Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Membalikan fakta


__ADS_3

"Lep--" Alisa berpikir keras gimana caranya bisa lepas dari kungkungan pak Anwar yang kini posisinya berada di atas tubuhnya itu.


"Ha ha ha ... kau tidak bisa berontak lagi, apalagi kabur! kini kau habis di tangan ku Alisa ... ha ha ha ..." pak Anwar tertawa puas dan tatapan penuh nafsu.


"Ya Allah ... bantu aku untuk bisa lepas dari pria ini?" batin Alisa sambil mencoba mengangkat kedua kakinya. Membuat ancang-ancang.


Untungnya pak Anwar masih belum melancarkan aksinya yang lebih. Dia masih tertawa dan menatap lapar ke arah Alisa yang tampak ketakutan.


Rek! telapak tangan pak Anwar Alisa gigit sekuatnya. Dan kedua dengkulnya menjungkal perut pak Anwar sehingga tubuhnya terjungkal ke belakang sembari telapak tangannya kesakitan.


Blak!


"Bapak? Alisa?" suara Bu Juli seiring dengan pintu yang terbuka.


Alisa sendiri sudah berdiri berniat mendekati pintu. "Ibu!" Alisa tersenyum getir lalu mendekat dan ingin memeluk sang ibunda.


Namun apa yang terjadi? Bu Juli menghindar dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Ibu?" suara Alisa bergetar melihat sikap ibunya yang pasti berpikir yang macam-macam tentang dirinya dan suaminya, pak Anwar.


Bu Juli memandangi Alisa dan suaminya yang hanya mengenakan sarung tanpa baju. Alisa yang tampak kusut berada di dekat tempat tidur yang di bawahnya terdapat ****** ***** milik sang suami.


Betapa hancurnya perasaan Bu Juli saat ini. Melihat pemandangan yang tidak mengenakan tersebut. Pasti sesuatu sudah terjadi antara putri dan bapak sambung nya itu.


Tangisnya sudah mendekati tenggorokan dan ingin rasanya menumpahkan saat ini juga.


"Bu, lihat? putri kesayangan mu itu membuat ulah lagi, bapak sedang tidur di godanya lagi," pak Anwar menunjuk pada Alisa yang mulai kebingungan.


"Apa, lagi?" pekik Alisa sambil mengerutkan keningnya.


"Dia menggoda ku lagi, lihat! sampai-sampai aku bertelanjang begini! ini ulah dia yang menelanjangi ku, Bu?" Lagi-lagi Anwar membalikan pakta. Padahal dia tidak memakai baju itu karena sudah berbuat sesuatu dengan seorang wanita sebelumnya.


Bu Juli mematung dengan tatapan yang berkaca-kaca melihat keduanya.

__ADS_1


"Bohong, Bu. Dia tadi sedang berduaan di kamar dengan seorang wanita yang entah siapa itu? aku gak tahu." Alisa menggelengkan kepalanya dengan kasar dan mengatakan yang sebenarnya.


"Dia yang bohong. Bu, ini bukan yang pertama kalinya dia menggoda ku, kan kamu sudah tahu kenapa dia pindah ke rumah calon suaminya itu? karena malu kalau dia sering menggoda ku!" pak Anwar terus membalikan pakta. Kalau Alisa lah yang bersalah.


"Itu, tidak benar, Bu. Yang dikatakan oleh pria ini fitnah dan yang benar itu dia yang berusaha menggagahi ku, Bu. Kurang ajar padaku, Bu. Percayalah padaku." Alisa memegang tangan sang ibu tetapi di tepisnya.


Lagi-lagi Alisa dibuat tercengang. dan menatap tangannya yang barusan ibunya tepis. Hatinya sakit dan hancur berkeping keadaan ini jauh dari ekspetasi.


"Buat apa saya, kurang ajar padanya. Saya punya istri dan layanan dari mu cukup memuaskan buat saya! jadi buat apa saya berbuat yang tidak senonoh pada putri mu?" Anwar terus membela diri.


"Bu, hati-hati dengan pria ini, Bu. Dia berhati busuk dan tidak pantas kau percayai. Tadi aku melihat dia keluar dari kamar ini dengan seorang wanita yang tidak aku kenal, Bu. Mungkin itu bukan kali pertama dia berbuat seperti itu, Ibu harus percaya padaku! kalau dia--"


"Cukup! keluar? jangan tunjukan dirimu pada ibu lagi, ibu tidak menyangka kalau kamu setega itu sama ibumu ini!" suara Bu Juli bergetar.


"Ma-maksud Ibu apa?" Alisa semakin heran.


Pak Anwar mulai menarik Dua sisi bibirnya ke samping. "Perang ibu dan anak akan dimulai." Batinnya.


"Ibu tidak menyangka kalau kamu tega berbuat yang tidak-tidak, menggoda pria yang tiada lain adalah suami ibu sendiri. Ibu ingin dari kemarin-kemarin mengatakan ini padamu, tapi ibu tahan. Demi kerukunan kamu dengan keluarga Hadi, kau sadar kan? kalau pria ini suami Ibu? kanapa kau menggodanya juga?" teriak Bu Juli.


