Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Terlalu baik


__ADS_3

"Aku baik-baik saja. Alhamdulillah!" jawabnya Alisa.


Mereka pun mengobrol, sehingga lupa kalau Alisa belum makan seharian.


Sore hari. Liana baru pulang dengan wajah yang tampak happy dan bibirnya pun bernyanyi riang.


Ketika melihat Alisa berada di ruang tengah bersama mamanya, kemudian dia bertanya. "Kau ada di sini?"


"Iya," Alisa mengangguk pelan lalu melihat ke arah Diana yang juga melihat dirinya.


"Lia ... kau baru pulang sayang?" sapa sang bunda sambil menatap ke arah putrinya tersebut.


"Iya, Mah ... aku main dulu sama teman, Mama baik-baik saja kan hari ini? kau menjaga dengan baik kan nyokap gue, Al?" tanya Liana seraya tersenyum kepada Alisa.


Alisa yang hatinya kurang baik-baik saja itu hanya membalas dengan sebuah senyuman saja,


"Eeh, kau kau kenapa? mata mu sembab begitu, habis nangis? ada masalah apa? apa kau membatalkan pernikahan sama bokap? apa kurangnya bokap gue Al ..." Liana mengajukan rentetan beberapa pertanyaan kepada sahabatnya itu.


"Liana ... bukan karena itu sayang ... bukan. Mulai sekarang, biarpun Alisa dan papa mu belum menikah. Tetapi dia akan tinggal di sini, karena di sini akan lebih aman buat Alisa. You understand? it's dangerous to live with dad inthe hous." Ungkap Diana pada Liana yang menatap penasaran.


"Kenapa jadi begitu Mam?" selidik Liana penasaran.


"Alisa wants to be raped by her lecherous father on the hill. Mama sungguh tidak menyangka,untung saja Alisa bisa lolos dari pria itu dan papa datang tepat waktu." Lanjut Diana dengan perasaan ikut prihatin.


"Apa? you want to be raped. with Anwar sir?" Liana begitu kaget mendengar cerita mamanya, sementara dia tau ayah sambung Alisa bersikap biasa saja.


Alisa mengangguk pelan sambil mengedarkan penglihatan ke tempat lain, dia tidak ingin menangis lagi, sudah bengkak matanya untuk menangisi kejadian tersebut.


"Tapi kau tidak sampai di apa-apa kan sama pria tua tersebut?" Liana menjadi geram mendengar nya.

__ADS_1


"Tidak, alhamdulillah aku bisa lolos seiring kedatangan papa mu yang tadinya mau menjemput ku untuk bekerja. gue dah ketakutan gak bisa lolos atau gue jadi hancur di sana! kenang Alisa dengan pelan.


"Dasar bodoh, bandot tua. Gak punya akhlak, gak punya malu!sudah jelas-jelas dia itu suami ibu mu, masih saja mau sam anaknya, puckng animals." Maki-maki Lian yang di tujukan pada pak Anwar yang sudah berani berbuat tak senonoh pada Alisa.


"Tapi aku mohon kepada kalian, jangan sampai ibu ku tahu. Usahakan jangan sampai dia tahu, sebab aku gak mau rumah tangga nya terganggu apalagi sampai di dengar orang banyak!" harap Alisa sembari menyatukan kedua tangannya kepada Diana dan Liana.


"Tapi lisa ... pria itu harus dikasih pelajaran, agar tidak berani berbuat yang sama kepada siapa pun."Lirihnya pada Alisa yang tetap memohon agar itu menjadi rahasia.


"Aku mohon tante ... sebisa mungkin jangan sampai tahu," lagi-lagi Alisa menyatukan kedua tangan nya di dada.


"Kau ini bodoh atau stupid idioth sih? kau kan membiarkan orang yang kurang ajar sama kamu begitu saja? hah gila banget! kalau jadi gue, gua akan minta papa untuk menghajar habis-habisan dan laporkan ke polisi. Biar jera." Liana menggeleng tidak mengerti dengan jalan pikiran nya Alisa.


"Itu buat kebaikan rumah tangga ibu ku dan semoga dia sadar," harap Alisa penuh harap kalau pak Anwar akan sadar.


