Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Sinkron


__ADS_3

"Mentang-mentang di hadapan ibu dan tante, Om dengan leluasa menyentuhku! mentang-mentang aku nggak menolak gitu?" ucapan Alisa setelah berada di dalam kamarnya.


Hadi yang sedang membuka kemejanya menoleh sambil menginginkan bibirnya seraya berkata. "Kau itu istriku! wajar dong ... jika aku menyentuhmu, bahkan lebih dari itu."


Degh.


Tubuh Alisa meremang. "Tapi kan, kita sudah berjanji untuk tedak melakukan apapun!" sambungnya Alisa sambil masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan keperluan nya Hadi mandi.


Hadi melirik ke arah istri mudanya itu, meskipun dia sering ngomel tapi dia tidak pernah lupa untuk melayaninya dalam hal lain.


"Itu kan bukan kekhilafan, itu disengaja di hadapan ibu dan tante," suara Alisa terdengar lagi ketika kembali dari kamar mandi. Lalu memungut pakaian kotor Hadi yang tergeletak di sofa.


"Iya-iya ... saya emang sengaja, tapi kan kau pasti mendengar obrolan yang tadi? kalau mereka menyudutkan ku untuk melakukan sesuatu yang mungkin kamu tidak mau!" Hadi membela diri.


"Lagian ... kenapa kau tidak menolak? apakah tidak berani menolak ku. Karena di hadapan mereka hem? karena yang ada! kau yang akan diceramahi oleh mereka berdua dan mereka pasti bilang, kamu berdosa kalau menolak suami," sambungnya Hadi sambil mengenakan handuk yang dia lilitkan di pinggang.


"Bu-bukan begitu sih," Alisa berdiri sambil memegangi pakaian kotor milik Hadi.


"Terus karena apa?" Hadi berdiri berhadapan dengan Alisa yang mematung.


Baru kali ini Alisa memandangi dada, perut Hadi yang berotot bak roti sobek. Dengan hati yang berdebar, manik Alisa sampai tidak berkedip.


Hadi pun memandangi gadis itu yang mematung dan matanya terus melihat ke arah tubuhnya, sampai-sampai tak terlihat matanya indah gadisnya berkedip sekalipun.


Beberapa kali terlihat Alisa menghela nafas panjang dan menelan Saliva nya yang merasa tercekat di tenggorokan.


"Kenapa melihat ku sampai segitunya? biasanya tidak pernah mau melihatku, dengan alasan malu atau apalah, kau selalu berpaling muka jika aku bertelanjang dada seperti ini!" ucap Hadi.


Alisa tersadar, lalu memalingkan pandangannya ke arah lain. wajahnya memerah tampak sekali kalau dia sedang merasa malu.


"Em, em ... aku!" Alisa semakin dibuat gugup ketika Hadi memajukan langkahnya dan mendekat. "Om, ma-mau apa?"

__ADS_1


Hadi terus maju mendekati tubuh Alisa yang terus mundur dan akhirnya berhenti karena di belakangnya sebuah laci di samping tempat tidur.


Geph.


Tangan kanan Hadi menyentuh pinggang Aisyah disusul dengan tangan kiri yang menyentuh punggung bagian belakang.


"Om, ma-mau apa?" suara Alisa terbata-bata sambil menatapi ke arah tubuh kekar itu.


Hadi tidak menjawab apapun. Selain kotak pisik yang saat ini dia lakukan. Menarik tubuh Alisa agar semakin dekat dengan tubuhnya.


Nafas Hadi pun menyapu hangat ke kulit wajah Alisa, karena wajahnya Hadi begitu dekat dengan wajah cantik Alisa yang mulanya menunduk.


Namun wajah itu perlahan mendongak seiring dengan jari Hadi hotel di dagu gadis tersebut.


Perasaan Alisa sungguh campur aduk. Dadanya yang terus berdebar, jantung pun berdegup begitu kencang, tubuhnya sedikit bergetar. Rasa was-was menyelimuti perasaannya kali ini. Takut, cemas. Gugup dan panik di rasakan nya! bergelut antara hati dan pikiran.


Hasrat hati ingin berontak dan menjauh, menjauh dari tubuh kekar yang begitu dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka berdua.


Namun otak berkata. "Diam saja Alisa! kau harus tau apa yang akan dilakukan Hadi padamu. Dia tidak mungkin menyakiti mu!"


