Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Patah hati


__ADS_3

Di sebuah taman.Alisa duduk menunggu seseorang, sesekali matanya menatap ke arah jalan bilakah seseorang yang dia tunggu itu datang.


Dan pada akhirnya dia datang juga. Menghampiri Alisa dengan muka datarnya.


"Ada apa mengajak bertemu di sini?" dengan nada bicara yang ketus.


Alisa bengong dan menatap pilu ke arah pria tersebut yang tiada lain adalah Rahman yang statusnya masih kekasih Alisa. Kerena belum terucap kata putus di antara mereka.


Terasa sakit tenggorokan Alisa saat menelan ludahnya, Lalu dia sesekali menunduk hingga akhirnya kembali mengangkat wajahnya.


"Aku, aku hanya ingin bicara denganmu!" bisik Alisa dengan manik mata yang berkaca-kaca namun tidak terlihat oleh lawan bicaranya tersebut, mungkin karena keadaan malam dan pria itu seakan tidak perduli lagi dengan Alisa.


Rahman begitu cuek menyesali pada Alisa, padahal dia menyembunyikan perasaannya yang masih menemukan Alisa dan rindu akan kehadirannya.


“Sebenci itu kah kamu sama aku Man? sehingga sikapmu pun berubah 99%,” gumamnya Alisa sambil menahan tangisnya yang hampir tidak bisa di bendung.


Alisa mendongak berusaha keras agar dia tidak menangis di hadapan Rahman. Dia tidak mau terlihat rapuh di mata pria yang dia cintai tersebut.


"Kau bertanya, Sebenci itu kah? Aku rasa kau tahu jawabannya. Jadi tidak perlu ku jawab." Rahman tahu kalau Alisa menahan tangisnya dan berusaha kuat dan tegar.


Rahman masih kecewa dengan Alisa yang ternyata berselingkuh dengan Om-Om, bahkan sampai sewa kamar segala buat. Menyenangkan. Kata-kata itu masih terngiang di telinganya, di tambah lagi ternyata yang memang nyata di depan mata. Alisa bertunangan dengan ayah sahabatnya sendiri yaitu Liana .


"Tidak semua yang kamu dengar itu benar dan yang kamu lihat itu salah. Aku merasa nyaman dengan pria di kamar hotel itu tidak benar. Tapi bila aku bertunangan dengan om Hadi, iya. Seperti yang kamu lihat waktu itu. Dan itu atas permintaan dari istrinya yang sakit-sakitan, bukan kemauan kamu berdua." Jelas Alisa. dengan nada suara yang pelan.


Rahman menghela nafas dengan panjang dan tampak berat. "Kamu pikir aku akan percaya sama kamu soal itu? hem, dalam kenyataannya kamu memang bertunangan dengan pria itu, jadi kemungkinan besar yang ibuku lihat adalah benar!"


Alisa menggeleng dan berkata. "Tidak. Aku bersumpah, kalau itu tidak benar. Itu fitnah--"


"Jadi kau menuduh ibu ku memfitnah mu, begitu? tega kamu Al. Aku baru tahu bila hatimu itu busuk juga, tidak secantik wajahmu." Rahman semakin menunjukan kebenciannya pada Alisa.


Kepala Alisa terus menggeleng dan tidak menyangka kalau Rahman masih percaya pada ibunya. "Itu tidak lah benar Man, aku tidak benar."

__ADS_1


"Terus apa yang benar? kau tunangan dia, kan benar, bukan isapan jempol semata. Sudah lah! jangan bahas itu lagi hanya bikin aku kecewa dan sakit. Sakit tahu gak? orang yang kita sayang ternyata latihan, di balakan dia main gila." Rahman berucap demikian kerena hatinya terlanjur sakit.


"Huuh ..." Alisa mengembuskan nafas dari mulutnya, dia berusaha keras agar tidak menangis khususnya saat ini.


Hening!


Sesaat suasana begitu hening. Tanpa ada yang mengeluarkan suaranya. Sekalipun suara batuk.


"Terus, gimana dengan hubungan kita?" pada akhirnya Alisa menanyakan tentang hubungan mereka. "Aku tahu kalau sebentar lagi aku akan menikah dan ... aku mengembalikan cincin yang pernah kau berikan padaku, Man."


Rahman menatap cincin yang masih di pegang oleh Alisa yang katanya dari dirinya itu.


"Aku mengembalikan cincin ini dan aku percaya bila jodoh itu tidak akan tertukar, juga suatu saat kamu akan percaya padaku, Man. Kalau yang kamu dengar dan kamu percaya itu tidak lah benar, aku bersumpah demi Tuhan. Aku tidak pernah melakukan yang kamu tuduhkan itu." Alisa menyimpan barang itu ke tangan Rahman.


Pada akhirnya Rahman menerima dan ia genggam dengan kuat cincin tersebut sembari memejamkan kedua matanya, pupus sudah harapan bersama dengan orang yang sangat dia cintai.


