
“Maaf bila aku banyak merepotkan mu,” ucap Hadi dengan lirih sembari mencium kepalanya Alisa.
Alisa tidak menjawab dan dia hanya menggerakan kepalanya saja, meletakkan dagu di atas dada Hadi dan menatap nya.
Pasang mata mereka bertemu dan sejenak mengunci. Lalu Alisa kembali meletakan kepalanya dalam pelukan pria itu.
Hadi dan Alisa saling mengeratkan pelukan. Dengan kondisi yang masih sama berbalut selimut. Alisa mau membersihkan diri, namun dicegah oleh Hadi.
"Nanti, sayang ... bareng-bareng." bisik Hadi sambi menghujani bahu Alisa yang terbuka dengan kecupan.
Hadi menyingkirkan rambut Alisa ke samping supaya tidak menghalangi tempat yang ingin dia jelajahi.
Kedua manik mata Alisa yang indah itu terpejam. Merasakan sensasi aneh yang Hadi berikan. Hingga menimbulkan rasa cenat-cenut di salah satu bagian tersembunyi.
Tanpa disengaja. Tangan Alisa menyentuh sesuatu yang tertutup selimut, mulanya dia kira hanya sebatas selimut saja sehingga dia remas dengan kuat.
Namun seiring dengan itu. Hadi melenguh, entah nikmat dan entah sakit. "Ahc ...."
Mendengar suara itu, manik mata Alisa dengan refleks terbuka dan dengan cepat menjauhkan tangannya karena memang terasa ada yang bikin geli dan bergerak dari balik selimut yang dia remas itu.
Alisa termangu, dan menggigit bibir bawahnya. Kok bisa dia meremas itu? nanti kalau minta sesuatu gimana, masa mau main lagi? mana dah tengah malam dan belum tidur sama sekali.
Wajah Hadi memerah. Nafasnya bagaikan memburu, lantas dia membingkai wajah Alisa di tatapnya sangat lekat. Sorot matanya yang tajam seakan ingin menembus jantung dan mengoyak sesuatu.
Atas sebuah dorongan dalam dirinya. Dengan tidak membuang waktu! Hadi kembali mencumbu istri kecilnya dengan lembut.
Dalam hati Alisa beradu argumen. "Aduh, bisa mulai lagi nih! masa malam ini gak tidur semalaman sih?. Gara-gara si om Hadi yang terus minta di layani.
"Apa gak ngantuk?" gumamnya Alisa di sela kecupan yang Hadi berikan.
"Nggak, malah aku bersemangat untuk mencharger kan sesuatu." Jawabnya Hadi sembari mesem.
"Ha, mencharger?" Alisa tidak mengerti sambil celingukan.
"Iya, mencharger dirimu. Biar baterai nya full dan aku pun punya bekal yang cukup buat pergi!" suara Hadi kembali terdengar berat.
Alisa masih berusaha mencerna perkataan dari Hadi yang bikin dia harus memutar otak untuk memikirkannya.
Belum juga terpikirkan maksudnya. Hadi sudah mendorong bahu Alisa kebelakang dan menindihnya, dan singa milik Hadi yang buas kembali mengoyak sarang nya Alisa yang bikin candu.
"Oohc ... aduh ..." Racau Hadi tidak karuan.
"Mmmm ... pelan-pelan," gumamnya Alisa sambil mendorong dada Hadi. Dan detik kemudian kedua tangan Alisa merangkul punggung pria tersebut di tariknya agar lebih mendekat dan menempelkan tubuhnya.
Benar saja, hingga semalaman mereka berdua tidak tidur. Mau istirahat, mulai lagi. Sampai-sampai tubuh keduanya merasa benar-benar lelah, dan lapar.
Hadi bangun dan mengenakan celana pendeknya, lalu tanpa aba-aba lebih dulu, Hadi menggendong ala bridal style, di bawanya ke kamar mandi untuk bersih-bersih bersama.
__ADS_1
Tangan Alisa dengan refleks memeluk lehernya hadi. Alisa kaget, apalagi dirinya masih dalam ke adaan polos sekali.
"Kau mau ganti dengan apa? kan gak ada baju lain. Toko juga mana ada buka 24 jam." Kata Alisa sambil di turunkan Hadi ke dalam bathub yang masih kosong dan baru di isi air. Mengingat jarum jam menunjukan baru pukul 03.00.
"Paksi yang itu saja dulu, Nanti pukul enam aku terbang lagi ke Singapura. Mungkin kalau sempat beli ganti." Jawabnya Hadi sembari mengelus pipi Alisa yang sedang menuangkan sabun mandi.
"Jam enam, terbang lagi?" Alisa bengong. Berarti tinggal satu atau dua jam lagi Hadi bersamanya.
"Kenapa? doakan saja supaya kita bisa segera bertemu lagi." Hadi menarik kepala Alisa lalu dicium keningnya dengan durasi yang lama.
Kemudian mereka saling membersihkan diri. Dan setelah itu mereka pun keluar dari kamar mandi, Hadi entah memesan apa melalui ponselnya.
"Ini di pakai lagi ya!" Alisa menunjukan pakaian milik Hadi.
"Iya, sayang!" jawabnya sambil mengacak rambutnya yang basah.
Alisa mengeringkan rambutnya yang basah. Lanjut mengambil pakaian dari koper.
