
Selesai membagi-bagikan bingkisan, Zidan mendekati Liana.
"Lian, Alhamdulillah ... selesai ya?" Zidan melirik ke arah Lian yang sedang merapikan bekas bingkisan yang tampak sangat berantakan.
"Iya, Alhamdulillah ..." jawabnya Sisilia dengan sedikit salah tingkah.
Tangan Zidan mengambil setangkai bunga dari tempatnya lalu dia membawa beberapa langkah yang mendekati Liana.
Zidan berdiri tepat di hadapan Liana. Dian dia berlutut sembari memegang setangkai bunga dan juga sebuah cincin.
Liana merasa heran dengan tingkahnya Zidan yang tampak aneh.
"Lian, maukah kamu menerima aku menjadi calon imam mu?" suara bariton itu terdengar menggelegar sama Liana.
Dan membuat Liana setengah tidak percaya mendengarnya.
Liana melongo menatap ke arah Zidan yang menunjukkan wajah seriusnya.
Melihat Liana terdiam dengan mulut yang menganga Zidan kembali berkata. "Lian maukah kamu menjadi istriku dan aku menjadi calon imammu?"
Kata-kata itu membuat Liana speechless gak bisa berkata-kata, hanya matanya yang bergerak melihat kanan dan kiri. Dan di sana terdapat ada Mita dan asisten namun agak jauh dari mereka berdua.
"Di tanganku ini ada setangkai bunga dan sebuah cincin, jika kamu mengambil bunga ini ... berarti kamu menolak lamaranku! tapi jika kamu mengambil cincin ini, insya Allah dan aku percaya kamu menerima lamaranku." Zidan menunjuk pada kedua tangan dia yang satu memegang bunga dan yang satu memegang sebuah cincin.
Liana dibuat diam seribu bahasa, melihat ke arah cincin dan bunga yang berada di tangannya Zidan.
"Ayo, Lian mau pilih yang mana? Ini masa depan lho ... bukan masa lalu!" tiba-tiba suara itu mengganggu gendang telinga Liana.
Yang sontak membuat Liana menoleh ke arah sumber suara, yaitu Alisa yang tengah berdiri bersama suaminya yang tiada lain adalah papanya sendiri.
Liana tersipu malu dan sesaat nutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ingin rasanya dengan cepat katakan. Ya aku mau! namun dia berusaha untuk jaim, sedikit menahan diri.
"Aku tidak memaksa kamu untuk berkata-kata, apalagi ucap Kata seperti pujangga! yang aku mau hanya gerakan jari mu yang mengambil salah satunya, biar lebih jelas untuk kedepannya!" ucap Zidan kembali penuh harap.
Hadi yang menggandeng pinggang sang istri yang kini tengah memakai kaftan serta kerudungnya yang tampak sangat anggun nan cantik lebih cantik dari biasanya.
Alisa mendongak ke arah wajah Hadi. "Setuju kan jika dia sama Liana? dan kamu juga pasti tahu dong gimana sosok Zidan selama ini!"
Kini tangan Hadi menarik kepala Alisa lalu mengecup pucuk kepalanya. "Setuju sayang, aku setuju karena aku juga tahu bagaimana Zidan. Tapi aku tak setuju--"
__ADS_1
Alisa merasa heran dan mengerutkan keningnya. "Kenapa tidak setuju?"
"Aku tidak setuju kalau seandainya dia dekati kamu tapi kalau mendekati Liana sih tidak apa, apalagi melamarnya seperti itu aku merestui saja." Suara Hadi pelan sembari menyeringai.
"Ohohh ... aku kira apa. Nggak mungkin lah dia juga tahu kok, aku istilah orang masa deketin aku, kecuali alasan kerjaan!" Alisa mengusap pipi Hadi yang sedikit berbulu halus dengan gerakan lembut.
"Jika tidak bisa memberikan keputusan yang tepat di saat ini, kamu boleh kok memikirkan lagi di saat salah satunya ada di tangan mu, dan suatu saat merubah pikiran! bicara saja pada ku!" ucap kembali Zidan seraya menatap ke arah Liana yang masih juga terdiam.
Sebentar Liana melihat ke arah Alisa yang sedikit memberikan menganggukkan, dan juga pada sang ayah yang tersenyum ke arah dirinya, kemudian Liana kembali menatap ke arah Zidan.
Perlahan manik mata Liana bergerak ke arah bunga dan cincin, yang tentunya Liana pun menggerakkan tangan untuk mengambil salah satunya.
Inilah saat-saat yang sangat menegangkan, yang bikin jantung dag dig dug tidak karuan dan berdegup begitu kencang. Jari-jari Liana mengarah pada bunga yang berada di tangan kirinya Zidan.
"Wah ... yang akan diambil itu bunga, bunga yang ku jadikan lambang penolakan, sabar-sabar. Cinta takkan ke mana! jodohku takkan kabur tanpa ada tujuannya." Batin Zidan ketika jemari Liana hampir saja mengambil setangkai bunga.
Mulanya semua orang merasa, Liana akan mengambil bunga dari tangan Zidan yang pertanda akan menolak, tetapi dengan cepat jari itu mengalih ke sebuah cincin lalu dia pun mengambilnya.
Membuat dada yang sudah merasa sesak pun berubah menjadi raut wajah-wajah yang tadinya menegang kini mencair dan tersenyum lebar.
"Kau menerima ku?" tanya Zidan sambil menatap lekat ke arah Liana.
