
Dan ketika selesai mandi, Alisa dan Hadi keluar dari kamar ritual mandinya dan pasang mata mereka mendapati kamar yang hamparan dengan kelopak bunga yang indah, dan wanginya pun semerbak.
Begitu pun di atas tempat tidur yang bertaburan. Bahkan ada sepasang angsa putih terbuat dari handuk yang sangatlah cantik. Kamar itu di sulap menjadi sebuah kamar pengantin baru.
"Yank, apa-apaan sih ini? kok banyak bunga begini dan siapa yang memasang?" Alisa melirik pada sang suami yang terdiam sambil menoleh pada sang istri.
"Aku hanya ingin membuat istriku ini happy. Bahagia agar janin yang masih berada di sini pun ikutan happy." Hadi pun mengusap perut Alisa yang masih kempes itu.
"Aah ... bikin aku terharu," Alisa memeluk pundak suaminya sesaat lalu melihat kembali ke sekitar yang penuh dengan taburan bunga tersebut.
"Dalam sekejap kamar ini berubah. Siapa yang buat sih?" Alisa melirik pada sang suami.
"Yang penting ...nikmati saja keindahan ini dan kenyamanan nya." Hadi mencari keberadaan bajunya yang entah di mana? padahal tadi sudah di siapkan Alisa.
"Oh, itu bajunya." Alisa mengambil pakaian yang dia sudah siapkan tadi yang berada di atas nakas.
Makan malam pun yang ala resto pun datang ke kamar dan mereka makan berdua saja.
Liana yang melihat di dekat pintu ketika ikut orang yang mangantar makanan. Menatap iri sambil berkata. "Uuh ... aku iri sama kalian berdua. Kapan ya gue kaya gitu?"
Liana menoleh sambil tersenyum. "Sini masuk!"
"Ogah, nanti menganggu lagi. Oya, Selamat berbulan madu yang kesekian kalinya." Liana pun menutup pintu membiarkan sang ayah dan ibu sambungnya berduaan.
Hadi dan Alisa saling pandang dengan dalam serta bibir yang senyum simpul. Tangan Hadi bergerak mengarah pada pipi Alisa.
Blak ....
"Ups, jangan lupa pintu di kunci dulu sebelum terjadi sesuatu! hi hi hi ..." Liana mendorong kembali pintunya kamar tersebut.
Membuat Hadi dan Alisa terkesiap. Lalu Hadi berdiri berjalan mendekati pintu kamar untuk menguncinya terlebih dahulu.
"Ahc ... aman sekarang." Hadi kembali duduk di samping sang istri yang duduk manis di sofa.
"Kita makan dulu datang." Hadi menarik piring makannya dan menyuapi sang istri, yang biasanya dia yang manja kini giliran dia banyak manjain sang istri.
"Besok aku berangkat ke Semarang, mau ikut atau mau di kantor saja hem?" tanya Hadi di sela-sela mengunyahnya.
"Em ... aku di kantor pusat saja, awas jangan macam-macam ya?" Alisa menjepit pipi Hadi.
"Apa yang macam-macam sayang? gak percaya sama aku! Hem ..." Hadi mesem mendengar nada bicara sang istri yang tampaknya kini lebih cemburuan.
Hening ....
Tidak ada yang bicara selain menikmati makannya yang saling menyuapi satu sama lain.
__ADS_1
Keduanya menyudahi makan malamnya di akhiri dengan meminum segelas air mineral dan air buah.
Alisa merapikan bekas makannya. Lalu duduk kembali berhadapan dengan Hadi yang duduk membuka tangan dan kedua kakinya menempelkan punggungnya ke bahu sofa.
Alisa pun duduk di dekat pria matang itu serta menyandarkan kepalanya di dada bidang tersebut.
"Cuph!" kecupan hangat mendarat di kening sang istri.
"Aku ingin ketemu adik-adik, boleh gak besok aku ke sana menemui mereka?" Alisa mendongakkan kepalanya melihat ke arah wajah Hadi.
"Tentu, boleh dong sayang ... aku gak akan melarang, apalagi itu adik-adik mu." Hadi mengijinkan sang istri untuk menemui adik-adik nya.
"Makasih sayang," Alisa memeluk dan mengeratkan pelukannya.
Kemudian. Mereka berpindah ke tempat tidur yang bertabur bunga tersebut.
Malam semakin larut. Dan membawa ke sebuah pagi yang indah. Alisa sudah menyiapkan pakaian Hadi untuk ke Semarang.
"Sayang, aku berangkat dulu ya? hati-hati di rumah. Dan tidak perlu mengantar ku ke bandara. Kamu langsung ke kantor saja sama pak Mur." Hadi memeluk sang istri.
"Hati-hati ya dan cepat kembali." pinta Alisa sambil mendongak.
"Iya sayang!" cuph kecupan mesra mendarat di bibir sang istri.
Nyess.
"Sayang! aku mau pergi kok nggak dikasih bekal sih?" Hadi nyengir.
