
Melihat anggukan dari sang istri, membuat Hadi merasa marah serta otot-otot jari tangannya mengeras seakan ingin menonjok seseorang.
Sementara wajah Luki begitu tampak pucat dan ia sangat ketakutan, ayahnya saja bisa dipenjarakan bagaimana dengan dirinya?
Rek!
Tangan Hadi mencengkram kerah baju bagian depan Luki. "Apa benar yang dikatakan istriku? kalua kau pernah membuatnya yang tidak senonoh kepadanya?"
Tubuh pemuda itu terangkat oleh tangan Hadi, dia sangat ketakutan dibuatnya. Hingga seketika celananya pun basah Entah dengan air apa. "I-iya, te-tetapi ... ta-tapi itu du-dulu" suaranya sangat terbata-bata.
"Jangan sampai saya membuatmu ... masuk ke dalam penjara seperti yang ayahmu alami, dan sekarang silakan kau pergi. Jangan pernah kau perlihatkan wajahmu di hadapanku atau juga istriku!" jelas Hadi dengan suara yang tampak geram dan kedua netranya pun melotot dengan sangat sempurna ke arah Luki.
Membuat Luki semakin gugup, dan kian tak berkutik dan rasanya lutut kaki pun bergetar seakan tak mampu lagi berdiri. Dan kucuran air pun kembali membasahi celananya dan turun ke sepatu.
Alisa yang melihat keadaan Luki terkencing-kencing di celana, membuatnya menyembunyikan senyuman yang merasa lucu dengan pemandangan itu.
Sesaat kemudian, Hadi melepaskan kerah baju nya Luki dan membuat pemuda itu kembali terduduk seakan tidak berdaya. Kepalanya menunduk dalam, seolah tidak berani mengangkat kepalanya sama sekali.
"Sekarang saya minta, kamu mau pergi atau tetap di sini? dan saya akan laporkan kamu ke polisi, biarpun kejadian itu sudah lama. Tapi itu bisa diungkit lagi." Tegasnya Hadi kembali sambil menatap tajam ke arah Luki.
Detik kemudian Luki pun mengangkat wajahnya, melihat dan menata ke wajah Hadi yang tampak sangar di saat dalam keadaan marah.
Dikira Hadi dan Alisa, pemuda itu mau melawan, eh ... ternyata dia berdiri dan berlari terbirit-birit tunggang langgang dari tempat itu.
Alisa dan Hadi saling bersi tatap dan bibirnya pun tak ayal menunjukkan senyuman lucu. kirain Luki akan melawan, tapi ternyata dia Cemen banget.
"He he he ... aku kira akan melawan kan? ternyata malah lari terbirit-birit. Ya sudah kita makan dulu," Alisa menarik tangan Hadi agar dia duduk di dekatnya.
Hadi menghembuskan nafasnya dalam-dalam. "Tapi dulu kamu nggak sampai diapa-apain kan sama dia?" Hadi menatap curiga.
"Em ... nggak. Nggak pa-pa kok aku keburu keluar dan kabur!" jawabnya Alisa sembari menarik piring makan siangnya.
Mereka pun menyantap makan siangnya dengan sangat lahap, biarpun pikiran Hadi tetap aja merasa kacau. Gusar dengan masalah yang ada, yang sedang dihadapi oleh putrinya.
Sesekali mereka saling suap-menyuapi, tampak sangat romantis dan bahagia sekali antara mereka berdua. Namun meskipun begitu bukan berarti Hadi sudah melupakan istri pertamanya.
__ADS_1
Nama Diana akan tetap terukir dalam hati yang paling dalam. Tetapi sedalam apapun perasaannya terhadap sang istri. dia tetap harus meneruskan hidup, apalagi di saat ditinggal oleh sang istri pertama ... Dia sudah punya istri yang lain dan kedua anaknya yang harus ia perhatikan.
Selesai makan siang. Mereka pun langsung kembali ke kantor dan melanjutkan kembali pekerjaannya masing-masing.
Dan sekitar jam 04.00 Hadi dan Alisa pun sudah berada di dalam mobil untuk menuju pulang.
"Aku ingin tahu, apakah pria itu bisa membuktikan omongannya atau seder omong kosong!" gumamnya Hadi sembari melihat keluar jendela dan membiarkan angin masuk ke dalam mobilnya.
Alisa tidak menjawab apapun, karena dia tidak tahu harus berkata apa tentang Rahman.
Lalu Hadi menolehkan kepalanya pada sang istri, yang hanya melihat ke luar jendela di sebelahnya.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Hadi sambil menyentuh tangan Alisa.
