
Setelah beberapa saat berpikir, Rahman membuat keputusan. Apa salahnya sih bila di jalani dulu? siapa tahu lambat laun kan cocok dan timbul rasa sayang.
"Baiklah, kita jalani aja dulu hubungan ini!" Rahman mengangguk setuju.
"Benarkah!" Liana setengah tidak percaya.
"Iya, kita jalani dulu hubungan ini." Rahman menggerakan kedua netranya yang sebagai anggukan.
Liana melonjak bangun lalu mencium pipi Rahman Sebagai ungkapan rasa bahagianya saat ini.
"Makasih, Man ... aku sayang kamu!" Liana mencondongkan tubuhnya memeluk Rahman. Tidak perduli dengan beberapa pengunjung yang berada di sana memperhatikan mereka berdua.
"I-iya, sama-sama." Balas Rahman. pada akhirnya membalas pelukan Liana.
"Makasih sayang." Liana mengeratkan pelukannya pada Rahman.
Rahman bengong, dulu ketika pacaran dengan Alisa gak pernah tuh peluk cium begini. Paling banter pegangan tangan begitupun sudah bahagia.
Lah ini. Baru jadian pun sering kontak tubuh bukan kontak mata lagi.
"Em ... ya sudah, karena aku banyak kerjaan di dalam. Aku kerja dulu ya?" Rahman melepas pelukan gadis itu.
Melihat Rahman beranjak dari duduknya. Liana pun ikut berdiri. "Aku ikut?" dengan nada manja.
"Boleh." Rahman mengangguk dan lalu berjalan yang diikuti oleh Liana yang tampak sangat bahagia.
Hati Liana di saat ini sedang berbahagia. Di tumbuhi bunga-bunga nan mekar berwarna-warni sehingga senyuman pun tidak pernah memudar dari bibirnya.
Saat ini Liana sedang duduk manis menemani Rahman yang sedang mengecek pembukuan.
Liana melirik jam yang melingkar di tangannya itu. "Em, Man. Aku pulang dulu ya?" menghampiri Rahman.
"Oh, iya. Tapi aku gak bisa ngantar pulang! aku masih sibuk," balas Rahman.
"Nggak pa-pa, aku bawa motor kan? kamu lanjutkan saja kerjanya." Liana berdiri di samping Rahman dan Rahman pun berdiri hendak mengantar Liana ke depan.
Namun Liana merangkul pundaknya Rahman dan ditatapnya sangat lekat. Membuat pria itu terdiam membalas tatapan manik mata gadis tersebut.
"Aku, sangat berterima kasih sama kamu, karena kamu sudah menerima aku jadi kekasih! makasih ya sayang?" cuph. Kecupan kecil mendarat di pipi Rahman.
__ADS_1
Rahman tidak memberi respon apapun, selain tatapan yang tak berekspresi pada Liana yang seolah menunggu sesuatu yang mungkin akan Rahman berikan kepadanya.
Setelah beberapa saat mereka terdiam serta tatapan mata yang saling membenci. pada akhirnya Rahman mendekatkan wajahnya pada wajah Liana dan memberi kecupan mesra di pipi sang kekasih barunya itu.
Membuat hati Liana tambah berbunga-bunga saja. Setelah itu Liana pun melanjutkan niatnya untuk pulang. Rahman mengantar sampai pintu ruang kerja nya saja.
"Akhirnya ... gue dapatkan juga tuh cowok. Dari lama gue incar dan kini kesampaian juga. Alisa nikah ma bokap gue membawa berkah juga buat gue. Hah ... kalau saja Alisa tidak dilamar bokap. Gak mungkin, Alisa dan Rahman pisah dan gue tidak dapat apa-apa!" gumamnya Liana dalam hati sambil mengenakan helm nya tersebut.
Kini Liana sudah mengendarai motor kesayangannya. "Aku gak akan sia-siakan kesempatan ini, dan gue harus bisa mengambil hati orang tuanya juga, bukan cuma Rahman saja."
"Makasih Alisa, lu mau nikah sama bokap gue. Sehingga gue bisa jadian dengan Rahman, cowok idaman gue." Liana terus bermonolog sendiri.
Dan Liana sudah tidak sabar untuk segera sampai rumah, untuk memberi kabar kalau dirinya dan Rahman sudah jadian, kepada Alisa.
Setibanya di rumah, Liana langsung mencari keberadaan Alisa yang kebetulan dia temui ketika Alisa dari ruang kerja sang ayah.
Liana bergegas menghampiri. "Al, gue punya kabar baik, dan bikin aku sangat-sangat, sangat ... bahagia!" Sembari memegangi tangan Alisa.
Alisa penasaran. "Apa itu, lagian kau dari Maan sih? jam segini baru pulang!"
"Ayo, ikut gue?" Liana menarik tangan Alisa di ajaknya ke kamar dia.
"Ada apa sih?" tanya Alisa.
"Cerita lah?" aku akan mendengarkan!" Alisa duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk bantal.
