Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Papa manja


__ADS_3

Pagi-pagi, Alisa sudah bangun dan sudah menyiapkan semuanya keperluan Hadi dan dia pun sudah


tampak rapi nan cantik. Dia lantas merapikan tempat tidur hingga rapi.


Tiba-tiba. Hadi memeluk tubuh Alisa dari belakang dengan sangat erat.


Alisa berbalik dan berkata pada lawan bicaranya saat ini. “Kau belum berpakaian apa mau nge-gym dulu?” sembari melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 05.30.


“Pengen olah raga tapi sama kamu. Olah raga pagi.” Hadi sambil mesem-mesem mengandung arti lalu nyosor mengecup sana sini.


“Aku mau masak dulu, katanya mau masakan aku bukan?” Alisa sambil melepas pelukan nya Hadi.


“Em ... iya lah ... terpaksa deh istirahat dulu dan berpuasa,'' ucap Hadi lesu.


Alisa menarik bibirnya lalu pergi dan berlalu meninggalkan Hadi sendiri dengan memasang wajah kecewa.


Alisa tersenyum melihat ekspresi suaminya yang tampak manja itu. Dan dia terus saja berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Dia berpikir mau masak apa ya pagi ini, yang sekiranya Hadi suka dan barusan lupa bertanya mau dimasakin apa?


“Hem, masak sup jamur saja sepertinya dia akan suka dan akan lahap makannya.” Gumamnya Alisa sambil tersenyum.


“Mbak mau bikin teh hangat buat siapa?” tanya Alisa sambil melirik ke arah mbak yang bersiap membuat teh.


“Oh, ini buat ibu.” Jawabnya mbak sambil memasak air.


“Em ... biar aku saja yang bikinkan,” tangan Alisa mengambil alih.


Mbak pun membiarkan Alisa membuatkan minuman teh hangat buat sang ibu mertua.


“Nah ... sudah siap, tolong bawakan sana?” Alisa mesem pada mbak.


‘Baik Non,” mbak pun langsung membawanya ke kamar ibunda Hadi yang masih di kamar dan biasanya beliau jam segini masih berzikir.


Kemudian Alisa beralih memotong jamur putih dan sayuran lainnya untuk dia jadikan sup beserta dagingnya.


"Apa perlu saya bantu?" tanya Mbak yang lain.


Alisa menoleh seraya berkata. "Ooh, tidak perlu Mbak. Cuma ini doang kok!"


Selang berapa waktu memasak sup tersebut, akhirnya sup nya pun jadi dan Alisa cicipi rasanya yang enak dan gurih.


Lisa langsung menuangkannya ke dalam mangkuk dan mengambil piring serta mengambil nasi.

__ADS_1


Di saat Alisa sedang menyiapkan sarapan buat suaminya datanglah Dirga. Si anak sambung yang bontot.


"Hem ... baunya wangi ... masakan siapa sih wangi banget? jadi laper nih," Dirga datang-datang mengomentari masakan sup yang wangi sembari mengusap perutnya.


Anak itu yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya dan juga membawa tas yang lalu dia simpan di atas kursi yang kosong.


"Ya udah ... mau makan sup jamur? pakai daging kok," tawar Alisa kepada anak sambungnya tersebut.


Anak itu mengerutkan keningnya seraya bertanya. "Yang masak siapa?"


"Yang masak, Mommy dong ... nggak lihat apa Mommy masih menggunakan celemek!" Alisa menunjuk pada dirinya yang masih mengenakan celemek dengan bibir yang tersenyum kepada anak itu.


"Mau dong ... nasi putih ya?" aku lapar nih." Dirga menyodorkan piringnya kepada Alisa.


"Oke, jangan dulu banyak-banyak ya? nanti nggak habis, biar nanti aja nambah lagi kalau sudah habis ya!" Alisa mengambil nasi dan sayur buat sarapannya Dirga.


Dirga pun tidak buang-buang waktu, langsung saja menyantap makannya selagi hangat. "Em ... yummy ... yummy, enak!"


Alisa Mengembangkan senyumnya menatap anak itu sembari membuka celemek nya.


Kemudian sang ibu mertua dan Liana pun sudah nampak hadir di meja makan. Lalu Hadi menyusul dengan pakaian formalnya dan dasi yang masih belum dipasangkan.


Sementara tangan Hadi memegang kedua sisi pinggang Alisa. Serta menatapnya dengan lekat, Alisa sendiri fokus dengan dasi yang dia pasangkan.


"Sudah, makan dulu." Alisa setelah merapikan dasi suaminya yang memang sengaja tidak dipasang sendiri.


"Papa itu tidak berubah ya? dulu waktu ada Mama juga manjanya setengah mati, sekarang juga kayak gitu. Untung-untung istrinya sabar, berarti mama itu tidak salah memilih Alisa untuk menjadi istri Papa!" ucapnya Liana sembari menatap ke arah papanya dan Alisa bergantian.