Alisa menggerakkan kepalanya. "Menjawab apa? aku rasa ... itu bukan sebuah pertanyaan untuk ku! Dan aku nggak tahu apa-apa, ya lihat saja nanti. Apakah dia datang atau nggak!"
Kedua netra mata Hadi bergerak-gerak melihat ke arah Alisa yang tampak cuek dalam membahas Rahman.
Hening ....
"Hem!" Alisa kembali melihat ke arah Hadi.
"Tidak apa-apa kan bila Rahman menikahi Liana?" Hadi tampak serius.
"Kenapa bilang seperti itu? justru aku akan kecewa sekali bila dia lepas tanggung jawab terhadap Liana." Alisa menatap sorot mata Hadi yang seolah menganggap dirinya masih menyimpan perasaan kepada Rahman.
Selang berapa puluh menit akhirnya mobil pun tiba di halaman mention nya Hadi. Hadi segera turun dan membukakan pintu untuk Alisa.
"Mommy, Mommy ... tadi aku menggendong adiknya teman aku yang masih balita. Lucu deh, ganteng dan pipi nya itu lho ... menggemaskan." Sambutnya Dirga dikala Alisa baru nyampe ke teras.
Alisa dan Hadi saling melempar pandangan. Kemudian Alisa mengusap kepalanya Dirga seraya berkata.
"Di mana? hati-hati ya bila menggendong balita! takut jatuh dan tulang nya balita kan masih muda dan rentan!" pesan Alisa sambil merangkul bahunya Dirga.
"Iya Mommy, aku juga hati-hati kok lagian di pegangin juga sama mamanya teman aku." Timpalnya Dirga tampak happy bercerita tentang balita.
__ADS_1
"Em ... bagus deh ... yang jelas ... baby itu tulang-tulangnya masih rentan, jadi tidak bisa sembarangan gendong!" sambungnya Alisa.
"Kak Alina di mana Dirga?" tanya Hadi pada putra nya sambil menjinjing tas nya.
"Ada tadi di kolam renang, lalu sekarang gak tahu deh di mana!" jawabnya Dirga sambil berjalan ke ruangan untuk bermain.
Hadi menuntun tangan sang istri yang hendak berjalan menaiki anak tangga.
Keduanya terus berjalan menyusuri lorong rumah tersebut untuk menuju ke dalam kamarnya. Namun Hadi belok dan dia ingin melihat ke kamar Diana terlebih dahulu sebelum melanjutkan langkahnya ke kamar dia bersama Alisa.
Sejenak Alisa terdiam, melihat punggungnya Hadi yang berjalan menuju kamar Diana almarhum.
Lalu kemudian Alisa melanjutkan langkahnya untuk menuju kamar pribadinya bersama Hadi, ingin Segera membersihkan diri, tubuhnya yang terasa gerah dan lengket tidak sabar ingin berendam di dalam bathub.
Kedua langkah kaki Alisa memasuki kamarnya Lalu dia pergi ke wardrobe setelah menyimpan tas miliknya dan milik Hadi. Dia keluar kembali setelah mendapatkan pakaian untuk dirinya dan Hadi ganti, dengan langkah yang tampak gontai, Alisa memasuki kamar mandi.
Puk puk puk ... suara langkah kakinya mendekati bathub, duduk di tepi bathub tersebut sembari mengisi air dan aroma terapi.
Sembari menghembuskan nafasnya dari hidung Alisa kepikiran. Gimana kalau Liana dan Rahman sudah menikah nanti.
Yang tentunya Alisa akan sering bertemu dengan pria itu. Sebenarnya sih nggak ada masalah, karena bagaimanapun Alisa sudah move on, tapi bagaimana dengan Rahman sendiri, dengan tulus kah mencintai Liana atau memang terpaksa?
"Entahlah, aku jadi pusing sendiri. Ngapain sih kepikiran soal itu, yang penting Rahman mau tanggung jawab akan diri Liana sebelum semuanya terlanjur."
"Tapi jika Rahman tidak tulus mencintai Liana, tentunya Liana pun tidak akan bahagia!" Alisa menjadi beradu argumen.
Kemudian Alisa menanggalkan semua pakaiannya lalu masuk ke dalam bathub. Berendam dengan air yang sudah dibubuhi dengan aroma terapi.
Dua manik mata Alisa terpejam dan wajahnya mendongak ke langit-langit, merasakan dan merileks kan diri sejenak, mengusir rasa penat dan capek. Dengan cara berendam Dalam bathub.
Dengan pikiran yang melayang jauh ke awan dan terbang bersama angan-angan serta harapan yang indah ....
...🌼---🌼...
Selamat menunaikan puasa bagi yang menjalankannya.
__ADS_1