Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Shock


__ADS_3

Setibanya di mention, Alisa sangat heran melihat di rumah itu begitu ramai bahkan di belakang pun banyak laki-laki yang sepertinya sedang menggali tanah.


"Ya Allah ... ada apa ini? aku nggak salah alamat kan, Pak supir. Kita salah alamat nggak?" tanya Alisa pada sopir yang langsung menoleh ke belakang.


"Tidak, Bu ... ini alamat yang Ibu berikan sama saya dan juga yang orang tadi bilang. Emang ini alamatnya, Bu. Terus! emangnya kita salah alamat ya Bu?" si supir taksi malah balik bertanya, apalagi dia yang tidak mengerti apa-apa.


"Justru itu, Pak. Aku bingung! ini tempat tinggal ku atau bukan!" Alisa bengong menjadi kebingungan, di tambah lagi suasana malam begini.


"Ibu gimana sih? Ibu, kan yang tinggal di sini. Masa nggak hafal tempat tinggalnya gimana dan dimana, saya justru memang baru datang ke sini nganterin Ibu, Ibu sendiri kan yang tinggal di sini masa kita kesasar, Bu!" timpalnya pak supir taksi sambil melepas pandangannya ke arah rumah mewah tersebut.


Alisa menggaruk tengkuknya. "Iya juga sih, aku yang tinggal di sini tapi kok aku jadi kebingungan sendiri? masalahnya Pak ... aku baru datang dari Surabaya selama berapa hari di sana, dan aku rasa gak ada apa-apa di rumah!" sombongnya Alisa sambil mendorong pintu, lalu turun! tidak lupa meraih tasnya.


Sementara kopernya sama sopir taksi yang mengeluarkan dari bagasi, lanjut Alisa pun memberikan bayarannya. "Ini pembayarannya. Makasih ya? sudah mengantarku!"


"Sama-sama, Bu ... tapi apa ini nggak kelebihan nih uangnya?" kata si sopir sambil memandangi uang yang lebih tersebut.


"Nggak apa-apa, Pak! ambil saja." Lanjutnya Alisa sambil berjalan ke arah teras lantas pintu rumah tersebut yang terbuka dan memang di sekitar sana belum terpasang bendera kuning sebagai tanda ada yang meninggal.


Sebelum si sopir masuk lagi ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, dia kembali bertanya. "Ibu yakin gak tempat tinggal Ibu di sini? jangan sampai Ibu kesasar dan saya dibilang tidak bertanggung jawab."


Alisa Lagi-lagi garuk-garuk pada tempat yang tidak gatal. "Sepertinya sih di sini, Pak! ya udah nggak apa-apa, Pak makasih ya sekali lagi?" Alisa mengangguk dengan ramah sambil memegangi kopernya.


Kemudian sopir taksi pun meneruskan niatnya itu, menyalakan kembali mobil taksi tersebut. Lalu meninggalkan tempat di mana Alisa masih berdiri kebingungan.

__ADS_1


Dengan langkah gontai dan lunglai, Alisa berjalan mendekati pintu utama dan di dalam terdapat banyak ibu-ibu termasuk orang-orang rumah seperti asisten, sedang berkumpul dan terdengar pengajian. Pembacaan ayat-ayat suci begitu menggema suaranya di ruangan tersebut.


Alisa semakin dibuat heran! ada apa ini, dan siapa yang meninggal? kedua menik matanya yang indah terus menyisir setiap ruang yang tidak dia dapatkan apa-apa, selain orang-orang yang sedang mengaji.


Lalu kemudian terlihat seorang ibu sepuh berdiri diantara keramaian itu, dan menghampiri ke arah Alisa yang mematung di depan pintu setelah mengucap salam. Ibu itu memeluk Alisa dengan erat sambil menangis.


"Apakah Lisa sudah tahu kabar Diana gimana? Diana sudah tiada dia meninggalkan kita semua!" suara itu sangat membuat Alisa tersentak tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"I-Ibu, Ibu bicara apa dan siapa yang bilang? ka-kalau ta-tante Diana sudah me-meninggal?" suara Alisa begitu terbata-bata dan kepalanya terus menggeleng menatap ke arah Ibu tersebut, yaitu tiada lain adalah mertuanya sendiri.


Sang ibu mertua mengangguk membenarkan, meyakinkan kalau yang dikatakan itu adalah benar! kabar itu memang benar adanya. Sehingga menyuruh menyiapkan pemakaman dan segala macamnya di sini.