"Oma juga berpikir kayak gitu, ya mama mu tidak salah memilih orang, untuk dijadikan pendamping papa mu. Dan juga ibu buat kalian berdua." Timpal sang Oma.


"Aduh, udah deh ... memujinya nanti hidungku terbang, masih mending kalau tidak jatuh. Kalau jatuh gimana? kan di langit nggak ada rumah sakit!" timpalnya Alisa sembari mesem-mesem.


"Benar, Papa sangat beruntung mempunyai istri seperti dia dan mama benar-benar the best, memberikan Papa yang terbaik." jawabnya Hadi sambil mengenang sang istri yang telah tiada.


Sementara Dirga, dia hanya melihat ke arah semuanya sambil mengunyah menikmati sarapannya yang terasa lezat sekali.


"Ibu mau sup jamur, dengan nasi hangatnya?" tawar Alisa kepada sang ibu mertua.


"Iya boleh kalau banyak, Ibu mau!" sang ibu mertua mengangguk lantas memberikan piringnya kepada Alisa.


Alisa pun mengambil nasi dan sayurnya, lalu ia berikan kepada sang ibu mertua. "Ini Bu. Semoga Ibu suka!"

__ADS_1


"Tentu, makasih. Ibu apa aja suka dan Jangan khawatir!" wanita sepuh itu senyum sembari mengambil piringnya kembali.


Alisa menyodorkan sendoknya pada sang ibu mertua.


"Dan kamu Liana, apa mau nasi sama sayurnya atau mau sarapan roti." Alisa mengalihkan pandangan pada Liana.


"Em ... Aku mau sarapan roti saja dan aku mau bikin sendiri. Nggak usah repot-repot ya Ibu muda ... aku bisa mengerjakan sendiri, kamu cukup duduk temani suamimu yang manja itu! ha ha ha ..." Liana sumbari melirik ke arah sang ayah yang sedang menikmati sarapannya.


"Nanti suami mu juga akan manja seperti Papa. Bahkan mungkin lebih," godanya sang ayah.


"Iih ... amit-amit, kalau suami ku manjanya kayak Papa. Aku ketok tuh kepalanya pake sendok. Enak saja manja, atau minta disuapin segala! punya tangan sendiri lah! makan sendiri!" timpal Liana sembari membuat roti selai.


"Tapi mama muda mu ini nggak pernah tuh marah-marah, kalau Papa lagi manja apa dia pernah marah? nggak! Papa ingin makan di suapi, nggak pernah marah. Jadi Papa sangat beruntung dong ... beristrikan Alisa." Hadi mesem sembari melirik pada sang istri yang juga sedang sarapan.


"Iya ... Papa memang beruntung dapetin Alisa, tapi Alisa belum tentu beruntung dapatin Papa, udah tua manja lagi hi hi hi ..." Liana terkekeh sendiri.


Alisa pun ikut tersenyum, begitupun dengan sang ibu mertua. Mendengar perdebatan antara anak dan ayah yang sebenarnya cuma bercanda.


"Lu, kurang ajar deh, bilang begitu sama papa lu!" kemudian Alisa berkata seperti itu sambil nyengir.


"Aish ... ada yang belain! ngomong-ngomong ... lu sudah sayang ya sama bokap gue?" Liana menatap lekat pada Alisa yang menjadi salting ditanya demikian oleh Liana.


Dan Alisa melirik ke arah suaminya yang sedang mesem sambil mengunyah.


"Jawab dong. Masa nggak mau jawab. Sayang nggak?" tanya Liana kembali.


"Em ... Apa perlu aku jawab? karena sekalipun tidak aku jawab ... kamu pasti tahu jawabannya seperti apa!" elak Alisa sembari tersipu malu.


Liana dan semua saling bersitatap karena yang dikatakan Alisa adalah benar, tidak perlu mengucapkan dengan kata-kata, sebab dengan suatu tindakan atau bahasa tubuh pun sudah cukup untuk mengungkapkan semua rasa.


"Mommy, aku minta tambah ya sarapannya?" Dirga menyodorkan kembali piring yang sudah kosong itu kepada Alisa.


Alisa pun langsung mengambilnya dan mengambilkan kembali sayur dan nasinya buat Dirga.


"Makan yang banyak ya! biar tambah gemuk," tangan Alisa mancak rambut Dirga.


Setelah selesai sarapan, Dirga meminta Hadi dan mommy nya untuk mengantarnya dia ke sekolah. Senang hati mereka mengantarkannya, tentunya membuat Dirga sangatlah ruang dan bahagia ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like dan komen ya? apalagi kalau ada typo nya langsung kasih tahu Makasih

__ADS_1


__ADS_2