
"Ngapain lihat-lihat ke belakang? lihat itu ke depan, Non ..." Alisa menyeret bahu Liana ke dalam ruangannya.
"Siapa bilang aku lihat masa lalu? aku melihat masa depan! siapa sangka kalau dia itu jodoh ku. Hi hi hi ..." Liana nyengir memperlihatkan gigi putihnya yang berbaris bersih.
"Ciellah ... ngarep. Tapi waktu ... aku baru masuk kerja, dia naksir aku lho. Makanya Papa kamu sering cemburuan."
"Oya, dia naksir lo?" Liana penasaran.
Alisa mengangguk pelan sambil fokus melihat ke arah layar laptop. "Hooh."
"Kurang ajar banget. Emangnya dia tidak melihat apa? nggak tahu apa kalau cewek yang dia taksir itu istrinya CEO dia?" Liana duduk di ujung meja kerja Alisa.
"Mana dia tahu." Alisa mengangkat bahunya.
Kemudian Liana mengedarkan pandangan nya pada ruang sekitar yang baru dia sadari.
"Gila, ini ruang kerja apa taman? banyak bunga begini." Liana menyisir pandangan dan melihat-lihat ruangan tersebut.
Kemudian dia berjalan memasuki kamar istirahat yang kondisinya tidak jauh beda, banyak bunga-bunga segar yang terpajang. Begitupun dengan tempat tidurnya yang bak ibarat kamar hotel.
"Busyet ... ini ruang kerja dan kamar istirahat atau kamar hotel! bener-bener deh punya bokap, bucin nya minta gak ketulungan. Melebih orang yang masih labil. Dan melebihi anak yang di bawah umur."
Liana terus menggelengkan kepalanya sambil kembali mendekati Alisa yang sudah mulai beraktivitas dengan kerjaannya.
"Emangnya kenapa Lian ... emangnya kenapa nggak boleh bokap nya bucin sama aku? salah sendiri jodohin aku sama dia! he he he ..." Alisa tanpa menoleh dan memfokuskan sorot matanya ke laptop.
"Iya juga sih, gue juga yang jodohin lu sama dia yang sebenarnya sih nyokap gue terus gue dukung--"
"Mendukung karena memang ada niatan tertentu, kan? lo ingin deketin cowok gue dan akhirnya gue nikah sama bokap lo dengan bahagia. Dan lo sendiri bisa dapetin cowok gue eh mantan gue kan? Dan pada akhirnya gimana? Lo juga yang rugi!" ujar Alisa sembari menatap ke arah Liana.
Perkataan Alisa cukup menyambar hati, membuat kena mental dan mengakui kesalahannya sendiri. "Gue minta maaf, maaf ... banget, maafin gue. Tapi kan gue nggak merebut cowok lo! kan sudah mantan sebelum lo nikah sama bokap gue kan?"
"Aku juga nggak bilang kamu merebut, cuman sayangkan saja! tapi ya ... karena memang mungkin sudah takdirnya jodohnya segitu, ya mau gimana lagi? kalian menikah hanya dalam hitungan hari saja. Tapi ya sudahlah ... semoga suatu saat nanti kau akan menemukan pria yang lebih segalanya dari dia!" Alisa menghela nafasnya seraya berkata demikian.
__ADS_1
"Tapi gue mohon ya sama lu! jangan tinggalkan bokap gue, apalagi hanya untuk mantan lo yang sampai sekarang itu belum move on, gue benci sama dia. Gue nggak suka kalau lu nanti balikan sama dia!" pinta Liana kepada ibu sambungnya Alisa.
"Ha ha ha ... apa lu pikir aku mau balikan sama mantan? ya ampun lu panas nggak sih?" Alisa menempelkan punggung tangannya di kening Liana.
"Ini orang, dia pikir aku sakit apa!" Liana menyingkirkan tangan Alisa dari keningnya.
"Gue sudah cukup bahagia dengan apa yang gue dapat sekarang dan nggak mungkin gue melihat ke belakang ataupun mantan, sekalipun jodoh aku dan papa mu berakhir tapi amit-amit ya! nggak mungkin aku kembali kepada Rahman yang jelas-jelas orang tuanya nggak suka sama aku." Alisa menggelengkan kepalanya.
Putaran jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Alisa dan Liana sudah berada di mansion dan Alisa sudah mandi, rapi dan wangi! duduk santai di teras depan, samping kebun bunga dan sayuran. Bersama sang ibu mertua dan juga Liana.
"Mommy, apa ada yang harus aku ambilkan sesuatu?" Dirga menatap ke arah Alisa.
"Mengambilkan apa?" Alisa malah balik bertanya.
