
Alisa melepas tangannya dari lengan Hadi. Setelah melihat tatapan Dania yang tidak bersahabat itu.
"Makan dulu ya? nanti ku siapkan! dan makannya mau di mana?" tawar Alisa sambil berjalan melintasi pintu belakang.
"Apakah Dirga sudah tidur?" Hadi malah menanyakan Dirga si putra bungsu.
"Sudah, tadi aku sudah mengantar nya tidur." Jawabnya Alisa sambil menyiapkan buat makan Hadi yang duduk di depan meja makan.
Hadi menyantap makannya, sementara Alisa membuatkan minuman hangat buat sang suami.
Sejenak Alisa menatapi wajah sendunya Hadi. "Ya Allah ... aku gak tau harus gimana untuk membuat dia tersenyum." Batinnya Alisa.
"Ini minuman hangatnya." Alisa menyimpan di samping gelas air putih.
"Bawa saja ke kamar!" ucap Hadi sembari menyiapkan makannya ke mulut.
Alisa mengangguk. Dan menjauhkannya dari Hadi. Kemudian membawanya ke atas bersamaan dengan Hadi.
Setibanya di kamar, Alisa membukakan baju Koko Hadi dan sarungnya dia lipat dan di simpan di atas laci. Hadi yang hanya menggunakan kaos pun membukanya lalu berbaring, dia benar-benar malas ngapa-ngapain.
Alisa memandangi nya sesaat. Lantas dia berganti pakaian tidur, sekembalinya dari kamar mandi. Alisa merangkak naik lanjut berbaring di samping nya Hadi yang tidak berbuat apa-apa, Alisa menarik selimutnya lalu berbalik menghadap ke arah Hadi.
Tampak Hadi menatap kosong ke langit-langit. Alisa memberanikan diri mendekat dan memeluk perutnya Hadi.
Kepala Hadi menoleh dan mengangkat tangannya merengkuh bahu Alisa. Kepala Alisa bergerak menempel di dada bidangnya Hadi.
Di saat ini Alisa perlukan pelukan hangat dari Hadi. Dia pun mencari kenyamanan di sana. Namun Hadi tidak berucap sedikitpun dan sikapnya agak dingin kecupan di kening pun terasa hambar. Hingga kantuk pun menyerang keduanya.
Di suatu hari di kala pagi-pagi, Alisa sedang menyiapkan sarapan buat Hadi dan Dirga yang minta di bikinkan roti bakar.
"Mommy, hari ini Dirga masuk sekolah. Sudah terlalu lama aku libur, boleh gak minta mommy antarkan?" anak itu menatap ke arah Alisa yang menyajikan roti bakar untuk nya.
"Kak Lian saja yang antar, kak Lisa mau ngantor, kalau Kak Lian kuliahnya agak siangan ya?" ucap Liana sambil mengambil sarapan yang di tata oleh mbak sang asisten.
"Iya, sayang ... mommy nya pasti mau ngantor. Jadi Dirga sama supir atau kak Lian saja ya?" tutur Oma yang yang dari papa.
"Atau sama Oma Lia ya? di antar sama supir?" tawar ibu Lia menatap cucunya itu, Dirga.
__ADS_1
Dirga menggeleng. "Nggak mau, mau di anterin sama mommy, bentar kok. Nganterin doang. Setelah itu baru mommy ngantor. Kalau nggak, aku gak mau sekolah!" rajuk Dirga.
Semua pasang mata tertuju pada Alisa yang sedang sarapan. Ingin tahu jawabannya yang belum terdengar.
"Nggak pa-pa, nanti Mommy antar, dan sekarang ... sarapan dulu lalu nanti bersiap ya? sekarang Mommy mau mencari papa dulu buat sarapan." Alisa dengan santainya berkata demikian sambil berdiri membawa nampan berisi sarapan.
"Hore ... tuh kan ... mommy aja gak keberatan kok nganterin aku." Dirga tampak senang, wajahnya pun begitu sumringah.
Semua tersenyum melihat Dirga yang tampak sumringah dan bahagia.
Alisa berjalan sambil celingukan melihat, kali saja Hadi berada di luar, namun tidak terlihat ada Hadi di sana. Kemudian Alisa terus berjalan menuju lantai atas, mungkin dia sedang di kamarnya atau di tempat nge-gym.
