
Hadi beranjak sambil meraih ponselnya, mengantar sang istri ke dalam kamarnya.
"Saya ingin lihat apa isinya kertas tersebut." Dania planga-plongo melihat ke arah kertas yang Alisa pegang.
"Tidak, boleh." Alisa mengesampingkan tangannya ke belakang yang memegang kertas yang di golongkan tersebut.
Alisa sendiri belum tahu isinya apa? karena tadi dia hanya menatap kosong sehingga isinya belum terbaca olehnya.
"Hem, selamat! paling kau dijadikan pembantu di sini. Karena wajah mu itu memang muka pembantu hi hi hi ..." ucap Dania berisi cibiran.
Alisa terdiam dengan tatapan datar ke arah Dania yang berlalu. Wanita cantik itu meninggalkan tempat tersebut.
Lalu kemudian. Alisa bergegas beranjak juga berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas, dan dia sengaja berjalan melalui tangga.
Suara derap langkahnya yang teratur mewarnai kaki yang dia ayunkan. Yang membawa dirinya ke dalam kamar yang luas dan mewah.
Sebelum membaca kertas pemberian dari Diana. Alisa langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudu terlebih dahulu.
Dan selepas mengerjakan lima waktu. Alisa segera mengambil kertas yang dia simpan tadi di atas nakas. Tangan Alisa membuka kertas tersebut. Lalu dia baca dengan seksama.
Pagi-pagi sekitar pukul lima pagi, menyiapkan air hangat di bathube dengan aroma terapi buat Hadi mandi, lanjut menyiapkan pakaian dan segala keperluan Hadi untuk ke kantor. Membersihkan kamarnya sampai rapi. Memungut pakaian kotor di bawa ke tempat nyuci, membantu dia untuk berpakaian rapi.
Pukul enam tiga puluh, menyiapkan sarapan buat Hadi, menemani sarapan dan pukul tujuh bersiap ke kantor bersama, di kantor harus selalu siap bila di perlukan oleh Hadi kapan pun.
Jam makan siang menemaninya makan dan kemana saj dia pergi harus siap menemani termasuk rapat ke luar kota.
Sepulang dari kantor,menyiapkan baju ganti dan menyiapkan air buat mandi, dilanjut menyiapkan buat makan malam Hadi dan menemaninya makan malam. Sebelum tidur menyiapkan minuman hangat yang terbuat dari jahe dan harus racikan sendiri.
__ADS_1
Paginya begitu lagi setiap hari, hari libur bisa liburan kalau bersama-sama. Kalau mau keluar harus keperluan yang memang penting dan diwajibkan meminta ijin terlebih dahulu kepada Hadi.
"Ya Tuhan ... kapan gue untuk mengurus gue sendirinya? kalau setiap waktu dia terus yang harus gue urus? huuh ..." Alisa membuang nafasnya dari mulut lalu menggelembungkan mulutnya.
Tangan Alisa mengibaskan kertas yang sudah dia baca tersebut sambil terus berpikir.
"Siapa sih yang bikin daftaran ini? dia mulu yang harus gue urus, baby gede aja kali ahc. Tapi masih mending sih yang diwajibkan mengurus dia, daripada gue mengurus semuanya! he he he ... ach, gue gak bisa main dong ... ahc, ada-ada saja nih." Alisa terus bermonolog sendiri.
Jarum sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan Alisa berusaha untuk memejamkan kedua matanya yang sulit untuk terpejam. Ini malam pertama dia bermalam di sini dalam kondisi sudah menjadi tunangan dari tuan Hadi Dirgantara, manik matanya yang indah itu melihat ke arah jari yang ada sematan cincin tunangan dari Hadi.
"Aku harus segera tidur, biar tidak kesiangan. Bismillah ... tidur ini mata tidur dong." Alisa berusaha memejamkan kedua matanya tersebut.
"Oke. Mungkin dengan menghitung aku dapat tidur. Ayam melompat ke dalam kandang, ayam dua masuk ka dalam kandang. Ayam tiga masuk ke kandang Hadi, lho kok ke kandang om Hadi sih? gak nyambung banget deh ..." begitu seterusnya, bibir Alisa terus bergumam sampai suaranya menghilang seiringnya dengan dia tertidur.
