
Semua terdiam. Menunggu kedatangan jenazah yang belum juga datang.
"Bu ... Lisa mau ke kamar dulu ya?" pamit Alisa pada sang ibu mertua yang sedang melamun.
"Lisa, bisa gak bikin kan Abang minuman kopi? Sepertinya asisten sibuk semua." Pinta Om Dedi pada Alisa.
"Oh, iya. Sebentar ya Om." Alisa yang tadinya mau ke kamar urungkan niatnya itu dan belok ke dapur.
"Ibu mau Lisa bikinkan minuman hangat?" sebelum mengayunkan langkahnya Alisa menoleh pada sang ibu mertua.
"Boleh. Makasih ya sebelumnya?" tutur wanita sepuh tersebut.
"Sebentar. Lisa bikinkan!" Alisa pun berlalu mendekati dapur.
"Hem, anak itu masih saja panggil om. Sama suaminya panggil apa ya? he he he ..." gumamnya Dedi.
"Entah, mungkin masih Om juga." sang ibu menunjukan senyumnya.
Tidak lama kemudian Alisa kembali dengan membawa nampan yang berisi dua gelas berisi kopi dan teh hangat.
"Makasih Lisa?" Dedi mengambil gelas kopinya ia bawa ke depan menunggu kedatang ambulance.
"Sama-sama. Ini punya Ibu!" Alisa menyodorkan teh milik sang ibu mertua.
"Makasih ya Lisa." Lalu dia sesap perlahan.
Setelah itu Alisa melanjutkan niatnya untuk ke kamar. Di membawa langkahnya menuju lift namun terdengar suara ambulance.
Non-Nino-Nino-Nino ....
Suaranya yang terdengar menegangkan dan menyedihkan dengan mendengar suaranya saja mengiris hati.
Alisa menajamkan pendengarannya lalu niatnya urung lagi. Dia berlari ke arah luar melalui pintu utama menyelinap di antara orang-orang yang berjubel di sana.
Manik mata Alisa memandangi ke arah jalan di mana mobil ambulance memasuki halaman. Susana semakin haru. Ketika jenazah di keluarkan dari mobil tersebut.
Terlihat Hadi yang tampak lesu di sambut kerabat dan handai taulan. Yang memberikan semangat agar yang di tinggalkan tetap tabah dan ikhlas.
Sang ibu memeluk putranya yang sedang berduka. "Yang kuat ya Nak ... Sabar dan ikhlaskan."
Hadi mengangguk pelan sambil memeluk sang bunda. Kemudian netra mengedar ke arah Alisa yang berdiri di antara para tamu lain. Sedang memandangi ke arah dirinya dengan tatapan nanar, ada yang beda yang nampak di mata Hadi saat ini.
__ADS_1
Ya itu pemandangan yang tak biasa, Alisa begitu nampak cantik dengan balutan kerudung dan pakaian panjang.
Dalam pandangan Alisa saat ini. Hadi yang biasanya rapi dan segar penuh semangat justru kini kebalikannya. Dia begitu lusuh dan tak bersemangat.
Perlahan Alisa dan Hadi saling menghampiri dan mereka pun saling berpelukan.
"Sayang!" gumamnya Hadi seiring dangan rangkulan, suaranya bergetar seolah menahan tangis.
Alisa tidak bersuara sepatah kata pun. Dia hanya mengeratkan pelukannya saji ke punggung Hadi dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Namun momen itu tidak lama. rangkulan mereka pun memudar dan Hadi berjalan ke dalam bersama jenazah yang akan di semayamkan sementara waktu di ruang tengah.
Tangis haru menghiasi rumah mewah tersebut. Semua rekan dan karyawan pun berdatangan termasuk Zidan, Mita dan Burhan.
Kiriman bunga yang ucapan turut berduka pun berdatangan. Memenuhi pinggiran halaman dan ada juga di pinggir jalan depan gerbang.
Dirga dan Liana duduk bersama Alisa saling berpegangan tangan. Bahkan Dirga memeluk terus Alisa. Sesekali Alisa mengusap dan merapikan anak itu yang tampak sedih.
Liana menunduk dan air matanya terus berjatuhan. Sesekali mengusapnya dengan tisu.
"Yang tabah ya, dan ikhlaskan mamanya. Semoga di tempatkan di sisi yang maha kuasa." Alisa menggenggam tangan Liana untuk menguatkan.
Liana menoleh pada Alisa sambil mengangguk pelan.
"Nggak lapar." Dirga pun menggeleng.
"Nggak boleh begitu. Nanti sakit." Nanti proses pemakaman nya sudah selesai. Dirga makan ya? mau Kak Alisa buatkan apa?" suara Alisa pelan.
