Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Tidak perduli


__ADS_3

“Ya Allah ... mau sampai kapan aku di sini? buatlah dia segera pergi dari rumah ini.” gumamnya Alisa penuh harap.


Sebab bila Luky tidak pergi juga, gimana dia bisa pergi dari persembunyian nya itu? sementara dia sendiri gak tau harus pergi kemana?


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya terdengar juga suara motor Luky pergi dari situ. Alisa buru-buru keluar dan mengintip, apa iya Luky sudah pergi?


Benar saja, Luky melarikan motor nya meninggalkan tempat tersebut. Membuat Alisa merasa bisa bernafas lega.


“Akhirnya ... dia pergi juga.” Alisa berlari ke dalam rumah dan jebret, pintu dikunci dari dalam.


Langsung ke dalam kamar dan menangis di sana, pada akhirnya Alisa dapat menumpahkan segala yang menyiksa batinnya sedari tadi.


Kemarin di fitnah dan sekarang hampir saja menjadi korban


kebejatan kakak tirinya tersebut. Alisa menangis sejadi-jadinya. Menangisi nasib dia, mengingat sang kekasih yang lebih percaya kepada mama nya dan tidak perduli sama-sekali kepada dirinya. Semakin hatinya terasa di iris sembilu.


Namun setelah puas menangis. Dan sadar sebentar lagi adik-adik nya akan pulang dari sekolah. Alisa bangkit dan membereskan yang berantakan bekas tadi. Lanjut membersihkan diri, salat dan kemudian memasak.


“Kak. Kenapa Kakak Alisa tampak pucat dan lesu begitu? tidak bekerja lagi?” selidik Lilis sambil menatap intens ke arah sang kakak.


Alisa menoleh pada sang adik lalu mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku baik-baik saja kok. Iya ku gak kerja, mau cari di tempat lain saja. Doa kan Kakak ya? semoga dapat kerjaan yang lebih baik.”


“Oh, tapi kan di sana baru beberapa hari. Emangnya sudah mendapatkan gaji? Minta dong uang buat jajan?” Sinta menadah kan tangan nya meminta uang.


Membuat hati Alisa menjadi sedih. Memang setelah lulus belum juga menghasilkan uang.


“Aneh, apa Kakak betah menganggur? Selepas lulus sekolah. Kakak masih saja seperti itu, belum menghasilkan uang sama sekali. Tidak kasihan apa sama ibu yang banting tulang. Mana kita berdua yang masih membutuhkan biaya!” ujar Lilis seolah menggerutu yang di tujukan kepada sang kakak.


Mendengar perkataan dari Lilis membuat hati Alisa semakin teriris. Batinnya menangis.


“Kakak minta maaf? Belum bisa membahagiakan kalian semua dan Kakak belum bisa menghasilkan uang buat kalian semua. Kakak janji, tidak lama lagi kakak akan dapat menghasilkan uang yang banyak. Untuk kalian bertiga, doa’kan saja ya?”


“Hah, kapan? sekarang saja Kakak itu malas, kasian ibu, Kak. Kalau saja kita dah gede, kita akan membantu keuangan ibu,” ucap Lilis sambil melirik pada sang adik, Sinta.

__ADS_1


Alisa terdiam dan kena mental dengan ucapan-ucapan Lilis barusan. Dan yang dikatakan oleh Lilis benar adanya.


“Kak Lilis, bicara jangan gitu amat dong ... kasian juga kak Lisa nya, kata-kata Kak Lilis terlalu nyelekit lho ...” protes dari Sinta.


“Tidak apa-apa, Sinta. Kak Lilis benar, mungkin Kakak iya. Terlalu malas sehingga Kakak tidak menghasilkan uang sedikit pun.” Ungkap Alisa dengan nada sedih.


Kemudian Alisa pergi dari dapur meninggalkan Lilis dan Sinta berdua, membawa hati yang kacau alias kurang baik-baik saja.


Lilis dan Sinta saling pandang dan saling senggol satu sama lain. Memandangi ke arah punggung sang kakak yang meninggalkan nya.


Suasana sudah sore dan cuaca terlihat mendung memberikan pertanda mau turunnya hujan.


