
Alisa dan sang ibu mertua menatap anak itu dengan tatapan yang berkaca-kaca. Merasa terharu apalagi dengan isi puisinya tersebut.
"Mommy, Oma. Gimana puisi aku bagus nggak?" tanya Dirga sambil menatap ke arah Oma dan mommy nya.
"Em ... Bagus pintar siapa yang bikinnya?" ucap Alisa kepada dirga sambil membuka kedua tangannya.
"Iya, siapa yang bikin puisinya?" timpal sang oma.
"Yang bikinnya aku dong ... siapa lagi!" Dirga menunjuk hidungnya sendiri penuh bangga, mengakui kalau puisinya dia sendiri yang buat.
"Ooh ya, Dirga sendiri yang buat! wih ... hebat. Hebat sekali Mommy suka deh!" lagi-lagi Alisa bertepuk tangan.
"Puisi itu aku buat ... buat Mommy. Makasih ya Mommy sudah ada dalam hidup aku, di saat Mama tidak ada!" tatapan anak itu berubah menjadi nanar.
Membuat hati Alisa juga Omanya mencelos sedih lalu, merangkul anak itu berbarengan.
"Iya, makasih ya! insya Allah semoga Mommy selalu ada buat Dirga." Gumamnya Alisa dengan nada pelan.
Dan setelah menunggu sekian lama, serta menyaksikan yang lainnya pula. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman pemenang akhirnya datang juga.
Dirga menjadi juara nomor 2 puisi antar kelas. Setelah pengumuman itu terdengar Dirga berjingkrak dan memeluk Alisa. "Hore ....Dirga jadi juara, Mommy aku jadi juara."
"Selamat ya ... anak Mommy!" ucap Alisa dengan nada haru.
Sementara Omanya tak kuasa meneteskan air mata melihat kegirangan anak itu yang menjadi juara 2 dalam puisi antar kelas.
Kemudian anak itu menoleh ke arah omanya lanjut memeluknya wanita sepuh tersebut sembari berkata. "Oma Dirga menjadi juara! Makasih doanya ya Oma."
Omanya mengangguk lalu mengusap punggung anak itu penuh kasih sayang, dan menciumi pucuk kepalanya.
Setelah itu lalu mereka pulang, kebetulan kepala Alisa merasa sedikit pusing. Tadinya mau ngajak Dirga untuk makan es krim namun niat itu Alisa urung, biar nanti aja kalau sudah papanya sudah pulang.
"Yakin Lisa tidak kenapa-napa?" tanya ibu mertua jangan sedikit tampak cemas.
"Nggak, aku cuma pusing doang kok, Bu ... nanti juga hilang. Lagian obatnya ada di rumah," jawabnya Lisa menenangkan.
Lantas pak Mur yang menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil mendengar obrolan mereka berdua.
"Mommy, jangan sakit dong ... kalau Mommy sakit lagi. Dirga sama siapa? Papa nggak ada lagian nanti papa sibuk." Anak itu menatap cemas ka arah Alisa.
__ADS_1
Mendengar perkataan Dirga, Bibir Alisa tersenyum seraya berkata. "Mommy nggak kenapa-napa. Cuman pusing doang, kan tahu sendiri. Kalau Mommy belum pulih benar dan Mommy masih butuh istirahat! makanya juga nggak kerja!"
"Pokoknya Mommy gak boleh sakit lagi harus sembuh dan Mommy harus ngasih Dirga adik bayi lucu sebagai hadiah aku yang sudah menang juara 2. Iya mommy? please Dirga pengen punya adik!"
Kini ibu mertua yang melukiskan sebuah senyuman terhadap Dirga. "Makanya kamu doain, mommy nya biar cepat sembuh dan segera dikasih omongan biar nanti ... Dirga pasti ada temennya. Pengen adik bayi," tuturnya sang oma.
"Aku selalu mendoakan kok oma. Semoga mommy cepat sembuh dan segera berikan aku adik yang lucu yang gemuk, yang pipinya menggemaskan ih ... jadi pengen segera!" ucap Dirga yang ekspresi wajah lucu kalau dia menandakan tidak sabar lagi untuk mempunyai adik.
Alisa tersenyum haru. "Aamiin ... semoga doa Dirga didengar sama yang maha kuasa, em ... cewek dan cowok nggak apa-apa kan adiknya?" Alisa menatap lekat ke arah Dirga dengan tatapan yang campur aduk.
"Maunya sih ... cowok tapi kalau dikasihnya cewek juga nggak apa-apa, aku akan tetap sayang kok." Jawabnya Dirga sangat bersemangat.
"Sebelumnya makasih ya? bener ya nggak apa-apa, kalau seandainya nanti dikasih adiknya cewek mau di sayang juga kan?" tanya kembali Alisa.
"Nggak apa-apa cewek juga Mommy, tapi sukur-sukur cewek sama cowok barengan ya Mom ya ? apa sih namanya kalau barengan gitu yang sama Itu bayinya!" anak itu bertanya, kebingungan apa namanya.
