Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Lamaran


__ADS_3

"Apa, kau akan menikah lagi? Ibu harap kau mau memaafkan Rahman dan kembali padanya! IBu mohon Lian ..."


"Bu ... aku dan dia sudah bercerai. Jangan berharap apapun karena aku mau menikah. Sudah ya! permisi Bu ..." Liana langsung beranjak dan berlalu meninggalkan Bu Irma yang masih berdiam di tempatnya.


Liana menaiki motornya, lantas mengenakan helm. Melajukan dengan kecepatan sedang.


"Enak saja, emang gue pikirin!" gumamnya Liana sambil melajukan motornya.


...-----...


Hari ini di mension sedang berkumpul antara dua keluarga Hadi dan keluarga Zidan yang melamar Liana untuk menjadikan istrinya.


Hantaran lamaran yang Zidan bawa menumpuk di pojokan, Berupa peralatan mandi, make up. Perlengkapan ibadah, setelan pakaian. Perhiasan, skincare. Tas, sepatu, perawatan tubuh dan peralatan tidur. Cincin dan makanan serta buah-buahan. Tidak ketinggalan perlengkapan tidur.


Obrolan lamaran selesai dengan satu keputusan kalau pernikahan Liana akan diselenggarakan di bulan sebelum Alisa lahiran.


"Sebagai orang tua , saya sangat berterimakasih pada keluarga Zidan yang sudah berlapang hati mau menerima putri saya yang notabene nya janda. Lama ataupun tidaknya usia pernikahan dia terdahulu, namun tetap saja statusnya janda." Ujar Hadi.


"Itu tidak akan menjadi masalah, Tuan Hadi ... lagian yang penting mereka berdua yang saling menyayangi dan menerima satu sama lain." Timpal ayahanda Zidan.


Sementara Zidan dan Liana saling melempar senyuman, Liana tangannya memegangi jari yang yang kini sudah melingkar cincin tunangan dari Zidan.


"Saya juga sebagai paman. Sangat merasa senang kalau ponakan saya ini ada yang menyayangi." Tambahnya Dedi sebagai kakaknya Hadi.


"Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan kebahagiaan putra dan putrinya." Balas sang ibu dari Zidan.


"Alhamdulillah, Masya Allah ... saya sebagai Oma nya turut merasa teramat bahagia atas pertunangan ini. Semoga dilancarkan sampai hari Ha nya dan nantinya pun rumah tangga mereka pun langgeng." Timpal sang oma.


Alisa hanya terdiam saja, karena yang ingin dia katakan itu sudah terwakili oleh suami, ipar dan ibu mertua. Dia hanya mengelus perutnya yang kini mulai nendang-nendang dan Dirga pun ikut mengusap dan senang karena merasakan gerakan calon adiknya.


Calon bayi Alisa yang sudah di cek dan hasilnya adalah kembar dengan jenis kelamin cowok dan cewek. Membuat keluarga Hadi apalagi Dirga sangat berbahagia walaupun belum terlahir ke dunia ini.


"Cuman saya ingatkan, Lian akan terus kuliah sampai selesai. Jadi saya harap Zidan dan maupun keluarga dapat mengerti bahwa pendidikan Liana sampai tamat itu sangatlah penting!" urainya Hadi sekedar untuk mengingatkan calon mantunya tersebut.


"Saya mengerti dan tidak akan melarang, bahkan akan mendukung pendidikan Liana sampai selesai." Timpalnya Zidan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya, saya juga sebagai calon mertua Liana sangat mendukung akan pendidikan liana. Jadi silakan Liana Terus berkuliah. Yang penting dia tahu kewajibannya sebagai seorang istri dari Zidan nantinya." Kata ayah dari Zidan sambil menggerakan kedua netranya.


Setelah obrolan selesai dari timur ke barat, selatan ke Utara. Mereka pun makan malam bersama dan Setelah itu mereka berpamitan.


"Aku pulang dulu ya? lain kali kita bertemu lagi." Pamit Zidan pada Liana setelah berada di teras.


"Lain kali, kapan itu lain kali?" Liana mengernyitkan keningnya seraya memanyunkan bibirnya.


Zidan menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Emang maunya kapan kita ketemu lagi?"


"Em ... kapan saja!" Liana tampak malu-malu dengan kedua tangan Yang bertaut satu sama lain.


Zidan menghela nafas dan menghembuskannya. "Baiklah! besok aku jemput kamu untuk makan malam di luar!"


"Ooh ... di luar itu ... makan malam nya bukan di teras kan?" Liana menaikkan alisnya menatap ke arah Zidan.


Zidan terkekeh merasa lucu dengan omongan Liana. "Ya ... bukanlah, bukan di luar di teras! tapi di restoran atau di lesehan, mau kan jika makan di lesehan?"


