Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Cuma 100 juta


__ADS_3

Kini Alisa sedang berada di dekat wastafel dan Liana pun mengikutinya. "Lisa ngapain sih lu ngomong kayak gitu sama ibu mertua gue? gue jadi malu!"


Alisa menolehkan kepalanya ke arah Liana yang bicara seolah berbisik. "Ngomong apa? aku gak ngomong apa-apa!"


"Nggak ngomong apa-apa gimana? tadi ketika makan kamu itu ngomong seolah-olah merendahkan orang lain gitu, bagaimanapun dia itu tamu." Tambahnya Liana sembari menoleh ke arah kedua orang tua Rahman dan keluarganya yang kini sedang berada di ruang keluarga.


"Sebentar-sebentar! omongan yang mana ya?" Alisa seolah berpikir mengingat-ingat apa yang diomongkan kepada orang tuanya Rahman.


Liana menatap tajam ke arah Alisa yang terdiam.


"Oh ... itu, soal makanan itu, kan?" tanya Alisa yang langsung mendapat anggukan dari Liana.


"Kamu tidak tahu apa-apa Lian. Aku nggak mungkin bicara tidak sopan kalau nggak ada yang mulai, kamu nggak akan ngerti sekalipun aku jelaskan!" jelas Alisa sembari menggeleng kan kepalanya.


"lu tau nggak? gue malu semalu-malunya dengarnya itu." Liana berucap kesal.


Alisa mau ngomong lagi, tapi keburu sang ibu mertua memanggil. Yang katanya keluarga Rahman mau pulang dan berpamitan.


Lalu kemudian keduanya pun menghampiri ruang keluarga. Alisa duduk di sampingnya Hadi, begitupun Liana yang duduk di sampingnya Rahman.


"Sekarang Rahman sudah menjadi keluarga di sini dan saya titip putra saya, sekarang ... saya mau pamit dulu!" kata sang ayah Rahman.


"Sebentar? yang seharusnya mengatakan titip itu. Saya pihak perempuan yang menitipkan putrinya kepada keluarga laki-laki, bukan laki-laki yang menitipkan kepada perempuan," Hadi menatap tajam ke arah keduanya yang berniat untuk beranjak dari duduknya.


Membuat pasangan suami istri itu mengurungkan niatnya untuk beranjak, mereka terduduk kembali dan menatap ke arah Hadi.


Begitupun dengan yang lain mengarahkan tatapannya kepada seorang Hadi yang tampak sangat serius.


"Seharusnya, saya sebagai orang tua dari Liana yang menitipkan Liana kepada kalian pihak dari laki-laki, saya ingin katakan dari sekarang kalau Liana akan tinggal bersama kalian yaitu bersama suaminya!" sambungnya Hadi.


Liana menatap marah kepada sang ayah! kenapa bilang seperti itu seolah-olah dia tidak boleh lagi tinggal di rumah tersebut.

__ADS_1


Kedua orang tua Rahman begitupun dengan Rahman sendiri, saling bersitatap. Bertukar pandangan satu sama lain.


"Sekarang Liana adalah tanggung jawab kamu Rahman, dalam hal apapun itu tanggung jawab kamu bukan tanggung jawab saya lagi!" Hadi mengedarkan pandangannya ke arah Rahman dan juga kedua orang tuanya.


"lho, kenapa bilang seperti itu? orang tua itu nggak pernah lepas dari tanggung jawab kepada anaknya!" kata Bu Irma.


"Iya memang, tidak lepas dari tanggung jawab sebagai orang tua. Tapi sebagai suami dia lebih berhak dalam mencukupi semua kebutuhannya bukan lagi seperti yang masih gadis! yaitu tanggung jawabnya orang tua!" jelasnya Hadi.


"Untuk malam ini ... biasa aja mereka tidurnya di mension ini dan besok ... Mereka pun akan pindah dan silakan mau di rumah Anda kah! atau di rumah baru kah, atau mengontrak mungkin. Sama suaminya, silakan--"


"Papa, apa kau tega aku ngontrak?Apa gunanya rumah ini yang luas yang banyak kamar kosongnya. Kalau aku harus ngontrak di mana-mana?" protesnya Liana.


"Memang Lian ... di sini luas, banyak kamar kosong begitupun dengan kamarmu tak ada yang akan menempati, tapi jika hanya akan membuat suamimu, keluarga dari suamimu tidak mengingat tanggung jawabnya untuk apa? kan laki-laki yang seharusnya bertanggung jawab sepenuhnya, sekalipun Dia tidak punya, istilahnya. Apalagi kalau berpunya! bukan ngandelin pihak perempuan!" ujar Hadi.


Semua terdiam mencoba mencerna maksud dari Hadi yang seolah nyerempet dengan hak dan kewajiban dari pihak laki-laki.


