment dan dukungan lainnya ya? makasih.