Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Periksa


__ADS_3

"Sudah ah jangan merajuk nanti cantiknya hilang, nanti bayi kita juga ikutan stress! kalau melihat mamanya sedih!" Hadi membingkai wajah Alisa dengan kedua tangannya. Serta mengecup kedua pipinya bergantian.


"Sekarang mau apa? balik kamar istirahat atau jalan-jalan keluar saja? atau ... mungkin mau nonton televisi. Hem?" jawabannya Hadi kepada sang istri yang masih celingukan mencari orang-orang yang hilang.


"Aku pengen mencari angin, jalan-jalan di ke taman yo?" Alisa mandiri dan memegangi tangan Hadi untuk mengajaknya ke taman.


"Boleh, jangankan ke taman yang ada di mention ini ke taman yang ada di Bali pun aku mau kok mengajak mu." Sambutnya Hadi sembari mesem.


"Nggak-nggak, gak mau jauh-jauh. Paling minta ke taman hatimu saja he he he ..." sambungnya Alisa.


Lalu keduanya berjalan meninggalkan ruang makan tersebut, menuju taman yang ada di lantai atas yang berdampingan dengan kolam renang.


Pasangan yang nampak bahagia itu memasuki taman, kemudian Alisa duduk di sebuah kursi yang panjang dan berada di sana! serta mengedarkan pandangannya pada bunga-bunga yang sebagian Mekar dan sebagian juga masih kuncup.


Hadi duduk di samping Alisa dengan tangan yang tidak pernah lepas dari bagian tubuh Lisa, memeluk pinggangnya serta mencium pucuk kepalanya.


Hatinya sedang dihinggapi rasa bahagia yang tidak terkira. Biarpun baru hasil testpack yang menyatakan Alisa hamil, tapi sudah cukup membuat dirinya bahagia.


Dan Hadi pun yakin kalau sang istri benar-benar hamil. Lagian banyak tanda-tanda kalau wanita muda itu tengah hamil muda. Karena bagaimanapun Hadi bukan pria muda yang belum berpengalaman.


Namun sebaliknya, sedangkan dia sudah mempunyai dua anak yaitu Liana dan Dirga! jadi setidaknya Hadi tahu tanda-tanda wanita yang tengah hamil. Hanya yang kemarin saja dia tidaklah ngeh kalau Alisa sedang hamil, sebab dia terlalu sibuk mengurus istri pertamanya yang sedang sakit di waktu itu.


"Aku sangat bahagia dengan kabar ini sayang!" Hadi menempelkan bibirnya di bahu sang istri.


"Aku juga, tapi was-was! takut seperti kemarin lagi." Alisa menatap lekat ke arah Hadi yang wajahnya tersorot cahaya lampu.


"Nggak sayang, aku yakin tidak akan terulang lagi. Sebab kan sudah ketahuan dari awal. Dulu kan jangankan aku! dirimu sendiri pun tidak mengetahui kalau sedang hamil." Hadi memegangi kedua tangan Alisa.


"Iya sih, itu salah ku yang tidak tahu apa-apa!" ucap Alisa dengan nada sedih.


"Jangan sedih sayang, sudah ach. Jangan di ingat lagi. Aku juga yang salah yang kurang perhatikan mu!" cuph kecupan mesra mendarat di keningnya Alisa.


Alisa memejamkan kedua manik matanya di saat Hadi mengecup keningnya.


...----...


Hari ini adalah sidang perceraian Liana yang yang disarankan untuk melakukan mediasi terlebih dahulu.


Di sebuah ruangan Liana, Hadi dan Alisa duduk berhadapan dengan Rahman dan juga beserta orang tuanya.

__ADS_1


"Lian, aku tidak ingin kita bercerai." Rahman mengarahkan pandangan pada Liana.


"Tidak, aku tidak mau. Keputusan ku sudah bulat. Ingin bercerai dan jangan bujuk aku lagi." Liana pun kekeh dengan pendiriannya untuk bercerai.


"Lian, Ibu sangat menyayangkan keputusan mu itu untuk bercerai. Kenapa gak di rubah keputusan .u itu." Bu Irma tidak setuju kalau Rahman di ceraikan.


"Rumah tangga ku tidak bisa di selamat kan lagi dengan alasan apa pun. Jadi aku tidak ingin mendengar apa pun, aku ingin bercerai." jelas Liana kembali.


Mediasi selesai. Dan hasilnya tetap sama. Yaitu bercerai, akhirnya sidang akan di laksanakan lagi Minggu depan nya.


Setelah menghadiri sidang perceraian Liana dan mediasinya, kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke dokter kandungan.


Oma dan Liana pun ikut menemani Alisa dan Hadi. Mereka semuanya berada di dalam mobil yang sama.


"Pah, gak ke kantor hari ini?" tanya Liana pada sang ayah.


"Nantilah ke rumah sakit dulu. Setelah itu beru Papa akan masuk kantor." Jawabnya Hadi.


"Ooh ya sudah," Liana mengangguk.


"Lian ... Apa kamu benar-benar tidak akan merubah keputusan mu lagi?" selidik Alisa kepada Liana.


Liana menoleh ke arah Alisa yang berada duduk di depannya. "Aku sudah seyakin-yakinnya tidak akan berubah lagi!"