"Jujur, saya tidak mengerti dengan maksud anda! karena seolah mengingatkan akan hak dan kewajiban dari pihak laki-laki yaitu kami, apa yang tidak kami berikan?" Ayah Rahman menatap tajam karena Hadi.


Ayah Rahman kini mengalihkan pandangannya, menatap ke arah sang istri yang tampak kebingungan.


Kemudian Hadi pun melihat ke arah besan wanitanya. "Kalau tidak salah ... saya tadi mendengarnya kalau anda mengajak tamunya untuk makan semuanya. Ya, silakan memang kami hidangkan di sini untuk dimakan! tapi yang buat saya tersinggung--" Hadi menggantungkan kata-katanya sejenak.


Membuat semua orang penasaran dan Bu Irma malah kebingungan ngomong apa emangnya.


"Katanya, ini semua hidangan yang ada di sini! anda yang sediakan. Saya tidak merasa menerima uang sepeserpun dari kalian untuk biaya pernikahan ini!" sambungnya Hadi sembari menatap ke arah Bu Irma dengan tatapan tajam dan gemas.


Degh!


Bu Irma mengingat dan menyadari apa yang sudah dia katakan kepada rombongannya. Dia pikir tadi nggak ada Hadi, pantas Alisa tadi di meja makan menyindir dirinya.


"Sekali lagi saya tidak meminta banyak! cuman ingin ada sedikit tanggung jawabnya sebagai pihak dari laki-laki, karena pada kenyataannya untuk membayar penghulu dan KUA! saya juga." Tegasnya Hadi.

__ADS_1


Rahman menatap sang Bunda karena memang dia pun merasa ada kejanggalan! dia sendiri sudah memberikan sejumlah uang untuk biaya KUA dan juga menambahi biaya syukuran setelah akad.


Satu lagi, walaupun dengan rasa malas Rahman itu ... sudah menyediakan mas kawin buat Liana adalah sebuah liontin. Tapi kenapa nggak ada, yang ada cuma cincin 2 gram. Namun hal itu belum juga dia tanyakan kepada sang Bunda.


"Ibu ini gimana sih? bukannya Rahman sudah memberikan semua uang buat nikahan dia semuanya! kenapa nggak dikasihkan?" kata ayahnya Rahman kepada sang istri seraya berbisik. Wajahnya pun berubah merah merasa malu.


"Ayah ini gimana sih? mereka itu orang kaya ngapain sih kita sumbang?" suara Bu Irma sedikit memekik yang tertahan kepada suaminya.


"Maaf ya? itu bukan untuk sumbangan! tapi hak dan kewajiban, sekali lagi bukan sumbangan! kan tadi juga saya sudah bilang ... saya memang banyak uang tapi apa susahnya pihak laki-laki itu menunjukan hak dan kewajibannya. Saya juga tidak akan menuntut banyak!" lagi-lagi suara Hadi dengan jelas.


"Ibu benar-benar bikin saya malu, tidak punya muka di hadapan keluarga ini," kata suaminya kepada Bu Irma.


"Emangnya berapa sih yang sudah dikeluarkan buat biaya pernikahan itu? tenang saja akan kami bayar kok nggak usah takut!" tanya bu Irma dengan sombongnya.


"Kami harus total kan semuanya habis mencapai 100 juta, dekor, makan dan tek tek bengek lainnya. Tidak termasuk biaya akad nikah Saya dan istri dan gaun pengantin kami pun di luar rincian tersebut. Kami pribadi tidak mengundang orang banyak selain tetangga di sini. Rekan kerja pun tidak. Tamu kebanyakannya adalah rombongan dari kalian." Hadi menotal kan biaya yang sudah dikeluarkan.


"Apa 100 juta, apa nggak salah! cuman gitu doang, 100 juta?" Bu Irma tampak shock.


"Itu sudah termasuk murah, untuk dekornya dan konsumsi saja sudah berapa itu! hampir mencapai 80 juta, Bu ..." Sambungnya Hadi.


"Oh oke, akan kami bayar secepatnya, jangan khawatir demi kehormatan pihak kami mempelai laki-laki," ucapnya Bu Irma dengan tetap sok.


"Lagian ibu juga, kenapa gak dari kemarin-kemarin. Memberikan uang buat biaya pernikahan itu?" bisiknya kembali sang suami kepada Irma.


Namun sepertinya Bu Irma sendiri nggak mau diomongin kayak gitu oleh suaminya. Sementara Rahman sendiri sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya sepatah kata pun.


Apalagi Liana, kini dia berbalik menjadi merasa sangat malu pada sang ayah. Malu karena ulah dari sang ibu mertua, sekarang Liana mengerti kenapa Alisa tadi menyindir sang ibu mertua di meja makan. Dia pun merasa gak enak hati kepada Ibu sambungnya itu ....


...🌼---🌼...


Like komen dan jangan lupa bila ada typo kasih tahu makasih.

__ADS_1


__ADS_2