
"Mulai sekarang ... ini tempat kerja mu," Ucap Hadi sambil menunjuk meja kerja buat Alisa.
"Ha? di sini?" Alisa tampak shock. "Dengan laptop ini?"
"Iya, emang kenapa? ini tempat kerja mu dan dengan ini kamu bisa memulai pekerjaan." Tambah Hadi sambil menatap lawan bicaranya tersebut.
Alisa tertegun, memandangi meja kerja beserta laptop di atasnya. "Aku itu gak bisa pakainya!" Alisa bergumam sembari melirik ke arah Hadi.
"Masa gak bisa sama sekali?" selidik Hadi sambil tangannya menekan dan mengoperasikan laptop tersebut.
"Eeh, bisa sih ... dulu, dan sekarang aku lupa lagi." Sambung Alisa sambil mendudukan dirinya di kursi.
"Kalau bisa, gak mungkin sekarang sampai lupa seluruhnya. Dan saya bisa ajarkan kamu." Hadi berdiri di samping Alisa.
Dan mencondongkan tubuhnya ke meja dan bertumpu pada satu tangan ke meja tersebut, tangan satunya ke keyboard laptop sebagai contoh dan ngajari Alisa yang tampak fokus ke layar dan mendengarkan dengan seksama kata-kata dari Hadi.
"Ya-ya aku mengerti dan apa saja yang harus aku kerjakan nih?" Alisa menantang Hadi.
Hadi berjalan. Dan membawa langkahnya ke meja pribadi, lalu mengambil beberapa berkas yang dia bawa ke meja kerja Alisa.
"Om, ini harus aku kerjakan?" Alisa mendongak.
"Iya, dan ini belum seberapa! akan masih banyak lagi tugas mu." Tambah Hadi.
"Huuh ... ya Tuhan ... lancarkan pekerjaan ku!" Alisa mengusap wajahnya, lalu mengarahkan tatapannya ke berkas-berkas yang mungkin sebentar lagi akan menumpuk.
"Oke, selamat bekerja!" Hadi memutar badan untuk mendatangi mejanya yang berada di sebelah kanan bagian depan.
"Om, kalau ada yang aku tidak mengerti gimana? aku harus tanya siapa?" tanya Alisa menghentikan langkahnya Hadi.
Hadi menoleh dan menatap datar ke arah Alisa. "Kalau ada yang kamu tidak mengerti, tanyakan saja sama pak RT sana. Alamatnya di luar kantor beberapa puluh meter dan kau akan menemukan!"
"Rumah pak RT?" Alisa menanggapi gan serius.
"Bukan, tapi pos hansip!" sambung Hadi sambil mesem.
"Iih ... aku serius juga, malah bercanda!" Alisa memonyongkan bibirnya sembari melepaskan pandangannya ke arah layar.
"Tentunya tanya saya dong Alisa ... kalau tidak tanga ke karyawan lain yang senior. Masa hal yang begini mau tanya orang luar? kan gak mungkin." Hadi menggeleng sambil kembali meneruskan langkahnya ke meja kerja pribadi.
"Iya, tahu aku." Alisa memulai tugasnya sesuatu yang masih asing buat otaknya itu.
__ADS_1
Di ruangan tersebut begitu hening, yang sesekali terdengar suara ketukan dari papan keyboard serta suara kresek-kresek dari kertas yang sedang di buka dan di baca.
"Alisa, buatkan saya kopi?" suara Hadi mengkombinasi keheningan.
Alisa menoleh ke arah Hadi yang tampak serius dengan kerjaannya.
"Tempatnya di mana?" Alisa beranjak dari duduknya.
"Ada di bagian kiri, tanyakan saja pada karyawan lain." Hadi menunjuk ke arah luar.
Kepala Alisa menoleh pada yang Hadi tunjukan. "Oke." Selanjutnya Alisa berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Berpapasan dengan dua orang laki-laki yang hendak bertemu dengan Hadi sebagai CEO di sana.
Setibanya Alisa di tempat kopi. Alisa kebingungan. "Aduh, lupa bertanya. Gulanya berapa?" Alisa menepuk jidatnya.
Menoleh pada salah satu ovis yang kebetulan masuk. "Mas? Mas! mau tanya nih, kalau kopi buat CEO berapa sendok gulanya ya?"
"Mbak pekerja baru ya?" tanya balik dari seorang ovis yang masih muda dan ganteng itu.
