
"Jadi, pernikahan nya gak di sini? kan di sini rumah orang tua nya!" pak Anwar tampak kurang setuju.
Bu Juli menoleh pada sang suami yang menunjukan wajah nya yang di tekuk. Kemudian menoleh pada Diana seraya berkata.
"Saya setuju, jeng. Jadi di sini tidak harus menyiapkan apa pun. Apalagi di sini tempatnya kan sempit, mungkin di sana lebih luas dan besar. Cuma ... saya malu saja segalanya dari sana!" Bu Juli menunduk malu.
"Tidak usah merasa malu, emang sudah kewajibannya kamu yang menyiapkan semuanya. Ibu Juli tidak usah khawatir ataupun memikirkan sesuatu apapun! biar kami yang mengurusnya." Lirihnya Diana kembali sambil melirik ke arah sang suami yang mengangguk setuju.
"Lagian ... untuk mengisi waktunya Alisa, dia akan bekerja dengan saya menjadi sekertaris pribadi saya, untuk menggantikan sekertaris saya yang cuti hamil dan melahirkan." Tambah Hadi dengan jelas dan tegas.
Membuat semua yang berada di sana mengarahkan pandangan kepada Hadi.
"Beneran, Pah? Alisa akan bekerja dengan Papa?" selidik Liana menatap penasaran pada sang ayah.
Hadi menggerakan netra nya pada Liana. "Iya, itu benar. Alisa akan bekerja sama Papa."
"Wih ... tuh kan ... kau dapat calon suami+pekerjaan. Apa lagi coba kurangnya papa gue, Al ..." Liana menggenggam tangan Alisa dengan wajah yang sumringah dan mata yang berbinar.
Alisa hanya tersenyum tipis dengan jantung yang terus dag-dig-dug serr. Bagai bedug yang di tabuh.
"Oya, bentar ya? gue keluar dulu bentar saja!" Liana berdiri sambil melihat layar ponselnya.
"Mau kemana kamu, Lian?" selidik Alisa sambil mendongak ke arah Liana.
"Sebentar, gue balik lagi!" Liana melipir berjalan keluar dari tempat tersebut.
"Justru, saya tidak ingin membuat keluarga di sini repot. Jadi saya memutuskan kalau semuanya pihak kami yang urus." Ungkap Diana kembali yang di tujukan kepada Bu Juli dan suami.
"Apa tidak akan merepotkan kalian semua?" Bu Juli menatap Diana yang tampak pucat itu.
__ADS_1
"Tidak, itu kewajiban kami." Timpal Diana, kemudian meneguk minumnya yang diberikan sang suami.
"Sedang apa di sini?" tanya Rahman yang menatap heran ke arah Liana yang menyuruhnya datang ke tempat ini. Yang tiada lain, kediamannya Alisa.
"Em, ini adalah hari ... tunangannya Alisa dan papa gue." Jawab Liana dengan wajah yang tampak bahagia.
"Apa? Alisa dan papa kamu tunangan?" betapa kagetnya Rahman mendengarnya lalu matanya melihat beberapa mobil mewah berjejer di halaman rumah tersebut.
Rahman celingukan dan rasanya tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Liana.
Liana sengaja mengundang Rahman ke sana. Dia Liana tahu kalau hubungan Rahman dan Alisa sedang renggang dan kemungkinan putus akibat tidak ada Resti dari ibunya Rahman.
Alisa memang belum cerita pada Alina. Tapi Alina cukup tahu dengan apa yang menyebabkan renggangnya hubungan mereka berdua sehingga merembet ke kerjaan segala.
"Ayo, masuk?" tangan Liana menggandeng lengan Rahman dan di ajaknya masuk.
Namun Rahman mematung. "Buat apa kau ajak aku ke sini? untuk apa?"
"Apa-apaan sih kamu ini? kalau tahu gini? saya tidak mau datang. Aku kira ... bukan acara tunangan. Kau bisa-bisanya menyuruh ku datang?" Rahman menatap tajam pada Liana.