Liana hanya mengangguk membenarkan perkataan dari Zidan, kemudian Zidan pun berdiri membuang bunga yang berada di tangan kirinya. Lantas mengambil cincin yang berada di tangan Liana dan memasangkan nya ke dalam jari manisnya Liana.
"Kamu serius kan? mau melamar aku? sementara kamu juga tahu kalau aku ini seorang janda!" pada akhirnya Liana membuka suaranya dan berkata demikian.
"Insya Allah aku serius. Dan aku nggak akan melamar mu jika aku nggak bisa menerima statusmu!" jawabnya Zidan penuh keyakinan.
"Masya Allah ... oma sangat terharu dan bahagia! akhirnya ada pria yang melamar mu dengan tulus mau menerima kamu apa adanya, Lian!" suara sang Oma dari arah belakang.
Liana dan Zidan menolehkan kepalanya ke arah oma dan Alisa juga suaminya pun lebih mendekati, dimana Liana dan Zidan berdiri.
"Saya suka dengan caramu Zidan, kamu berani mengambil keputusan yang tidak segan melihat siapa Liana dan siapa dirimu, saya acungkan jempol buat kamu!" ucap Hadi seraya bertepuk tangan.
"Maaf, jika saya sudah lancang melamar putri anda yang notabenenya putri dari CEO saya, setidaknya saya sudah memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati. Dan hasilnya saya serahkan kepada Liana dan juga orang tuanya!" ungkap Zidan sambil menanduk penuh hormat.
"Oke saya maafkan dan kapan kamu akan membawa orang tua mu ke sini! saya tunggu secepatnya!" jelasnya Hadi.
"Insya Allah, saya akan secepatnya membawa orang tua ke sini." Jawabnya Zidan.
__ADS_1
Disaat Hadi dan Zidan sedang berbincang, Liana dan Alisa saling berpelukan, juga omanya yang menangis haru.
"Terima kasih Oma, atas doanya dan juga Lisa terima kasih?" Liana memeluk keduanya dengan sangat erat.
Kemudian setelah itu Zidan pun berpamitan, begitu juga dengan Mita dan kini tinggallah keluarga Hadi yang tengah berkumpul.
Dirga pun yang tadi bermain dengan teman-temannya kini dia merasa capek dan ingin istirahat.
"Pah, Mommy, Dirga mau tidur dulu ya capek!" anak itu tampak capek.
Alisa menolehkan kepalnya ke arah anak tersebut. "Teman-temannya pada ke mana?"
"Mereka sudah pulang, dan aku capek, mau tidur ya dulu ya?" sahutnya Dirga semoga berjalan menaikan anak tangga.
"Oke." Alisa mengangguk sembari menatap punggung anak itu.
Kini hati Liana tengah dipenuhi dengan bunga-bunga kebahagiaan, yang sebentar lagi dia akan dilamar oleh Zidan. Seorang pria yang memang dia sukai dan dia berharap semoga Zidan lebih segalanya ketimbang Rahman. Dalam arti kasih sayang yang tulus.
Liana yang melangkahnya kakinya menaiki anak tangga menuju lantai atas dimana kabarnya berada!
Begitupun dengan Alisa dan Hadi, Hadi yang selalu memanjakan Alisa, hingga jalan naik tangga pun dia gendong! tidak membiarkan istrinya naik turun tangga sendiri. Walaupun ada lift, Hadi lebih memilih untuk berjalan kaki dan mendingan menggendong Alisa.
"Nanti kamu naik ataupun turun gunakan aja lift. Biar nggak capek!" ucapnya Hadi sambil memangku Alisa ka kamarnya.
"Iya aku tahu!" lalu Alisa diturunkan di atas sofa. Kemudian Hadi memijat kaki Alisa yang tampak bengkak.
Alisa hanya melihat dan menikmati pijatan dari sang suami yang duduk di bawah tepat di hadapan dirinya!
...----...
"Ibu ingin bertemu kamu ... hanya untuk bilang, kalau Rahman sekarang sedang terpuruk. Sekarang dia banyak melamun dan jarang masuk kerja, semenjak perceraian itu ... dia banyak berubah." Bu Irma terdengar sedih.
"Terus, apa masalahnya denganku, Bu ... aku bukan siapa-siapa nya lagi, dan kalau saja dia menyesali perbuatannya? kenapa nggak dari dulu ketika aku pergi dari rumah, kenapa dia nggak pernah menyusul ku. Jangankan menyusul ku, jangankan menemui ku. Chat saja nggak pernah, dan siapa tahu dia terburuk itu bukan gara-gara aku. Mungkin karena wanita lain yang belum move on." Timpal Liana sembari menatap ke arah Bu Irma.
"Wanita lain gimana? jelas-jelas dia sering memanggil nama kamu Lian bukan wanita lain. Ibu harap ... kalian bersatu lagi." Tambahnya Bu Irma.
"Sudahlah Bu ... aku tidak ingin bahas lagi, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan orang yang insya Allah lebih mencintaiku dan menghargai ku, bukan seperti Rahman yang mencintai ku hanya sebagai pelampiasan!" Liana mengibaskan tangannya di udara dia tidak ingin lagi mendengar nama Rahman.
Bu Irma melongok, bengong. Mendengar Liana yang akan segera menikah lagi ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Apa kabar Raider ku semua, semoga hari ini kabarnya baik Semua, ada dalam lindungan Allah subhanahu Wa ta'ala.