"I-ibu bicara apa?" Alisa kebingungan.


"Tidak perlu kau membantah ataupun mengelak, kau sudah menggoda suami ku. Atau jangan-jangan kau juga yang menggoda Hadi! sehingga istrinya melamar mu untuk menjadikan mu istri! iya kan?" Bu Juli kembali berteriak yang kali ini di arahkan ke telinganya Alisa, sehingga gadis itu memejamkan kedua matanya.


Lalu Alisa menggeleng kasar dengan tatapan yang nanar kepada ibunya tersebut. "Ibu jangan memojokkan ku begitu, Bu. Demi Allah aku tidak-tidak melakukan itu sama sekali. Dia sudah membalikan pakta, Bu ... dia jahat. Dia yang berusaha memaksa ku, aku datang untuk menengok Ibu. Aku kangen sama ibu."


"Tidak usah melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Kau tidak ingin Ibu bahagia, kan? kau menggoda suami ku, apa tidak sayang dengan harga dirimu ha?" Bu Juli menangis. Dia tetap tidak percaya dengan omongan Alisa, karena otaknya sudah diracuni suaminya yang bernama Anwar tersebut.


"Ibu ... aku tidak pernah melakukan hal tercela itu, tidak. Ibu harus percaya aku ketimbang dia. Aku ingin Ibu bahagia makanya aku di ajak pergi sebelum waktunya oleh om Hadi. Aku juga tidak pernah menggoda dia Bu. Tidak pernah. Hik-hik-hik. Hik." Luas terus berusaha membela diri.


"Sekarang kau pergi, dan jangan perlihatkan dirimu lagi. Ibu malu sama suami Ibu. Ibu malu sama tetangga yang mengetahui ini semua." Tubuh Bu Juli melemas terduduk di lantai sambil mengisi tersedu.


Alisa mendekat. "Bu!"

__ADS_1


"Pergi? di hari pernikahan mu pun Ibu gak janji untuk datang! Pergi ... Ibu tidak ingin melihat mu lagi." Bu Juli menunjuk arah pintu dengan muka yang berpaling tidak ingin melihat putrinya lagi.


"Ya Allah, Bu ... benci banget kah Ibu sama aku? atas sesuatu yang tidak pernah aku lakukan sama sekali! aku tidak-tidak seperti yang Ibu tuduhkan." Alisa pun menangis pilu dan bersimpuh di kaki sang ibu.


"Saya bilang pergi dari sini? atau Ibu yang pergi dari sini?" sang ibu kini lebih tegas dan Lagi-lagi menunjuk ke arah pintu.


"Nggak-nggak. Aku saja yang pergi!" dada Alisa terasa sesak.


Sementara sedari tadi. Pak Anwar terdiam dan mengulum senyumnya. Mendengar perdebatan ibu dan anak itu.


"Bu, maafkan aku? tapi aku tidak melakukan apa pun! suami Ibu yang membalikan pakta, dia sudah meracuni pikiran dan hati Ibu." Suara Alisa yang serak.


"Saya bilang pergi, pergi gak?" kini kepala Bu Juli menoleh dan menatap tajam ke arah Alisa.


Lalu Alisa berdiri sambil menatap nanar ke arah ibunya yang memalingkan muka. "Aku pergi dulu, Bu! tolong jangan benci aku. Bu!"


Bu Juli tidak menjawab, dia tetap memalingkan muka ke lain arah. Dengan derai air mata yang terus mengalir di pipi. Hatinya hancur sehancur-hancurnya.


Alisa terus menatap ke arah sang Ibu. Dengan langkah menyamping mendekati pintu. "Assalamu'alaikum ..."


Susana hening, yang terdengar hanya isakan tangis Bu Juli saja mengiringi langkah Alisa yang membawa perasaan yang campur aduk. Kini ibunya membenci dia kerena ulah pak Anwar yang membolak-balik kan fakta. Membuat Alisa membenci pak Anwar.


Ketika melintasi pintu. Alisa menoleh pada pak Anwar yang malah tersenyum sinis pada dirinya. "Aku tidak akan memaafkan mu!" batinnya Alisa. Lalu dia bergegas membawa langkah nya meninggalkan rumah peninggalan sang ayah almarhum.


Dengan langkah yang gontai, Alisa menjauh dan menuju jalan raya! sambil mengusap pipinya yang banjir dengan air mata.


Dia tidak mengira kalau kedatangannya ke rumah, justru menciptakan sebuah masalah besar. Secara tidak sadar Alisa duduk di kursi pinggir jalan sambil melamun dan air mata pun terus mengalir dari sudut mata membasahi pipi terus menerus.


Alisa bengong. Tatapan nya pun kosong melihat ke depan tapi tidak banyaknya mobil lewat pun tidak nampak di pelupuk mata.


Sampai-sampai ada yang datang pun menghampiri, Alisa tidak menyadari sama sekali ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


__ADS_2