Mungkin yang dia maksud adalah baby twins alias bayi kembar.
"Mungkin yang Dirga maksudkan bayi kembar yang lahirannya sama gitu, wajahnya sama," ujar sang Oma.
"Iya bener, aku mau itu bayi kembar! satu laki-laki satu perempuan wajahnya sama gitu, iih ... jadi mau baby twins." Anak itu malah aneh-aneh.
Alisa dan ibu mertua saling pandang. Menggelengkan kepalanya, baru saja membuat terharu dan sedih. Kini malah dibuat tersenyum, terdengar lucu keinginan dari Dirga itu.
Mereka bertiga pun keluar dari mobil tersebut, tidak lupa Dirga menyoren tasnya dan piala dia dibawanya ke dalam dengan hati yang riang.
Sementara Alisa dan ibu mertua, berdua berjalan dengan santai memasuki teras dan melintasi pintu utama.
Namun baru tiga langkah dari pintu utama, Alisa teringat Diana dan dia ingin mengunjungi makamnya sebelum dia memasuki mension.
"Ibu, Alisa mau ke makamnya tante dulu ya? sebentar." Alisa meminta izin kepada Ibu mertuanya tersebut.
"Lho ... Lisa, katanya tadi pusing istirahat saja dulu. Apalagi panas begini ke makamnya juga," kata sang ibu mertua dengan lirih menatap mantunya tersebut.
"Tidak apa-apa, Bu sebentar aja kok." Lalu Alisa memutarkan kembali tubuhnya melewati teras dan mendatangi makamnya Diana.
Kini Alisa berjongkok di samping pusaranya Diana setelah mengucap salam dan berdoa sebisanya, Alisa berkata. "Tante maafkan Aku? bila aku tidak sempurna dalam menjadi istri Om Hadi dan juga mama dari anak-anak, aku manusia biasa yang penuh dengan kekurangan!"
Hening ....
__ADS_1
Alisa menyeka sudut matanya yang terdapat buliran air bening. "Waktu itu aku sempat mengatakan ingin mundur dan berpisah dari om Hadi, dan tentunya meninggalkan anak-anak jug. Tapi mungkin Allah berkata lain aku keguguran yang tidak diketahui sama sekali, aku gak tahu keberadaannya janin di perut ku!"
Alisa menghela nafas dalam-dalam lalu yang hembuskan dengan sangat panjang. Kemudian dia bangkit meninggalkan tempat tersebut sebelumnya mengusap batu nisan yang Diana.
Ketika sore hari, Alisa sedang menikmati suasana sunset di balkon kamarnya dan Liana menghampiri.
Alisa menoleh pada Liana yang baru saja datang. "Lian?"
"Apa papa mau menginap di Semarang?" Liana malah bertanya soalan papanya.
Alisa mengangguk. "Papa mu tidak pulang malam ini. Dan pulangnya entah kapan entah besok atau lusa, kenapa?"
"Nggak, gue cuma nanya aja lu nggak kangen ditinggal sama papa gue?" Liana duduk di samping Alisa.
"Kangen, tadi pagi kan ketemu. Lagian dia bisa telepon aku kok!" jawabnya Lisa sembari kembali mengedarkan pandangannya ke arah matahari yang terlihat merah itu.
"Emangnya lu sendiri nggak kangen sama papa gue?" tanya ulang dari Liana.
Alisa senyum simpul dan menggeleng. Malu bila harus jujur, ntar dibilang bucin sama anak sambungnya ini. Cukuplah bahasa tubuh dia dan Hadi yang sering menunjukan bahwa mereka saling membutuhkan.
"Apa benar, kemarin kamu nggak tahu kalau lagi hamil?" tanya Liana.
Lagi-lagi Alisa menggeleng. "Aku nggak tahu sama sekali, nggak tahu kalau aku lagi hamil karena ... memang siklus haid aku tidak pernah teratur tidak ... tidak setiap bulan datang! jadi ketika aku nggak haid itu memang terasa biasa saja!"
"Terus gimana gue kalau hamil, gimana kalau gue hamil? gue harus bagaimana kalau seandainya gue hamil," Liana bermonolog sendiri sambil bengong.
"Liana kenapa? kok bengong?" Alisa menatap anak sambungnya sekaligus sahabatnya itu.
"Ooh. Nggak-nggak, gue tidak kenapa-napa!" Liana berusaha menyembunyikan seolah-olah tidak terjadi apapun.
"Oo! aku kira kamu kenapa!" gumamnya Alisa.
"Kira-kira hamil muda itu rasanya seperti apa ya? sementara kamu sendiri tidak menyadari waktu kemarin kau hamil muda, tahu?tahu kau keguguran karena kecapean kan!"
"Aku anggap itu belum rezekinya aja, sudah takdirnya seperti itu. Siapa tahu seandainya ceritanya lain akibatnya pun akan lain, jadi ... ya terima saja."
Hening ....
Liana terdiam sambil menatapi ke arah Alisa ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like dan komen ya, bagi yang belum subscribe, subscribe lah biar dapat notifikasi makasih.