Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Membalikan fakta


__ADS_3

Alisa benar-benar terkesiap, dan dengan cepat dia melonjak naik dan mendorong dada pak Anwar yang hampir saja menindihnya.


"Ah!" Alisa berlari keluar kamar yang sempat kakinya di tangkap pak Anwar. Sehingga Alisa sempat terjatuh, namun langsung bangkit dan menendang-nendang tangan pria bertubuh gempal tersebut.


"Jangan lari cantik ... kita akan bersenang-senang dan kau akan menjadi milik ku cantik!"


Suara itu bikin Alisa merinding ngeri dan dibikin semakin ketakutan. Dia berlari ke luar melintasi pintu depan yang kebetulan tidak di kunci.


Dengan nafas yang tak beraturan. Alisa keluar dan sangat kebetulan seiring dengan datangnya mobil Hadi yang niatnya menjemput untuk bekerja.


Melihat Alisa berlari dari pintu depan dengan pakaian, rambut yang kusut dan sangat tampak ketakutan, Hadi langsung buru-baru turun dengan datangnya Alisa di hadapannya.


Tubuhnya Alisa luruh ke lantai sembari memegangi kaki Hadi, tangisnya pun pecah. Hik-hik-hik.


Hadi semakin merasa heran dan membantunya untuk berdiri, dengan cara mengangkat kedua bahunya. "Kau kenapa? bukanya siap-siap untuk bekerja dengan saya!"


Alisa berusaha berdiri walau kakinya gemetaran dan lututnya pun terasa lemas. "To-tolong, A-aku? to-tolong aku! bawa aku dari sini, aku takut. Hik-hik-hik."


Tangis Alisa semakin menjadi, wajahnya basah kuyup dengan air mata. Menunduk dalam sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


"Kau kenapa? apa yang terjadi, katakan padaku?" Hadi menggoyangkan bahu Alisa dengan tatapan tajam. "Katakan?" namun dengan nada rendah.


Alisa mengangkat wajahnya dan menoleh ke dah pintu rumahnya sesat, lalu menoleh pada Hadi lantas kembali menunduk dalam sambil tetap menangis. "A-aku, aku hampir saja di-di ... gagahi ayah sambung ku, dan Alhamdulillah a-aku. Bisa keluar ini!" suara Alisa terbata-bata yang di barengi dengan menangis.


Antara percaya atau tidak. Entah kenapa ada rasa sakit yang menyerang hati Hadi saat ini, tangannya mencengkram tangan Alisa lalu dia tarik ke dalam rumah yang dia yakini kalau pak Anwar berada di dalam.

__ADS_1


Benar saja pak Anwar ada, dan baru saja keluar dari pintu dapur. "Apa-apaan ini? anda itu seharusnya menghormati perempuan dan menjaga anak anda sekalipun anak sambung. Sungguh bejat perlakuan mu."


Pak Anwar tersenyum tenang dan menoleh pada Alisa dengan lirikan yang sinis. "Hem, tentu saja kau percaya sama dia. Tapi kau harus tahu ya! kalau yang sebenarnya terjadi itu ... dia yang menggoda saya. Mancing-mancing perlihatkan paha dan dada lah. Dia sendiri yang datang ke kamar saya! jelas lah jiwa lelaki saya meronta!" pak Anwar membalikan pakta.


Membuat Alisa menggelengkan kepalanya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca kepada Hadi. "I-itu, ti-tidak benar. Om."


Hadi menatap lekat ke arah Alisa yang terus menggeleng.


Melihat mereka berdua terdiam. Bikin pak Anwar kembali meyakinkan kalau dirinya itu di goda. "Tuh, lihat bajunya, kancingnya terbuka bukan? siapa yang tidak akan tergoda, wajar dong ... kalau saya juga tergoda. Normal."


Alisa langsung melihat kancing bajunya yang tadi sempat tertarik dan segera ia rapikan. Dia sangat khawatir kalau jadi lebih percaya pria itu, ketimbang dirinya. Sudah jelas-jelas menjadi korban, tertuduh manjadi tersangka juga! sungguh malang nasib Alisa dia saat-saat ini.