Tas yang di soren oleh Alisa pun terjatuh tanpa sadar, wanita muda itu terbengong-bengong setengah tidak percaya lalu mengedarkan pandangannya ke arah orang-orang yang sedang mengaji lalu dia kembali melihat ke arah sang ibu mertua dengan pandangan yang nanar.


"Tadi asistennya yang memberi kabar. Sebab Ibu masih ragu ... Ibu langsung tanyakan kabar ini pada Hadi sendiri dan dia bilang iya, dan Hadi hanya mengatakan iya saja. Lantas teleponnya ditutup, asistennya yang menyuruh menyiapkan ini semua. Karena perkiraan pagi-pagi sekali pesawatnya akan mendarat!" ucap ibu mertua dengan suara yang bergetar.


Lutut Alisa terasa lemas, merasa tubuhnya tidak ada tenaga sama sekali. Yang menjadikan dia luruh ke lantai dan air mata pun tidak dapat dibendung lagi, berjatuhan membasahi pipi. Hatinya semakin hancur mengingat surat kontrak tersebut dengan Hadi yang tertulis di sana!


Bila Diana sehat atau meninggal pernikahan Alisa dan Hadi pun akan berakhir. Tapi itupun bila Alisa menginginkan perceraian itu karena yang sesungguhnya Hadi pun tidak mengharapkan pernikahan ini.


Bagi Alisa, Hadi adalah seorang suami yang sangat mencintai istrinya yaitu Diana dan Alisa merasa kalau dia itu tidak berarti apa-apa buat Hadi, selain menjadi selir cintanya dan mengisi kekosongan di saat-saat kemarin, mungkin semuanya akan segera berakhir tak ada lagi Alisa dan Hadi.


Dan semua akan menjadi sebuah kenangan, Hadi dan Alisa akan menjadi orang yang bukan siapa-siapa lagi. Menjadi seperti semula lagi tak ada ikatan ataupun perhatian dan juga sentuhan.

__ADS_1


Tangisan Alisa tidak bersuara, yang ada hanya wajah yang dibanjiri air mata. Kemudian sang ibu mertua membantunya untuk berdiri.


"Alisa jangan terlalu larut dalam kesedihan, Nak ... mendingan Lisa bersih-bersih mengambil air wudhu dan gabung bersama dengan yang lain, mengaji untuk mendoakan yang meninggal maupun perjalanan mereka menuju kemari, semoga diselamatkan sampai tujuan!" lirih sang ibu mertua seraya menguatkan.


Alisa tidak bergeming. Dia tertunduk dengan deraian air mata membanjiri pipi.


"Kita harus sabar tabah dan kuat! karena jodoh rezeki dan maut sudah ditentukan dari sebelum Kita terlahir ke dunia ini!" tambah ibu mertua nya lagi.


Kemudian, Alisa pun mengangguk sembari terus menyeka air matanya dengan tisu yang sang ibu mertua berikan. Lanjut Alisa berjalan dengan gontai mendekati pintu lift, sementara barang-barangnya dibawakan oleh seorang asisten.


"Ayo Nona, hati-hati." Kata asisten yang menemani Alisa ke kamarnya sambil membawakan tas dan koper, namun sebelum masuk kamar Dania menghampiri dan langsung menghakimi Alisa.


"Dasar kau ya puas kau sekarang!ketika kakakku sudah meninggal kau sudah puas kan? kau sudah mengambil suaminya dari kakakku! dasar kau wanita gatal enak-enakan dinikahi Abang Hadi dan kau tidak berpikir gimana perasaan kakakku! sehingga dia drop bahkan meninggal Duni, puas kau sekarang ha? puas?" sergah Dania sembari mendorong dada bagian kanan Alisa hingga mundur ke belakang.


Alisa tidak menjawab sepatah kata pun, dia hanya mengusap pipinya yang basah yang terus dialiri dengan air mata.


"Kenapa kau diam? kenapa kau tidak menjawab? sekarang kau puas bukan! puas karena sekarang madu mu sudah meninggal dan nggak ada lagi saingan buatmu untuk mengambil semuanya! suaminya maupun hartanya, dasar picik kau! wanita gatal nggak punya perasaan!"


Kini tangan Dania bukan hanya mendorong, tetapi menjamak rambut Alisa yang kesakitan, juga hendak menampar pipinya Alisa, hanya ... Keburu tangan Dania ditangkap oleh seorang security dan asisten lain.


Sehingga Dania di bawa jauh dari Alisa yang langsung diamankan ke dalam kamar oleh asisten yang tadi bersamanya ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Tiada kata yang lebih indah selain kata Assalamu'alaikum .... semoga di hari ini kabar kalian baik dan bahagia.


__ADS_2