Blak ... pintu kamarnya kosong. "Yank?" dimana?" panggil Alisa sambil terus berjalan ke dalam, kali saja suaminya sedang di kamar mandi.
Tok ....
Tok ....
Tatap kosong, Alisa tutup kembali pintunya. Lalu wanita muda dengan penampilan formal itu tampak sangat cantik dan segar.
Dia lanjut ka ruang nge-gym pun tidak ada. "Dimana sih ... itu orang?"
"Mbak, apakah melihat tuan?" tanya Alisa pada mbak yang berpapasan dengannya.
"Ada, di kamar nyonya Diana, Non!" balasnya mbak.
"Oh, makasih ya?" Alisa menunjukan senyum ramah nya lanjut berjalan dengan tangan membawa sarapan buat sang tuan rumah alias suaminya.
Alisa berdiri di depan daun pintu yang terbuka setengahnya. Alisa melangkah maju dan masuk sembari mengucap salam.
Tampak, Hadi sedang duduk melamun di dekat jendela memandangi foto Diana yang sedang berdua dengannya.
Hati Alisa merasa teriris melihat Hadi yang masih juga larut dalam kesedihan. "Yank ... sarapan dulu! aku mencari mu kemana-mana." Suara Alisa bergetar menahan sedih.
Hadi menoleh sambil menghela nafas. "Aku belum bisa ke kantor!"
Sudah hari ke empat ini Hadi masih juga belum semangat ke kantor, dia masih malas dan berkabung.
__ADS_1
"Tapi, kantor membutuhkan CEO nya hadir dari sekian lama tidak pernah hadir." Suara Alisa masih tetap bergetar, dia duduk samping nya Hadi.
Hadi tidak menjawab, melainkan menatap kosong ke arah Alisa. Entah kenapa dia masih malas untuk ngantor. Cukup sesekali saja ngecek dari laptop.
"Ya sudah, aku sudah bawakan sarapan. Sarapan dulu ya?" Alisa menunjuk sarapan yang dia buat penuh cinta dan ikhlas itu.
Kedua netra Hadi bergerak dan melihat ke arah sarapan yang berada di pangkuan Alisa. "Saya belum lapar, nanti saja aku sarapannya."
"Nggak, pokonya harus sarapan sekarang. Kalau kau sakit, tentunya Tante akan sedih." Tidak menunggu Hadi makan sendiri, Alisa langsung menyuapinya.
Hadi pun tidak menjawab lagi selain membuka mulutnya. Akhir-akhir ini Hadi sikapnya dingin dan cuek, juga jarang bicara. Benar-benar Hadi masih terpuruk, larut dalam kesedihan. Terbawa hatinya oleh Diana.
Melihat piring kosong, Alisa tersenyum. "Katanya belum lapar, tapi habis juga." Batinnya Alisa sambil menyimpan sendok nya di piring.
"Dirga mau aku nganterin ke sekolahnya pagi ini." Alisa menceritakan permintaan dirga sembari memberikan minum pada Hadi.
"Antar saja!" ucap Hadi dengan singkat.
"Ya, ampun ... cuman gitu saja, bicara apa kek. Antar sama-sama kek," gumamnya Alisa dalam hati sambil menatap ke arah Hadi yang sedang meneguk minumnya.
"Gimana kalau kau antarkan kami, mau ya?" ajak Alisa sambil memegang tangan nya Hadi.
Dengan ringannya Hadi berkata. "Aku malas keluar."
"Aish ... segitunya? terus mau sampai kapan mau begini?" monolog Alisa tanpa ia ucapkan melalui bibirnya.
"Dari pada kau itu cuma melamun di sini ... mendingan anterin Dirga yo?" Arya menarik tangan Hadi.
Netra Hadi bergerak mengarah ke Alisa, di tatapnya lekat wajah cantik itu yang rambutnya dibiarkan tergerai bergelombang.
"Lisa ... aku masih malas untuk keluar. Tolong mengerti lah!" Hadi beranjak, berdiri dekat jendela kaca dan menempelkan kedua telapak tangannya di sana.
Alisa terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, lalu dia menyeka air bening yang menghiasi sudut matanya. Kemudian beranjak membawa nampan keluar dari kamar itu.
Hadi menoleh, menatap punggung Alisa yang melintasi pintu. Tanpa sepatah kata pun ia mengatakan sesuatu ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa baca juga "Pencarian Dan Dendam" makasih