
"Tapi suka, kan?" seringainya Hadi sambil mengulum senyumnya.
"Sudah, lepaskan. Aku mau pergi!" pintanya Alisa dengan tangan dia yang mengalungkan ke leher Hadi.
"Mau ke mana temani saja aku di sini?" Hadi tetap merangkul pinggang sang istri yang masih berada di atas pangkuan nya itu.
"Aku mau mengobrol dengan Liana." Alisa beranjak dari duduknya
"Nanti dulu, temani dulu suaminya di sini kenapa sih?" Hadi mendekati bibir Alisa yang ranum. Biarpun terasa pusing dengan masalahnya Liana tapi kalau berdekatan dengan Alisa tidak bisa membiarkan begitu saja sayang aja kalau di anggurin.
Kemudian Hadi kembali mencumbu sang istri, dan menulusuri lehernya yang jenjang itu dengan bibir.
...----...
Sudah beberapa kali Bu Irma mendatangi Liana agar mantunya itu membatalkan pengajuan cerainya. Dan dia juga bercerita kalau Rahman sering melamun memikirkan istrinya.
Namun keputusan Liana tetap bulat serta tidak bisa dirubah lagi. Sehingga dibujuk seperti apapun keputusannya akan tetap sama bahwa dia akan tetap mencarikan Rahman.
"Ibu mohon maaf ... batalkan itu. Lagian tangan Rahman sendiri sebagai laki-laki yang punya wewenang dalam hal cerai apa tidak nya itu. Mendingan kamu kembali pulang ke rumah Ibu, kita bersama lagi. Ibu menjamin kalau Lian akan bahagia bersama Rahman nantinya." Ujar bu Irma yang terus membujuk.
"Keputusan aku tidak akan berubah kalau aku akan tetap berpisah dari Rahman--"
"Pernikahan kalian itu masih dapat terhitung waktu, janganlah berpikir pendek seperti itu. Bukankah Lian sangat mencintai Rahman dan Rahman pun akan mencintai kamu dengan sepenuh hati. Berilah dia kesempatan?" sambungnya Bu Irma seraya memohon-mohon.
Liana menggelengkan kepalanya, keputusan dia tidak akan pernah berubah sekalipun ada yang menangis darah.
"Ibu sedih ... hik-hik. Sepertinya Rahman kehilangan akal sehatnya, kemarin saja dia hampir minum racun, apa kau tega itu?" lirihnya Bu Irma kembali dengan nada sedih.
Mendengar cerita itu Liana merasa teriris. Apa itu benar atau cuma karangan. "Em ... Bu aku harus masuk kampus."
"Lian ... ibu mohon banget dengan
segala kerendahan hati, ibu meminta padamu pikirkan lagi ya? jangan sampai nantinya menyesal, mendingan kalian bersatu kembali jangan sampai ada perceraian. Gimana kalau di dalam rahim kamu itu ada janin nya? kan tidak boleh bercerai!" Bu Irma terus membujuk dan dia mengira kalau Liana sedang hamil.
__ADS_1
"Baiklah Bu ... akan aku pikirkan!ya sudah, aku minta maaf karena aku sebentar lagi harus ke kampus jadi pembicaraan kita cukup di sini saja dulu! permisi, Bu?" Liana pun beranjak dari duduknya meninggalkan tempatnya lebih dulu dan juga sang ibu mertua.
"Keras kepala banget nih anak, di bujuk seperti apapun sama saja!" gumamnya Bu Irma sambil menatap punggung Liana yang dengan cepat memasuki kampusnya.
Liana sendiri terus membawa langkahnya menuju kampus. Dia terus kepikiran, apakah benar kalau Rahman mau bunuh diri segala.
"Ayo Liana ... jangan percaya dulu dan biarkan saja, mau begini mau begitu juga bodo amat! kalau emang dia mencintai aku! pasti dari awal juga aku pergi dia menyusul ku, ini buktinya kan nggak." Monolog Liana dalam hati.
Setelah mengikuti pelajaran, Liana pun langsung pulang tanpa jalan-jalan dulu kemana.
Selang berapa puluh menit, akhirnya dia tiba juga di mension berbarengan dengan datangnya Hadi dan Alisa dari kantor.
"Kalian pulangnya barengan?" sapa wanita sepuh yang sedang membaca buku di ruang keluarga.
"Iya Bu ... keberulan banget kita pulangnya berbarengan. Entah ada janjian apa gitu!" jawabnya Hadi sembari menoleh pada putri dan istrinya kecilnya.