"Terima kasih kau sudah baik padaku selama ini? dan aku tidak bisa membalasnya!" lirihnya Alisa. "Dan aku tidak bisa mengembalikan semua yang sudah kamu berikan dan tolong halalkan apa yang sudah aku makan khususnya?"


"Ya!" jawabnya Rahman dengan sangat singkat.


"Aku sangat sayang sama kamu, Man. Dan itu tulus bukan memandang sesuatu pun," batin Alisa sambil menatap lekat ke arah wajah Rahman yang di bawah sinar remang-remang dan entah melihat kemana?


"Ya, sudah, aku pergi dulu dan ... maaf bila sikap ku jauh berbeda padamu? karena aku ... jujur, aku sangat kecewa sama kamu, apalagi sekarang kamu mau menjadi istri orang dan aku merasa tidak berharga sedikit pun di matamu," Rahman beranjak, dengan cepat berjalan menjauhi tempat tersebut. Tanpa menawarkan tumpangan untuk pulang.


"Rahman?" gumamnya Alisa sangat pelan, ingin rasanya memanggil nama Rahman dan berkata kalau dia sangat mencintai pria itu, juga menjelaskan kalau pernikahan itu akan menjadi pernikahan kontraknya dengan Hadi.


Air mata yang sedari tadi ingin membludak dan keluar dari bendungannya, pada akhirnya keluar dan membanjiri wajahnya. "Hik-hik-hik," sakit rasanya dada dia saat ini. Nafas terasa sesak dan bagai berada di ruang yang tanpa ada oksigen sedikit pun.


Alisa menangis tersedu dan terdengar pilu, bagai benar-benar menyakitkan. Sakitnya bagai tertusuk sembilu yang menghujam jantung. Satu yang dia inginkan. Rahman percaya kalau yang sudah di tuduhkan pada dirinya itu tidak benar.


Kedua tangannya menangkup wajahnya yang banjir dengan air mata. "Kenapa tidak sedikitpun kau percaya pada ku, Man? kenapa?" gumamnya Alisa dengan suara sedikit kencang.

__ADS_1


Pria yang kini berdiri di hadapan Alisa, menatap iba ke arah gadis tersebut. Dia ... adalah Hadi yang sengaja menjemput Alisa, karena dia khawatir pada gadis itu, namun dengan sengaja dia membiarkan Alisa menangis sampai puas.


Alisa yang sekilas melihat kehadiran seorang pria berdiri di depannya itu, menghentikan tangisnya dan melontarkan pandangan ke arah pria tersebut.


"Om Hadi?" gumamnya Alisa sambil dengan refleks terperanjat dan memeluk tubuh besar Hadi serta meneruskan kembali tangisan nya di dada pria tersebut.


Hadi mematung menerima pelukan dari Alisa yang bersamaan tersebut. Tangis Alisa pun semakin menjadi karena dadanya masih terasa sakit dan sesak.


Dalam beberapa saat. Alisa masih memeluk tubuh kekar pria itu dan sesekali Alisa melap ingusnya ke baju Hadi yang tidak menanggapi sedikitpun alias membiarkan dengan apa yang Alisa lakukan.


Pada akhirnya tangan Hadi bergerak pelan menyentuh punggung gadis itu yang lagi patah hati tingkat dewa bagi yang merasakannya. Sementara tangan yang satu lagi menyentuh pinggangnya Alisa. Hidungnya menempel di pucuk kepala gadis yang kalut tersebut, sehingga tercium wangi rambutnya.


Alisa menghentikan tangisnya ketika menyadari kalau dia sedang berpelukan dengan om Hadi yang langsung memudarkan tangannya dan mendongak ke arah wajah Hadi yang lantas menatap dirinya.


Tatapan mereka pun bertemu dan deg! serrr ... perasaan aneh menyapa keduanya. Alisa langsung mundur menjauh. Kalau saja siang hari atau wajahnya tersorot lampu, pasti akan terlihat kalau wajahnya berubah merah seperti tomat yang merah merona dan tingkat kematangannya sangat sempurna.


Untung wajah dia tidak tersorot lampu, jadinya berasa aman. "Ke-kenapa Om ada di sini?" tanya Alisa dengan suara yan serak.


'Ehem," Hadi merapikan bajunya yang kusut dan di bagian dadanya terasa basah. "Saya jemput kamu, kali saja kau bertemu dengan orang jahat dan mengajak mu kabur! rugilah saya bila kau kabur. Karena belum gajian saja hutang mu sudah banyak pada saya," ucap Hadi dengan nada dingin.


"Hutan?" Alisa seakan mengernyitkan keningnya.


“Iya, hutang mu sudah banyak pada saya, Habis bayar asrama berapa tuh kan masih jadi hutang, sebab belum waktunya kamu mendapat gajih,” ungkap Hadi sambil mesem.


Alisa menggeleng dan mengusap wajahnya yang masih terasa basah. "Dasar, perhitungan."


Kemudian Alisa pergi dan membawa langkahnya keluar dari taman tersebut ....


.


...Bersambung!...

__ADS_1


__ADS_2