
Alisa menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia mengingat semua kata-kata ibunya yang justru menuduh dirinya sendiri yang tidak-tidak. Dia yang menjadi korban malah di sendiri yang menjadi tersangka.
"Tega sekali pak Anwar itu. Dia menyimpan fakta yang sesungguhnya. Aku tidak melakukan apapun, aku juga jadi benci sama dia!" gumamnya Alisa sambil menangis tersedu yang terdengar begitu memilukan.
Pria itu menatap iba ke arah Alisa yang sedang menangis terisak-isak. Tangannya hampir mengulang untuk menyentuh kepalanya Alisa, namun dia urungkan niatnya tersebut.
Yang bisa dia lakukan hanya menatap ke arah gadis itu. Di bawah sinar lampu penerangan jalan. Dia adalah Hadi, yang sengaja menyusul Alisa, dia baru saja bertemu dengan dokter ahli dan dia datang ke rumah untuk menyembuhkan sang istri agar segera sembuh.
Karena Hadi kepikiran Alisa, sehingga setelah dokter pun pulang. Hadi buru-buru untuk menjemput tunangannya itu, namun belum juga dia ke rumahnya sudah melihat bayangan Alisa terduduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari pinggir jalan.
“Kenapa lagi?” suara bariton itu mengagetkan Alisa yang sedang menangis sedih.
Alisa membuka telapak tangannya lalu menoleh ke samping. Di mana Hadi tengah duduk yang tidak jauh dari dirinya menatap keheranan.
"Om!"
Dengan sontak memeluk Hadi dan menyembunyikan wajahnya di dada pria yang dia panggil om tersebut.
Alisa memeluk Hadi sambil menangis terisak, merasakan hatinya yang terasa sakit. Pedih dan perih.
"Dasar gadis zaman sekarang, peluk orang tidak melihat tempat!" gumamnya Hadi. Niatnya sih biarpun benar tapi dengan nada bercanda.
Mendengar kalimat yang Hadi ucapkan. Refleks alisa melepas rangkulannya dan menjauh dari tubuh Hadi sambil mengusap wajahnya.
"Kita masuk mobil saja, malu kalau di lihat orang. Seorang gadis menangis di pinggir jalan. Mungkinkah dia tidak punya rumah?" ucap Hadi sambil melihat kanan dan kiri.
Alisa hanya mengikuti langkah Hadi yang menuntunnya. Tanpa berucap apapun selain isak kan yang keluar dari mulutnya.
Mobil Hadi melaju dengan begitu cepat ke suatu tempat yang mungkin akan menenangkan hati Alisa saat ini, yang sedang mengalami konflik batin.
Sepanjang perjalanan. Tiada yang mengeluarkan suaranya, Hadi sengaja membiarkan Alisa menangis sampai puas.
Hanya sesekali kepala Hadi menoleh ke arah Alisa yang menyeka air matanya yang tak berhenti menetes, sebentar berhenti, kemudian menetes kembali karena kata-kata sang bunda yang terus terngiang di telinga.
__ADS_1
Saking larutnya dalam kesedihan, membuat Alisa tidak menyadari kalau Hadi membawa dia ke suatu tempat dan berhenti di sana.
Hadi berhenti menyetir dan menempelkan punggungnya ke jok belakang. Lalu menoleh kembali ke arah Alisa yang kini sudah berhenti menangis. Merasakan hembusan angin yang menyapa kulit begitu sejuknya.
Setelah menyadari, kalau mobil Hadi yang dia tumpangi tersebut berhenti. Alisa berpaling pada Hadi yang kebetulan tengah menatap ke arah dirinya. "Em ... dimana ini, Om?" tanya Alisa dengan suara yang serak-serak basah.
"Sudah puas kah? Sudah cukup sedih nya?" Hadi bukannya menjawab melainkan balik bertanya.
Alisa kembali mengeringkan wajahnya dengan tisu dan tisu pun sudah menumpuk bekas dia mengusap air mata yang terus mengalir itu." Sudah, dimana ini, Om? kok sepi?"
"Ini adalah tempat bila saya ingin menenangkan diri dan saya lagi gila dan malas mengadu pada yang maha kuasa, nah ... di sini saya menyendiri dan merenungkan semuanya," jawab Hadi sambil menunjuk ke depan yang terdapat sebuah danau kecil, dikelilingi pohon pinus yang belum terlalu tinggi-tinggi itu.
Kedua manik mata Alisa mengarah ke depan, sebuah danau dengan airnya yang tenang dan berkilauan bak mutiara dari serpihan cahaya lampu. Lalu Alisa keluar dan mendekati danau tersebut, duduk di sana dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari air yang tenang berada di hadapannya.
Hadi menutup pintu mobilnya, sehingga terdengar bugh. Hadi berjalan ke arah Alisa yang terduduk dengan kedua kaki selonjoran. Menatap lepas ke depan sambil memegangi air mineral.
"Sudah boleh ku tanya?"Hadi melirik ke arah Alisa sebentar.
"Sudah," Alisa pun menoleh sewaktu-waktu. Lalu melepaskan kembali pandangannya ke depan, menyisir tepi danau yang terdapat bermacam-macam bunga nan warna-warni.
