Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Tidak perduli


__ADS_3

Kini Hadi mencicipi makannya dan dia mengangguk, kalau sarapan yang Alisa buat pagi ini lumayan enak dan lebih enak dari biasanya.


"Gimana Abang, enak?" tanya Diana sambil menatap sang suami yang begitu menikmati nasi goreng buatan Alisa.


"Em ... enak dan cocok juga dengan lidah ku, kamu berguru sama siapa? apa sama sayang dia belajar masak ini?" Hadi melihat ke arah Alisa dan Diana secara bergantian.


Alisa yang awalnya udah deg-degan takut gak enak, akhirnya lega juga setelah om Hadi bilang enak.


"Em ... aku minta tolong sama mbak untuk di kasih tahu bahan dan bumbunya. Aku kan gak tau kesukaan om apa dan sarapan apa? Alhamdulillah ..." Alisa tersenyum senang.


Begitupun dengan Diana yang tersenyum puas, Alisa bisa berbuat tanpa harus bertanya banyak. Untuk pagi ini Alisa bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik, soal kamar, kata Hadi. Beres, pakaian cocok dan rapi.


Kemudian, Hadi menyuapi sang istri." Coba deh sayang cicipi apa pas di lidah sayang?"


“Em ... enak sekali, mungkinkah Lisa membuatnya dengan cinta ya?” Diana mengarahkan pandangannya kepada Alisa.


“Ada apa sih … udah ramai pagi-pagi, ada konser apa?” Dania melirik sinis pada Alisa yang menuruti cuek.


“Kau terlihat cantik sekali dengan mengenakan kerudung itu Dania.” puji sang kakak sambil menatap ke arah Dania.


"Makasih mbak? kan memang dasarnya aku cantik Mbak ... Alhamdulillah," akunya Dania dengan nada sok nya.


"Ehem, Alisa. Ayo sarapan? sebentar lagi kita berangkat bekerja," Hadi menoleh pada Alisa yang berdiri mematung.


"Oh iya. Aku sarapan dulu!?" Alisa mendudukan dirinya di hadapan Hadi.


"Liana mana Mbak? gak sarapan dan si bungsu juga mana? kan mau sekolah." Tanya Hadi kepada mbak yang tidak jauh berada di sana.


"Em ... biar aku yang mengejar mereka!" Alisa pergi dan berniat menemui mereka, Liana dan Dirga.


Namun Diana mencegah dengan alasan biar mbak yang menyusul mereka dan tugas Alisa hanya fokus saja ke om Hadi yang sekiranya membutuhkan sesuatu seperti minum dan cuci mulut buah.


Dania yang sedari tadi di meja makan, bukannya makan malah bengong melihat ke tiga orang tersebut. “Hem, berbahagialah, kalian sekarang. Sebab suatu hari nanti Alisa akan menjadi duri dalam daging di antara kalian berdua.” Batinnya Dania sambil menatap tidak suka ke arah Alisa yang malah tidak perduli.


"Hi ... pagi? kalian sudah sarapan pagi ini?" sapa Liana dengan raut wajah yang segar.


"Mau makan? Liana, aku ambilkan ya?" Alisa beranjak dan hendak mengambil piring buat Liana.

__ADS_1


" Oh, idak usah, Nyonya Alisa ... biar aku ambil sendiri saja ya? kau cukup melayani Papa ku dan aku sudah besar bisa ambil sendiri oke?" tolak Liana.


"Apaan sih kamu ini Lian?" kata Alisa dengan senyum simpul di bibirnya.


"Oya sayang, aku pergi dulu ya?" Hadi berpamitan pada sang istri untuk pergi ngantor.


Kemudian Alisa mengambilkan tas kerja milik Hadi yang masih di dalam kamarnya itu.


"Em hati-hati ya Abang ... jangan ngebut kalau bawa mobil. Semoga lancar juga setiap urusannya dan dilimpahkan rejekinya ... Aamiin ya Allah ... bimbing juga tunangannya," pesan Diana dengan diiringi doa juga.


"Aamiin ... makasih sayang atas doa nya dan sayang juga jangan lupa makan teratur, minum obat juga, biar cepat sembuh," Hadi memeluk kepala sang istri dan kembali mendaratkan kecupan di keningnya.


"Pak guru, harus sabar ya mengajar tunangannya, tapi aku yakin kalau dia itu mudah faham dan pintar juga," ucap Diana pada sang suami.


"Iya, sayang ... ya sudah aku pergi dulu." Kata Hadi ketika melihat Alisa kembali dengan membawa tas kerjanya.


"Oke." Diana mengangguk pelan.


"Lian ... aku pergi dulu ya?" Alisa menoleh pada Liana yan memasang wajah yang penuh kebahagiaan.