"Terserah lah, gue pusing kalau soal hati mu yang terlalu baik dan apalah." Liana beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruang tersebut.


"Terima kasih Tante, kau begitu baik padaku?" balas Alisa sambil mengulas senyuman. dan tatap yang lekat pada Diana.


"Ya Allah ... semoga kau sembuhkan tante Diana ya Allah?" gumamnya Alisa dalam hati.


Kemudian Alisa mendorong kursi Diana untuk dia antar ke kamarnya lebih dulu, namun ketika mau memasuki pintu lift. Terdengar suara derap langkah sepatu wanita,


"Ehem, kok calon mempelai sudah berada di sini sih? apakah mau menginap di sini juga untuk menikmati rumah mewah ini dan belajar menjadi nyonya? sepertinya sih seperti itu ya, biar nanti pas sudah menikah itu ... sudah terbiasa menjadi nyonya." Suara Dania dengan nada sinis terhadap Alisa.


Alisa terdiam mendengarkan perkataan Dania yang ditujukan pada dirinya. Sementara tangan Diana mengusap tangan Alisa agar tidak meladeni omongan Dania dan biarkan saja.


"Dania ... benar, kalau Alisa ini akan tinggal bersama kita di sini. Sebab ... biar dia lebih mudah untuk bekerja bersama abang," sahutnya Diana sembari menoleh pada sang adik, Dania.


"What? dia mau tinggal di sini? dia baru tunangan Mbak?" protes Dania,

__ADS_1


"Iya, biar dia belajar mengurus abang. Dari mulai rumah sampai keperluan kantor." Tambahnya Diana kembali lalu mengajak Alisa untuk mengantar dirinya ke kamar yang langsung di respon dengan anggukan dan pekerjaan.


"Permisi Tante, Dania?" sebelum pergi, Alisa pamitan pada Dania yang menatap tidak suka pada dirinya.


Dania menatap tidak suka kepada Alisa yang membawa kakaknya ke dalam lift hingga pintu nya tertutup. "Hem, kau kira akan merasa betah di sini? Alisa, akan ku buat kau tidak kerasan di sini."


Sekitar pukul 19,00 Hadi datang bersama bu Juli ya itu sang bunda Alisa, dia sengaja hadi ajak untuk menemui putrinya di sini, setelah Hadi meminta ijin bahwa Alisa akan tinggal bersamanya. Dengan alasan supaya dia lebih mudah untuk bekerja.


"Lisa ... apa kau yakin mua tinggal di sini? sementara kalian belum menikah, apa kata orang nanti?" tanya sang bunda kepada Alisa.


Mereka saat ini sedang mengobrol di kamar Alisa. Bu juli merasa aneh juga sih, kok anaknya tiba-tiba pergi tanpa pamit sebelum nya dan tau-tau dari Hadi yang meminta ijin di saat Alisa sendiri sudah tidak di rumah.


"Yakin Bu. Aku mau tinggal di sini saja biar aku bisa lebih serius bekerja. Aku titip anak-anak dan aku ingin Lilis dan Sinta di masukan ke asrama, Bu." Ucap Alisa yang menginginkan kedua adiknya tinggal di asrama saja. Alisa khawatir dengan kedua adiknya itu, kalau serumah dengan ayah sambungnya tersebut.


"Di asrama itu harus ada biaya Al ... dan biaya nya dari mana?" keluh bu Juli.


"Saya yang akan mengurus semuanya, biar kedua adik nya Alisa sekolah dan tinggal di asrama." Suara Hadi yang muncul dari balik pintu,


Alisa menoleh pada Hadi dan dia merasa kalau Hadi faham dengan kekhawatirannya. Tentang kedua adiknya.


"Serius Om? Om mau mengurusnya?" selidik Alisa sambil menatap sekilas ke arah Hadi.


"Tentu, kamu kan akan bekerja dengan saya dan gajinya akan aku pake buat keperluan mereka di asrama, begitu, kan?" Hadi mendudukan dirinya di sofa sambil menatap keduanya bergantian ....


.


Jangan lupa subscribe, like komen dan lainnya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2