Hadi yang sibuk dengan ponselnya, duduk di sofa sementara Alisa berbaring di tempat tidur menghadap ke arah Diding. Tapi tidak pejam! dia hanya melamun, semalam ini Hadi bersamanya dan bagaimana keadaan Diana di malam yang sama.
Hadi membuka pintu kamar hotel untuk mengambil pesanannya. Yaitu makanan, perutnya terasa sangat lapar habis bermain semalaman dengan sang istri hingga rasa kantuk belum dihiraukan.
Kemudian Hadi membawa nya ke tempat tidur. Dimana sang istri tengah merengkol tanpa selimut.
"Sayang, bobo kah?" Hadi mendekati dan mendekatkan wajah pada sang istri yang tak bergeming.
"Makan yo? lapar nih, suami mu kelaparan habis mencangkul, belum di kasih makan juga!" bisiknya sembari menempelkan bibirnya di pipi Alisa.
Alisa berbalik pada Hadi. di tatapnya sangat lekat. "Aku kepikiran Tante, gimana dia sekarang di saat suaminya tidak ada di tempat. Kenapa om tega sih ninggalin dia di saat begini!"
Tangan Hadi bergerak mengelus pipi Alisa dengan sangat lembut. "Kalau saja tidak memungkinkan, aku tidak mungkin bisa pulang ke sini sayang! jangan banyak pikiran. Sekarang bangun dan temani suami mu ini makan, oke?"
Hadi menarik kedua tangan Alisa agar bangun. Dan makan bersamanya, mulanya Alisa malas-malasan untuk makan. Dia hanya menyuapi suaminya yang sekian lama baru kali menyuapinya lagi.
"Makan dong sayang, perut mu pasti lapar kan?" tangan Hadi menyentuh perut Alisa. "Aku suapi. nih, aa ... buka mulutnya?"
Alisa pun membuka mulutnya. Dan mengunyah makanan yang Hadi berikan.
"Om?" panggil Alisa dengan suara pelan.
"Hem! kenapa?" Hadi melirik mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Sebentar lagi mau berangkat bukan?" Alisa menatap sendu.
"Em ... nanti ahc pukul 05.30. Take Off nya 06.30. Masih ada waktu kok, kenapa masih kangen?" goda Hadi sembari merangkul bahunya gadis itu.
"Iiih, nggak. Siapa bilang? gak ada! aku cuma. Bertanya doang!" elak Alisa sambil menyuapi Hadi sampai habis.
__ADS_1
"Bohong!" Hadi mengecup kening singkat, lalu jarinya menyentuh leher Alisa yang merah-merah, dengan bibir yang tersenyum.
"Em ... merah ya?" Alisa pun meraba lehernya.
"Iya, banyak malah." Hadi mesem, tersenyum puas.
"Aah ... gimana dong? masa banyak sih?" Alisa melompat mendekati cermin dan melihat lehernya yang memang benar merah ada berapa malah.
"Aah ... kok ... banyak lagi, gimana cara menutupi nya?" Alisa terus mengarahkan pandangannya ke cermin. Lalu membuka kancing baju nya mengintip apakah di dada juga ada.
Bukan ada lagi, banyak juga. Namun masih mending kalau di dada ketutup baju, lah ini. Di leher ketutup apa?
Hadi hanya tersenyum lucu melihat reaksi Alisa yang baru nyadar dengan tanda kepemilikan nya itu. Alisa kembali dan langsung memukul paha Hadi.
"Kenapa sih gak bisa di bilangin? aku bilang jangan bikin di situ! kalau di lihat orang aku malu, orang-orang kerja juga." Sedikit memanyunkan bibirnya.
"Kan itu juga banyak di dada. Sayang ... mau lagi?" goda Hadi sambil menarik tangan Alisa.
"Aish ... terus kenapa di leher juga banyak? kan aku dah bilang--"
Suara Alisa terhenti, di bungkam dengan mulut Hadi. Di kecupnya dengan lembut dan menyapunya.
"Jangan bicara lagi, nanti aku mau lagi gimana? gak akan selesai waktu sebentar!" suara Hadi nyaris tak terdengar, jemarinya mengusap bibir Alisa yang bekas dia kecup barusan.
Alisa terdiam, tak bergeming dan hanya matanya saja yang bergerak melihat ke arah Hadi yang menunjukan senyum nya.
"Lehernya di olesi salep aja." Gumamnya Hadi sembari kembali menyentuh leher Alisa.
"Mana ada aku bawa yang gituan ke sini! aneh deh," Alisa menggeleng.
"Iya ... kan bisa beli, beli saja dulu salepnya!" tambahnya Hadi sembari menarik kepala Alisa ke dalam pelukannya.
"Cie ... elah ... beli gimana? orang seharusnya dipakai sekarang, beli. Kapan di pake nya coba?" Alisa membulatkan bibirnya.
"Jangan marah dong sayang ... nggak ikhlas apa ngasih aku? sudah dikasih enak marah-marah pula." Godanya Hadi.
Bugh.
Lagi-lagi tangan Alisa memukul paha nya Hadi. "Apaan sih?" sembari mengulum senyumnya.
"Nah, senyum kan tambah cantik." ucap Hadi sembari membelai kepala istri kecilnya tersebut.
Kini Hadi sudah tampak rapi, dan menunggu kehadiran stafnya tuk datang dan bertemu di sana ....
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya, makasih ya reader ku!
__ADS_1