Alisa tampak murung dan berdiam diri di teras belakang.


Kedua adiknya menghampiri sang kakak dan merasa bersalah karena sudah bicara semaunya, mereka pikir sang kakak murung karena perkataannya.


“Kak, aku minta maaf, karena sudah menyinggung hatimu dengan kata-kata,” ucapnya Lilis dengan nada menyesal.


“Tapi, Kakak terlihat murung dan tidak bergairah begitu! jadi membuat aku merasa bersalah deh ...” Lilis menatap wajah sang kakak yang tampak sendu itu.


Sinta hanya mengangguk membenarkan perkataan dari kakak kedua nya, Lilis.


“Tidak. Tidak kenapa-napa kok,” elak Alisa sambil menatapi kedua adik nya tersebut.


Kemudian Lilis dan Sinta memeluk kakaknya. Alisa dengan sangat erat dan penuh dengan kasih sayang.


“Ada yang ingin Kakak pesan kan kepada kalian—“


“Apa itu, Kak?” selidik Lilis sambil memudarkan rangkulannya kepada sang kakak.


“Ehem. Kakak pesan sama kalian berdua ... kalau ada abang Luky, harus hati-hati ya?” sambungnya Alisa.


“Kakak ... kemarin sudah bilang!” timpal Sinta sembari mengibaskan tangan di udara.

__ADS_1


“Kakak serius, kali ini Kakak ingatkan lagi. Pokoknya kalian harus hati-hati dan mau dekat-dekat sama dia, takut.” Tambah nya Alisa kembali.


“Takutnya?” tanya Sinta dengan polosnya.


“Takut saja. Pokoknya gitu, jangan mau kalau dia pegang-pegang atau apalah. Dia macam predator wanita.” Pesan Alisa kembali.


Di saat sedang mengobrol. Datanglah sang ibu yang baru saja pulang bekerja.


“Assalamu’alaikum ... “ bu Juli mengucap salam.


Dan di sambut oleh ketiga anaknya. “Wa’alaikum salam ....”


Bu Juli menatap ke arah Alisa yang biasa jam segini tidak berada di rumah kalau kerja.


“Alisa tidak kerja atau sudah pulang? kok sudah ada di rumah jam segini?” tanya bu Juli sambil memberikan kantong kepada Lilis dan Sinta agar disimpan ke dapur karena berisi ikan untuk makan nanti malam.


Alisa tertunduk ke bawah. “Aku berhenti, Bu. Aku akan mencari kerjaan lain saja,” ungkap Alisa sambil masih menunduk.


‘Astagfirullah ... Lisa ... kerjaan itu tidak gampang lho. Baru saja beberapa hari bekerja dan boro-boro mendapatkan gaji sama-sekali, sekarang sudah berhenti? Alisa-Alisa, apa sih mau mu Lisa ... bukannya bersyukur! Ini malah.” Bu Juli berkata dengan nada lesu.


“Maafkan Lisa, Bu ...” Alisa menunduk dalam, mengakui kesalahannya.


“Lisa kan tahu kalau mencari kerja itu tidak mudah,” lirih nya bu Juli sambi hendak masuk ke dalam dapur.


“Gimana aku akan bertahan, Bun ... kalau orang yang mempekerjakan ku itu tidak suka dan tidak membutuhkan tenaga ku.” Suara Alisa menghentikan langkah sang ibu, yang berbalik melihat ke arah Alisa.


“Maksud nya Lisa apa?” bu Juli menatap penasaran.


Kedua adik nya pun melihat ke arah sang kakak dengan lekat ikut penasaran akan alasan nya berhenti bekerja secepat itu.


“Rahman tidak membutuhkan ku, Bu ... aku sudah di fitnah oleh ibunya, katanya aku wanita simpanan om-om dan aku boking kamar hotel. Demi Allah, itu tidak benar dan aku katanya hanya mengincar hartanya Rahman saja. Padahal aku mencintai nya tulus tanpa mengincar hartanya atau apalah,” suara Alisa bergetar dan tak kuasa menahan tangisnya ....


...Bersambung!...

__ADS_1


__ADS_2