Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Bak suara huntur


__ADS_3

“Ups! gue ngomong apa sih?” batin Alisa sambil menutup mulutnya ang bisa-bisanya bicara seperti itu, habis pria tua itu mencurigai dirinya.


“Wuih ... jadi bila saya mencium kamu berarti saya yang pertama dong? He he he ...” goda Hadi dengan sembari menaik-turunkan alisnya.


“Ih ...” Alisa bergidik geli mendengarnya, tidak bisa membayangkan bila dicium oleh pria kepala empat tapi masih terlihat muda itu. Dia berkumis tipis dan rahangnya berbulu halus menambah ketampanan di wajahnya itu.


Pantas saja bila Dania terobsesi untuk mendapatkan nya. “Kenapa tidak pilih tante Dania saja sih? Sepertinya dia menyukaimu dan cemburu bila kau menikahi ku?” tanya Alisa sembari menatap sekilas lalu mengalihkan pandangan nya ke lain arah.


“Ha? Jangankan saya, istri saya saja yang kakaknya lebih memilih kamu untuk menjadi istri saya.” Jawabnya Hadi Dirgantara.


“Tapi kalau soal sentuhan ... misalnya tangan kontak pisik lah, itu tidak bisa! Apa kata istri saya bila genggaman tangan pun tidak pernah, tujuan istri saya menikahkan saya karena agar ada yang melayani lahir dan batin saya. Bukan cuma status, Non.” Kata Hadi kembali.


Alisa terdiam. “Benar juga kata Om Hadi, tante mencarikan Om Hadi istri untuk mengurusnya dan melayaninya. Berarti aku tinggal satu kamar dong?” Alisa bermonolog dalam hati.


“Ah ... pokoknya, bila kita menikah nanti jangan pernah sentuh saya lebih. Tidur pun harus terpisah titik!” ungkap Alisa seraya menyesap minumnya dan sesekali memakan hidangan yang ada.


“Oke, tapi saya gak janji-janji banget ya? karena siapa tahu saya tidak sadar dan mendatangi mu sebagai istri,” lagi-lagi Hadi menggoda Alisa yang langsung bergidik kembali.


“Dasar, katanya tidak mau mendua? Tapi tetap saja mencari kesempatan. Bedanya apa, Om?” Alisa menggelengkan kepalanya.


"Kan saya bilang, kalau khilaf atau tidak sadar." Ralat Hadi seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Tapi ...."


“Sudah. Jangan tapi-tapi. Keputusan ini sudah kita setujui. Saya tidak akan menyentuh mu sebagai istri, dan jangan pernah menggoda saya. Sebab saya bisa khilaf kalau kau menggoda.” Sambung Hadi sembari tersenyum manis dan memperlihatkan lesum di pipinya.


“Ih ... amit-amit, aku harus menggoda anda, tidak-tidak.” Lagi-lagi Alisa bergidik geli.


“Oke, dil?” Hadi berdiri dan menyodorkan tangannya untuk berjabat.


Sesaat, Alisa terdiam lalu dia juga berdiri dan menyambut tangan Hadi. "Oke!"

__ADS_1


Selesai berjabat tangan, Alisa pamit pulang dan Hadi mengantarnya ke taksi yang Hadi pesankan.


“Ongkos nya sudah saya bayar, jadi kau tinggal menumpanginya saja.” Hadi melambaikan tangan ke arah Alisa yang tampak jutek itu.


Taksi yang di tumpangi oleh Alisa melaju dengan cepat menuju kediaman nya yang membutuh kan beberapa puluh menit saja itu.


...----...


Keesokan harinya, seperti biasa Alisa masuk kerja dan tentunya berkerja dengan baik di sana.


“Mama tidak rela bila kau masih berhubungan dengan gadis itu! Tau gak? semalam dia bertransaksi dengan om-om untung bokingan di hotel.” Ucap mama nya Rahman.


Degh!


“Jangan memfitnah Alisa, Mah ... gak baik, dia gadis baik-baik Mah,” bela nya Rahman terhadap Alisa sang pujaan hatinya.


“Ini bukan fitnah, Rahman ... Mama melihat sendiri dengan mata kepala sendiri kalau dia bersama om-om, pergi ke hotel,” kata mama nya Rahman meyakinkan.


