
"Kalau boleh aku bicara sesuatu Kamu jangan marah ya!" Liana menatap serius pada Alisa.
"Apa itu? serius amat kamu Lian." Alisa melirik ke arah Liana.
Liana menunduk dan memantapkan hati untuk cerita, apapun dan bagaimana pun nantinya. "Gue ... gue sudah ...."
Alisa mengerutkan keningnya menatap ke arah Liana yang tampak ragu-ragu. "Apaan sih? ragu-ragu begitu."
Liana mengalihkan pandangan nya ke lain arah. "Gue ... sudah, sudah melakukan sesuatu dengan Rahman. Gue, gue khilaf!"
Alisa kaget walau belum jelas itu apa? dia menegakkan duduknya. "Maksud mu apa Lian? jangan bikin aku bingung deh. Sudah melakukan, khilaf. Apa maksudnya?"
Liana tampak gelisah dan cemas. "Gue ... gue ... sudah melakukan hubungan yang seharusnya tidak dilakukan sebelum menikah--"
"Maksud lu, melakukan hubungan badan gitu?" Alisa tersentak dan memotong kalimat dari Liana.
Liana menunduk, lalu mengangguk pelan sambil menawarkan kedua tangannya di atas pangkuan.
Dengan refleks kepala Alisa menggeleng seraya berkata. "Astaghfirullah ... kok bisa, Lian ... kenapa kamu melakukannya?" Alisa menggoyangkan kedua bahwa Liana yang terus menunduk.
"Apa kamu nggak sadar hah? itu sesuatu yang dilarang, kalian berdua itu bukan suami istri. Kalian itu baru pacaran!" kepala Alisa terus menggeleng rasanya antara percaya dan tidak dengan apa yang sudah dia dengar.
Lagi-lagi Alisa menggoyangkan kedua bahu Liana. "Bilang sama aku, itu tidak benar bukan? aku salah mendengarkan? ayo bilang! kalau aku cuma salah dengar dan kamu tidak pernah melakukan itu dengan Rahman." Suara Alisa sekarang bernada tinggi.
Liana berdiri sembari berkata. "Iya, aku sudah melakukannya dengan Rahman. Kamu cemburu kan?"
lagi-lagi Alisa beristighfar. "Astagfirullah ... Lian, ini bukan salat cemburunya lagian buat apa aku cemburu? Aku sudah bersuami, aku cuman menyayangkan kenapa itu terjadi antara kalian? sementara kalian itu belum resmi dengan ikatan pernikahan, apa kau tidak menyadarinya ha!"
Alisa pun berdiri sembari berapa kali mengusap wajahnya, sangat menyayangkan dengan apa yang sudah terjadi terhadap sahabat sekaligus anak sambungnya itu.
__ADS_1
Liana berdiri di dekat pagar balkon sembari menatap ke arah matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
"Tidak bisa kubayangkan gimana hancurnya perasaan tante jika masih ada di dunia ini, putri satu-satunya yang harusnya dibanggakan menjaga dirinya dengan baik, pada kenyataannya? tidak seperti itu! bukankah kamu ingin kuliah dulu yang benar mencapai cita-cita mu. Tapi kenapa sekarang seperti ini?" Alisa mendekati Liana dengan suara yang bergetar, sedih.
"Mama sudah tidak ada!" gumamnya Liana tanpa menoleh pada Alisa.
"Ooh ... jadi mentang-mentang Mama kamu sudah meninggal dan kamu bisa berbuat seenaknya gitu?" suara Alisa meninggi kembali.
"Apa kamu lupa? papa mu masih ada, orang-orang yang menyayangimu dan keluarga mu itu masih ada, oma. Aku! kamu lupa itu ha? kamu lupa kalau kami itu masih ada. Sehingga kamu bisa berbuat semau mu bahkan merugikan diri kamu sendiri!" ungkapnya Alisa dengan bibir yang bergetar.
Liana menoleh dengan tatapan yang nanar. "Apa peduli mu?"
"Ya Allah ... Lian, kamu malah bertanya!" Alisa menempelkan punggung tangannya di pelipis Liana. "Kamu sudah lupa? aku siapa ha? aku sahabatmu sekaligus Ibu sambung kamu!" Alisa mengarahkan suaranya ke dekat kuping Liliana.
