
Kini Liana sudah berada di rumah Rahman yang kata ibu mertua, Rahman menunggu dirinya di kamar.
"Dari mana kamu?" tanya Rahman dengan dana ketus ketika melihat Liana masuk ke dalam kamar.
"Dari mansion!" jawabnya Liana.
"Kenapa nggak bilang dulu sama aku?" tanya kembali Rahman sembari menatap dingin ke arah Liana yang sedang duduk di tempat tidur dan membuka sepatunya.
"Kenapa mesti bilang? seharian ini aku nggak macam-macam kok, cuman pergi kampus-mansion. Terus bandara! mension lagi, itu saja!" jawabnya Liana tidak kalah dingin.
Rahman tampak kesal, terlihat dari rahangnya yang mengerat. "Kamu itu istri aku! kamu wajib meminta ijin bila mau pergi kemanapun, bilang dulu sama aku. Itu namanya istri yang baik, istri yang sholehah."
"Kamu ingin aku jadi istri yang sholehah? sementara kamu suami yang baik? nggak, suami yang bertanggung jawab? nggak.'' Liana balik bertanya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Apa maksud kamu? jangan lancang ya sama suami!" Rahman membentak.
"Suami yang seperti apa? disentuh istri aja nggak mau! pas ada maunya aja gerayangan. Istri pun tergantung suami," teriak Liana.
"Kau itu benar-benar ya! tidak menghormati suami. Jauh beda de--"
"Dengan siapa? Alisa, iya? jangan sama kan kita ya? kamu tidak dapat apa-apa dari dia! sementara kamu dapat banyak dari aku. Jadi jangan pernah nyamain aku dengan dia, aku tahu kalau kamu masih belum move on dari Alisa, kan?"
Rahman mengepalkan tangannya, kalau saja tidak bisa mengontrol emosi. Pasti lima jari Rahman sudah mendarat di pipinya Liana.
Liana dengan sengaja mengganti baju di hadapan Rahman yang sedang marah tersebut. Namun jiwa lelakinya sontak meronta dan mendekat memeluk Liana yang tengah mengganti pakaian.
Liana tersenyum lalu melepaskan diri dari pelukan Rahman dengan perlahan seraya berkata. "Aku ini terpaksa kau nikahi bukan? jadi bukan memang niat dari hati untuk menikahi ku, aku sadar! kalau aku ini hanya pelampiasan mu saja di saat kau patah hati dari Alisa."
Rahman menatap kecewa pada Liana yang menjauhi dirinya. "Apa maksud mu?"
"Aku tahu, aku hanya pelampiasan mu di saat kau patah hati. Sekarang Alisa sudah bahagia dengan papa ku, kau yang salah dan kau juga yang nyesel kan? kalau Alisa sudah menjadi istri papa gue sekarang ini." Liana dengan suara tinggi.
__ADS_1
"Iya, yang kau katakan itu benar. Aku menyesal sudah kehilangan dia dan dia sekarang sudah bahagia. Iya itu benar!" sahutnya Rahman dengan suara tidak kalah tinggi.
"Ya, gue tahu itu, dan gue sekarang minta cerai! malam ini juga gue mau pulang. Percuma gue menikah dengan orang yang tidak pernah mencintai gue." Liana mengeluarkan koper dan memasukan semua barangnya.
Rahman kaget, namun dia tidak berbuat apa pun. Dia merasa kalau Liana cuman menggertak saja. Karena dia tahu kalau Liana cinta berat sama dirinya.
Liana menarik nafasnya berkali-kali, dia pun ingin tahu gimana reaksi Rahman ketika dia bilang minta cerai dan akan pulang malam ini juga.
Namun jangankan bujukan, bicara sepatah kata pun tidak Rahman ucapkan. Liana menarik kopernya. dan menyoren tas berjalan mendekati pintu, mengedarkan pandangan siapa tahu ada barang nya yang ketinggalan di sana.
Rahman berpikir, kalau Liana tidak akan lama ngambeknya, paling sebentar saja. Apalagi kalau benar dia hamil, jadi perkataan yang meminta cerai itu cuman angin lalu saja.
"Sayang, kau mau kemana?" selidik Bu Irma ketika melihat Liana keluar dari kamar dengan membawa kopernya. Dia pun mendengar pertengkaran mereka berdua. Namun tidak menyangka kalau Liana akan nekad seperti ini.
"Aku mau pulang." Jawabnya Liana dengan suara bergetar. Namun dia berusaha tegar dan jangan sampai dia menangis di rumah ini.