"Kau pikir, saya akan percaya dengan omong kosong mu itu! tidak! karena dari mata mu. Bahasa tubuh mu mengungkapkan siapa dirimu sebenarnya." Hadi menatap tajam ke arah pak Anwar dengan tangan yang sebenarnya sudah mengepal. Mengepal menahan amarah.


Hadi geram pada pria yang isinya di atas dia tersebut. Kemudian mengalihkan pandangan ke dah gadis yang sebentar lagi menjadi istri nya tersebut. "Ambil semua barang mu terutama pakaian yang ku belikan kemarin! kau sangat bahaya bila tinggal di sini!"


"Saya tidak percaya lagi, bila membiarkan Alisa tinggal di sini. Kau itu bukan pria yang layang di panggil bapak. Dan. Mungkin kau juga tidak layak untuk menjadi suami Bi Juli." Tegas Hadi pada Anwar.


"Hem, saya tidak perduli dengan omongan mu itu, yang jelas Juli cinta mati pada saya. Sudah. Pergi saja. Bawa gadis itu, barang bekas. Bekas saya emek-emek. Ha ha ha ...." dengan tidak punya malu Anwar tertawa lepas.


Rahang Hadi tampak mengeras. Dan hampir saja tangan Hadi menonjok batang hidungnya Anwar, bila saja dia tidak mampu mengendalikan amarahnya.


Lisa keluar dari kamar membawa sebuah koper sambil terus mengusap sudut pipinya yang terus basah dengan air mata.


Tangan Hadi langsung mengambil alih koper Alisa. "Ayo kita pergi dari sini? saya khawatir bila kau tinggal di sini."

__ADS_1


Alisa mengangguk pelan sambil berjalan lebih dulu ke luar rumah tanpa melihat ke arah pak Anwar, dia tidak sanggup bila harus melihat pria itu. Benar-benar bikin dia shock dan merasa benci.


Waktu itu, Luky. Putranya. Hari ini bapaknya yang berniat tidak senonoh pada Alisa.


Setelah berada di dalam mobil, jadi bersiap menyalakan mesinnya. Alisa menoleh. "Mau kemana, Om?" Suaranya nyaris tidak terdengar.


"Kemana saja! asal kau tidak berada di rumah itu," balas Hadi tanpa menoleh dan langsung membawa kabur mobilnya tersebut.


Alisa tidak berkata lagi, selain suara isak tangis nya yang menghiasi. Hadi memberikan beberapa lembar tisu pada Alisa serta air mineral buat dia minum agar lebih tenang.


Tiba-tiba mobil berhenti membuat Alisa yang sedang meneguk minumnya terheran-heran.


"Kita lapor polisi saja. Biar dia kapok." Hadi melirik ke arah Alisa yang tengah menutup botol minumnya.


Alisa menggeleng. "Tidak, om ... aku mohon jangan!" tangan Alisa dengan refleks memegang pergelangan Hadi. Membuat Hadi mengarahkan pandangannya pada tangan Alisa.


Alisa segera menarik tangannya dari tangan Hadi. "Om, aku mohon jangan di laporkan dulu. Kasihan ibu, dan dia pun tidak perlu tahu tentang ini. Aku mohon?" menyatukan kedua tangan di dada.


"Tapi orang semacam itu harus di tindak lanjuti, jangan dibiarkan begitu saja! harus dibikin jera." Hadi kekeh ingin melaporkan Anwar.


"Aku mohon, om ... itu aib buat keluarga ku, jangan laporkan dia. Aku mohon, demi ibu." Pinta Alisa sambil menyatukan kedua tangannya penuh permohonan ke arah Hadi.


"Ini gadis baik benar. Dan memang kalau ini dibawa ke pihak yang berwajib, tentunya akan diketahui orang banyak." Batinnya Hadi ....


.

__ADS_1


Jangan lupa subscribe, kasih dukungan lainnya🙏


__ADS_2