Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Kangen


__ADS_3

Hadi merasa kangen pada sang istri yang berada di rumah. Sehingga dia segera mengakhiri pertemuannya dan gegas untuk pulang.


Mobil Hadi segera meluncur keluar dari restoran dengan tujuan yaitu pulang ke mension. Rasanya Sudah berat menahan rindu yang seharian ini tidak bertemu.


Hadi menjalankan mobilnya begitu cepat dengan kecepatan yang tinggi agar segera sampai ke tempat tujuan.


Namun ketika sampai di rumah ... ternyata Alisa sudah tidur karena waktu pun sudah menunjukkan pukul 10.00 lewat.


Hadi mengunci pintu kamarnya berjalan, Menteng jas dan juga tas kerja, sementara mengarahkan pandangannya ke arah tempat tidur di mana sang istri meringkuk di bawah selimut yang terlihat hanya dari bahu ke atas saja.


"Assalamualaikum ... sayang sudah tidur ya!" gumamnya Hadi sembari menyimpan jas dan tasnya di atas meja.


Kemudian membawa langkanya yang semakin mendekati tempat tidur, tampaklah sang istri begitu lelap tidurnya. Hadi duduk sembari membuka sepatunya kemudian naik semakin mendekati sang istri.


Cuph. Kecupan kecil mendarat di kening dan pipi. Membelai rambutnya dan menciumi bahunya seraya berkata. "Aku kangen sayang!"


Alisa tetap terlelap dan tidak bergeming sedikitpun. Lantas Hadi menarik dasi yang masih terpasang di lehernya, pengen mandi tapi rasanya malas. Namun karena badan terasa lengket biarpun masih tercium bau wangi.


Hadi hendak turun, namun melihat pergerakan dari Alisa membuat Hadi tidak melanjutkan niatnya melainkan menunggu sang istri apakah dia bangun atau kembali tertidur.


"Mmmm ..." gumamnya lalu sedikit menggeliat, memicingkan sebelah matanya. Melihat ke arah samping, dimana Hadi yang tengah Duduk menatap dirinya.


"Hem ... sudah pulang? kenapa nggak bangunkan aku?" ucapan Lisa dengan masih berbaring di tempat semula.


"Kamu tampak begitu nyenyak dan aku nggak tega untuk banguninnya, lagian ... aku pulang juga malam," jawabnya Hadi sembari membuka semua kancing bajunya.


"Mau mandi Bukan? biar aku siapkan bajunya dulu!" suara Alisa terdengar parau. Mendudukan dirinya lantas mengibaskan selimut untuk turun.


Geph.


Hadi memegang tangannya Lisa. "Jangan terburu-buru nanti saja enggak apa-apa. Aku juga belum mandi nya juga!" lirihnya Hadi lalu memeluk wanitanya itu dengan erat.


Alisa yang memang masih ngantuk memejamkan kedua matanya dalam pelukan Hadi.


Setelah sesaat berpelukan, Hadi memudarkan rangkulannya itu. Tatapan Hadi begitu lekat ke arah sang istri yang sangat tampak muka bantal nya.


"Kamu sangat cantik di saat bangun tidur seperti ini." Tatapan Hadi meneliti kepada istrinya tersebut.


Kemudian mendekat untuk menjangkau bibir Alisa yang natural itu. Di kecupnya dengan sangat lembut. Semakin lama tangan Hadi memegangi tengkuknya Alisa untuk mengunci agar tidak bergerak atau menghindar.

__ADS_1


Hadi mengeksplor atau menjelajah area sana sehingga Alisa memukul dada Hadi karena kehabisan oksigen.


Hadi pun melepaskannya dan membiarkan Alisa menghirup udara yang sebanyak-banyaknya dari sekitar.


Dada Alisa naik turun dan berusaha mengontrol nafasnya yang terengah-engah itu, begitupun dengan Hadi. Nafasnya begitu memburu, lalu kembali me*****p lembut hingga menimbulkan sensasi yang aneh. Serta menghadirkan rasa penuh gairah. Yang mendorong rasa ingin lebih dari sekedar itu.


Tangan Hadi tidak bisa di kondisikan lagi, sehingga traveling ke mana-mana dan mendapat penolakan dari Alisa.


"Yank ... jangan! belum waktunya." Suara Alisa dengan sangat lembut sembari mengusap dadanya sang suami.


Hadi tidak mendengarkan sang istri, dia tetap membawa jalan-jalan tangannya serta terus mencumbu area leher Alisa yang jenjang dan mulus itu.


Hadi bukan tidak mendengarkan. perkataan Alisa, tapi dia juga punya batasan dan tahu kalau dia tidak akan sejauh itu..