Akhirnya malam ini bisa terlewati juga dengan tidur sangat nyenyak. Padahal sebelum begitu sulit untuk terpejam.
Alisa memicingkan matanya dan menajamkan pendengarannya pada suara adzan subuh yang terdengar sayup-sayup tersebut. Dia bangun dan turun menapakkan kakinya ke lantai sembari mengibaskan selimut yang dari semalam menyelimuti tubuhnya. Memberi kehangatan dan kenyamanan.
Selanjutnya kaki Alisa mengayun menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dulu dan menunaikan subuh. Hari ini dia akan mengawali kehidupan yang baru. Anggap saja ini latihan mengurus suami, agar nanti terbiasa bila sudah menikah.
Selesai menunaikan subuh, segera membereskan kamar dan membuka semua gorden. Lanjut alisa membawa langkahnya keluar dari kamar tersebut, untuk ke kamar seorang Hadi Dirgantara yang entah yang mana kamarnya gak hafal juga.
"Ya ampun ... aku gak tahu kamar Om Hadi dimana? mau tanya, malu!" gumamnya Alisa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tersebut.
Di dalam kebingungan Alisa. Untunglah ada mbak yang membawa alat pel dan Alisa memberanikan diri untuk bertanya dimana kamar Hadi. "Maaf Mbak, aku mau tanya. Em ... itu ... kamar Om Hadi, eh Tuan dimana ya? ma-maksud ku aku di tugaskan untuk bersih-bersih di sana."
Mbak mulanya terdiam dan menatap ke arah Alisa yang tampak sudah rapi itu.
__ADS_1
"Sa-saya cuma mau menjalankan tugas untuk bersih-bersih di sana dan menyiapkan segala sesuatu keperluan tuan," ulang Alisa, takut mbak berpikir yang macam-macam.
"Oh, iya. Non, ibu sudah bilang kalau yang akan membereskan kamar tuan itu ... Non, itu Non kamarnya tuan." Mbak menunjuk ke arah sebuah kamar yang dekat dengan ruang kaca yang sepertinya tempat nge-gym.
Walau pun sering datang ke rumah ini, tapi Alisa gak pernah mengeksplor seluruh rumah mewa tersebut, kecuali tujuan yang menjadi kepentingan saja, seperti kamar Diana dan kamar Liana paling taman dan kolam renang. Itu saja, kalau dapur dan ruangan umumnya sih itu dengan sangat mudah ditemui.
"Makasih ya Mbak?" Alisa mengangguk lalu berjalan menuju kamar Hadi yang Mbak tunjukan.
Setibanya didepan pintu kamar Hadi, dia berdiri terpaku. Hingga akhirnya mengetuk daun pintu berkali-kali.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Permisi Om? aku mau membersih kan kamar, eh itu.Iya itu, Om?" namun setelah menunggu beberapa saat pun tidak ada sahutan sedikitpun dari dalam.
"Ck, belum bangun kali ya? jam lima nih ..." gumamnya Alisa lalu memegang handle pintu lantas ia coba untuk mendorongnya. Ternya tidak di kunci juga. "Lho, kok gak di kunci cih? gimana kalau ada orang jahat masuk."
Alisa menatap daun pintu yang tidak dikunci itu, lalu ia buka setengahnya lantas masuk ke dalam dan keberadaan masih suasana remang-remang.
Kemudian Alisa menggantikan lampu yang temaram tersebut dengan yang normal. Sehingga terlihat Hadi masih bergelut dengan selimut dan masih tampak nyenyak sekali tidurnya.
Di meja tampak berantakan dengan botol dan gelas air minum, laptop dan ponsel dan banyak lagi yang lainnya sehingga tampak tidak enak di pandang mata. Membuat kepala Alisa menggeleng ....
.
__ADS_1
Ayo mana dukungan nya nih, aku ingatkan lagi ya? jangan lupa subscribe agar mendapat notif nya, like komen dan lainnya.
Makasih.