"Dengar ya Liana, sahabat ku yang baik yang cantik, yang pintar. Dulu aku cukup mengenal Rahman dengan baik! dia itu tidak pernah macam-macam apalagi kurang ajar--"
"Bukan seperti itu, bukan itu maksud aku! yang buat aku heran, kenapa sekarang dia seperti itu? sehingga melakukan itu dengan mu ini tidak masuk akal." Alisa memegangi keningnya berjalan tak berarah tujuan.
"Jadi kamu nggak percaya kalau aku sudah melakukannya dengan Rahman? aku serius, bukannya mengada-ngada!" nada suara Liana kembali menurun.
Alisa terus menggelengkan kepalanya, rasanya tidak masuk akal Rahman berubah dengan drastis.
"Entah khilaf ataupun disengaja, kami sudah melakukannya. Dan aku pun terlena, terhanyut. Terbawa suasana, aku menyesalinya setelah itu terjadi semuanya telah hilang yang tak bisa dikembalikan lagi, hik-hik-hik." kedua bahu Liana bergetar dia menangis terisak-isak.
Alisa menghela nafas panjang lalu dia merangkul Liana, mengusap punggungnya dengan lembut. Serta dia pun ikut menangis. "Kurang ajar banget si Rahman, mengambil kesempatan dalam kesempitan dia." Hatinya Alisa bermonolog sendiri. Sambil terus memeluk Liana yang menangis sampai sesenggukan.
"Gue nggak tahu harus gimana? papa pasti ngamuk kalau tahu ini, gue takut hamil Lisa ... gue takut! hik-hik-hik!" Liana terus menangis dalam pelukan Alisa.
"Emang kejadiannya kapan dan kenapa bisa terjadi seperti itu?" suara Alisa merendah sembari mengusap kepala Liana.
__ADS_1
"Hik-hik-hik. Belum selama ini. Ketika gue pulang malam, kehujanan dan gue di ajak ke rumahnya dan di rumahnya itu ada ibunya kok." Akunya Liana sambil menyeka air matanya.
"Biarpun ada ibunya, ibunya nggak tahu kan kalian melakukan itu? makanya kalau pacaran itu jangan ngamar, karena yang ketiganya adalah setan!" Alisa lagi-lagi menggeleng seraya mengembuskan nafasnya dari mulut.
"Kami berdua di kamarnya Rahman." Tambahnya Liana.
Rahangnya Alisa mengerat, tangannya pun mengepal rasanya ingin menonjok pria itu saat ini juga, yang sudah kurang ajar mengambil kesucian sahabatnya itu.
"Apakah sudah di omongkan sama dia? minta di pertanggung jawabannya." Tanyanya Alisa.
"Belum, dia hanya bilang ... kalau terjadi sesuatu di siap bertanggung jawab," sahutnya Liana sembari memudarkan pelukan Alisa dan mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata.
"Terus, kamu mau nunggu kamu hamil duluan baru kamu mau minta pertanggung jawaban dia begitu?" suara Lisa menggebu-gebu.
"Aku bingung! sementara aku masih pengen kuliah." Liana menggeleng.
"Sekalipun kamu menikah, apa susahnya masih melanjutkan kuliah! lagian kamu nggak sambil kerja. Asalkan balance antara kuliah dan keluarga. Kalau aku menolak kuliah karena jelas, aku kerja juga dan aku belum tentu bisa mengurus semuanya!" sambungnya Alisa.
"Terus, aku harus gimana dong? Aku nggak tahu!" Liana bertanya pada Alisa.
"Pinta dia tanggung jawab, minta dia nikahin kamu secepatnya! jangan sampai kamu menunggu hamil lebih dulu! emang kamu mau dibilang hamil duluan?" Alisa menatap dengan tajam ke arah Liana.
Liana terdiam sembari menggeleng, dia pun merasa gundah gulana dan nggak tahu apa mungkin. Rahman mau menikahinya sebelum dinyatakan dia hamil.
"Kalau dia sayang sama kamu, dan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, pasti nya dia akan mau nikahin kamu! tapi kalau seandainya, sebaliknya! dia itu pengecut bukan laki-laki tapi banci!" Alisa menjadi geram terhadap Rahman ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like comment dan subscribe nya lagi yang belum ya. Makasih.
__ADS_1