"Pastinya ... kau itu akan ikut bahagia deh dengarnya. Karena geu ... sudah tidak jomblo lagi," Liana berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Mendengar begitu, Alisa pun ikut berdiri memegangi kedua tangan Liana dan ikut berjingkrak. Akhirnya sahabatnya ini punya kekasih juga. Selama ini bukan gak ada yang suka sih, tapi memang Liana nya tidak tertarik sama beberapa pria yang menembaknya.
"Benarkah? akhirnya ... sahabat ku ini merasakan juga pacaran ya?" ucap Alisa dengan wajah yang sumringah karena ikut bahagia.
"Iya dong ... aku pun sangat bahagia sekali, sebab yang nembak aku itu pria yang aku cinta. Ternyata dia pun mencintai ku, aku sangat beruntung dapatkan dia sesuai doa ku," ungkap Liana.
"Aku pun ikut bahagia Liana. Tapi ingat ya? pacaran boleh aja sih, tapi harus ada batasannya. Jangan sampai kita terperosok di dalamnya pada pergaulan bebas. Jangan banget." Pesan Alisa bak pesan seorang ibu pada putrinya.
"Ya ... tapi ciuman boleh dong? pipi, kening dan bibir misalnya!" Liana begitu sangat menunjukan rasa bahagianya.
Sejenak Alisa terdiam sambil menatap sahabatnya itu. "Jangan dong ... itu kan akan mendekati pada hal-hal yang di larang, takutnya nanti lebih dari itu!" suara Alisa pelan.
__ADS_1
"Hem ... gimana dong, aku sudah melakukannya di sini, terus di sini dan juga di sini." Liana menunjuk ke arah pipi. Kening dan bibir.
"Ya ampun, Lian ... baru jadian bukan? kok sudah berani gitu sih? jaga diri dong ..." Alisa menatap intens ke arah Liana dari kepala sampai ujung kaki. Dengan tangan masih saling berpegangan.
"Iya, baru jadian. Gimana dong ... sudah telanjur habis suka pada suka sih." Akunya Liana, padahal yang sebenarnya baru di sentuh pipi doang oleh Rahman.
"Gimana ya? seharusnya kau jangan mau di sentuh-sentuh gitu, karena pacar itu belum tentu jadi suami lho, tapi mau gimana lagi. Orang berbeda-beda sih!" ungkap Alisa sambil mengembangkan senyumnya, dia tidak mau juga kalau sahabatnya itu merasa tersinggung.
"Moga ke depannya aku bisa nahan diri ya!" lanjut Liana kembali.
"Iya, ngomong kekasih mu itu siapa sih? jadi penasaran deh! nial g dong siapa? apa kah aku sudah mengenalnya! atau belum kah?" ucap Alisa dengan nada penasaran.
"Em ... kau mengenalnya kok, mengenal baik malah. Mungkin kau akan shock mendengar namanya bila ku sebutkan!" kata Liana dengan senyuman yang tidak memudar.
"Aku mengenalnya? siapa sih? aku tidak mau menerka-nerka ach, bilang deh, ayo bilang, siapa dia?" tanya Alisa sambil mencolek-coleh pinggang Liana. "Jangan bikin aku penasaran deh."
"Dia ... Rahman," ucapnya Liana.
Benar saja, Alisa shock mendengarnya. Karena yang terbayang di ingatannya Rahman yang dia kenal itu cuma satu, yaitu Rahman mantan kekasihnya. Dan yang dai tahu kalau sahabatnya itu memang mengagumi sosok Rahman yang sama.
"Rah-man?" Alisa menatap ke arah Liana dengan tatapan sangat penasaran.
Liana mengangguk pelan. "Iya, dia! katanya dia pun menyukai ku sejak lama lho," Liana memeluk Alisa yang setengah tidak percaya. Senyuman yang tadi mengambang tiba-tiba memudar.
Perlahan Alisa membalas pelukan Liana, mengusap punggung sang sahabat sembari bergumam. "Selamat ya? aku ikut sangat bahagia.
Hati Alisa terasa sakit, dada rasanya sesak. Luka yang belum mengering seolah kembali menganga. Perih. Ingin rasanya saat ini dia menangis sejadi?jadinya.
Namun tidak seharusnya ia tunjukan di hadapan Liana. Dia beberapa kali menelan Saliva nya dan mendongak supaya air mata tidak keluar khususnya di saat itu.
"Semoga kalian berjodoh ya? doa dan harapan terbaik menyertai mu!" Alisa memudarkan pelukannya dan Lalu mengusap pipi Liana. "Oya, aku harus melihat apakah om Hadi sudah makannya atau belum? aku tinggal dulu ya?"
Alisa menunjukan senyumnya pada Liana sembari mengusap bahunya Liana yang terus tersenyum bahagia.
Alisa membalikan badannya lalu bergegas ke ruangan kerjanya Hadi. Sesungguhnya dia ingin sekali berlari ke kamar dan menangis di sana. Tapi untuk sementara ini dia tahan dulu.
Kemudian, Alisa buru-baru membereskan bekas makanya Hadi untuk di simpan ke dapur.
Hadi yang sudah mulai mengenal Alisa, bisa membaca ekspresi wajah gadis itu, saat ini dia menunjukan wajah yang memerah seperti menahan ingin menangis ....
__ADS_1
.
...Bersambung!...