Anak itu cuma mengangguk. Tidak beranjak dari dekat Alisa.
"Kamu kapan datang dari Surabaya?" selidik Liana.
"Semalam, dan aku sama sekali berita ini. Mungkin kalau gak pulang gak ada yang kasih tau aku." Jawabnya Lisa sambil menunduk kalau melihat ke arah jenazah Diana.
Alisa lalu mendekati Diana dan membacakan doa tentunya dia yang terbaik untuk nya. Bareng-bareng dengan Liana, tak kuasa air mata pun terus berjatuhan. Apalagi ketika jenazah mulai di kebumikan.
Dania yang terdengar histeris menangisi kalanya. Dia mengisi di samping jenazah nya Diana, ustazah pun bilang baik-baik jangan di tangisan tapi di doakan.
Tetapi wanita itu seolah tidak mendengar, biarpun sang ibu merangkul dan menjauhkan nya.
Kini proses pemakaman pun selesai, dan para tamu pun berangsur pulang yang tersisa hanya hanyalah kerabat dekat saja dan pak ustad juga ustazah yang berbincang dengan Dedi dan Hadi, serta keluarga lainnya seperti orang tua dari pihak Diana.
__ADS_1
Sesuai janji nya, Alisa membuatkan makan untuk Dirga yang belum makan. Juga Liana, dia bikinkan sup kesukaannya.
"Dirga, Lian. Makan dulu. aku sudah bikinkan makanan kesukaan kalian. Kita boleh berduka! tapi bukan berarti menyiksa diri dengan cara tidak makan." Alisa mengajak Liana dan Dirga ke meja makan.
"Apa kau itu tidak punya pikiran ya? atau ... sudah di gadaikan? kamu sedang berduka tapi kau malah menyuruh makan! kau gila ya? atau memang ini yang kau inginkan ha?" celetuk Dania.
"Tante, bukan begitu. Kita boleh berduka tapi tidak boleh berlarut-larut ataupun menyiksa diri. Itu tidak baik juga, aku tidak berpikiran begitu sama sekali," balas Alisa dengan suara yang pelan sambil melirik kanan dan kiri.
Liana mendengar ocehan tantenya hanya diam dan malas untuk berdebat dia ngeloyor aja ke meja makan dan menyantap yang Alisa hidangkan.
Begitupun dengan Dirga, anak itu malah meminta Alisa untuk menyuapinya, dan dengan ikhlas dan hati mencelos. Alisa menyuapi anak laki-laki itu.
Ibu mertua menghampiri. "Lisa ... sepertinya Abang belum makan, siapkan lah makanan kesukaannya. Kasihan tapi nanti setelah Dirga selesai makan ya?" tutur sang ibu mertua dengan sangat lirih sambil mengusap punggung nya Alisa.
Alisa hanya mengangguk pelan sambil melirik ke arah Hadi yang sedang berbincang dengan pak ustadz dan yang lainnya.
"Mau nambah lagi gak?" tanya Alisa pada Dirga.
Dan anak itu menggeleng lalu meminum air putih yang sudah Alisa siapkan.
Lalu Alisa menoleh pada Liana yang makannya sembari bengong. "Lian, nambah lagi ya makannya!"
Liana menggeleng juga. "Cukup. Aku sudah kenyang." Kemudian pun beranjak setelah meneguk minumnya sampai tandas. "Ku mau istirahat, capek."
"Oke," Alisa sambil membereskan bekas makannya mereka berdua.
"Dirga juga mau tidur. Capek banget." Dirga pun berlari menuju anak tangga.
"Non. Biar Mbak yang bereskan." Mbak mengambil alih pekerjaan Alisa.
"Tidak apa Mbak. Biar aku yang bereskan." Alisa menahan tangannya yang memegang piring kotor.
"Nggak pa-pa, sini Mbak saja." Kekeh mengambil piring dari tangan Alisa.
Setelah itu, Alisa memikirkan untuk membuat masakan apa? buat Hadi.
"Oke, aku buatkan nasi goreng suwir ayam saja, lagian lama juga aku gak buatkan untuk om Hadi." Gumamnya Alisa sambil mengambil bahan-bahan nya dari lemari pendingin.
Alisa mengambil dua telor. Dan tiba-tiba tangan Alisa di tepis sebuah tangan yang menjadikan telor jatuh. Prek-prek-prek ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Aku gak akan bosan meminta dukungan dari semua reader ku yang baik hati dan aku sayangi karena tanpa kalian aku ini bukan apa-apa. Makasih.