"Al, kalau bokap gue galak? bilang aja sama mama, nanti dia yang marahin?" Liana bercanda.


"Tante, aku pergi dulu ya?" Alisa mencium punggung tangan Diana penuh hormat.


"Abang, titip madu ya? jangan galak-galak. Nanti dia kabur, berabe." Diana menoleh pada suaminya yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Assalamu'alaikum, sayang ... aku pergi dulu." Lagi-lagi Hadi mencium pucuk kepala Diana dengan sangat mesra.


"Wa'alaikumus salam ..." jawabnya Diana dan Liana berbarengan.


"Ya sudah, aku pergi dulu ya?" Alisa membawa tas milik Hadi lalu buru-buru berjalan untuk menyusul Hadi yang lebih dulu berjalan keluar melintasi pintu utama.


Diana menghela nafas dalam-dalam sambil melihat kepergian Hadi dan Alisa, sampai hilang dari pandangan. Kemudian menoleh pada mbak. "Mbak, antar saya ke kamar ya?"


Mbak mengangguk dan langsung mendorong kursi Diana menuju kamarnya yang berad adi lantai atas.


"Mama sudah sarapan?" selidik Liana sambil menatap ke arah sang bunda.

__ADS_1


"Sudah sayang. Adik mu suruh sarapan? kan mau sekolah." Pesan Diana sambil terus merayap mendekati pintu lift yang sudah mbak buka.


Kini di meja makan hanya ada Dania dan Liana yang masing-masing menikmati makannya. Keduanya memilih untuk sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Kemudian, dania terperanjat lalu meninggalkan makannya begitu saja.


"Tan,Tante? makanan mu kenapa gak di habiskan sih? dasar gak pakai modal, jadi gak merasa sayang bila mubazir, orang dia gak pernah beli. Jadinya bodo amat." Pekiknya Liana yang akhirnya bergumam sendiri.


DI sepanjang perjalanan, Hadi maupun Lisa tidak satupun mengeluarkan suaranya, mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hadi tampak fokus menyetir dan menatap jalanan yang berada di depan.


Setibanya di depan Kantor nya Hadi, mobil merayap ke parkiran yang di persiapkan khusus untuk CEO. Alisa yang mengambil dulu tas kerja Hadi dan pas mau mendorong pintu. Sudah Hadi buka dan menyilakan dia untuk keluar.


Alisa menjadi malu karena sekilas bagai menunggu untuk dibukakan oleh Hadi, padahal tidak.


"Sini Tas saya?" Hadi meminta tas nya dan akan membawanya sendiri.


Yang langsung Alisa berikan, lalu dia berjalan mengikuti setiap langkah nya Hadi. Hadi sesekali mengangguk kepada karyawan mengangguk hormat padanya.


"Em ... Om, apakah aku mau di beri pekerjakan apa dan dimana sih? kan aku tidak bisa apa-apa.Belum punya pengalaman." Tanya Alisa kepada Hadi yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.


Hadi tidak menjawab melainkan hanya terdiam sambil berjalan menuju ruangannya.


"Ih ... kok ga jawab sih? aku kan bicara sama Om saja, emangnya aku harus bicara pada siapa? orang aku belum kenal siapa-siapa di sini." Gerutunya Alisa sambil terus berjalan.


Mendengar Alisa terus mengoceh, hadi yang sudah sampai di depan pintu ruangannya tersebut. Dia hentikan langkahnya lantas berdiri di sana,


Dugh! Alisa menabrak punggung Hadi yang lebar dan keras tersebut.


"Auw, bilang-bilang dulu napa? kalau mau berhenti. Panas nih ... mana punggung nya keras lagi, bagai tembok. Tidak ada empuk-empuk nya." Alisa bergumam sembari mengusap keningnya yang terasa panas itu.


Hadi berbalik dan menatap ke arah Alisa yang terus mengusap keningnya. "Kamu itu memang ceroboh seharusnya kau itu tidak perlu menabrak ku! masih mending menabrak tubuhku, kalau nabrak tembok beneran gimana coba? bukan cuma manas tapi sakit dan bahkan luka."


"Iya gak lihat he he he ... lagian aku kan menunduk jalannya." Akunya Alisa sambil nyengir.


"Lain kali tidak perlu terlalu menunduk juga, angkat kepalamu dan lihat sekitar," ucap Hadi dan lalu membuka pintu ruangan kerjanya yang terdiri ada satu setel sofa buat tamu, meja utama dan kursi CEO nya dan ada satu meja lagi entah buat siapa?


Sambil berjalan, Alisa celingukan sambil membawa langkahnya memasuki ruangan CEO tersebut ....

__ADS_1


.


Makasih ya🙏 masih Sudi menantikan karya ku selanjutnya.


__ADS_2