“Dari dulu sudah sering Mama ingatkan, jangan hubungan lagi dengan alisa. Mama tidak setuju, sampai kapan pun Mama gak setuju! titik.” Kata mamanya Rahman kembali.


‘Salah orang gimana? Mama yakin dia kok, mana orang nya sekarang? Kita tanya kan kepada orang nya.” Mama nya Rahman berjalan mencari keberadaan Alisa di tempat kerjanya.


“Mah? Mah mau kemana?” Rahman buru-buru menyusul mama nya.


“Mana Alisa? Mana?” tanya mama nya Rahman sambil terus berjalan melewati beberapa pekerja di sana.


Dan salah seorang pekerja menunjuk ke arah Alisa yang sedang melayani pelanggan.


“Terima kasih, Mbak? semoga menjadi pelanggan kami?” ucap Alisa dengan ramah kepada konsumennya itu.


Tiba-tiba, bahu Alisa di tarik begitu saja oleh mama nya Rahman. Dengan menunjukan ekspresi wajah yang tidak suka.

__ADS_1


“Kau itu bermuka dua ya? di depan Rahman sok suci jadi gadis baik-baik dan di belakang nya! kau jual diri!” ucap wanita paruh baya itu dengan seenak jidatnya saja lidahnya bicara.


Jelas Alisa melongo dengan perkataan dari wanita tersebut. “Tante, maksudnya apa? aku tidak mengerti dengan maksud, Tante?”


“Jangan pura-pura tidak mengerti, jangan pura-pura sok suci! Saya tau akal bulus mu yang ingin mengincar harta putra saya saja karena dia sukses bukan?” sergah mamanya Rahman dengan tatapan penuh kebencian.


“Itu tidak benar, Tante. Itu tidak benar!” Alisa menggeleng dan apa yang di tuduhkan oleh wanita ini tidak sesuai dengan kenyataan, apa yang dia dapat dari Rahman? Belum ada, dan dia hubungan dengan putranya, murni karena cinta dan sayang.


“Cukup, Mah, cukup?” suara Rahman sembari menarik tangan mama nya.


“Man, sekarang kau tanya dia. Semalam kemana? karena mama melihat dia dengan seorang om-om dan pergi ke hotel.” Serunya mama nya tersebut sambil menatap tajam ke arah Alisa.


“Astagfirullah ... Tante bicara apa sih?” Alisa menengok kanan dan kiri dimana banyak pengunjung dan pekerja lain yang menyaksikan dan memandangi dirinya dengan tatapan penuh intimidasi.


“Hem, tidak usah beristigfar segala hanya untuk menutupi kemunafikan mu itu, bilang saja bilang saja kau itu suka jual diri, berapa semalam ha? berapa? kau belum dapat apa-apa dari putra saya? atau memang tidak cukup ha? Cuih, saya jijik melihat dirimu berada di sini, bisa-bisa usaha anak saya menjadi sial!” ibu itu sampai tega meludah segala ke hadapan Alisa.


“Man, apa sih maksud Tante? hingga bicara seperti itu padaku?” Alisa menatap ke arah Rahman dengan tatapan nanar serta suara yang bergetar.


“Kau itu jangan diam saja, Man. Tanya dia kemana semalam?” sambil menunjuk ke arah Alisa yang tampak sudah menangis tanpa suara.


Hatinya terasa sakit, sesak. Perih dan sangat terluka dihina, dia caci bahkan difitnah dihadapan orang banyak begini.


Rahman melihat ke arah sang bunda dengan Alisa bergantian. “Emang semalam kau kemana sepulang kerja dari sini?”


Alisa terdiam sejenak, mengingat semalam kemana dan sama siapa? Kemudian dia mengusap pipi nya yang basah seraya berkata. “Aku ... semalam—“


“Dia pergi dengan om-om, jadi simpanan pria hidung belang, Man ... percaya deh sama Mama kenapa sih?” timpal mama nya Rahman memotong perkataan Alisa yang belum selesai itu.


Bak suara Guntur yang terus menyambar di telinga Alisa ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


Terima kasih bagi yang sudah membaca🙏


__ADS_2