Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Malu-malu


__ADS_3

Setibanya di kamar, kedua netra Hadi mendapati sang istri terbaring lemah dan di tangannya tertancap jaram infus.


Hadi menatap lemas dan mengayunkan kedua kakinya dengan gontai melihat kondisi sang istri seperti ini.


"Sayang?" gumamnya Hadi dengan dibarengi hati yang mencelos.


Ingin menangis sejadi-jadinya, namun dia harus terlihat tegar di mata sang istri yang menunjukan senyuman manisnya menyambut kedatangannya.


"Abang ... baru pulang?" lirih Diana yang suaranya nyaris tidak terdengar, apalagi dia baru bangun dari tidurnya.


"Sayang sudah bangun!" cuph! Hadi mengecup kening Diana dengan durasi yang lama.


Tangan Diana memeluk punggung Hadi yang membungkuk memeluk dirinya.


Rasanya hati ini terasa sangat sakit. Menghadapi Diana yang terpuruk seperti sekarang.


Ingin rasanya menggantikan posisinya Diana, lebih baik dirinya saja yang sakit! dari pada sang istri yang terus sakit-sakitan tak tega melihatnya.


"Kanapa tidak bilang kalau sayang drop begini?" Hadi duduk di kursi yang ada dekat tempat tidur sang istri sambil memegangi tangannya erat.


"Aku tidak ingin membuat Abang khawatir, lagian Abang juga sudah bilang kalau hari ini mau pulang dan aku tahu kalau Abang itu selalu tapati apapun yang Abang katakan pada ku!" lirih ya Diana sembari menatap ke arah suami nya yang tampak sendu itu.


"Segini itu, lebih segar. Ketimbang tadi siang! Diana sangat lemah dan menghawatirkan sekali." Suara sang bunda yang baru masuk menyusul putranya.


Hadi menoleh dan seraya berkata. "Ibu Lia sudah di beri tahu tentang ini?"


"Diana tidak mengijinkan Ibu memberi tahu mereka, Dania pun belum tahu makanya seperti ini. Dia belum pulang kerja." Jelas sang bunda.


"Sayang, kita ke rumah sakit ya? biar sayang di rawat di sana. Agar alat-alat nya lebih komplit." Hadi mengalihkan pandangannya pada sang istri.


"Aku, sudah agak baikan, Abang ... besok juga aku membaik kembali. Jangan terlalu khawatir ya? Aku baik-baik saja!" tolak Diana yang tidak mau di bawa ke rumah sakit.


"Tapi sayang! Abang gak mau sayang ke napa-napa---"


"Shuttt ... Abang jangan berlebihan. Aku akan baik-baik saja." Diana menempelkan telunjuknya di bibir Hadi.


Alisa yang sedari tadi berdiri di dekat pintu sambil terus mengusap sudut matanya terus mengalirkan air bening. Tidak tega melihat Diana yang semakin tampak lemah.

__ADS_1


"Ya Allah ... sehatkan tantei aku tidak akan memaafkan diriku sendiri bila Tante kau panggil dengan cepat." Batinnya Alisa sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Kemudian, Alisa menunjukan dirinya di hadapan Diana, dia tersenyum getir sambil berjalan mendatangi wanita madunya itu.


"Assalamu'alaikum ... Tante!" ucap Alisa memeluk Diana.


"Lisa ... apa kabar? gimana perjalanan nya? kau tampak lelah sekali." Balas Diana dengan lirih.


Alisa duduk di dekat Diana, saling menggenggam kan tangan. "Tante cepat sehat, biar kita bisa jalan-jalan bersama."


Bibir Diana mengulas senyum. "Tante juga mau, kita jalan-jalan bersama. Gimana, kalian sambil menikmati bulan madu kan di sana? bukan sekedar urusan kerja saja kan!" Diana menatap penasaran pada Alisa dan Hadi juga.


Alisa dan Hadi saling bertukar pandangan satu sama lain. Ibunda Hadi pun ikut penasaran ingin tahu jawaban keduanya, apakah mereka berdua sudah menunaikan kewajibannya masing-masing sebagai suami istri yang sah.


Karena jadi tidak menjawab apapun, dia bungkam dan menatap ke arah dirinya. Dengan malu-malu, akhirnya Alisa mengangguk pelan.


"Alhamdulillah ..." suara Diana dan ibunya Hadi pelan namun terdengar.


Diana merasa lega karena sudah memberikan yang insyaallah yang terbaik buat Hadi, suami nya itu.


