
"Aku tahu kamu pintar dan jalankan tugas mu dengan baik!" suara Hadi sambil menatap wajah Alisa dengan lekat.
"Em, aku!" Alisa membalas tatapan itu dengan sendu. Rasanya kangen dengan tatapan Hadi yang seperti ini.
"Sepertinya untuk ke depannya kita akan jarang bersama ataupun tidur bersama lagi. Mengingat kondisi Diana yang seperti itu!" sambung Hadi.
Alisa mengangguk pelan. Seharusnya Alisa merasa senang karena dia akan lebih banyak berkesempatan untuk dekat dengan pria lain. Namun entah kenapa hatinya malah terasa sakit dan sedih.
Tapi perasaan itu tidak harus dia perlihatkan kepada Hadi. Dia tersenyum semanis mungkin. "Nggak pa-pa. Itu kan lebih baik, om harus lebih perhatian sama tante! apalagi di saat seperti ini kan?"
"Terima kasih atas perhatiannya. Tapi kenapa kau menangis?" selidik Hadi yang menatap intens ke arah matanya Alisa yang sembab.
"Ha? siapa yang nangis? nggak kok!" sahutnya sambil ingin melepaskan diri dari rangkulan Hadi.
"Bohong, itu matanya sembab gitu, kalau bukan karena menangis." Hadi tidak mempercayai begitu saja pengakuan dari Alisa.
"Nggak, aku cuma gak bisa tidur saja!" akunya Alisa keceplosan.
"Nggak bisa tidur, kenapa?" Hadi mengernyitkan keningnya sambil mengunci rangkulan tangan.
"Em, ma-maksud ku. Karena aku capek, lelah. Jadi gak bisa tidur gitu!" ralatnya Alisa sambil melonggarkan tangan Hadi yang tetap mengunci.
"Benarkah, bukan nya tidak melihat ku?" goda Hadi yang tanpa senyuman itu.
"Aish ... siapa bilang? em, bisa gak lepasin aku? aku mau nyiapin sarapan!" pinta Alisa, ia merasakan kalau ada yang meronta di bawah sana dan bikin dirinya merasa geli.
"Kalau gak mau lepasin gimana? bukannya rindu, semalaman jauh dari ku?" goda Hadi sambil menatap ekspresi wajahnya Alisa yang tampak malu-malu.
Sejenak keduanya saling bertukar pandangan dengan dalam seolah ingin menyelami perasaan masing-masing.
"Kata siapa? iih ge'er amat. Justru aku senang karena aku tidak ada yang mengganggu seperti malam-malam kemarin gak bisa santai dan lena!" akunya Alisa.
"Oya, gak kangen dengan ini?" cuph Hadi mengecup singkat kening Alisa juga pipi kanan dan kiri.
"Tidak!" Alisa menggeleng dan bertolak dengan apa yang sesungguhnya dia rasakan.
"Tidak kangen kah dengan yang ini?" Hadi mendekatkan bibirnya pada bibir Alisa yang mundur ke belakang.
Tangan Hadi yang kiri mengunci tengkuknya Alisa hingga dia bisa menjangkau yang dia mau.
Alisa memejamkan kedua manik matanya dan berusaha menghindar, tapi gak bisa! hati malah berkata lain dari kepalanya.
Dalam beberapa saat, mereka berada di posisi nyaman bertemunya kedua benda tipis dan menghangatkan tersebut.
__ADS_1
Bahkan bukan cuma itu saja, Hadi pun membuat tanda kepemilikan di beberapa titik, di bagian dada yang sekiranya tertutupi dengan pakaian.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Tuan? Nyonya muntah-muntah dan memanggil-manggil, Tuan!" suara yang beriringan dengan ketukan pintu yang tak beraturan.
Membuat Hadi seketika menghentikan kegiatannya. Padahal ada niat untuk bermain sebentar hingga mencetak gol biarpun sekali. Tetapi kenyataan berkata lain.
Hadi melompat mendekati pintu dan setengah berlari menuju kamar Diana.
Alisa melongo sambil meremas pakaian yang menutupi dada. Sesaat kemudian Alisa merapikan diri dan menyusul Hadi ke kamarnya Diana.
"Sayang?" Hadi langsung mendekat pada sang istri yang baru saja muntah-muntah, dan masih tampak asisten pribadinya membersihkan mulut Diana dengan tisu.
Dan Hadi menggantikan peran asistennya itu. Wajah Diana semakin pucat pasih, sang ibu pun sudah tampak hadis dengan wajah cemasnya.
