
Hadi masih betah memeluk sang istri sambil menyatukan kedua bibir mereka dengan perasaan yang tidak karuan. Alisa berusaha melepaskan diri dari sang suami.
“Sudah, nanti kesiangan nih.” Alisa merapikan pakaiannya dan juga pakaian Hadi yang kusut.
“Oke kita berangkat sekarang.” Hadi meraih tas nya.
“Yank. Apa tidak sebaiknya mengajak Lian juga? kan sebagai hadiah bulan madu.” Alisa melirik sang suami yang berjalan melintasi pintu.
Hadi hentikan langkahnya sejenak dan berbalik melihat ke arah sang istri. “Sayang ... silakan dia mau bulan madu kemana pun, tapi tidak bareng kita. Aku tidak mau. Titik.”
Alisa terdiam sambil terus berjalan mengikuti langkah Hadi yang lebar.
“Apa kau ingin bareng mereka karena ingin terus melihat mantan mu itu?” kata Hadi dengan nada yang aneh.
Sejenak Alisa berdiri mematung dan tidak berkata-kata lagi mencoba mencerna omongan Hadi barusan.
“Bu, kami pergi dulu,” ucap Hadi tampak dingin.
“Ibu ... Lisa pergi dulu ya? Assalamu’alaikum ... Dirga sudah pergi sekolah ya?” kini Alisa yang mencium tangan sang ibu mertua.
“Dirga sudah berangkat, dan hati-hati ya. Wa’alaikum salam ...” balas sang ibunda nya Hadi.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh pak Mur.
Di sepanjang perjalanan, semua diam membisu dan tidak satu pun yang mengeluarkan suaranya. Keduanya memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing sembari memperhatikan jalanan.
Hati Hadi merasa kesal, karena dia pikir kalau Alisa ingin mengikut sertakan Liana dan suaminya acara bulan madu nya nanti. Agar bisa bertemu selalu dengan mantan. Sudah jelas-jelas, mata nya Rahman jelalatan melihat Alisa dan itu membuat Hadi tidak suka mengajak siapapun, apalagi Rahman.
Setibanya di kantor, mereka berdua langsung mengulurkan tangannya dengan tugasnya masing-masing. Alisa pun menoleh pada Hadi yang tampak fokus memandangi layar laptopnya itu.
Alisa beranjak dari duduknya membawa berkas dan keluar dari ruangan tersebut menuju ruang staf. Hadi melihat ke arah punggung Alisa yang akhirnya hilang dari pandangan lalu Hadi menghela nafasnya dalam-dalam.
Kemudian Hadi mengurus tujuan bulan madunya bersama Alisa yang tadinya mau ke Bali dan kini mau ke raja ampat sesuai permintaan nya sang istri kecilnya itu.
Sesaat kemudian. Alisa pun kembali dengan dua gelas minuman di tangan, lantas memnyimpannya di meja sang suami.
__ADS_1
“Ini minumnya.” Lantas tidak kira-kira Alisa duduk di atas pahanya Hadi. Dia ingin menggoda suaminya itu, habis sedari tadi cemberut terus.
“Apa-apaan nih sayang?” tanyanya Hadi sambil memegangi pinggang sang istri.
Alisa mengalungkan kedua tangannya pada leher nya Hadi sambil di tatapnya lekat. “Kenapa sih dari tadi monyong saja?”
“Aku marah sama kamu. Buat apa sih ngajak-ngajak orang lain. Ini bulan madu kita yang harus benar-benar hanya kita berdua yang menikmatinya berdua, tidak ada yang lain! Bila perlu dunia hanya milik kita berdua.” Hadi membelai pipi Alisa dengan sangat lembut.
“Iya, dunia hanya milik kita berdua, arena yang lain pada ngontrak. Hi hi hi ...” Alisa terkikik.
“Ha ha ha ... bisa saja sayang, ya sudah kita bekerja lagi. Semangat! besok sore kita akan terbang.” Tambahnya Hadi.
“Terbang? Emangnya kau punya sayap? bisa terbang segala.” Alisa dengan masih di posisi yang sama.
“Bisa dong ... emangnya sayang tidak tahu, kalau burung ku bisa terbang dan terbangnya kemana? Ke tempat yang sangat ku rindukan. Yang belum kamu berikan!” jawabnya Hadi sambil menyeringai.
“Hem ... kalau mau sekarang juga boleh kok,” goda Alisa sambil mesem dan berdiri namun di tahan oleh tangan kekarnya Hadi.