"Bekal apaan? uang kamu banyak, kok minta bekal sama aku sih?" Alisa mengerutkan keningnya.
"Masa nggak ngerti? semalam nggak ngasih, sekarang kesiangan. Jadinya nggak ada bekal dong!" sambungnya Hadi sambil membelai rambut Alisa.
Bibir Alisa menyeringai dia mengerti dengan maksud sang suami. "Ooh itu ... tidak apalah, kan kemarin-kemarin sudah."
"Oo! nasib-nasib. Ya sudah ... nanti saja kalau pulang aku minta dobel. Oke?" cuph mengecup pipi Lisa kanan dan kiri.
"Emangnya nggak bahaya ya kalau hubungan saat hamil muda!" Alisa menatap ke arah Hadi.
"Emangnya sayang itu aku banting-banting? yang akan membahayakan gitu! nggak lah sayang, itu kan sudah kebutuhan dan itu akan aman-aman saja kok!" lirihnya Hadi.
"Iya sih ... aku cuman merasa was-was saja!" tambahnya Alisa sembari kembali merapikan kemejanya Hadi.
"Aku nggak akan tahan dong sayang, kamu kalau harus puasa berbulan-bulan--"
"Iddih ... nggak tahan bulan-bulan. Emangnya dulu bertahun-tahun gimana? jangan-jangan dulu suka jajan ya di luar?" Alisa memicingkan manik matanya seakan merasa curiga.
__ADS_1
"Ya enggaklah sayang. Ach mana ada, kan beda keadaannya! dulu sama sekarang kondisinya lain tolong dong ngertiin ... Hem?" Hadi menatap lekat.
"Iya-iya ... aku cuma bercanda kok! ya sudah, sarapan dulu ya!" Alisa menarik tangan Hadi keluar dari kamarnya.
Kemudian, mereka berjalan turun ke lantai bawah untuk sarapan terlebih dahulu.
Alisa mengambilkan sarapan buat Hadi dan juga untuk dirinya sendiri. Kebetulan susu bumil sudah disiapkan oleh Mbak dan dia tinggal meneguknya.
"Mau aku bikinkan susu hangat?" tawarnya Alisa kepada Hadi sebelum memulai sarapannya.
"Boleh sayang, bikinkan saja!" Hadi mengangguk.
Ketika sarapan bersama dengan keluarga selesai. Hadi berpamitan pada keluarganya, seperti ibunda dan anak-anak. Liana dan Dirga.
"Dirga, mommy nya di jaga ya selama Papa tidak ada!" pesan Hadi pada Dirga ya tidak lama lagi akan menjadi Abang.
"Siap, Pah. Abang pasti jagain mommy kok selama Papa tidak ada." Sahutnya meyakinkan.
"Bu ... aku pergi dulu ya?" Hadi mencium tangan sang ibunda dan memeluknya sebentar.
"Iya hati-hati ya? semoga lancar semua urusannya dan cepat kembali!" sang ibunda penuh harap.
"Aamiin. Terima kasih doanya Bu!" Hadi melirik ke arah Dirga yang berdiri dekatnya Alisa.
"Abang ingat ya kalau mommy di rumah jagain Mommy!" kata Hadi lagi.
"Iya Pah ... Iya Abang pasti jagain siapa sih amat sih sama Abang!" anak itu memanyunkan bibirnya yang di arahkan kepada sang ayah.
Lalu kemudian Hadi pun berangkat dengan mobil yang lain karena mobil yang biasa dia pakai akan siap siaga mengantarkan Alisa ke kantor dan kemanapun dia pergi bersama supir Pak Mur.
Kemudian Alisa pun berpamitan untuk pergi ke kantor! namun sebelumnya dia mau menemui dulu kedua adiknya di yayasan. serta janjian ketemu juga sama ibunya di sana.
"Bu, Lisa pergi dulu ya? mau ke kantor tapi mau ke yayasan dulu!" Lisa mencium tangan sang ibu mertua penuh hormat.
"Ooh sama siapa ke yayasannya, Alisa sendiri?" selidik sang ibu mertua.
"Aku tidak sendiri, kan sama Pak Mur. Dia yang akan mengantar aku kemanapun!" jawabnya Alisa.
"Mommy, antarkan Dirga dulu ya ke sekolah?" pintanya Dirga sambil menggoyangkan tangan Alisa.
"Iya sayang, diantar dulu sama Mommy ke sekolah nya." Alisa pun mengangguk.
Kemudian bergegas memasuki mobilnya yang sudah dipanaskan oleh pak Mur. Kini keduanya sudah berada dalam mobil dan melambaikan tangan kepada sang ibu mertua, dan Liana yang berada di teras.
Namun Liana pun bergegas menaiki motornya dan menyusul mengikuti mobil Alisa ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Terima kasih ya pada hari-hariku semua yang masih mengikuti kisah Hadi dan Alisa Terima kasih banyak, like comment dan dukungan dari kalian itulah yang membuat aku semangat untuk menulis.