"Emangnya kenapa sih? dia bukan jodoh mu Man ... dan kau kini tahu, kan? kalau dia lebih memilih bokap gue ketimbang dirimu, lagian siapa yang mau bila calon mertua gak setuju? yang ada makan hati!" jelas Liana sambil kembali menarik tangan Rahman di ajaknya masuk.
Yang di dalam sedang makan-makan pun menatap heran, bersama siapa Liana! apalagi Alisa yang tampak jelas kagetnya melihat kedatangan Rahman dan digandeng oleh Liana.
"Rahman?" gumamnya Alisa dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca sedih, kecewa terluka. Perih, bercampur menjadi satu.
Liana langsung mengenalkan Rahman kepada kelurganya sebagai teman dekat.
Kemudian. Rahman mendekati Alisa yang mematung dan menunduk. Dia menatap wajah cantiknya Alisa yang membuat hatinya bergetar.
__ADS_1
"Selamat ya? mungkin ini yang di maksud oleh mama ku om-om itu, ternyata ayah dari sahabatnya sendiri! Hem aku tidak menyangka begitu rendahnya dirimu itu. Menjadi simpanan pria yang tiada bukan ayah sahabat karib." Jelas Rahman dengan suara pelan.
Alisa tidak mampu berkata-kata! karena percuma di jelaskan pun, orang lain tidak akan mengerti dengan posisinya. Alisa diam seribu bahasa sambil menelan Saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Bahkan dia merasa heran! kenapa Rahman datang bersama Liana ada apa di antara mereka berdua?
"Kenapa, kau tidak menjawab ku ha? tidak seperti waktu itu kau berusaha menjelaskan. Sekarang kau bungkam! seolah mengatakan iya," sambung Rahman dengan tatapan yang penuh kekecewaan.
Alisa tetap tidak menjawab dan dia malah sibuk mengambilkan makanan buat putra alias Dirga. Walaupun dalam hatinya dipenuhi beberapa pembelaan dan juga beberapa pertanyaan, kenapa dia berada di sini? mengapa juga bersama Liana. Namun dia memilih tetap menyimpannya dalam hati.
"Man, cantik kan calon ibu sambung gue? sudah kasih semangat nya?" tanya Liana yang baru saja datang dari toilet.
"I-iya, sangat cantik. Bikin pangling dan ... bikin hati gimana gitu!" balas Rahman sembari mengibaskan tangan di depan dada.
"Hohoo ... jangan gitu dong! Yo kita makan?" tangan Liana memegangi lengan Rahman menjauh dari Alisa dan keluar kembali dengan membawa makanan.
Tatapan Alisa fokus ke tangan Liana yang memegangi pergelangan tangan Rahman. Membuat hatinya di landa sakit, lantas berbalik dengan niat mau ke kamar sebentar! namun baru dua langkah saja keningnya membentur suatu benda.
"Perasaan gak ada tembok?" Alisa mengusap keningnya dan melihat kaki seseorang yang berdiri tegak. Perlahan manik mata Alisa bergerak melihat naik ke atas dan ternyata ia menabrak dadanya Hadi. dari kaki pun sudah ketara kalau itu Hadi.
"He he he ..." Alisa tertawa garing.
"Kenapa? bukan tembok kan? makanya jalan itu pasang mata! bukan hanya perasaan," ucap Hadi dengan tatapan datar.
"Maaf. Om? gak sengaja!" ucap Alisa kembali menunduk.
Hadi melihat kalau kedua mata Alisa berkaca-kaca seolah menyimpan sesuatu yang luka. Kemudian, Hadi melihat ke arah Rahman yang bersama Liana.
Alisa masuk ke dalam kamarnya dan sejenak dia ingin menumpahkan segala perasaan yang ada. Ingin rasanya menangis sejadi-jadinya, tetapi harus dia tahan sekuat tenaga karena dia tidak ingin diketahui orang rumah! bila dia menangis, pasti ketahuan orang sesudahnya.
Liana sedang menikmati makan, ditemani oleh Rahman dengan wajah di tekuk dan sesekali melihat ke dalam ....
__ADS_1
Jangan lupa like ya setiap sudah membaca🙏komen dan lainnya sebagai bentuk dukungan pada ku.