Alisa yang bergegas datang ke tempat tersebut dan berdiri di dekat ibu mertua.
"Tante?" gumamnya Alisa sambil menatap khawatir pada Diana yang tampak lemah dan pucat itu.
Kemudian. Jadi melirik ke arah Alisa dan mendekatinya seraya berkata dengan pelan. "Aku tidak ke kantor dulu hari ini, tapi aku akan menyempatkan diri pantau dari sini. Tolong handle semuanya dan bilang pada Zidan kalau aku berhalangan."
Alisa hanya mengangguk pelan dengan mata melihat ke arah Diana yang teramat mengkhawatirkan.
Sesaat kemudian Alisa melirik jam tangannya dan segera keluar dari kamar tersebut. Dia ingat belum menyiapkan sarapan buat Hadi, sebelumnya pamitan pada ibu mertua.
Alisa berkutat membuatkan nasi goreng buat Hadi dengan perasaan bercampur aduk, bagaimanapun dia khawatir dengan kondisinya Diana. Apalagi om hadi sebagai suaminya, pikir Alisa.
Nasi kesukaan Hadi pun sudah selesai dan Alisa segera membawanya ke kamar Diana karena orangnya berada di sana. Namun sudah beberapa langkah. Alisa kembali.
"Kenapa kau balik lagi?" tanya Dania yang menatap tajam pada Alisa.
"Nggak, Tante. Mbak ... mana bubur buat ibu? biar ku bawakan sekalian." Alisa mengalihkan pandangan pada mbak.
"Oh, iya ini. Nyonya!" Mbak menunjuk bubur yang tadinya mau dia bawa.
Alisa pun membawanya sekalian dan ketika beberapa langkah, terdengar pekikan Dania yang berkata.
"Jangan sampai kau masukan racun ya? nanti kalau terjadi pada kakak ku! pasti kamu yang jadi tersangkanya!" ucap Dania sedikit memekik.
__ADS_1
Alisa berdiri sambil memejamkan matanya. "Astagfirullah ... sabar-sabar, itu fitnah dan fitnah lebih kejam dari pembunuhan."
Alisa kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa menghiraukan perkataan dari Dania yang menyunggingkan bibir ke samping penuh ejekan.
Alisa ke lantai atas menggunakan tangga sementara dokter yang datang mengunakan lift dengan tujuan yang sama dan bertemu juga di depan pintu kamarnya Diana yang terbuka.
Mereka sama-sama masuk dengan. Dokter langsung periksakan kondisi Diana dan Alisa menyimpan nampan di meja. Lau mendekati Hadi setelah berbincang dengan dokter.
"Aku sudah buatkan sarapan. Jangan lupa sarapan ya? aku mau berangkat kerja dulu, tapi sama siapa perginya?" Alisa bingung dang jangan sampai di suruh baw mobil. Karena jelas-jelas dia tidak bisa bawa.
"Aku sudah bilang sama supir untuk mengantar mu ke kantor atau kemanapun." Balasnya Hadi.
"Ya sudah kalau begitu!" Alisa meraih tangan Hadi dan menciumnya.
Lalu Alisa pamit sama sang ibu mertua. "Bu, Lisa pergi dulu ya?"
"Mau ngantor?" tanya sang ibu mertua.
"Iya, Om gak ngantor dan aku harus masuk." Balasnya Alisa.
"Panggil ya Abang, bukan om!" ucap ibunya Hadi. "Oya, Ibu khawatir kalau Hadi lupa makan. Apalagi di saat seperti ini."
Alisa nyengir, lalu menoleh ke arah Hadi yang sedang bengong melihat ke arah Diana yang sedang diperiksa.
Pada akhirnya Alisa kembali mendekati Hadi dengan piring sarapan di tangan.
Hadi menoleh. "Kenapa kau balik lagi?"
"Kata ibu, kau suka lupa sarapan bila dalam ke adaan seperti ini, jadi aku akan menunggui sampai kau makan!" Alisa duduk dengan piring di pangkuan.
"Terima kasih? kau sudah perhatian." Suara Hadi dingin dan pandangan ke arah dokter dan Diana.
Alisa pun menyuapi Hadi sebelum berangkat kerja.
"Apa kau sudah sarapan?" tanya Hadi di sela mengunyah nya!
Alisa menggeleng sembari berkata. "Belum nanti saja di kantor!"
Setelah selesai Hadi sarapan, Alisa buru-baru pergi ke kantor dengan supir yang sudah Hadi tunjuk ....
...🌼----🌼...
Dapatkah Diana bertahan dengan kondisinya yang seperti sekarang ini.
__ADS_1