"Em ... Di lesehan! ya mau lah yang penting makan enak, makan nya makan nasi makan ayam. Kakan daging, asal jangan makan batu saja biarpun makan di restoran mahal, kalau makan batu aku nggak mau!" Liana mengulas senyumnya sembari menggelengkan kepalanya kasar.


"Ha ha ha ... gak mungkin lah, aku kasih kamu makan batuk! dzolim nanti aku, kecuali kalau kita makan batunya sama-sama, kalau seandainya aku makan enak dan kamu makan batu itu namanya dzolim." Ujar Zidan.


"Itu artinya aku berjuang demi istri ku sekalipun aku sendiri harus susah." Jawabnya Zidan.


"Ngah ... so sweet." Liana menepuk bahu Zidan sembari menyembunyikan wajahnya di punggung pria tersebut. "Tapi nggak mungkin ya. Itu nggak mungkin! aku makan enak tapi kamu nggak! he he he ...."


"Bisa saja kok itu terjadi, kamu makan enak kan aku nggak karena ...."


"Karena apa?" Liana memicingkan matanya pada Zidan yang sedang berdiri dan melipat tangan di dada.


"Karena aku sakit dan gak bisa makan enak dan ... hanya istriku saja yang bisa makan enak!" tambahnya Zidan.


"Ooh ... aku mau pingsan nih! mendengar gombalan mu itu." Liana memegangi bahu Zidan seakan mencari pegangan.


"Hah. Mana ada pingsan bilang-bilang? ada-ada saja!" lagi-lagi Zidan menggeleng sembari tersenyum lalu dia berjalan mendekati mobilnya.

__ADS_1


Liana sendiri berdiri sambil melambaikan tangan, lantas berkata. "Hati-hati ya! calon suami ku?"


"Iya calon istriku!" balas Zidan sambil menghadap pada Liana.


Kemudian orang tua Zidan pun berpamitan kepada Liana, sikap orang tua Zidan memang beda dengan orang tuanya Rahman. Dulu orang tua Zidan lebih perhatian dan lembut! kepada Lian sebagai calon mantunya.


"Aduh yank ... hatiku cenat-cenut nih dan saat ini sedang tumbuh berjuta bunga-bunga yang bermekaran indah, wangi harumnya semerbak dan ... apa lagi ya?" Alisa menggoda Liana yang baru saja memasuki pintu utama.


Liana memicingkan sebelah matanya. "Iih iri saja lo ... nggak boleh gue bahagia gitu? yang harus bahagia itu lo saja sama bokap gue? enak aja lo, gue juga pengen bahagia kale ... he he he ...."


"Nggak kok, aku juga ikut bahagia kok! siapa sih yang nggak bahagia melihat temennya bahagia." Alisa memeluk Liana.


Kemudian, mereka masuk ke dalam biliknya masing-masing.


"Yank ... Lihat deh dan rasakan, bayi kita nendang-nendang nih." Alisa menunjuk sembari mengusap perutnya yang sedang bergerak-gerak.


Hadi yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri sang istri yang duduk bersandar ke bahu tempat tidur. Dan meletakkan telapak tangannya di atas perut sang istri juga merasakan tendangannya.


"Hei ... putra dan putri Papa, sedang bermain bola ya di sana? yang tenang dan sehat ya di sana. Sebentar lagi kalian akan lahir ke dunia ini." Cuph ... Hadi mencium kulit perutnya Alisa yang dia singkapkan baju yang menutupinya.


Kini Alisa bukan lagi mengusap perutnya, namun mengusap kepala Hadi yang berada di atas perutnya itu.


Cuph-Cuph ... beberapa kali kecupan Hadi mendarat di sekitar perutnya Alisa yang bulat.


"Rasanya sudah tidak sabar untuk menunggu mereka lahir ke dunia ini sayang! biar nggak ada yang mengganjal lagi kalau kita sedang melakukan ritual kita, ha ha ha ...." Hadi terkekeh sendiri.


"Ya Allah ... kirain bener pengen ketemu mereka! eh ... ujung-ujungnya ke sana juga!" hi hi hi ...."


Hadi menyeringai lalu memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat. "Beneran sayang ... ingin melihat mereka lahir dengan sehat dan menggemaskan."


"Nanti juga waktunya." Alisa mengeratkan pelukannya serta menyelusup kan wajahnya di bawah leher Hadi.


Sesaatnya Hadi memudarkan rangkulannya pada Alisa, dengan nakalnya mengecup bagian tengkuk samping sampai belakang. Sehingga mengunggah gairah, membakar darah yang memanas bergolak dalam tubuh.


Timbul sensasi yang penuh gelora untuk menengok calon baby nya yang masih di dalam kandungan sang istri itu .....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment dan subscribe. Makasih.


__ADS_2