"Janjian apa? tidak ada janjian apapun!" sahutnya Lisa sembari melarikan manik matanya pada Liana yang langsung merespon dengan anggukan.
Tiba-tiba, Alisa merasa mual kepalanya pun sedikit pusing dan dia langsung saja pergi ke kamar mandi untuk membuang isi perutnya. Namun ternyata di sana dia tidak muntah.
"Oe ... oe ... kok enek sekali pengen muntah tapi tidak keluar apa pun!" Alisa menatap wajahnya dari cermin yang tampak pucat paseh.
Hadi gegas menyusul ke kamar mandi terlihat kaget melihat wajah sang istri yang sedikit pucat. "Sayang kamu kenapa, sakit? kita ke dokter ya!"
Alisa mengeluarkan ludahnya yang dia buang ke wastafel sembari menggelengkan kepalanya. "Aku tidak kenapa-napa kok, masuk angin. kali."
"Tetapi sayang, yang aku masukkan ke dalam rahim mu bukan angin tapi benih, masa masuk angin?" Hadi mengulum senyumnya, masih juga bisa bercanda dia.
"Iih, kok malah bercanda sih?" Alisa memutar badannya menjadi berhadapan dengan Hadi.
"Aku tidak bercanda sayang. Tapi kenyataannya, kalau kamu dimasukkan angin, iya ... masuk akal jika kamu masuk angin! tapi yang aku masukkan adalah benih cinta kita sayang, gak mungkin berubah jadi angin." Bisiknya Hadi sambil merangkul pinggangnya Alisa.
"Iya juga ya? bulan ini aku sudah telat! apa mungkin aku hamil?" Alisa kembali memeluk tubuhnya Hadi, menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang tersebut.
__ADS_1
"Kalau itu terjadi ... aku sangat bersyukur dan bahagia! akhirnya kita juga punya buah cinta dan tentunya Dirga mempunyai adik."
Wajah Alisa mendongak menatap Hadi yang tampak bahagia jika memang dia sedang hamil. "Apa mungkin aku sedang hamil apa ya yank?"
"Tidak apa-apa sayang yang. Aku bahagia." Hadi merubah posisi berdirinya begitupun dengan sang istri. Alisa kini mengangkat wajahnya Alisa dan dekatkan diri pada bibirnya.
"Mmmmuch. Ach ..." Hadi menyatukan dua Hadi bibir mereka dengan posisi yang membungkuk. Sebab Alisa tingginya lebih rendah dari Hadi.
"Mmmm ... Diam sayang!" lirihnya Hadi sambil terus menyerang Alisa.
Tangan Hadi yang satunya kian menarik punggung Alisa sehingga merapat dengan tubuhnya.
Sesaat kemudian keduanya saling berpelukan dengan sangat erat. Kepala Alisa semakin menelusup ke dada bidangnya Hadi.
"Jika sekarang ini kamu hamil, bukan hanya kita yang bahagia. Tapi yang lain juga, dan kita bisa membuat adik buat Dirga!" ucapnya Hadi sambil memeluk sang istri sangat erat."
"Kalau nggak gimana?" Alisa sejenak mendongak ke wajah Hadi.
"Em ... kalau belum hamil, ya coba lagi dan terus coba lagi!" Hadi mengembangkan bibirnya.
"Hem ..."Alisa senyum simpul, sambil dengan nakal menepuk singa yang sedang tidur. Setelah itu Alisa berlari dan Hadi pun yang langsung mengejar.
Dan akhirnya kejar-mengejar pun terjadi di dalam kamar tersebut, habis setengah jam mereka kejar-kejaran dan pada akhirnya Hadi menangkap Alisa, di bawanya ke tempat tidur. Kemudian Hadi menindih tubuh Alisa yang tidak bisa melonjak kembali.
Apa yang mereka lakukan saat ini tentunya sudah terbayang, gimana nafsunya Hadi terhadap Alisa yang selalu buat candu bagi dirinya. Bagaikan mereka bak pengantin baru yang ingin terus di layani oleh satu sama lainnya.
Tangannya Hadi sudah tidak bisa dikondisikan lagi, kedua tangannya pun traveling ke setiap tempat yang dia sukai termasuk daerah perbukitan yang indah.
Selanjutnya, kemudian mereka melakukan ritual yang terfavorit bagi mereka berdua, seakan melupan permasalahan yang dihadapi oleh Liana ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like comment dan lainnya Makasih
__ADS_1