Alisa menoleh dengan tatapan nanar. "Tadi, aku ... menjadi percobaan lagi kebejatan pak Anwar. Hik-hik," kepala Alisa mendekat ke bahu Hadi dan menempelkan keningnya di sana.
"Apa?" suara Hadi sedikit tinggi dan dia terkesiap mendengarnya, tangan yang sedang menggenggam botol air, seketika airnya muncrat dan botolnya penyet tak berbentuk, dia marah kepada Anwar yang sudah dua kali ini mencoba sesuatu yang tidak senonoh pada tunangannya itu.
"Kau tidak apa-apa kan, ha?" Hadi menyangga dagu Alisa di tatapnya dengan lekat.
Alisa yang banjir dengan air mata. Menggeleng pelan." Yang aku bikin makin sedih dan nggak menyangka adalah ... pria itu balikan pakta, kalau aku lah yang menggoda nya. Padahal demi Tuhan aku tidak melakukan itu," ucap Alisa sambil terisak.
Tangan Hadi semakin mengepalkan tangannya serta rahangnya pun mengerat, keras!mata melotot ke arah lain, marah yang tak bisa dia luapkan..
"Saat aku datang, aku mendapatkan dia bersama seorang wanita muda dengan pakaian seksi dari kamar ibu. Setelah wanita itu pergi. Pria itu berulah lagi padaku. Ketika aku menendang dia, ibu datang dan ibu malah percaya kalau aku lah yang merayu suami. Dan ini bukan kali pertama, katanya itu yang membuat aku pergi dari rumah," Alisa menceritakan kejadian yang menimpanya.
"Ibu marah pada ku dan katanya bila nanti aku menikah pun, entah mau datang atau tidak. Ibu menuduh ku ingin menghancurkan rumah tangganya, hik-hik-hik." Alisa kini menyembunyikan wajahnya di dada Hadi.
__ADS_1
Kemudian Alisa menceritakan dari mula sampai akhir tanpa ada yang ketinggalan.
“Astagfirullah … Astagfirullah,” gumamnya Hadi berkali-kali menahan marah. Tangannya mengusap punggung Alisa dan menyarankan menenangkan.
"Aku pasrah, Om mau percaya aku atau tidak, yang jelas aku sudah menceritakan yang sesungguhnya. Aku bicara ayang sesungguh nya dan tidak di buat-buat," ucap Alisa sambil menggerakkan kepalanya menjauh dari dadanya Hadi.
Tangan Hadi yang hendak membelai rambut Alisa, buru-buru menarik tangannya dan menyembunyikan dari Alisa.
"Apa kau punya sedikit bukti yang bisa kita laporkan pada polisi?" tanya Hadi pada Alisa dan menatap dengan tatapan sangat tajam.
Alisa menunduk dalam, lalu menggeleng pelan karena memang dia tidak punya bukti apa pun. "Emangnya aku harus bikin video untuk dijadikan bukti? emangnya sesuatu kejadian yang aku rencanakan, sehingga aku menyiapkan bukti. Om, apa mungkin aku menggigit telapak tangan pria itu? kalau aku sendiri yang menggodanya?" kini Alisa yang menatap sendu ke arah Hadi.
Hadi mengerutkan keningnya dan menggeleng. "Secara logika sih ... tidak mungkin, kalau kamu yang merayu, tidak mungkin berbuat seperti itu."
Alisa yang saat ini merasakan panas di pergelangan tangannya, mengangkat kedua tangannya dan melihatnya. Perlahan secara bergantian menaikan lengan bajunya yang ternyata ada bekas cengkraman, memerah di keduanya.
Kedua netra Hadi ikut melihat kedua tangan Alisa yang memerah tersebut yang jelas-jelas bekas cengkraman tangan laki-laki. "Kenapa begitu?" dengan cepat Hadi bertanya.
Alisa menoleh sesaat, lalu memperlihatkan tangannya yang lebih dekat dengan Hadi. "Ini ... bekas cengkraman tangan lelaki itu."
Hadi dengan cepat mengeluarkan handphone nya lalu menaikan lagi tangan Alisa keduanya dan ckrek, dia mengambil foto lengan yang merah dan sedikit memar tersebut. Kemudian Hadi berdiri dan menarik lengan Alisa bagian atas. "Kita harus lapor polisi sekarang, untuk membuat visum. kita harus ke kepolisian terlebih dahulu."
"Om, aku tidak mau ke polisi, Om ... nanti ibu tambah marah dan menganggap aku ingin menghancurkan rumah tangganya membuat aib di keluarga. Aku gak mau ..." ucap Alisa sambil menggeleng.
"Tapi ini sudah keterlaluan dan ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. "Hadi ngotot ingin melaporkan Anwar kepada polisi.
"Maaf, Om ... aku tidak mau dan tolong dengarkan aku?" Alisa menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Terus saya harus menunggu kamu diperlakukan seperti itu lagi, iya? atau mungkin sampai kesucian mu dia renggut, begitu?" Hadi menatap Alisa dengan tatapan tajam.
Alisa terus memohon agar Hadi tidak kepolisian. "Aku janji, tidak akan pergi sendiri lagi!"
Hadi memalingkan mukanya ke lain arah. Tidak faham dengan pemikiran Alisa ....
__ADS_1
.
...Bersambung!...