"Kau laki-laki normal, Hadi ... ayo lakukan? penuhi kebutuhan mu yang sudah lama tidak merasakan sentuhan itu!" monolog dalam hati Hadi.


"Tidak, aku tidak mau kalau sampai Om Hadi ngapa-ngapain aku? tapi dia suami mu! wajar dong bila dia perlakukan kamu sebagai istrinya, yang penting tidak menyakiti mu!" antara hati dan pikiran Alisa beradu argumen.


Tatapan Hadi semakin lekat dan tertuju ke sebuah titik yang sungguh ingin dia sentuh saat ini. Hasrat Hadi kian meronta untuk melakukan sesuatu yang sudah sebulan lebih ini dia pendam.


"Alisa ... wajahnya semakin mendekat dan miring, sepertinya dia mau mengambil ciuman pertama mu!" pikirannya Alisa.


"Aku tidak mau, aku belum pernah ciuman dengan siapa pun. Dan aku ingin memberikannya pada suami ku nanti." Hatinya Alisa.


"Bego, dia itu siapa kalau bukan suami mu? spa kau tidak mendengar atau tidak tahu atau apa? kau akan berdosa bila menolak kehendak suami!" pikiran Alisa mencemooh dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mencintainya. Aku akan memberikan semuanya kepada orang yang sangat aku cintai dan tentunya sudah halal bagiku." Batinnya Alisa kembali.


"Persetan dengan itu Alisa ... suatu saat kau akan mencintainya dan akan membutuhkan dia, jangan sampai kau menyesal Alisa! disaat kau memerlukan dia. Dan dia tidak perduli lagi padamu!" pikirannya Alisa.


Pikiran nya terus memberikan dorongan dan dukungan pada Alisa agar membiarkan Hadi melakukan apapun maunya.


Antara pikiran dan hati Alisa saat ini tidak lah sinkron. Alias bertolak belakang.


Kedua manik Alisa melotot dengan sempurna ketika bibir pria yang notabene suaminya menempel dengan bibirnya yang tipis itu.


Bibir Hadi mengecup lembut atas bawah penuh dengan kehangatan. Lalu menyapu setiap inci bibir Alisa dan menikmati sensasi manisnya benda yang ranum tersebut.


Hadi begitu menikmati bibir Alisa dengan kedua netra nya terpejam. Tangan yang tadi menyangga dagunya Alisa bergerak ke tengkuk dan menguncinya.


Alisa sedikit menggeleng, namun tak mampu menolak. Benar-benar dalam diri Alisa sedang mengalami eror dan tidak sejalan. Tangan nya bergerak menempel di dada bidang dan perutnya Hadi yang sixpack itu.


"Huuh ..." nafas keduanya terdengar berat dan ngos-ngosan bagai orang yang habis lari maraton.


Dalam beberapa saat mereka berada di posisi yang sama. Alisa merasakan ada sesuatu yang mencuat di bawah sana. Tidak ada kata yang terucap, selain sentuhan yang rasanya lebih dari cukup untuk bicara.


Kemudian Hadi melepaskan kecupannya itu, dengan tatapan yang lekat pada Alisa yang mulai membuka kedua manik nya tersebut.


Alisa juga segera menyingkirkan tangan dari dadanya Hadi, serta menunduk dalam. Wajahnya berubah merah dan matanya pun berkaca-kaca. Antara malu dan merasa kehilangan, seumur hidup baru kali ini dia berciuman.


Hadi mengusap bibirnya yang lembab. Pasang matanya yang masih mengarah pada Alisa dan menunggu reaksinya gimana? Hadi berpikir kalau gadis ini akan segera marah. Namun pada kenyataannya Alisa tetap menunduk menyembunyikan wajahnya dari dirinya.


Alisa menahan malu dan sedih. Kenapa harus Hadi yang mengambil ciuman pertamanya?


Karena tidak ada reaksi apapun dari Alisa. Hadi pun berlalu membawa langkahnya ke kamar mandi. Sebenarnya ingin melakukan lebih. Tapi kasihan! gadis itu benar-benar masih virgin. Buktinya baru dikecup bibir saja tubuhnya sudah bergetar hebat, namun kendati demikian. Hadi merasa puas sudah dapatkan ciuman pertanya ....


...🌼----🌼...

__ADS_1


Inikah awal dari pasrahnya Alisa terhadap suaminya, Hadi?


Makasih masih setia mengikuti karya recehan ini ya🙏


__ADS_2