"Tidak mungkin, aku terlalu mencintai sehingga dengan mudahnya Aku membenci, aku juga minta maaf mungkin dulu aku pernah terbesit untuk merebut dia dari kamu dan pada akhirnya aku juga yang rugi dan kamu yang beruntung--"


"Sudahlah, Lian ... nggak usah dipikirkan lagi, semuanya sudah berlalu dan menjadi masa lalu. Semoga kedepannya kamu menemukan seseorang yang tepat, yang akan mencintai kamu. Menyayangi kamu dengan sepenuh hati." Alisa menyentuh tangan Liana.


Tidak lama di perjalanan, akhirnya tibalah di depan klinik Harapan Bunda. Hadi membukakan pintu untuk sang istri lalu dia menggandeng tangannya, dan tangan yang satu lagi berniat untuk menggandeng tangan sang Ibunda. Namun sudah digandeng oleh sang cucu, Liana.


Kemudian mereka berempat berjalan memasuki klinik tersebut, dan Hadi sudah membuat janji dengan seorang dokter ahli kandungan di sana.


"Selamat siang, Tuan dan Nyonya, silakan duduk!" sambut seorang suster dengan ramahnya kepada Hadi dan juga yang lainnya.


"Selamat siang juga saya sudah membuat janji dengan dokter Mirna apa dia ada?" ucap Hadi kepada suster tersebut.


"Ooh ... ada sebentar ya? saya sampaikan dulu!" suster pun berlalu mau dokter Mirna.


Sementara mereka berempat, duduk di kursi yang sudah tersedia di tempat itu.

__ADS_1


"Nanti kita ikut masuk ya?" Liana menoleh pada sang ayah.


"Iya boleh, nanti ikut saja!" balasnya sama ayah.


Sesaat kemudian suster pun kembali dan menyilakan Hadi beserta istri, untuk masuk menemui dokter Mirna yang kebetulan sudah menunggu mereka.


"Terima kasih ya Sus?" ucapan Lisa sembari berdiri mengangguk ramah kepada.


"Iya, sama-sama Nyonya silakan masuk!" tambahnya Suter.


Hadi berdiri lalu menggandeng tangan sang istri dan lalu melirik ke arah sang bunda yang sudah digandeng oleh Liana, tangannya dan bersiap berjalan.


Mereka pun memasuki ruangan dokter yang langsung disambut oleh dokternya.


"Inikah istrimu? cantik dan masih muda," tanya dokter Mirna kepada Hadi sembari menunjuk ke arah Alisa yang mengangguk hormat dan ramah.


"Iya benar dan Saya mau periksakan dia atas ... maksud saya dia sudah terlambat datang bulan. Mungkin dia hamil atau--"


"Oke, saya mengerti dan akan bantu! Tapi ngomong-ngomong kok nggak ada undangannya?" kata dokter Mirna sambil mengulum senyumnya dan menyuruh Alisa untuk bersiap dia periksa.


"Kebetulan nggak ada undang-undang, dan pernikahan kami hanya biasa-biasa saja." Tambahnya Hadi.


"Ooh ya, saya juga turut berduka atas meninggalnya istrimu dan waktu itu saya lagi ada tugas di luar Negeri jadinya nggak bisa melayat!" sambungnya dokter Mirna mengingat kepergian Diana waktu itu.


"Ooh tidak apa-apa, dan karangan bunga pun, aku terima kok. Terima kasih sudah bela-belain kirimkan karangan bunga," balesnya Hadi kembali.


"Dia ... Liana bukan?" dokter Mirna menunjukkan arah Liana. "Dan Ibu Apa kabar? ya ampun ... lama kita gak ketemu, sampai-sampai aku lupa!" sejenak dokter Mirna menghampiri sang Bunda dari Hadi dan dia mengenali Liana sebagai putrinya Hadi.


"Baik dokter! dokter Mirna tambah cantik saja." Lirihnya ibunda Hadi sambil berpelukan dengan dokter Mirna.


"Ibu bisa aja, Ibu yang awet muda ya Allah ... dari dulu sampai sekarang ibu tetap seperti ini. Justru aku sudah kelihatan tua kan, bu ... ya Allah ... masih muda kayak gini!" dokter Mirna mengusap-usap bahu ibunya Hadi, setelah berpelukan dengannya serta pandangan yang meneliti.


"Liana, kamu udah besar nih! dulu kamu masih kecil, waktu terakhir bertemu dengan saya!" dokter Mirna saling berjabat tangan dengan Liana.


"Ooh aku lupa dah, kapan ya kita ketemu?" Liana mengerutkan keningnya mengingat-ingat dan dia tidak mengingatnya sama sekali.


"Ya sudah, kalau kamu lupa. Karena memang sudah lama sekali, oke silakan kalian duduk menunggu ya? Saya mau periksa pasien dulu!" kemudian menghampiri kembali Alisa yang sudah berbaring.


"Sorry. Nyonya muda, saya dan Hadi adalah kawan baik. Jadi nggak usah aneh jika kami terlihat dekat. Iya kan Hadi?" ucap dokter Mirna kepada Alisa sembari melirik ke arah Hadi yang langsung merespon dengan anggukan ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Mana nih like comment dan dukungan lainnya bagi yang sudah Makasih banyak ya i love you raeder ku.


__ADS_2