"Apa?" Bu Irma terkesiap kaget bagai sambaran suara petir di siang hari.
Liana mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Ibu Irma yang sangat dekat.
"Kalian itu kan ... menikah masih terhitung hari, belum lama. Jadi kalian belum mengenali suami, sudah! masuk lagi sana? jangan pergi di malam-malam begini, Jagan kabur-kaburan!" bujuknya Ibu Irma.
"Aku tahu pernikahan kami masih terhitung hari. Tapi aku sudah yakin untuk mengambil keputusan, aku mau berpisah, aku mau minta cerai!" tegasnya Liana.
"Ha? apa? apakah saya tidak salah dengar!" dia bener-bener dibuat shock dengan ucapan Liana yang katanya mau minta cerai.
"Aku sudah yakin! dan aku mau minta cerai!" sambungnya Liana.
"Tidak-tidak sayang. Tidak bicara seperti itu, pernikahan kalian itu belum genap satu minggu! masa karena masalah kecil saja kau mau minta cerai segala? pikirkan lagi matang-matang, jangan sampai kamu menyesal, kamu sayang kan? cinta kan sama Rahman?" Bu Irma menatap lekat ke arah sang mantu.
Liana tidak lagi menjawab, melainkan dia membawa langkahnya untuk menuju pintu utama sambil menarik kopernya.
__ADS_1
"Sayang-sayang, jangan gitu lah. Apalagi kalau kamu hamil gimana? jangan bilang jelek-jelek bukannya kamu sayang dan cinta sama Rahma! gitu aja ditinggalkan? istri macam apa kamu," teriaknya Bu Irma.
Sejenak Liana menghentikan langkahnya berdiri mematung di depan pintu keluar! namun jangankan untuk bicara lagi pada Bu Irma. Menoleh pun tidak.
Bu Irma buru-buru ke kamar, agar putranya itu menyusul sang mantu.
"Man-Man ... Rahman? kenapa kau diam saja susul istrimu. Masa malam-malam gini mau kabur, bujuk dia! jangan biarkan dia pergi. Kamu ini gimana sih? malah bengong begitu," ibunya Rahman marah-marah. Setelah tiba di dalam kamar melihat putranya sedang melamun.
"Ck. Biarkan sajalah Bu ... nanti juga dia balik lagi sama aku!" ucapnya Rahman yang percaya diri.
"Man, dia bilang sama Ibu, kalau dia mau minta cerai. Mau pisah sama kamu! padahal pernikahan kamu aja belum genap satu minggu lho. Gimana kalau dia beneran hamil kan? buruan susul?" sang Ibu menarik tangannya Rahman.
Namun Rahman tetap tidak bergeming dan tidak beranjak dari tempatnya. "Tapi aku yakin kalau Liana nggak akan lama, dia pasti kembali karena dia sangat mencintai ku!"
Namun lama-lama, terdengar suara motor Liana yang pergi menjauh dari halaman rumah.
Rahman dan sang Ibu menajamkan pendengarannya, kalau motor tersebut memang benar menjauhi halaman rumah yang mereka tempati.
"Tuh ... kan beneran! dia itu pergi bukan cuman menggertak saja. Emang apa sih masalahnya? bukannya sedang sayang-sayangnya, kalian ini pengantin baru menikah! kok ada masalah sebesar ini!" ibunya justru yang kini marah-marah.
"Tapi Bu ... dia nggak bakalan ninggalin aku, dia kan sangat menyayangi aku. Dia cinta banget sama aku jadi nggak mungkin dia mau ninggalin aku! apalagi minta berpisah, ditambah lagi kalau dia sedang hamil nggak mungkin lah ... dia ninggalin!" Rahman tetap begitu yakin kalau Liana nggak akan pernah ninggalin dirinya.
"Tapi, Man ... waktunya dia pergi malam-malam, gimana dengan keluarnya? pasti beranggapan buruk sama kamu--"
"Ibu ... sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Dia pasti balik lagi." Rahman memotong perkataan sang bunda.
"Ibu nggak ngerti deh, dengan pikiran kamu itu sudah tahu ini malam, istri mu kabur, juga masih aja berdiam diri!" ibunya nyerocos lalu meninggalkan putranya sendirian di kamar tersebut ....
...🌼---🌼...
Mohon maaf. Karena hari ini sibuk dalam dunia nyata. Jadi agak telat.
__ADS_1