"Papa kan sudah bilang ... Abang Dirga harus jagain Mommy, dan Mommy mau nyuruh apa? mau diambilkan minum atau makan atau apa? nanti kalau abang nggak jagain Mommy, Papa akan marah sama Abang Dirga." Celoteh anak itu dengan tangan yang di gerakkan.
"Ooh ... gitu ya? sudah deh, Mommy minta tolong ambilkan buah jeruk sama apel ya? nggak usah bawa pisau. Nggak usah! tolong ya?" Alisa menyuruh Dirga untuk membawakan buah-buahan untuknya.
"Baik, Mom ... nggak sama minumnya?" tanya kembali Dirga sebelum dia melangkahkan kakinya.
Dirga yang kemudian mengayunkan langkahnya meninggalkan teras depan tersebut.
"Ga, tolong bawakan minum buat akak ya? minumannya ... minuman jeruk!" pintanya Liana pada Dirga yang sudah melintasi pintu.
"Ogah, aku cuma diperintahkan papa untuk menjaga Mommy saja. Bukan untuk menjaga kakak juga, Kakak kan sehat tidak sedang hamil," pekiknya Dirga sembari melanjutkan langkahnya ke dapur untuk mengambil buah-buahan permintaan dari Alisa.
Liana mengepalkan tangannya dan dia menggerakan ke udara. "Nih anak, susah amat disuruhnya. Ada maunya aja diturutin!" Liana menggerutu disaat mendapat penolakan dari Dirga, sang adik.
"Dirga itu benar, kamu kan sehat juga sedang tidak hamil dan dia juga tidak mendengar kalau papanya menyuruh juga untuk menjaga dirimu," tutur sang Oma sambil mesem.
"Emang bener sih ... nggak disuruh jagain aku. Tapi apa salahnya aku minta tolong! tolong ... bawakan air." Timpalnya Liana kepada sang Oma.
Tidak lama kemudian, Dirga pun datang kembali membawa piring yang berisi beberapa jeruk dan apel seperti yang Alisa pinta, dia tidak membawa pisau sama sekali.
__ADS_1
"Dirga, mana minuman akak? haus nih." Suara Liana kepada Dirga yang tidak membawakan minumnya sama sekali.
"Kak Lian ini gimana sih? kan tadi aku sudah bilang, aku itu tugasnya cuman menjaga mommy bukan akak. Jadi kalau kakak mau mengambil sesuatu ambil saja sendiri, orang Akak kan punya tangan punya kaki!" jawabnya Dirga sambil duduk di dekat Alisa.
"Oh my God ... ini anak, jagain-jagain.Nggak ada hubungannya sama papa! kan aku minta tolong? tolong bawakan minuman, sudahlah enggak usah!" Liana mengibaskan tangannya di udara.
"Lagian siapa juga yang mau ngambil minuman buat Akak? nggak ada kok!" Dirga menggelengkan kepalanya.
Alisa melihat keduanya Liana dan Dirga yang saling kekeh, yang satunya nyuruh dan yang satu nggak mau. "Ehem. Kalau Mommy mau nyuruh Dirga ambilkan minum air putih boleh?"
"Boleh dong, Mommy sebentar aku ambilkan ya?" Dirga pun kembali beranjak dari duduknya.
"Em ... sayang. Ambilkan minumnya 3 ya? satu buat Mommy, satu buat Oma dan satunya buat akak, Dirga kan anak baik! mau menuruti perintah dari Mommy karena Dirga kan tugasnya jagain Mommy ya, kan?" bujuknya Alisa kepada Dirga.
"Baik Mommy, siap. Aku akan bawakan." Dirga kembali mengangguk lalu membawa langkahnya keluar dari teras tersebut.
Membuat beberapa pasang bibir yang ada di tempat itu tersenyum melihat kelakuan Dirga.
Beberapa saat kemudian, anak itu kembali membawa satu gelas saja yang dia sodorkan pada Alisa.
"Lho. Buat Akak mana sama Oma?" selidik Liana sambil mengarahkan pandangan pada gelas yang kini sudah berpindah tangan.
"Punya Akak dan Oma. Di belakang sama Mbak, tugas Aku itu cuma mommy doang! tidak Akak." Dirga dengan menjulurkan lidahnya.
"Rrrgh ... nih anak ... bikin aku esmosi saja." Liana tampak gemas sambil menerima minumnya dari mbak.
"Bukan esmosi Non, tapi emosi kali ..." mbak nyengir.
"Iya, sama saja!" Liana mendelik pada adiknya yang tidak merespon sama sekali.
Oma dan Liana hanya senyum-senyum saja. Kemudian melanjutkan perbincangan santainya ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Terima kasih reader ku semua yang aku sayangi. Sampai saat ini masih mengikuti karya ku yang remahan ini.