Alisa menunduk malu, ternyata apa yang dia korbankan untuk Hadi menjadi harapan buat Diana khususnya.


"Abang, aku bahagia! karena Abang sudah mendapat tempat berkeluh kesah dia saat Abang memerlukan sesuatu. Ada Alisa. Semoga kalian berdua di berkahi oleh yang maha kuasa. Aku tenang bila dan ikhlas bila suatu saat harus meninggalkan dirimu!" lirihnya Diana.


"Sayang jangan bilang begitu? Abang tidak suka." Hadi menggelengkan kepalanya. Dia tidak suka Diana bilang begitu.


"Iya, Tante. Jangan bilang seperti itu, aku takut! ngeri." Tambahnya Alisa.


Liana dan Dania datang. Dan Dania langsung menghampiri sang kakak.


"Mbak, kenapa Mbak begini?" Dania mendekap Diana sambil menangis.


"Saya tidak apa-apa! Kau jangan khawatir." Suara Diana yang lembut.


"Hem ... siapa juga yang khawatir, justru aku senang karena jalan ku untuk mendapatkan sesuatu itu semakin terang benerang." Batinnya Dania sambil pura-pura menangis.


"Gimana gak khawatir, Mbak ... kondisi mbak seperti ini!" ucap Dania sambil duduk di dekat Diana dan menggeser tempat duduknya Alisa.

__ADS_1


Hadi yang merasa gerah melihat kehadiran Dania. Membuat Hadi beranjak dan bilang pada sang istri kalau dirinya mau mandi terlebih dahulu.


Begitupun Alisa yang tempat duduknya di alih Dania, berpamitan. "Lian, aku mau mandi dulu! nanti aku kembali lagi."


"Iya, kau pasti capek sekali. Mandi sana, aku ada di sini kok!" balasnya Liana sambil menepuk bokong nya Alisa.


Hadi berjalan duluan dan Alisa menyusul di belakang. Membawa langkah mereka ke kamar yang beberapa hari ini mereka tinggalkan.


"Apakah mau mandi duluan?" tanya Alisa sembari melirik ke arah Hadi.


Hadi hanya mengangguk pelan dan membuka kemejanya yang dia simpan di sofa. Alisa mengambil kemejanya lalu di bawa ke kamar mandi, sekalian menyiapkan air buat mandi nya Hadi.


Kemudian Hadi menyusul ke kamar mandi. Dan langsung ke masuk ke bathube.


Sejenak Alisa menatap ke arah Hadi. Yang lebih banyak diam sedari luar kota, di tambah sekarang kondisi sang istri yang mencemaskan.


Namun Alisa. Mencoba memahami itu, dia keluar dari amar mandi untuk menyiapkan bajunya.


Tidak lama kemudian, Hadi keluar dari kamar mandi dan Alisa masuk. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hadi memang kini sedang merasakan kekacauan dengan kondisi sang istri.


Kepala pusing atas bawah pun menjadi pemicu kegundahan dia. Mau minta jatah pada Alisa, gak enak dengan situasi yang tidak mengenakan.


Masa sih dia bersenang-senang di saat sang istri pertamanya terbaring lemah. Hadi menjadi dilema di buatnya, padahal dia sangat membutuhkan Alisa untuk menemaninya menumpahkan keinginannya sebagai laki-laki.


Selesai mandi, Alisa pun menemui Diana di kamarnya namun tidak lama karena Diana harus banyak istirahat.


Sekembalinya dari kamar Diana. Alisa mendudukan dirinya di tepi tempat tidur sambil membuka laptop. Sementara Hadi di sofa juga sama tengah sibuk dengan laptop di pangkuan.


Sesaat kemudian, Hadi menutup benda yang di pangkuannya itu sembari beberapa kali menguap. Hadi mengatakan langkahnya mendekati Alisa.


Berdiri di dekat sang istri ke kecilnya. Hadi mengusap pucuk kepala Alisa yang so tak mendongak. "Aku ... mau tidur di tempat Diana ya? menemani dia!" ucap Hadi dengan tatapan yang sulit di artikan.


Alisa membalas tatapan pria itu yang sepertinya menyimpan kesedihan didalam hatinya, lalu Alisa pun mengangguk.


Cuph! Hadi mencium kening Alisa singkat. Ingin sekali dia menumpahkan rasa yang tertunda, tetapi mengingat kondisi Diana menjadikan dia merasa tak tega ....


...🌼----🌼...

__ADS_1


Terbayang gimana perasaan Hadi saat ini. Dilema dan serba salah.


Jangan lupa like komen dan lain nya.


__ADS_2