"Eh ... iya, saya pekerja baru. Dan kenalan lama." Gumamnya Alisa sambil mengangguk.
"Apa Mbak?" tanya pemuda tersebut.
"Iih, itu ... kopinya tida sendok teh dan gulanya dua sendok!" jawabnya.
"Eh, Mas-Mas. Sendok apa? sendok makan, sendok tembok atau teh?" Alisa menarik turunkan alisnya.
"Ha ha ha ... Mbak bisa saja, sekalian sendok pasir Mbak. Sendok teh Mbak." Kata pemuda tersebut sambil tertawa lepas.
"Hi hi hi ... makasih infonya, Mas?" Alisa membuatkan kopi buat pria yang kini menjadi bos sekaligus tunangannya itu.
Kemudian. Alisa membawanya ke ruangannya yang tadi Tempat ia dan Hadi bekerja.
Setelah berada di ambang pintu, Lisa kembali bertemu dengan kedua pria tadi yang baru saja keluar dari ruangan Hadi.
Alisa menunduk dan tidak mau bertatap muka dengan kedua orang tersebut. Malu.
Langkah Alisa membawanya ke dekat meja Hadi lalu menyodorkan kopi di hadapan Hadi. "Ini kopinya, karena kendati aku lupa bertanya kopi nya berapa sendok dan gulanya pun berapa sendok. Jadi aku tanyakan saja sama ovis."
"Terus? apa katanya?" selidik Hadi sambil menggeser cangkir yang berisi kopi tersebut.
__ADS_1
"Dia bilang ... kopi tiga sendok dan gulanya dua sendok. Tapi karena aku takut kurang manis, aku tambahkan saja satu sendok." Tambahnya Alisa.
"Oke, tapi ... memang segitu sih kalau ukuran cangkir." Hadi mengangguk sambil menyesap kopinya yang masih terasa panas itu.
Lantas Alisa menyimpan nampan di bawah meja. "Tahu gak sendok apa yang aku pakai?"
"Sendok teh." Jawab Hadi sembari kembali menyesap kopinya.
Alisa mesem sendiri. "Salah, sendok tembok! he he he ...."
"Ohok-ohok." Air kopi yang di mulut muncrat ke depan dan mengenai baju bagian depan nya Alisa.
Alisa kaget dan melihat bajunya yang basah. Mana bagian dada basahnya. "Om ..." mata indahnya Alisa melotot dengan sangat sempurna pada Hadi dan baju ya bergantian.
"Ohok, sorry-sorry tidak sengaja. Saya tidak sengaja," ucap Hadi sambil mengusap mulutnya dengan tisu dan menyodorkan tisu ke arah Alisa.
"Ahhhh ... kotor kan? bukannya mau meeting nanti siang!" kotor gini gimana?" keluh Alisa dengan nada cemas.
"Ini gara-gara kamu juga yang bikin saya terbatuk-batuk begini!" Hadi menyalahkan Alisa dalam hal ini.
"Aish ... kenapa aku yang di salahkan? aku tidak berbuat apa-apa juga." Alisa mengusapkan tisu ke bajunya.
"Kamu tadi bilang masukan gula pake sendok tembok, jelas aku kaget." Hadi kembali menyesap kopi nya.
"Ya ... gak mungkin lah, aku bisa saja masukan dula sebanyak itu, kalau air kopinya satu ember. Tidak masuk akal sekali." Alisa meninggalkan meja Hadi sambil menggerutu.
Kemudian, Alisa kembali duduk di meja kerjanya meneruskan tugasnya yang tadi di tinggalkan. Dengan hati terus mengumpat dengan basahnya baju dia yang kena semburan dari mulut Hadi.
Hadi menelpon seseorang untuk membelikan kemeja wanita dan di tunggu secepatnya. Juga beserta jasnya. Karena nanti jam makan siang ada rencana meeting di luar, jadi Alisa harus terlihat lebih rapi.
Hadi menoleh ke arah Alisa yang sudah mulai bekerja kembali walau kadang di terlihat menggaruk tengkuknya mungkin dia merasa pusing dengan kerjaan yang masih asing baginya itu.
Dan tampak Alisa gelisah melihat kemejanya yang basis dan kotor tersebut.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Pintu ada yang mengetuk dari luar, dan karena pintu dinding terbuat dari kaca. Gordennya pun terbuka, jadi terlihat siapa yang datang tersebut ....
__ADS_1
.
Jangan lupa subscribe? masih sepi nih ... makasih atas kebaikan kalian🙏