Alisa yang kini sudah berbaring, di bawah kungkungan Hadi. Merangkul pundaknya dengan tatapan sendu.


"Kapan selesai nya sayang?" tanya Hadi seraya berbisik dengan nafas yang terdengar tak beraturan.


"Sebentar lagi. Sabar ya?" balas Alisa dengan suara nyaris tak dapat terdengar.


"Sudah gak tahan sayang." Keluhnya Hadi di dekat daun kupingnya Alisa.


Bibir Alisa menyungging ke samping. "Dulu itu bertahun-tahun, bisa nahan puasa. Kenapa juga sekarang gak mampu? lagian gak bertahun bukan? cuman hitungan hari saja kok!"


"Emangnya nggak kasihan sama aku, nggak sayang juga sama aku?" tanya Alisa sembari membelai rambut suaminya.


Hadi tidak tahan dengan rasa sakit menahan singa nya yang terus meronta ingin keluar dari persembunyiannya dan menemukan sarang tempatnya bermain dan memuntahkan isi perutnya.


Alisa pun merasakan kalau di bawah sana ada yang mengamuk, meronta ingin kan sesuatu. Bahkan terasa basah bagaikan mengompol.


"Ach ..." Hadi menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri , kepalanya terasa pusing sekali.


Alisa meringsut duduk bersandar ke bahu tempat tidur dan Hadi pun segera meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang istri.


Tangan Alisa bergerak ke kepala sang suami dan membelai rambutnya dengan lembut. Kasihan juga melihatnya seperti ini, ternyata pria yang inginkan sesuatu dari wanita itu lebih payah.


"Yank ... bukannya tadi mau mandi?" Alisa dengan lembut dan melirik ke arah putaran jam.


"Malas!" jawabnya singkat.

__ADS_1


Tubuhnya Hadi menggigil, dia benar-benar tidak tahan untuk mendapatkan yang dia mau. Dulu dia mampu berpuasa bertahun-tahun lamanya, sekarang dia tersiksa biarpun dalam hitungan hari. Hadi berusaha mengontrol nafasnya yang tidak karuan.


Lalu tangan Alisa turun mengusap dada suaminya yang berbaring miring itu, bermain di sana bak menari-nari tanpa musik.


Kemudian Hadi merubah posisi tidurannya menjadi terlentang. biar bisa menatap wajah cantik sang istri.


"Payah aku sayang!" gumamnya sambil memainkan ujung rambut Alisa.


"Payah kenapa? Aku nggak ngerti!" Alisa menatap dalam.


"Aku payah, karena kamu tidak bisa memberikan apa yang aku mau!" sambungnya Hadi dengan terus memainkan ujung rambut Alisa.


Degh.


"Terus mau gimana dong?" Alisa menjadi kebingungan.


"Nggak gimana-gimana sayang! bobo yo?" ajak Hadi sambil bangun dan merubah posisi tidurnya.


Sejenak Alisa terdiam dan menatap ka arah suaminya, lalu dia pun mengikuti dan kembali berbaring di sampingnya Hadi.


Kini keduanya saling berpelukan dengan kepala Alisa di atas dada nya pria yang masih belum bisa mengontrol nafasnya dengan sempurna itu.


"Sayang?" panggilnya Hadi.


"Hem ... kenapa?" sahutnya Alisa tanpa mendongak.


"Tadi siang Dania datang ke kantor--"


Dengan refleks bisa mengangkat wajahnya melihat ke wajah Hadi. "Apa, tante Dania datang ke kantor. Mau ngapain?"


"Entahlah, aku pun tidak mengerti maksudnya apa? datang ke kantor dan aku tidak ingin memikirkannya. Yang aku pikirkan sekarang ini adalah bagaimana caranya supaya istri aku segera pulih dan tidak lagi menyiksa ku seperti ini." Hadi mesem-mesem.


Alisa yang tadinya penasaran dengan kedatangan Dania ke kantornya Hadi, menjadi mengulum senyumnya. "Siapa juga yang menyiksamu? emangnya aku memegang benda tumpul atau benda tajam gitu untuk menyiksa mu? kan tidak!"


"Secara lahir. Emang tidak sayang ... tapi secara batin kau sudah menyiksaku dan sangatlah membuat ku payah," sambungnya Hadi.


"Sudah tidur, nggak usah bahas itu lagi, capek!" Alisa kembali meletakkan kepalanya di atas dada pria lawan bicaranya itu.


Keduanya semakin mengeratkan pelukan sambil memejamkan kedua matanya masing-masing ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Di tunggu like komen dan lainnya ya, makasih


__ADS_2