Kemudian Hadi mendekati bibir Alisa yang sudah menjadi candu untuk dirinya. Rasanya dia tidak bisa bila tidak menyentuhnya sekali saja. Tangan Hadi bergeser ke tengkuknya Alisa dan mengunci kepala itu agar tidak bergerak dan dia bisa memperdalam sentuhan nya.
Hadi menatap kecewa pada istri kecilnya itu. “Kenapa?” dengan suara bariton dan nafas yang tidak beraturan.
“Nggak enak. Nanti di lihat orang,” ucap Alisa sambil berdiri lalu mengusap bibirnya yang lembab.
Hadi pun begitu, mengusap bibirnya seraya berkata serta mata melirik ke arah luar. “Nggak ada sayang.”
“Sudah ach.” Alisa membawa gelas minuman ke meja pribadinya.
Lanjut Hadi beranjak dan keluar dari ruangannya. “Aku keluar dulu sayang.” Setelah sebelumnya meneguk minumnya terlebih dahulu.
“Iya. Oya yank ... tolong belikan makanan buat ngemil ya?” pinta Alisa sambil kembali menyibukkan diri ke beberapa berkas dan layar laptop, membuka email yang banyak pesan masuk urusan kerjaan.
...------...
Kini Liana tinggal di rumah sang ibu mertua dengan Rahman, suaminya.
__ADS_1
Saat ini dia sedang beberes di kamar. Dan Rahman sedang bersiap untuk pergi ke kedai. Liana berdiri di depan suaminya sambil mengalungkan tangan di pundak pria itu.
Cuph. Kecupan Liana mendarat di pipi Rahman lalu di bibir, padahal Rahman sudah berusaha menolak.
“Ach apa-apaan sih?” Rahman mengusap kasar pipi dan bibirnya. Seolah tidak suka dengan sentuhan dari sang istri.
“Kamu kenapa sih? tidak mau aku sentuh bukan? aku ini istri mu lah.” Liana menatap tidak suka bila mendapat penolakan dari Rahman seperti itu dan seolah tidak mau dia sentuh.
“Aku lagi tidak mood, jadi jangan ganggu aku dan jangan sentuh aku!” Rahman membawa tas kerjanya.
Liana terbengong-bengong mendengar ucapan dari Rahman barusan. Lalu dia menyusul Rahman yang baru mau membuka pintu.
Lalu Kemudian. Liana memeluk Rahman dari belakang. “Aku ikut yaitu ke konter wings chicken.”
Tidak di duga bila rangkulan tangan Liana di lepaskan oleh Rahman sambil membalikan badannya. Dikira Liana mau memeluk dirinya dari depan, namun ternyata tangan Rahman malah mendorong bahu Liana ke belakang.
“Kalau aku bilang jangan ganggu, ya jangan ganggu! Ngerti gak?” ketusnya Rahman.
“Man, kamu kenapa? gak mabuk kan? masa aku sentuh saja tidak mau. Lagian kita ini sudah suami istri. Tidak ada larangan kita untuk bersentuhan.” Liana menatap nanar pada Rahman yang tidak mau dia sentuh kecuali dia sendiri yang pengen sesuatu dari Liana.
Atau melepaskan hasratnya, barulah mau menyentuh dirinya.
“Kalau bilang gak mau. Gak mau, masa kamu gak ngerti?” ucap Rahman dengan wajah yang di tekuk.
“Oo! Kamu mau kita bersentuhan dengan ku bila kamu bila kamu mau punya hasrat saja, iya? Tapi bila kau tidak butuhkan tubuh ku, kau benci sama aku, iya kan?” Liana menatap tajam pada Rahman yang masih berdiri di hadapannya itu.
‘Iya, memang kenapa? aku memang menikahi mu karena terpaksa, kerena kita sudah melakukan itu duluan. Kalau saja tidak kejadian itu, belum tentu aku nikahin kamu dengan secepat ini.” Rahman dengan tidak ragu mengatakan hal itu kepada Liana.
Membuat Liana sangat terkejut dan sangat tidak menyangka, bila Rahman tega mengucapkan hal seperti itu padanya, bikin dadanya terasa sakit bukan main. Ternyata seperti ini dan di nikahi, semata-mata karena mereka terlanjur melakukannya. Lian menggeleng sambil menangis.
“Kau hajat Man. Jahat.” Liana membalikan tubuhnya dan berjalan cepat menuju tempat tidur. Dia menjatuhkan tubuhnya sambil memeluk guling menangis tersedu ....
...🌼---🌼...
Apa kabar semuanya reader ku yang sangat aku sayangi. Makasih ya kalian masih setia pada ku!
__ADS_1